Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 59 : Lollipop Vs Menikah


__ADS_3

Setelah Arum menangis hebat karena bertemu dengan orang tua Sinan yang jelas dianggap asing oleh putrinya. Anya hampir tak bisa menenangkan Arum meski berkali-kali keluar dan masuk restoran. Arum terus saja menangis hingga membuat Anya rasanya ingin menyerah dan pulang saja ke rumah.


Namun syukurlah tangis Arum mulai mereda setelah Setta—adik Sinan datang dengan membawa segala warna kutek yang baru saja wanita itu beli. Dan bersyukurnya lagi Setta tak keberatan sama sekali jika Arum mencoba semua warna kutek miliknya hingga keduanya begitu akrab dan duduk di sudut ruangan. Tak terlalu jauh dari meja utama karena private room ini juga berada di ukuran sedang. Tak terlalu berat dan juga tak terlalu kecil.


Sesekali Anya melirik guna memperhatikan putrinya yang terkadang tertawa karena candaan Setta. Setidaknya dalam keluarga ini ada satu sosok lagi yang bisa menyayangi putrinya dengan tulus.


"Aku ingin menikahi Anya yah, mah"


Anya menoleh saat suara Sinan memecahkan kecanggungan di ruang ini. Tangannya digenggam erat oleh Sinan hingga Anya tahu bukan hanya dirinya saja yang gugup sekarang. Namun Sinan juga sama gugupnya. Bahkan tangan pria ini sudah mulai berkeringat.


Tak ada jawaban apapun dari ke dua pasangan yang duduk di depan mereka. Ayah Sinan sesekali tersenyum saat mendengar Arum tertawa sedangkan Anggi terlihat hanya menatap kosong ke piring berisi steak yang belun tersentuh sama sekali.


"Dalam waktu dekat. Aku minta restu sama ayah dan mamah."


Suara Sinan kembali terdengar. Masih tak ada respon lagi dari keduanya. Membuat jantung Anya yang sudah berdetak tak normal begitu sampai di restoran kini berdetak semakin kencang. Terlebih saat melihat Anggi yang sama sekali tak melirik ke arah Arum.


"Ayah dan mamah tahu kan? jika laki-laki ingin menikah maka tanpa restu dari orang tua pun tidak apa-apa. Jika mamah tetap ti—"


Anya mengeratkan genggamannya di tangan Sinan membuat kalimat pria itu berhenti seketika. Saat pandangannya bertemu dengan mata Sinan, Anya menggeleng pelan.


Laki-laki menikah tanpa restu orang tua memang tidak menjadi masalah. Namun Anya tak ingin seperti itu, ia tak ingin seakan-akan merebut anak laki-laki dari keluarganya. Terlebih dirinya adalah janda beranak satu dengan masa lalu yang cukup menyeramkan.


"Saya akan mundur jika Om dan tante tak merestui hubungan ini"


"Anya!"


Tak menoleh, Anya masih tetap menatap lurus ke arah Anggi meski Sinan jelas tengah menatapnya tak percaya.


"Status saya yang sudah memiliki Arum jelas sulit diterima di sini. Hanya saja saya benar-benar mencintai Sinan, namun saya jauh lebih mencintai Arum" Anya mengatakannya sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Sinan d bawa meja.


Sudah dibilangkan? Jika dirinya akan tetap memilih Arum. Lebih baik kehilangan segala apapun bahkan kehilangan Sinan dari pada kehilangan Arum. Dan Anya yakin Sinan akan memahami hal ini. Begitupula pada Anggi yang kini melirik ke arah Arum sebentar sebelum akhirnya menatap Anya dan Sinan bergantian.


"Sebesar apa kamu menyukai anak saya?"

__ADS_1


Percayalah, kalimat ini seharusnya ditunjukkan kepada laki-laki yang menghadap ibu dari perempuan. Bukan ibu pihak laki-laki yang bertanya pada pacar putranya.


"Sebesar itu hingga saya tetap mendatanginya setelah hal yang membuat saya amat sakit hati"


Hanya dengan melihat ekspresi Anggi sekarang, Anya tahu wanita itu paham jika yang di maksud Anya adalah ucapannya saat di Bali kemarin.


"Saya tetap mendatanginya meski saya yang meminta untuk mengakhirinya. Karena itu kita bertemu di lift." lanjut Anya.


