Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 48 : Ngikut lagi.


__ADS_3

Pertama kali menatap gedung Miracle semenjak resign adalah saat Anya kembali bergabung setelah bertahun-tahun berlalu. Kedua dirinya menatap gedung ini lagi cukup lama adalah saat tersebar foto Sinan dan dirinya yang berada di ruang make up. Dan sekarang untuk ketiga kalinya Anya kembali menatap gedung 15 lantai didepannya ini.


Jika sejak awal tahu kembalinya dirinya hanya akan menyeretnya berperan sebagai tokoh utama di setiap gosip yang menjadi konsumsi para staf, Anya mungkin akan memilih untuk menolak tawaran Ibu Beti kala itu.


Langkah pertama memasuki gedung begitu berat dan semakin berat saat semua orang mulai berbisik satu sama lain. Banner foto dirinya sudah menghilang padahal kemarin masih di pajang tak jauh dari meja resepsionis membuat nyali Anya benar-benar merosot. Bahkan jarak antara pintu masuk dan lift terasa amat jauh bagi Anya sekarang.


"Gue yakin mereka pasti pacaran"


"Gila sih ya. Masuk kerja lagi dikira emang niat kerja. Eh ternyata malah jilat atasan"


Tangan Anya mengepal begitu mendengar sederet kalimat barusan. Jika saja mereka adalah salah satu anggota tim marketing, tangan Anya pasti sudah kembali melayang untuk menamparnya.


"Gue denger dia udah cerai juga."


"Udah. Baru 1 tahun yang lalu. Gila sih kalau langsung bisa dapet gebetan lain padahal anaknya baru keilangan bapaknya karena cerai"


Di atas meja resepsionis ada vas bungan kecil yang terbuat dari keramik. Jika di lempar dan mengenai wajah, lukanya pasti akan meninggalkan jejak disana.


Atau pinjam tongkat security dan menggetok kepala mereka layaknya sebuah drum yang haris dibunyikan saat pentas.


Atau mungkin juga Anya bisa melemparkan sepatunya dan mengenai mulut mereka agar terasa seperti tamparan.


Jika. Jika salah satu diantara 3 alternatif itu bisa digunakan sekarang, mungkin Anya akan jauh merasa lebih baik.


" Beuh nggak kebayang sih itu anaknya kalau tau emaknya cerai karena main belakang"


Tak perlu lagi menimang apa yang harus dilempar ke arah mereka. Anya buru-buru melepas sepatunya dan berjalan mendekati mereka. Sayang, jika di kempar sepatunya bisa tak mengenai sasaran.


Namun baru juga 3 langkah mendekat, seseorang yang baru saja masuk membuat langkah Anya berhenti seketika. Masalahnya orang itu juga meneriaki namanya yang membuat semua orang semakin heboh.


"Anya. Sayang"


Bulu-bulu halus Anya di sekitar leher dan tangan meremang seketika. Ia menoleh sebentar ke arah Sinan yang kini jalan semakin mendekat. Berpura-pura tak mendengar, Anya membalikan badannya dan berjalan super cepat ke arah lift.


"Sayang tunggu"


"Sinting" umpat Anya lirih. Langkahnya masih terus bergerak mendekati lift menghiraukan Sinan yang masih memanggilnya. Semua perhatian jelas terfokus ke arah mereka. Anya rasanya ingin menenggelamkan dirinya saja di lautan luas. Malu.


"Nggak usah buru-buru"


Mau seberapa cepat dirinya berjalan, Kaki panjang Sinan jelas memudahkan pria ini untuk mensejajarkan langkahnya dengan Anya. Anya merutuki lift yang masih juga belum terbuka.


"Ayo kita terang-terangan di kantor. Jangan kucing-kucingan lagi"

__ADS_1


Anya langsung menepis tangan Sinan yang hendak menggenggam tangannya. Namun lagi dan lagi dirinya kalah dari Sinan karena pria ini berhasil untuk menautkan jari-jari mereka.


"Pak kesambet apa sih pagi-pagi" bisik Anya.


"Kesambet pesona kecantikan kamu yang pakai baju santai begini" bisik balik Sinan.


Hari ini adalah waktunya pergi ke Bali. Bukan hanya untuk sekedar jalan-jalan saja, ada event Miracle yang akan di adakan di sana sesuai dengan rencana. Semua staf departemen pemasaran diminta untuk berkumpul dulu di kantor untuk meeting terakhir acara disana. Sedangkan para atasan departemen lain langsung berkumpul di Bandara nanti siang.


Begitu pintu lift terbuka dan menunjukkan isi lift yang hampir penuh dengan orang, Anya berusaha melepaskan tangan Sinan dan berakhir dengan kegagalan.


"Mereka udah ngeliat kita. Ngenes banget saya kalau kamu lepas" bisik Sinan lalu menarik Anya masuk ke dalam lift.


Jika seperti ini maka Anya hanya perlu pasrah saja.


"Saya beliin tike first class ya, biar duduk di sebelah saya" bisik Sinan.


