Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Salto Dunia Anya : Tak Sepenuhnya Diterima


__ADS_3

Danu :


Hari ini Arum sama aku dulu. Kalau kamu dan suami kamu nggak bisa jaga Arum, mending Arum tinggal sama aku aja. Biar dia nggak ngerasa sendiri.


Anya menggenggam erat ponselnya saat satu pesan itu dikirim oleh Danu yang tadi sempat datang ke rumah dan kini membawa Arum pergi. Kalimat menohok itu membuat Anya semakin merasa jika dirinya bisa saja gagal menjadi ibu dua anak, jika anak keduanya terlahir di dunia.


Arum saja Anya merasa gagal dan membuat putrinya sedih, lalu berapa banyak lagi anak-anaknya yang harus merasa sedih karena ketidak mampuannya ini?.


Apa yang terjadi pada dirinya saat masa kanak-kanak. Anya tak ingin hal itu juga terjadi pada putrinya.


Pandangan Anya kini menoleh ke arah ponsel Sinan di atas nakas yang kini menyala karena satu pesan masuk. Emosi Anya semakin menjadi saat sederet kalimat dalam pesan itu tertangkap matanya. Pesan dari ibu mertuanya yang memberikan alasan ketidakhadirannya di acara hari ini


"Kita mau jemput Arum jam berapa yang?"


Anya segera menegakkan badannya dan menatap ke arah lain saat Sinan keluar dari kamar mandi. Tak ingin membahas apapun malam ini, Anya hanya ingin merebahkan tubuhnya dan istirahat sebentar karena beban perutnya yang semakin berat.


"Udah hampir isya. Aku jemput Arum ya?" Sinan duduk dipinggir ranjang sambil memijat kaki Anya yang kini sudah berbaring di atas kasur.


"Kata Danu, Arum biar sama dia hari ini" jawab Anya datar. Ia membalikkan badannya memunggungi Sinan dengan hati yang rasanya mulai sakit. Sejak awal pernikahan, mertuanya itu memang terkadang sedikit acuh dengan segala hal yang menyangkut Arum. Tak benar-benar menunjukkan ketidaksukaan, mertuanya terkadang masih menunjukkan sikap menyukai Arum dengan mengirimkan beberapa mainan untuk gadis kecil itu. Hanya saja bertemu secara langsung memang bisa dihitung jari. Saat acara keluarga besar saja Arum bisa bertemu dengan orang tua Sina. Atau mungkin saat mereka berkunjung ke rumah mereka.


"Besok-besok nggak usah buat janji palsu ke Arum ya Yang" ucap Anya lirih.


Sinan yang mendengarnya diam sesaat. Paham betul jika yang dimaksud oleh istrinya ini adalah karena mamahnya tak datang meski Sinan sudah berjanji kepada Arum akan membuat utinya datang saat acara ulang tahu. "Maaf ya Yang. Aku udah WA mamah kejebak macet dimana. Tapi belum dibalas"


"Udah dibalas itu" jawab Anya datar. Istrinya menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sampai batas leher.


Sinan meraih ponselnya di atas nakas, membaca sederet pesan mamahnya lalu menghela napasnya lelah.


Mamah:


Mamah nggak jadi dateng ya mas. Tadi tante Rini ngajakin mamah ke reuni kuliah dadakan.

__ADS_1


Benar saja. Anya marah sekarang. Istrinya ini pasti sudah membaca pesan di ponselnya. "Sayang, maaf ya" ucap Sinan lembut. Ia membaringkan badannya lalu memeluk Anya dari belakang.


"Aku tahu dan sadar diri kalau mamah terpaksa menerima aku karena cuman ngerasa bersalah dan demi menuruti apa yang kamu ingin. Cuman nggak begini juga sama Arum Nan."


Jika sudah memanggilnya dengan nama alih-alih panggilan 'sayang', Sinan tahu Anya pasti amat sangat kecewa. Sebagai suami dan sebagai Anak, Sinan benar-benar amat sulit mengambil sikap sekarang. Sudah sering Sinan meminta sang mamah agar lebih perhatian pada Arum, dan Sinan juga sering meminta Anya agar bersabar.


Namun Sinan juga sadar, sudah berjalan hingga 2 tahun, siapa juga yang bisa sabar hingga selama itu.


"Aku takut kalau anak kita lahir, Arum bakal ngerasa disaingi dan akhirnya lebih pilih tinggal sama Danu" suara isakan kini mulai terdengar. Kehamilan sekarang membuat Anya begitu sensitive dan bisa menangis karena banyak hal. Bahkan ekor cicak yang putus saja, Anya bisa sedih apalagi jika menyangkut Arum.


Sinan mengeratkan pelukannya. "Aku bakal bicara sama mamah. Maaf ya Yang"


Anya tak menjawab, ia hanya merubah posisi berbaring nya menghadap ke arah Sinan dan balik memeluk suaminya erat.


