
“Saya juga mau ke pabrik pusat untuk ketemu sama pak Johar, jadi bareng aja kesananya”
Anya yang sebelumnya sudah berniat untuk pergi kembali duduk di sofa. Masalahnya jarak dari kantor menuju pabrik adalah 3 jam itupun jika tidak macet. Dan jika mereka pergi bersama maka Anya akan semobil dengan bosnya itu selama 3 jam. Anya langsung menggeleng membayangkannya.
“Tidak perlu pak. Tadi saya sudah mengecek jadwal, dan hari ini ada bus kantor yang mau ke pabrik, saya bisa ikut bus” tolak Anya halus.
Tak biasa ditolak oleh karyawan, Sinan berdehem beberapa kali lalu bersandar ke sofa sambil menyilang kan kaki “Bus jalan sebentar lagu, dan hari ini hanya satu arah. Itu berarti kamu harus cari alternatif lain untuk pulang”
Anya mengangguk paham “Tidak masalah”. Ya, tidak masalah ketimbang harus satu mobil dengan bosnya ini.
“Bus rame karena bawa rombongan staf penyediaan barang”
Anya mengangguk lagi “Tidak apa-apa pak”
“Ada kemungkinan nggak bisa duduk”
“Saya bisa duduk disebelah supir pak. Berdiri juga nggak masalah” Ini orang maksa banget suruh bareng sih. Batin Anya.
“3 Jam?”
Anya kembali mengangguk. Sebegitu besarnya kah keinginan buat satu mobil sama gue?.
“Yakin, saya mau ke pabrik juga, bisa sama saya kalau kamu mau”
“Tidak usah pak, terimakasih”
“Saya butuh orang yang buat gantian nyetir sama saya”
“Tidak us—, Ya?”
Ucapan barusan membuat Anya kehabisan kata-kata. Duarr!!, Rasa diinginkan oleh Sinan agar bisa satu mobil meledak seketika. Gila. Karena hasutan ucapan Ocha waktu itu sepertinya membuat kepedean Anya meningkat berkali-kali lipat. Bagaimana bisa dirinya berpikir jika Sinan mengajak satu mobil karena kasihan jika dirinya tak bisa duduk di bus?.
Hai Tukijah, sadar. Lo cuman mau dijadiin sopir.
“Saya butuh orang buat gantian bawa mobil pulangnya”
Anya menarik senyumnya paksa.” Maaf pak tapi saya juga nggak pengin bawa mobil hari ini. Saya mau naik bus aja, saya pamit ya pak, permisi” Ucap Anya dalam satu tarikan nafas, lalu buru-buru keluar dari ruangan Sinan. Buset gue malu banget!.
“Kenapa mbak?” Navel yang melihat Anya keluar dengan buru-buru mengerutkan dahinya bingung.
“Nggak kenapa-kenapa. Gue balik kerja ya” jawab Anya dan langsung melesat masuk kedalam lift.
__ADS_1
Gara-gara Ocha, pikiran Anya benar-benar tak bisa lagi berjalan lurus. Setiap kali melihat Sinan, otak Anya langsung merespon seolah Sinan memang menyukainya. Padahal jika dipikirkan lebih dalam lagi, itu adalah hal yang mustahil.
Pertemuan mereka adalah di bar dengan kondisi Sinan yang baru saja ditinggal nikah oleh pacarnya sendiri. Pertemuan kedua juga Sinan tahu jika Anya sudah menikah dan punya anak, meski pria itu kemungkinan besar juga tahu jika Anya sudah bercerai karena mendengar pembicaraan dirinya dan Danu di kafe. Ketiga adalah Sinan menciumnya di bar, Anya yakin itu karena Sinan melihatnya sebagai mantan pacar pria itu.
Begitu lift terbuka dilantai 5, Anya langsung berjalan ke kubikelnya dan meletakkan kepalanya di atas meja. Baru kali ini Anya merasa malu semalu-malunya.
“Kenapa mbak? Pak Sinan marah-marah ya?” Alun yang duduk di dekatnya menepuk punggung Anya 3 kali, seolah ingin memberi kekuatan karena Anya menjadi korban ke marahan bosnya ini.
“Pak Sinan itu emang begitu mbak orangnya. Ganteng sih cuman galaknya minta ampun. Tapi kalau marah itu keliatan tambah sexy” Alun tertawa cekikikan sendiri.
“Tapi marahnya itu kalau memang kita salah sih mbak. Urutan yang suka kena omelan pak Sinan pagi-pagi itu, pertama pak Ali, kedua mbak Jini, ketiga mbak Hanum, dan urutan ke empat kayanya bakal diisi mbak Anya” Alun kembali menepuk punggung Anya tiga kali.
Anya yang diberi kekuatan dengan tepukkan telapak tangan Alun hanya diam saja tak menanggapi. Baguslah kalau Alun mengira jika dirinya baru saja dimarahin oleh Sinan ketimbang dibuat malu karena tingkat kepedeannya.
“Nggak ada yang nyangka loh mbak, bocah gembul yang dulu suka banget nongol ke kantor sore-sore masih pakai seragam sekolah, malah jadi ganteng begitu”
Anya menegakkan badannya seketika. Bocah gembul yang suka nongol sore-sore pakai seragam sekolah?.
