
“Kamu kenal Anya Han?”
“Iya”
Jawaban itu seolah membuat dunia yang sedikit demi sedikit Anya bangun terasa runtuh seketika. Ingatan tentang bagaimana Hana menjebaknya membuat Anya mengepalkan tanganya kuat. Sejak keluar dari rumah itu dengan mamah, semua orang di rumah sepakat jika mereka bertemu nanti mereka akan berpura-pura seolah tak mengenal satu sama lain. Dan sekarang melihat Hani mengiyakan pertanyaan Sinan, membuat Anya mengumpat dalam hati.
“Meski jika saya menyakiti hati kamu, Tapi perkenalkan ini pacar saya. Anya pacar saya”
Saat Sinan tiba-tiba merengkuh pinggangnya, Anya diam saja karena ingin mengamati bagaimana ekspresi Hani sekarang. Anya mengenal sosok Hani sebagai wanita yang tak akan pernah bertemu dua kali dengan teman kencan butanya, jika Hani bersedia bertemu untuk kedua kalinya dengan Sinan, maka bosnya ini pasti cukup menarik di mata wanita itu.
“Kamu kenal sama Hani An?” tanya Sinan pada Anya.
Dengan senyuman yang bahkan tidak sampai mata, Anya menggelengkan kepalanya.
“Nggak Yang. Aku nggak kenal sama mbak ini” ucap Anya. Mengenyampingkan ekspresi Sinan yang kini terkejut dengan mata berbinar saat Anya memanggil pria itu dengan sebutan ‘sayang’.
Saat melihat perubahan ekspresi pada wajah Hani. Anya tersenyum penuh kemenangan kemudian menoleh ke arah Sinan. Pria yang masih memeluk pinggangnya ini tersenyum lebar. “Kamu mau nganterin aku kan? Ayok keburu macet”
Sinan yang merasa diuntungkan meski bingung dengan perubahan sikap Anya, mengangguk semangat. Tangannya kini menggenggam tangan Anya, kemudian langsung menarik Anya keluar menuju mobilnya tanpa berpamitan pada Hani sama sekali.
Sepanjang jalan menuju mobil Sinan, Anya masih tetap mempertahankan senyumnya karena tahu jika pandangan Hani pasti akan terus mengekor dirinya.
“Mau makan dulu?”
Anya menggeleng. Begitu masuk kedalam mobil Sinan, senyum Anya menghilang perlahan. Tangannya kini mengepal kuat dengan mulut yang berniat mengeluarkan umpatannya.
“Sin—“
Kalimat Anya terhenti saat Sinan tiba-tiba mengecup bibirnya sebentar. Dengan gerakan keren, Sinan memasangkan sabuk pengaman pada Anya, kemudian melajukan mobilnya menjauhi area kantor.
“Jangan mengumpat. Sayang bibir cantik begitu buat ngeluarin kata-kata buruk”
Saking emosinya Anya bahkan tak memprotes apa yang Sinan lakukan barusan. setidaknya setimpal karena dirinya juga menggunakan Sinan untuk membuat kesal Hani.
__ADS_1
“Jadi kamu kenal sama Hani kan?”
Anya tak menjawab. Bertemu dengan Hani dan mengingat semua kejadian dulu membuat Anya sedikit merasa mual.
“Dilihat dari kamu yang tidak menjawab, berarti kalian saling kenal. Dan hubungan kalian tidak baik” lanjut Sinan.
Begitu mobil berbelok, gejolak rasa mual pada Anya meningkat seketika. Dengan sisa tenaganya Anya menepuk tangan Sinan meminta untuk menepikan mobilnya.
Sinan yang mendapat tepukan di lengannya menatap bingung ke arah Anya yang kini berwajah pucat. Sinan langsung menepikan mobilnya yang membuat Anya langsung ke luar dari mobil dan memuntahkan semua isi perutnya.
Meski bingung, Sinan ikut keluar dari mobil dan berdiri di belakang Anya. Tangan kanannya ia gunakan untuk menahan rambut panjang Anya agar tak kena muntahan sedangkan tangan kirinya digunakan untuk menepuk punggu Anya pelan.
Begitu melihat Anya selesai memuntahkan semua makan siang wanita itu, Sinan ikut berjongkok disamping Anya sambil memberikan sapu tangan miliknya.