"Saya lempar sepatu kalau bapak ngelakuin hal itu" ancam Anya.


Sinan tersenyum mendengarnya. Sudah bisa ditebak jika Anya pasti menolaknya. Sinan menanyakannya hanya untuk mengembalikan mood wanita ini yang berantakan tadi. Masalah Anya yang hendak mengajak ribut staf lain sambil membawa sepatu yang dilepas jelas dilihat oleh Sinan tadi. Maka dari itu daripada pacarnya menjadi bahan gunjingan, lebih baik mereka berdua— dirinya dan Anya yang menjadi gosip panas hari ini. Oh bukan gosip, tapi kenyataan jika mereka berdua memang berkencan.


"Keruangan saya dulu yuk An. Saya laper"


Anya tak menjawab, matanya menatap kearah angka yang kini menunjukkan angka 4, sebentar lagi 5, Anya hanya perlu kabur tanpa menjawab ajakan Sinan barusan.


"Permisi pak"


Tak menuju kubikel, Anya langsung menuju ruang rapat dan membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arahnya. Anya terlambat 5 menit.


"Setelah talkshow dengan mbak Luna selesai, kita baru akan mengeluarkan produknya. Saya juga sudah koordinasi dengan beliau tentang konsep acaranya. Saya harap kita semua fokus dengan acara sehingga tidak ada kesalahan bahkan sampai waktunya molor dan terlambat"


Ucapan kata 'terlambat' dari Jini disertai dengan mata wanita itu yang menatap ke arah Anya. Seakan menyindir dirinya yang telat datang rapat hari ini.


Anya hanya menanggapinya dengan senyuman tipis. Tamparannya kemarin sepertinya tak berhasil untuk membuat Jini tidak memandangnya dengan pandangan menghina seperti sekarang ini.


***


Sinan :


Beneran nggak mau saya pesenin tiket An? Di ekonomi kursinya kurang nyaman loh. Aku pesenin sekarang ya.


Anya:


Bapak pesenin. Batal aja agenda ke rumah pak Hamdan nanti.

__ADS_1


Sinan :


Oke. Saya nggak jadi pesenin.


Anya tersenyum membaca pesan balasan Sinan. Mereka sudah ada di Bandara sekarang dan pria itu masih sempat-sempatnya menawarkan tiket padahal semua staf pemasaran menggunakan kelas ekonomi. Jika itu terjadi, maka Anya akan semakin menjadi bahan gunjingan semua orang.


"Mbak. Aku masih nggak nyangka kalau mbak beneran jadian sama pak Sinan" ucap Alun sambil menunjukkan video di ponsel wanita itu.


Video Sinan yang memanggilnya sayang tadi pagi kembali menjadi konsumsi para karyawan. Anya hanya menanggapinya dengan helaan napas. Terserah. Anya sudah terlalu lelah untuk menanggapi semua hal itu.


"Semoga hubungan mbak lancar ya mbak. Alun doain nggak ada halangan lagi"


"Amin" Anya menjawabnya sambil tersenyum. Alun menjadi orang pertama di kantor yang memberinya ucapan selamat.


"Awalnya sih aku bingung mbak perlu tahu atau nggak. Cuman berhubung pak Sinan udah publish hubungan sama mbak. Jadi menurut aku mbak perlu tahu"


Anya mengerutkan dahinya "Tahu soal apa?"


Alun duduk mendekati Anya "Mbak Jini sebenernya suka sama pak Sinan sejak lama"


"Ya??"


"Beneran. Makanya pas ngeliat mbak nampar mbak Jini kemarin, kita semua ngakak di pantry"


Anya tersenyum mendengar sederet cerita Alun selanjutnya. Kejadian dirinya yang menampar Jini kemarin, Anya pikir bisa menjadi sumber masalah baru dengan yang lainnya. Tapi nyatanya, semuanya malah tertawa puas dengan apa yang Anya lakukan.


"Mas Sinan"


Panggilan itu membuat semua orang menoleh ke sumber suara. Tak terkecuali dengan Anya yang juga ikut menoleh.


Seorang gadis muda dengan rok lebar selutut dan kaos dengan gambar kartun dibagikan depan berlari ke arah Sinan dengan senyuman merekah. Gadis itu langsung melingkarkan tangannya di lengan Sinan, bergelayut manja yang dibalas dengan Sinan yang mengacak rambut gadis itu.


Anya berdiri sambil mengamati lekat-lekat wajah gadis itu. Wajahnya sedikit mirip dengan Sinan dan juga Anggi.


Tunggu, apa dia anak Anggi dan itu berarti dia adik Sinan?.


Dia ikut ke Bali?


Jika ikut ke Bali, maka—.


Tubuh Anya membeku seketika saat seorang wanita muncul dari arah gadis itu. Anggi. Ibu Sinan benar-benar ikut juga ke Bali.


**

__ADS_1


aku bawa cerita baru lagi teman-teman. udah netes barusan.



__ADS_2