
“Tolong gunakan etika dalam bertamu. jam 22.30 sudah terlalu malam untuk bertamu ke rumah orang lain” Anya meremas jemarinya keras. jika tidak dialihkan maka emosi yang sudah sampai di ubun-ubun ini pasti akan meledak seketika. Meski sudah hampir 3 tahun berlalu, namun ingatan akan hal yang membuat Anya dan ibu memutuskan keluar dari rumah itu berputar cepat di kepalanya. Tak peduli dengan wajah wanita itu yang memandangnya penuh rasa bersalah, Anya tetap memandang ke dua orang itu dengan tatapan tak suka.
“Ayah baru tahu jika kamu sudah bercerai dengan Danu” Fredy—pria yang sejak tadi juga menatap Anya dengan tatapan sayu kini mulai bicara.
“Saya juga baru tahu tadi saat melihat kamu sama Sinan “Amel— ibu tirinya yang kali ini bicara.
Anya yang mendengar kalimat itu tersenyum miring. Sudah hampir 1 tahun dirinya bercerai, dan mereka baru menyadarinya sekarang? hebat sekali mereka dalam menjalankan perjanjian. Meski berjanji akan berpura-pura tak kenal satu sama lain setelah Anya dan ibu keluar dari rumah itu, tapi setidaknya Anya kadang masih mencari tahu bagaimana kondisi ayah. Tak seperti mereka yang baru menyadari setelah berada di depan mata.
“Anak kamu sudah bercerai 1 tahun lamanya dan kamu baru tahu sekarang Fred?”
Suara terdengar dari arah dalam bersamaan dengan ibu yang berjalan mendekat. Di belakang Aisyah ada Ocha yang menggeleng kearah Wine, Bukan ibu yang tak mau menemui tamu, tapi ibu pasti sudah amat emosi yang akhirnya membuat Ocha mengajak ibu masuk ke dalam kamar.
“Aku memang mantan istri kamu. Tapi Anya tetap anak kamu, tidak ada mantan anak Fred. Ayah macam apa kamu itu?!!” pekik Aisyah.
Anya buru-buru berjalan menuju ibu dan mengajak ibu untuk duduk di sofa. Aisyah memiliki darah tinggi, kondisi sekarang jelas tidak baik untuk kesehatannya. “Duduk dulu ya bu” ucap Anya.
posisi sekarang, Anya dan Aisyah duduk berhadapan dengan Fredi dan Amel, Wine dan Ocha masuk kedalam kamar, sedangkan Arka dan Sinan mengobrol di halaman rumah. Menepuk pelan punggung tangan ibu, Anya berusaha untuk menenangkan ibu agar tak terlalu emosi.
“Saya tahu saya salah. Lalu bagaimana dengan biaya hidup kalian? Bagaimana biaya pendidikan Arum kedepannya?” tanya Fredi lagi.
Anya kembali tersenyum masam. Seperti sosok Fredy yang ia kenal selama ini, ayahnya itu selalu menganggap bahwa uang adalah sesuatu yang bisa menyelesaikan semua masalah yang ada. Anya yakin jika saat ini dirinya masih berada di rumah ayahnya, pria ini pasti tak akan mengijinkannya bercerai demi nama baik keluarga.
“Tanpa ayah kita masih bisa hidup. Jadi bersikap seperti dulu saja, berpura-pura jika kita tak saling mengenal satu sama lain” jawab Anya.
“Maafin anak saya ya mbak”
baik Anya dan Aisyah sama-sama terkejut saat melihat Amel tiba-tiba berlutut, wanita itu menunduk dalam dengan air mata yang mulai menetes.
“Maafin perbuatan Hani ya mbak. Maafin saya juga karena baru tahu yang sebenarnya terjadi”
“Jadi kedatangan kalian sebenarnya di sini karena sudah tahu semuanya?” Aisyah balik menggenggam tangan Anya erat. Saling menguatkan satu sama lain.
“Maaf ya mbak” ucap Amel lagi.
Anya melirik ke arah Fredy yang kini masih duduk di sofa. Bukan berharap untuk melihat Fredy berlutut meminta maaf, Anya berharap ada kata maaf yang tulus yang keluar dari mulut ayahnya. Tapi nyatanya pria itu masih tetap duduk tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
“Sejak awal saya tahu jika Hani melakukan kesalahan, cuman saya nggak berani jujur karena takut jika mas Fredy akan menceraikan saya, saya takut masa depan Hani tak jelas kalau aku balik lagi jadi gelandangan"
"Kamu khawatir sama anak kamu dan nggak peduli kalau masa depan anak aku hancur? Kamu lucu Mel. Aku setuju mas Fredy nikah sama kamu karena kasihan ngeliat hidup kamu, tapi sekarang begini balasan kamu Mel?!" pekik Aisyah,
"Maaf mbak"
Anya yang melihat emosi ibunya yang sudah amat tinggi, menepuk punggung ibunya pelan. Tatapannya masih tertuju pada Amel dan Fredy " Lebih baik tante sama ayah pulang. Mau sampai kapanpun pintu maaf itu nggak bakal kebuka. Dan aku mohon jangan kita pura-pura saja tak kenal jika bertemu di jalan"
Begitu selesai mengatakannya, Anya langsung menggandeng ibu masuk ke dalam kamar, meninggalkan Amel yang kini menangis sesenggukkan.