“Ayo ke dokter. Saya antar” ucap Sinan saat melihat wajah Anya masih terlihat pucat.
Anya menggelengkan kepalanya “Tidak perlu pak. Saya hanya perlu menarik napas dalam agar nggak terlalu sesak”
Anya berdiri dari posisi jongkoknya, menatap lampu-lampu gedung yang kini terlihat rasanya terlihat begitu indah.
Disisi lain, Sinan yang kini duduk didalam mobil menatap punggung Anya dari balik kaca mobil. Mau bagaimanapun setiap orang pasti memiliki rahasia dan masalah pribadi yang tak ingin diketahui oleh orang lain.
Sinan pikir setelah dirinya masuk ke dalam mobil tadi, ia akan menemukan Anya terisak, namun nyatanya wanita itu cukup kuat dengan hanya berdiri diam.
***
Berbaring di samping Arum sambil mengelus puncak kepala putrinya adalah hal yang membahagiakan bagi Anya. Jika kejadian waktu itu tak terjadi maka Arum juga tak ada di dunia ini. Sejak Arum lahir, sebaik mungkin Anya berusaha untuk tak lagi menyesali kejadian waktu itu, karena jika Anya menyesalinya maka sama saja dengan dirinya yang juga menyesali keberadaan Arum.
“Mbak?”
Anya menoleh ke sumber suara, Aisyah berjalan memasukin kamar dan kini berbaring disisi kiri Arum.
“Udah pulang pak Sinan bu?”
__ADS_1
“Sudah. Kamu sakit ya mbak? tadi nak Sinan ngasih tahu ibu kalau kamu muntah”
Anya terdiam, pandangannya kini menatap ke langit-langit kamar Arum yang penuh dengan stiker berbentuk bulan dan bintang.
“Aku ketemu sama Hani bu” ucap Anya lirih. ia menarik Arum semakin erat ke dalam dekapannya.
untuk sesaat, Aisyah tak mengatakan apapun. Pandangan Aisyah kini mengamati ekspresi wajah putrinya dalam diam. Kejadian penjebakan Hani yang membuat hidup putrinya menjadi begitu kacau. Sekarang saat semuanya kembali tertata, takdir kembali mempertemukan seakan ingin kembali menguji bagaimana kesiapan putrinya.
“Ketemu dimana?” tanya Aisyah.
“Di kantor, dia teman kencannya pak Sinan”
begitu mendengar nama Sinan disebut, Aisyah langsung merubah posisinya menjadi duduk dengan mata yang membulat terkejut namun juga sarat dengan kecewa.
“Dia pacarnya Sinan?”
“Bukan.”
“Syukurlah kalau begitu” Aisyah kembali merebahkan tubuhnya. Prinsip hidup Aisyah yang juga ia ajarkan pada Anya adalah apa yang sudah terjadi maka jangan pernah menyesalinya kembali.
Anya kini menoleh ke arah ibunya “Arum akan selamanya punya Anya kan bu?. “
Aisyah mengangguk “Selamanya Arum akan milik kamu”
**
Disisi lain Sinan yang sejak tadi masih berada di mobil yang terparkir didepan rumah Anya, kini menghubungi seseorang yang ia kenal. Meski tak mengatakan apapun, Sinan jelas menyadari ada hubungan yang tak benar antara Anya dan Hani. Cukup besar hingga membuat Anya memuntahkan semua isi perutnya. Wajah Anya juga berubah pucat pasih saat pertama kali melihat Hani. Bukan tipe yang memaksa orang untuk menceritakan masalahnya, dengan uangnya Sinan jelas akan memilih menyuruh orang untuk menyelidikinya.
Seperti sekarang, Sinan menggulir layar ponselnya mencari nama Mike yang biasanya di percaya untuk mencari informasi dikalangan Sinan, Gema dan Saka. Begitu sambungan terhubung dan terdengar sapaan dari sebrang telfon, Sinan langsung mengatakan tujuannya.
“Cari tahu apa hubungan Anya dan Hani.” perintah Sinan pada orang yang berada di sebrang telfon.
Ada helaan napas lega saat matanya kini menatap ke rumah Anya yang sepenuhnya sudah gelap. Menandakan jika sang pemilik rumah sudah terlelap. Sinan melajukan mobil kembali ke apartemennya tepat pukul 23.30.
__ADS_1