
ini ga tahu NT lagi kenapa, aku udah up dari jam 1 tadi dan aku setting up jan 14.30, dan ternyata sampai 15.30 pun statusnya masih di review. Persis kaya kemarin, jam up nya berantakan udah.
*
"Lo bener-bener nggak waras ya mas!" satu tinju lagi Sinan layangkan kepada Radit yang kini hanya pasrah mendapat setiap bogeman dari sepupunya.
Sinan yang sudah terlanjur emosi berubah layaknya setan yang terus memukul Radit. Melihat Radit yang pasrah kena pukulan tak membuat Sinan mengendurkan cengkramannya. Ingatan jika Radit tadi berniat untuk mencium Anya paksa membuat satu pukulan kembali dilayangkan.
"Sudah gue bilang. Dia pacar gue. Jadi jangan pernah lo sentuh sedikitpun"
Radit tersenyum kecut "Karena itu lo nyembunyiin kalau dia udah bercerai kan?!"
"Iya. Emang lo mau apa hah?!" Sinan menarik Radit hingga pria itu berdiri. Tangannya masih mencengkram erat kerah baju Radit.
"Itu artinya lo curang tahu nggak?!"
"Curang? Jika lo niat buat deketin, seharusnya lo cari tahu tentang dia"
"Tentang dia? Seperti lo yang nyuruh Mike buat nyari tahu tentang Anya?" ucap Radit. Pria yang sebelumnya pasrah kini balik melayangkan kembali tinjunya membuat Sinan yang bergantian tersungkur ke tanah.
"Lo cari tahu tentang dia kan?" tanya Radit lagi.
Sinan yang sebelumnya tersungkur ke tanah kembali berdiri. Matanya melirik sebentar ke arah Anya yang kini masih berdiri dengan pandangan kosongnya. Apa yang Radit lakukan sepertinya benar-benar membuat trauma Anya kembali lagi.
"Kalau iya kenapa? Setidaknya gue tahu gimana cara buat memperlakukan dia, nggak kaya lo" Sina kembali melayangkan tinjunya. Namun tangannya belum juga sampai di wajah Radit, tangannya berhenti saat seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. Sinan bisa merasakan tubuh Anya yang masih bergetar.
"Please berhenti Nan" ucap Anya lirih.
Tangan Sinan yang sudah melayang di udara kini ia turunkan, berbalik menghadap ke arah Anya lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Dari arah pintu, Navel datang lalu segera membantu Radit berdiri. Membawa pria itu keluar dari balkon sebelum Sinan kembali berubah menjadi setan kepanasan.
Saat melihat Navel dan Radit ke luar, Anya melerai pelukannya kemudian menatap Sinan dengan tatapan yang berbeda.
"Kita perlu bicara. Tapi bukan disini." ucap Anya lalu melenggang pergi.
Sinan yang tahu letak kesalahannya, hanya mengangguk kemudian mengekor Anya keluar dari rumah ini.
***
"Ayo masuk"
Anya yang berdiri di depan pintu tak percaya jika Sinan malah mengajaknya ke sini. Mereka memang perlu bicara berdua dan itu tidak mungkin dilakukan di rumah pak Hamdan, namun tidak juga di salah satu unit apartemen yang kini terbuka pintunya.
Namun karena tak ingin berdebat dengan Sinan diluar yang pria itu lakukan dengan menyuruh Mike untuk mencari tahu tentangnya. Anya berjalan masuk begitu saja tanpa mengatakan apapun. Sinan yang melihat raut wajahnya semakin dibuat ketar-ketir karena baru saja ketahuan mencari tahu.
"Kamu cari apa?" tanya Sinan.
Anya yang langsung menjelajahi rumah Sinan tanpa izin sama sekali menoleh sebentar ke arah Sinan yang kini berdiri di ruang tengah.
"Kotak P3K dimana?" tanya Anya balik.