Lagi tak ada jawaban dari Anggi. Ibu Sinan kembali menatap Arum yang masih bermain dengan Setta.


"Saya minta maaf secara langsung karena telah mengatakannya. Baik sama kamu maupun putri kamu" ucap Anggi.


"Ayo kita makan. Dan kamu nak, laki-laki yang hebat akan tetap melanjutkan rencana meski banyak halangan." kata ayah Sinan.


"Yes!" seru Sinan yang membuat Setta melempar bantalan duduk ke arah kakaknya. Teriakan kerasnya jelas membuat Seta terkejut bukan main, bahkan Arum sempat ingin menangis jika Seta tak buru-buru memeluk gadis kecil itu.


"Ngagetin aja sih mas!!" kesal Seta.


"Biarin aja. Mas dapat lampu hijau soalnya" jawab Sinan tak tahu malu.


Satu yang Anya ketahui, ayah Sinan benar-benar menerima dirinya dan Arum, namun Anggi masih membutuhkan waktu untuk itu.


Meski dianggap menjadi rival karena kedatangan Anya dulu membuat Anggi diminta untuk resign. Namun Anya tahu dari cerita karyawan lain jika Anggi tetaplah memiliki sifat baik meski nyir-nyirnya minta ampun.


***


"Jadi kapan ayah dan mamah mau ketemu ibu Anya?"


Tepat saat pertanyaan itu terlontar, ke tiga orang yang berada di sampingnya tersedak seketika. Ayah, mamah, bahkan Anya juga tersedak mendengar pertanyaannya barusan.


Sebelum sang mamah berubah pikiran. Sinan jelas akan bergerak cepat sebelum terlambat. Apalagi jika Anya juga berubah pikiran dan menolak untuk ia nikahi lalu tiba-tiba menghilang begitu saja. Sinan yakin dirinya bisa mendekam di rumah sakit lebih lama dari pada waktu itu.


Jarang-jarang jatuh cinta sama orang lain. Namun jika sekali jatuh cinta dan ternyata ada kendala, rasa sakitnya jelas tak lagi bercanda.

__ADS_1


"Dalam waktu dekat?"


Sinan melirik sebentar ke arah Anya yang menyentuh lengannya. Bukan hanya Anya saja yang menyiapkan sengatan listrik untuknya karena ucapan wanita ini yang ingin mundur barusan. Namun Sinan juga memilikinya.


"Harus secepat itu?" tanya Anggi.


"Iya mah"


"Kenapa harus secepat itu?" kali ini ayah yang bertanya.


Percayalah dirinya kini terlihat seperti anak kecil yang tengah merengek dibelikan permen lollipop secepatnya. Sinan bahkan sudah 3 kali melirik horor ke arah Setta yang tengah menertawakannya.


"Sebelum mamah dan Anya berubah pikiran" jawab Sinan.


"Ngapain juga aku berubah pikiran?" bisik Anya.


Sinan mendekatkan bibirnya ikut berbisik "Kamu, setelah ngeliat aku kaya anak kecil yang minta permen tapi kali ini minta nikah"


Melihat Sinan yang tak kunjung menjauh dari Anya dan malah tersenyum sambil berbisik. Ayah berdehem 3 kali membuat Anya mendorong tubuh Sinan agar kembali duduk tegak."Minta nikah, tapi emang kamu udah bisa deketin Arum?"


"Sudah dong yah"


"Coba panggil dan suruh mendekat"


"Arum. Arum sini." Sinan menggerakkan tangannya, meminta gadis kecil yang berada di depan Setta berjalan mendekat.


"Arum sini, ada mama nih" coba lagi. Tapi alih-alih bergerak, Arum malah menggeser posisi duduknya hingga mepet ke Setta.


"Cantik Arum. Duh cantik banget Arum"


Sinan menarik senyumnya paksa saat melihat Seta tengah tersenyum dan menatapnya geli. Dibalik tatapan itu Sinan tahu ada kata 'ma*pus' yang mewakilkannya.


"Deketin dulu baru nikah. Mamah mau ke toilet dulu" setelah mengatakan itu, Anggi berdiri dari posisi duduknya dan keluar dari ruangan.

__ADS_1


***



__ADS_2