Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 33 : Orang yang Paling Dibenci


__ADS_3

"Kamu pacar sahabat saya?" tanya Wine begitu duduk di samping Sinan. Menikah terlebih dahulu dari teman-temannya, jiwa sok pengalaman selalu muncul disaat seperti ini.


Tak seperti Wine yang langsung duduk di samping Sinan, Ocha lebih memilih berdiri bersandar pada tembok dengan tangan yang dilipat di depan dada.


"Sudah berapa lama?" tambah Ocha.


Hanya dengan sekali liat, Sinan langsung tahu siapa yang memiliki tenaga dalam dan siapa yang seperti mayat hidup. Sinan pikir kedua teman Anya hanya akan melihatnya dari kejauhan sambil tersenyum ramah, bukan duduk di sampingnya dan langsung menodong dengan berbagai macam pertanyaan. Mereka baru kenal, dan itu jelas hal yang aneh dengan melempar berbagai pertanyaan sekarang.


"Iya mbak. Saya pacar Anya" jawab Sinan. Pria itu duduk tegak dengan tangan yang mengepal untuk mengurangi rasa gugup. Saat melihat ekspresi kedua wanita ini sekarang, sepertinya Sinan tak perlu merasa gugup lagi.


Wine dan Ocha saling lempar pandang dengan senyuman girang. Namun karena sekarang lagi berada di depan calon suami sahabatnya, Wine langsung merubah ekspresinya kembali datar."Sejak kapa pacaran?"


" Saya nembaknya lama. Cuman baru di Acc tadi mbak" lanjut Sinan. Hanya dengan kalimat barusan raut wajah dua wanita ini berubah seketika. Keduanya tersenyum lebar sebelum menjerit bersamaan. Sinan bahkan sampai memegang dadanya saking kagetnya.


"Akkhh" pekik Ocha dan Wine girang.


Lagi, hanya sesaat sebelum ekspresi ke duanya kembali normal. Sekarang Sinan paham kenapa Anya tadi menakutinya dengan keberadaan dua sahabat wanita itu. Dunia Anya pasti tak pernah sepi karena punya sahabat seperti ini. Ah, Sinan jadi ingat dengan kedua sahabatnya yang sangat kaku.


"Di Acc, dikira skripsi" ucap Ocha lalu ikut duduk di samping Wine. Ibu tadi izin ke dapur saat Ocha dan Wine ikut bergabung di ruang tamu.


"Gue dosennya" tambah Wine sebelum kembali tertawa.


"Gue rektornya" ucap Ocha. Kedua wanita itu kembali tertawa yang membuat Sinan ikut-ikutan tertawa agar tak merasa canggung


Tak seperti Anya yang terkesan kaku, bagi Sinan Wine dan Ocha terlihat jauh lebih muda berbaur dengan orang asing.


"Ini ngomong-ngomong kamu umur berapa? kok manggil saya mbak?" Wine dengan kadar keponya yang tinggi itu kembali bertanya.


"Jika dihitung dari usia, mungkin bedanya sekitar 3 tahu mbak" jawab Sinan.


"Buset, dapet brondong"


Ocha langsung memukul punggung Wine saat kalimat barusan keluar begitu mudahnya dari mulut wanita itu langsung di depan Sinan. Suara pintu yang dibuka kasar membuat Ocha segera melemparkan pertanyaan berikutnya. Anya pasti sedang berjalan ke luar. "Emang suka sama Anya karena apa Nan?"


"Saya suka sama mbak An—"


"Jangan di jawab pak." Potong Anya begitu sampai di ruang tamu.


Anya langsung menarik Wine dan Ocha berdiri " Teman saya kalau sudah jam segini emang rada-rada" lanjut Anya sambil mendorong dua wanita yang kini tertawa puas masuk ke ruang tengah.


udah pantes jadi orang gila ini emang berdua?.

__ADS_1


***


"Bawa baju hitam An?"


Anya yang baru saja mengirim pesan kepada Alun untuk membatalkan janji dan kepada Radit untuk meminta laki-laki itu tak perlu datang menjemputnya, mendongak menatap Sinan. Sebelum acara makan malam memperingati hari pernikahan, biasanya akan diadakan doa bersama terlebih dahulu untuk mendoakan adik perempuan Navel yang meninggal 10 tahun yang lalu. Karena berada di tanggal yang sama, acara perayaan hari pernikahan pak Hamdan jauh dari kata mewah, mereka hanya akan makan malam bersama dan ujung-ujungnya akan berakhir dengan membahas pekerjaan.


"Bawa pak"


Sinan mengangguk, meraih tangan Anya lalu menggenggamnya erat. Hubungan mereka sudah ada peningkatan, maka berpegangan tangan selagi menyetir adalah hal yang wajib bagi Sinan.


"Navel datang juga pak?" tanya Anya.