Saat melihat rak yang ditunjuk oleh Sinan. Anya bergerak menuju rak itu kemudian mengeluarkan kotak berwarna putih itu dari sana. Sambil membawa kotak P3K Anya duduk di sofa panjang yang berada di ruang tengah.
"Duduk" perintah Anya.
__ADS_1
Sinan manut saja. Pria itu duduk di samping Anya dan menurut lagi saat Anya memintanya untuk mengulurkan tangan.
Sinan hanya terdiam sambil menatap lekat ke Anya, menebak-nebak ekspresi wanita yang berada di depannya ini. Tangan kanannya diberi obat oleh Anya sedangkan tangan kirinya berada di bagian atas sandara sofa guna untuk menopang kepala.
"An" panggil Sinan.
"Jangan bicara pak" jawab Anya tanpa balik menatapnya. Wanita itu kini mengambil plaster dan menempelkannya di luka Sinan.
"Jangan adu jotos hanya demi saya pak. Saya nggak suka. Dan saya juga tak ingin berhutang budi sama orang lain" lanjut Anya lagi.
Sinan yang mendapat balasan seperti itu, langsung berlutut di depan Anya dan menggenggam tangan Anya erat.
"Tanyakan apapun yang ingin kamu tanya. Saya siap untuk menjawabnya"
"Seberapa jauh bapak mencari tahu tentang saya?" tanya Anya to the point. Alasan mereka berada di sini adalah untuk bicara, maka Anya tak perlu bicara berputar-putar jika ujungnya sama saja.
"Saya tahu hubungan kamu dan Hani"
"Terus?" tanya Anya.
"Apa yang buat kamu benci sama Hani saya juga tahu"
Genggaman tangan Anya kini semakin erat "Terus, apa lagi pak?"
"Status Arum dan apa yang terjadi sama kamu dulu, saya juga tahu"
Tak bicara apapun, Anya langsung berdiri dari posisi duduknya dan berniat untuk pergi dari unit Sinan. Namun belum juga melangkahkan kaki, genggaman tangan Sinan menariknya hingga membuat Anya berada di pelukan pria ini.
"Saya minta maaf jika sudah lancang mencari tahu tentang kamu. Tapi ngeliat kamu yang sampai muntah setelah bertemu Hani, itu buat saya penasaran"
"Dan saat ngeliat Radit berniat untuk mencium kamu. Itu buat aku sangat marah"
Anya berusaha mendorong tubuh Sinan agar menjauh darinya. Kekuatan pria ini amat besar tak sebanding dengan tenaga yang Anya miliki.
"Aku malu sama kamu" ucap Anya. Tangannya mencengkram erat kemeja Sinan bagian depan. Jika Sinan sudah mencari tahu semua tentangnya, Anya merasa jika dirinya begitu menjijikan karena hamil di luar nikah. Wajahnya tak sanggup ia tunjukkan lagi pada Sinan. Bukan hanya karena perbedaan ekonomi yang bagaikan langit dan bumi, namu harga diri Anya juga terjun hingga dasar lautan.
Apa yang bisa Sinan dapatkan darinya?.
Hanya aib karena korban pemerkosaan?.
"Maaf karena nggak berani buat deketin kamu saat itu. Maaf An"
Tak lagi menolak, Anya kini balik memeluk Sinan erat. Aroma tubuh Sinan membuat dirinya merasa tenang berada di dekapan pria ini.
"Maaf"
Air mata yang sejak tadi ditahan nyatanya meluncur seketika saat mendengar permintaan maaf Sinan barusan. Selama menikah dengan Danu, pria itu sama sekali tak pernah meminta maaf padanya. Setiap hari mereka hanya bertengkar dan terus membahas hal yang begitu membuat Anya trauma.
"Jangan nangis An. Saya benar-benar minta maaf" ucap Sinan lagi sambil mengusap puncak kepala Anya.