Melihat tatapan bingung Anya, Alun malah tertawa “Nggak percaya kan mbak?! Gue aja nggak percaya, bocah kaca mata jadi ganteng banget begitu”
Anya ingat dulu memang ada bocah laki-laki dengan seragam SMA yang selalu datang ke kantor 3 kali dalam seminggu untuk bertemu dengan pak Hamdan. Bukan hanya menemui pak Hamdan, bocah itu juga kadang menemuinya sambil membawa satu botol kopi kesukaan Anya. Anya ingat bocah itu berbadan gemuk dengan kaca mata yang bulat yang bertengger di hidungnya, pipinya tembam dan selalu menunduk setiap kali bertemu dengan Anya.
“Seriusan?” tanya Anya. Bocah itu beneran Sinan yang ia liat sekarang?.
“Pak Sinan beneran bocah laki-laki itu Lun?” tanya Anya lagi masih tak percaya.
“Seriusan mbak. Ya kali gue bohong”
“Mbak Anya, bisa bicara sebentar di ruang rapat?”
Pandangan Anya dan Alun yang tengah asik membahas Sinan kini menoleh bersamaan kearah Jini yang berdiri diambang pintu ruang rapat. Wanita itu hanya melirik sebentar, lalu masuk kedalam ruangan dengan suara pintu yang sepertinya dibanting sedikit.
“Gue belajar dari lo mbak” ucap Alun.
“Maksudnya?”
“Jangan keluar dari perusahaan ini kalau ujung-ujungnya bakal bergabung lagi. baru kelar diomelin CEO, kini mau di omelin lagi sama atas. Ngeriii”
Anya tertawa mendengarnya. Percayalah hai kawan, jangan pernah melakukan hal seperti Anya jika kalian sudah merasa akan ada yang tidak beres saat kembali bergabung dengan kantor lama.
Dengan 3 lembar kertas yang diberikan Sinan tadi. Anya berjalan ke ruang rapat kemudian masuk dan duduk didepan Jini.
__ADS_1
“Saya mau tanya mbak. Mbak diminta pak Sinan buat pegang produk yang sudah pernah gagal?” tanya Jini hati-hati, meski raut wajah kesal terpampang nyata di wajah wanita ini.
“Iya mbak. Kebetulan saya juga model pertama yang mengiklankan produk ini, jadi pak Sinan menyuruh saya menggambil alih” jawab Anya tak kalah santai.
“Tapi mbak tahu kalau produk yang gagal itu setelah dipegang sama saya?”
Anya mengangguk.
“Mbak masih setuju buat garap?!”
Anya kembali mengangguk. Suara Jini sudah naik beberapa oktaf, namun Anya masih berusaha untuk bersikap tenang.
“Pak Sinan meminta saya untuk mengambil alih” jawab Anya dengan nada yang masih seperti biasanya.
Wajah Jini kini merah padam “Mbak nggak ngertiin perasaan saya ya?!”
Anya tertawa. “Mbak bisa kan tenang sedikit? Kecilin suaranya. Kalau mbak ngomongnya dengan nada nyolot begitu, saya juga bisa” ucap Anya tak kalah tegasnya. Dirinya memang sekarang menjadi bawahan Jini, namun jika ada yang tak sopan maka Anya bisa lebih tak sopan lagi.
“Kalau mbak tahu kenapa mbak setuju?!!”
“Saya sudah bilang kan. Kecilkan suara kamu! Banyak mata yang ngeliat kearah sini”
Jini menolehkan kepalanya ke arah luar, dan benar saja semua staf yang ada di luar baik itu tim 1 ataupun tim 2 tengah menatap kearah mereka berdua. Dinding ruangan rapat yang terbuat dari kaca, kondisi di dalam ruang rapat jelas bisa dilihat oleh siapapun yang berada di luar. Saat Jini menatap kearah mereka, mereka langsung mengalihkan pandangan kearah lain, berupura-pura tak melihat ke ruang rapat.
“Dengar Jini. Saya disini untuk bekerja. Untuk menciptakan produk baru yang laku dipasaran. Lagi pula produk ini juga sudah ditarik dari pasaran 1 tahun yang lalu. Jadi tidak ada alasan untuk saya mempertimbangkan perasaan kamu!” ucap Anya.
Jini yang sebelumnya marah kini langsung kena mental mendengar sederet ucapan Anya barusan.
“Jadi jangan membahas mengenai perasaan di kantor mbak. Saya mau izin keluar untuk ambil sampel di pabrik pusat” ucap Anya lagi lalu langsung ke luar dari ruang rapat.
“Mbak nggak apa-apa kan?” tanya Alun begitu Anya sampai di kubikel.
Tatapan Anya kini tertuju ke arah ruang rapat dimana Jini masih berada di sana. Alih-alih menanyakan keadaannya, sepertinya pertanyaan barusan lebih baik ditunjukkan kepada Jini yang kini terlihat menunduk sambil sesekali mengusap air mata.
“Nggak kenapa-kenapa. Ke ruang rapat gih sana. hibur Jini”
Alun langsung menggeleng cepat “Ogah”
“Ya terserah lah. Mbak cabut dulu ya, mau ambil sempel” Anya memasukkan semua barangnya kedalam tas, lalu berjalan keluar dari ruangan tim pemasaran 2.
Disisi lain Radit juga keluar dari ruangan tim pemasaran 1. Pria itu melambaikan tangannya kearah Anya. Jika sejak tadi Radit ada di ruangan tim pemasaran 1, maka ada kemungkinan pria itu juga melihat semua hal yang terjadi.
__ADS_1
***