**
Anya menyentuh tangan ibunya yang kini tidur di samping Arum. Mata wanita yang melahirkannya ini terlihat sembab karena setelah masuk ke dalam kamar keduanya menangis hebat sambil berpelukan satu sama lain. Banyak kata maaf yang diucapkan ibu kepadanya, membuat Anya merasa begitu merasa bersalah karena telah melakukan suatu hal yang tak seharusnya dilakukan dulu.
Suara ketukan pintu membuat Anya mengusap jejak air matanya. Dari balik pintu yang terbuka, Wine dan Ocha menyumbulkan wajahnya.
"Gue sama Ocha pulang ya" kata Wine.
Anya menganggukkan kepala "Makasih ya"
"Bener. Muka lo jelek kalau nangis. Harus tetep cantik, soalnya pacar lo masih di ruang tamu noh" Wine mengedipkan satu matanya. Keduanya kini menutup pintu kamar.
Anya melirik jam yang kini menunjukkan pukul 24.45. Anya pikir Sinan sudah pulang sejak dirinya masuk ke dalam kamar, tapi nyatanya pria itu masih ada di depan. Mengusap jejak air mata di pipi, Anya mengecek kondisi wajahnya sebentar di cermin sebelum akhirnya keluar dari kamar. Suara pagar yang di tutup, menandakan jika Ocha, Wine dan Arka sudah pulang, hanya tinggal Sinan saja di ruang tamu.
Menghembuskan napasnya perlahan, Anya berjalan menuju ruang tamu.
"Kamu masih di sini. Aku kira udah pulang" Anya mengambil posisi duduk di sebelah Sinan.
"Sudah lebih baik?" tanya Sinan dengan senyuman yang mengembang. Terhitung ini adalah kedua kalinya pertanyaan itu ditanyakan kepada Anya.
"Baik. Maaf ya, jadi nungguin lama"
"Nggak masalah"
"Kenapa kamu nggak pulang aja? Aku malah ngiranya kamu udah pulang"
__ADS_1
"Dari pada nggak bisa tidur karena khawatir jadi aku pikir lebih baik nungguin kamu buat liat keadaan kamu" ucap Sinan. Pria itu kini duduk sedikit menjauh dari Anya.
Yang merasa di beri jarak, mengerutkan dahinya bingung "Kenapa?"
"Nggak enak sama ibu kamu kalau deket-deket."
"Itu namanya penakut"
"Penakut? Aku?"
"Iya dong. Nggak mungkin lupa apa yang kamu lakuin di apartemen kamu tadi kan? Karena nggak ada ibu kamu berani, sekarang ada ibu kamu nggak berani?" ledek Anya.
Sinan tersenyum miring mendengar ledekan Anya yang jelas menjatuhkan harga dirinya sekarang. Berpacaran dengan wanita yang lebih tua itu benar-benar menantang " Oh jadi kamu mau kita seperti tadi lagi?" tanya Sinan balik sambil bergerak mendekat ke arah Anya.
"Berani lakuin dan ketahuan sama ibu. Itu berarti kamu juga harus berani tanggung jawab"
"Itu yang aku harapkan malah" jawab Sinan dengan senyuman manis.
"Nggak asik bercandanya ah" Anya langsung pindah duduk di kursi tunggal. Menjauh dari Sinan.
Sinan tertawa melihat Anya yang menyerah sendiri. "Jangan berani-berani godain saya kalau gitu"
"Siap" Jawab Anya "Sudah hampir jam 1 pak. Nggak mau pulang?"
"Penginnya. Tapi takut nanti ada yang ngingetin etika dalam bertamu itu tidak boleh malam-malam"
Kali ini Anya yang tertawa. Ucapan yabg tertuju pada Ayahnya tadi sepertinya juga menyinggung Sinan.
"Ya udah saya pulang dulu ya. Istirahat. Besok aku main lagi ke sini" Ucap Sinan. Bangkit dari posisi duduknya dan berjalan keluar dengan Anya yang mengekor di belakang.
"Kenapa nunggu besok. Nginep aja di sini nak Sinan"
Suara yang berasal dari arah belakang, membuat keduanya berhenti dan menoleh ke belakang. Aisyah berdiri dengan satu cangkir ditangan. Jika ibunya dari dapur tadi, maka ada kemungkinan ibu mendengar semua pembicaraan mereka barusan.
"Nginep aja. Biar besok ibu bisa langsung tanya rencana kalian setelah berkencan" ucap Aisyah sebelum melenggang pergi menuju kamar.
__ADS_1
Anya dan Sinan hanya bisa saling melempar pandangan satu sama lain.