Membiarkan Anya yang menangis di dalam pelukannya, Sinan hanya bisa mengusap punggung Anya pelan. Jika saja dirinya berani mendekati Anya saat itu, Anya mungkin tak akan bertemu dengan pacarnya dan tak akan dijebak bersama Danu oleh Hani. Maka kejadian mengerikan bagi Anya tak akan pernah terjadi.
Hanya saja bukan cobaan jika semuanya berjalan sesuai dengan keinginan. Semua yang terjadi maka biarlah berlalu, Sinan hanya perlu melindungi Anya sekarang agar trauma itu sedikit demi sedikit berkurang.
__ADS_1
Saat tangis Anya mulai mereda, Sinan membawa Anya agar kembali duduk di sofa, dirinya berlutut di depan Anya sambil mengusap air mata di pipi wanita ini.
"Sudah lebih baik?" tanya Sinan lembut.
Anya menganggukkan kepala. Percayalah jika ada Wine dan Ocha di sini, kedua temannya itu pasti menertawakannya karena melihat tingkah sok lemah Anya.
"Muka kamu memar" ucap Anya sambil mengusap sudut mata Sinan yang membiru. Pasti bekas tinju Radit tadi.
Sinan memejamkan matanya merasakan sentuhan tangan Anya di wajahnya.
"Kamu punya kompres?"
Sinan membuka matanya kemudian mengangguk. Wanita yang tadi menangis hebat kini sudah kembali sedia kala, menjadi wanita kuat seperti yang biasa orang liat.
"Aku ambil dulu. Kamu duduk di sofa, sakit lututnya nanti" ucap Anya lagi kemudian melenggang pergi menuju dapur.
Sinan tersenyum saat sadar Anya kini tak memanggilnya dengan sebutan bapak. Jika efeknya akan membuat Anya menggunakan 'aku dan kamu' Sinan rela di tonjok setiap hari agar berubah menjadi 'sayang atau honey'.
Begitu melihat Anya sudah kembali dari dapur, Sinan langsung duduk di sofa. Anya duduk di depan Sinan dan mulai mengompres sudut mata Sinan yang memar.
"Syukur besok libur, jadi kamu nggak ke kantor dengan muka begini" ucap Anya.
"Bener. Dan kebetulan karena besok libur, kamu mau menginap di sini?"
"Ya?!!"
"Jangan salah paham dulu. Ada dua kamar di sini. Kamu bisa tidur di kamar tamu"
"Takut kamu lupa, aku punya anak yang nungguin di rumah"
"Kalau gitu Arum bawa aja ke sini. Aku nggak keberatan."
Anya menekan kompres di luka memar Sinan. Membuat pria itu meringis kesakitan namun masih diselingi dengan tawa.
"Aww. Aku bercanda An"
"Bercanda kamu nggak lucu. Gimana kalau tiba-tiba besok saya minta ke KUA buat di halalin?!"
"Aku siap 45"
Anya tertawa. Biasanya jika trauma itu datang, Anya akan mengunci dirinya sendiri di kamar, dirinya bahkan kadang membiarkan Arum menangis di luar kamar memanggil-manggil namanya. Tapi malam ini, dengan Sinan semuanya terasa berbeda.
"Terimakasih" ucap Anya.
Sinan menyelipkan rambut Anya di belakang telinga wanita itu. "Untuk?"
"Membuat ku merasa jauh lebih nyaman"
"Sama-sama" Sinan menjawabnya sambil tersenyum. "Jika apa yang akan aku lakukan membuat kamu takut. Maka dorong aku ya An"
Setelah mengatakan hal itu, Sinan menarik tangan Anya yang tengah mengompres lukanya kemudian ia genggam erat. Tubuhnya maju mendekati Anya.
Sinan sengaja bergerak lambat untuk memberikan waktu bagi Anya berpikir antara mendorongnya atau tidak. Hingga saat dahi mereka bersentuhan, Anya tak mendorongnya sama sekali membuat Sinan berani menyatukan bibir mereka.
__ADS_1
***
Tinggalkan jejak kalian ya..