"Sudah hampir 3 tahun ini dia hadir di acara"


Anya mengangguk paham. Saat tangannya berusaha untuk lepas dari genggaman Sinan karena berniat untuk melihat balasan pesan dari Alun, Sinan malah semakin mengeratkan genggaman tangannya. Mau tak mau Anya menggulir layar ponselnya dengan tangan kiri. Berpacaran dengan pria yang lebih muda itu memang perlu kesabaran. Cinta mereka masih begitu mengebu-ngebu.


"Ngomong-ngomong teman saya nanya apa pak?" merasa sulit jika mengetik dengan satu tangan kiri, Anya memilih untuk memasukan ponselnya ke dalam tas.


Sinan melirik sebentar ke arah Anya. Senyumnya masih mengembang dan Sinan yakin wajahnya kini pasti sudah memerah seperti kepiting rebus. "Nanya kapan kita pacaran"


"Terus bapak jawab apa?"


"Saya jawab, nembak kamu udah lama tapi baru di Acc sekarang"


"Temen kamu asik juga ya" lanjut Sinan.


"Asik, tapi kadang nggak waras"


"Tapi setidaknya dibanding kamu mereka lebih cepat dekat dengan orang lain"


"Jadi maksud bapak, saya sulit untuk didekati?"


"Iya. Dan buktinya status saya baru berubah jadi pacar kamu setelah sekian purnama"


Fix. Tingkah lebay Wine menular ke Sinan.


Anya berdecak sebal. Tatapannya kini menatap lurus ke jalan yang syukurnya tak terlalu macet malam ini.


Tak terlalu lama karena memang tak terjebak macet. Mereka sampai ke rumah berlantai dua dengan halaman luasnya. Beberapa mobil sudah berjejer rapih di parkiran tak terkecuali dengan mobil berwarna pink milik Anggi.


"Saya masuk dulu ya pak. Habis itu baru bapak" ucap Anya. Mewanti-wanti jika ada orang yang melihat mereka.

__ADS_1


"Harus banget begitu?"


"Iya" jawab Anya cepat. Buru-buru ia melepaskan sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil Sinan.


Namun namanya juga Sinan sang bos yang seharusnya tidak di suruh oleh bawahan, Pria itu ikut keluar dari mobil dan berjalan bersisian dengan Anya.


"Bapak ngapain ikut keluar" bisik Anya. Langkahnya sengaja di perlambat agar Sinan bisa mendahuluinya. Namun lagi dan lagi bukan Sinan namanya jika tak membuat Anya emosi.


"Bapak ih"


"Bapak!"


"Yak Sinan!" pekik Anya akhirnya.


Sinan yang melihat jika Anya sudah emosi malah tertawa. Saat langkah Anya berhenti, maka Sinan juga ikut berhenti.


"Emang kenapa sih An kalau barengan?. Lagi pula saya kan juga sudah jadi pacar kamu kan?!"


"Ya Tuhan. Itu baru tadi pak, tolong jangan buat aku makin susah di kantor karena gosip"


"Kalau gosipnya jadi pacar apa lagi istri saya, bakal dijamin aman"


Anya menghela napasnya kesal. " Biarin saya masuk dulu. 5 menit kemudian baru bapak masuk, atau kita putus aja sekarang?"


"Oke. 5 menit lagi saya baru masuk " jawab Sinan menyerah.


Anya menghela napasnya lalu kembali berjalan masuk ke rumah Hamdan. Bangunan rumah yang dulu sering sekali Anya datangi selama skripsi demi wifi geratis, kini tak ada yang berubah sama sekali. Interior di dalamnya bahkan membuat Anya tersenyum karena dulu bu Beti mengajak Anya untuk membeli barang-barang ini.


Semakin masuk ke dalam, jejeran foto model Miracle terpajang di dalam bingkai yang di letakan di atas meja, foto Anya juga berada di sana. Sebuah senyuman terbit, karena setidaknya pak Hamdan dan bu Beti masih menganggapnya sebagai bagian dari perusahaan.


Acara diadakan di halaman belakang. Anya terus berjalan menuju halaman belakang sedangkan Sinan kini malah mengekor di belakangnya. Terserahlah, jika ditanya Anya hanya perlu menjawab kebetulan bertemu di dalam.


Tepat setelah melewati area dapur, seseorang yang memanggil Sinan juga membuat langkah Anya terhenti.


"Mas Sinan"


Anya membalikan badannya guna melihat siapa yang memanggil Sinan dengan sebutan mas itu. Tepat setelah menghadap ke arah Sinan yang juga ikut menoleh ke belakang, mata Anya membulat seketika.


Hani juga di undang kesini?.


Belum selesai dengan rasa terkejut melihat Hani, Anya merasa seperti di guyur air es saat matanya kini menangkap sosok dua orang suami istri yang mengekor di belakang Sinan.

__ADS_1


Kenapa ayah dan ibu tirinya juga ada di sini?.


***


__ADS_2