Perubahan sifat Arum yang kini terlihat dingin dengan wajah yang minim akan ekspresi akhir-akhir ini, membuat Anya benar-benar khawatir. Meski terlihat seperti Ocha, namun Arum jelas berbeda.


Dulu Arum adalah sosok gadis imut dan ceria. Lebih ceria lagi karena ada campur tangan Wine dalam merawat Arum. Namun akhir-akhir ini, sosok ceria itu tak lagi ditemukan dalam diri putrinya.


Mendapat anggukkan dari Anya, Sinan berdiri dan membantu Anya agar duduk di kasur. "Aku jemput sendiri aja ya. Kamu tunggu di rumah aja"


"Aku ikut"


"Istirahat di rumah aja ya. Kamu udah capek dari pagi. Aku nggak lama. Di rumah Danu kan?"


"Iya"


Setelah berpamitan dengan Anya, Sinan langsung keluar dan berjalan menuju mobilnya. Begitu masuk ke dalam mobil, ia langsung memukul stir geram karena sang mamah tak menepati janjinya dulu.


Menikahi Anya jelas tak semudah orang bayangkan. Mamahnya bukan tipe orang yang setuju hanya karena rasa bersalah saja, ada perjanjian yang Sinan buat dengan sang mamah dulu sebelum pertemuan malam itu.


Perjanjian jika sang mamah akan setuju dengan pernikahan Sinan asalkan Sinan bisa membuat mamahnya kembali menjadi salah satu wajah perusahaan diusianya yang sudah terbilang cukup tua. Sinan mengabulkannya dengan membuat produk baru yang targetnya adalah para wanita yang berada diusia kepala empat. Selain untuk menikahi Anya, Sinan mengabulkannya juga karena tahu sang mamah begitu bangga dengan diri sendiri jika wajahnya muncul dilayar iklan.

__ADS_1


Selagi melajukan mobilnya menuju tempat tinggal Danu, Sinan menghubungi ponselnya sang mamah yang kali ini langsung diangkat tidak seperti sore tadi saat acara ulang tahun sedang berlangsung.


"Mamah udah pulang?" tanya Sinan lembut. Kesopanan dan rasa hormat adalah tingkat paling tinggi yang harus dimiliki oleh anak.


"Baru sampai mas. Capek banget mamah. Kamu lagi dimana?" suara bernada santai tanpa ada rasa bersalah karena membuat pupus harapan seorang gadis kecil terdengar dari sebrang telfon.


"Lagi di luar. Mau jemput Arum" sebaik mungkin, Sinan masih merendahkan nada bicaranya meski rasa kecewa itu menekan di dada.


"Lah emang anak Anya kemana?"


Sinan mencengkram stir semakin kuat. Anak Anya?. Alih-alih menggunakan anak kamu atau menyebutkan nama Arum. Mamahnya malah menyebutnya dengan anak Anya?. "Arum anak aku juga mah" ucap Sinan.


Suara helaan napas mamah terdengar. "Terserah kamu. Emang kemana itu anak?. Udah malam"


"Di rumah ayahnya, ngambek seharian karena utinya nggak dateng juga" sindir Sinan. Sikap mamahnya ini bisa terbilang kelewatan.


"Oh. Iya. Soalnya tadi temen mamah ngajakin reuni dadakan"


"Emang nggak bisa mamah tolak? Ini acara ulang tahun anak mas mah. Mas udah janji sama Arum kalau mamah bakal datang"


"Acara ulang tahun doang kan mas? Lagi pula neneknya juga nggak dateng kan. Jadi utinya nggak datang juga nggak masalah dong?"


Sinan langsung membanting stirnya ke kiri demi menepikan mobilnya. Mendengar ucapan mamahnya barusan membuat emosinya benar-benar naik.


Menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan, Sinan mulai bicara dengan nada yang sedikit tinggi "Acara ulang tahun untuk anak usia 5 tahun rasa bahagianya kaya Orang dewasa menangis tender mah. Neneknya nggak bisa datang juga karena terlalu jauh. Yang dekat cuman utinya!"


"Kamu berani bicara tinggi sama mamah hanya karena hal ini mas? Mamah tutup telfonnya!!"


Setelah telfon ditutup oleh sang mamah. Sinan membanting ponsel genggamnya ke kursi penumpang. Satu yang Sinan syukuri sekarang, Anya tak ikut bersama. Jika ikut Sinan tak bisa berkata apapun lagi. Ucapannya hanya akan menambah sakit hati keluarga kecilnya ini.


***

__ADS_1


karena cukup aneh aja di season 1 kalau Anggi langsung setuju Sinan nikah sama Anya cuman karena rasa bersalah setelah nyebut Arum nggak bisa di terima di masyarakat.


__ADS_2