
"Coba mbak. Sering main ke rumah mertua kamu. Ajak Arum juga, biar bisa dekat dengan keluarga suami kamu"
Anya menghela napasnya. Matanya sudah mulai berkaca-kaca dengan apa yang terjadi sekarang "Anya sakit hati bu kalau liat Arum kadang cuman dielus kepalanya doang, terus nggak diajak ngobrol"
"Ya jangan begitu mbak. Kalau kamu seperti itu kapan bisa dekatnya?"
"Ibu nggak sedih ngeliat Arum dipilih kasih begitu?"
"Sedih. Tapi setidaknya itu bukan dari keluarga inti kamu mbak. Kamu sama nak Sinan sudah bersikap adil, dan Arum kelak pasti sadar hal itu."
"Tapi dia akan kecewa karena utinya tidak seperti itu"
"Maka dari itu. Sekarang, selagi Arum masih kecil, kamu dekatkan dengan ibu mertua kamu. Agar nggak ada bekas hal buruk apapun di masa kanak-kanak cucu ibu"
Anya mengangguk paham. Tujuan mereka hari ini adalah mengunjungi rumah ibu mertuanya. Agak sedikit ragu karena Arum akan semakin diam setelah pulang dari rumah utinya, hanya saja benar kata ibu, jika tak di dekatkan maka selamanya akan ada tembok diantara Arum dan utinya.
"Bismillah mbak. Mau bagaimanapun dia tepat ibu suami kamu, yang harus kamu hormati. Jangan buat suami kamu bingung, karena sampai kapanpun suami kamu harus tetap berbakti sama ibunya"
"Baik bu. Anya tutup dulu ya bu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam."
Begitu sambungan telfon tertutup, Anya menoleh ke arah Arun yang tertidur lelap di atas kasur. Terhitung ini sudah 5 bulan semenjak Arun dilahirkan, dan Anya hampir terkena baby blues jika saja Sinan tak ikut terjun dalam merawat Arun, karena akhir-akhir ini, Anya lebih fokus ke Arum hingga terkadang membiarkan Arun yang menangis. Peran suami benar-benar sangat penting dan dibutuhkan saat masa-masa seperti ini.
Menggendong Arun, Anya mencium pipi gembul putrinya ini "Maafin mamih yak Dek" ucap Anya lirih.
"Maafin aku ya Yang"
Anya mendongak, menatap Sinan yang kini masuk kedalam kamar dengan Arum yang berada di gendongan suaminya itu.
"Maafin karena aku nggak jujur sejak awal" lanjut Sinan.
"Tentang kamu yang bikin perjanjian sama ibu kamu?" 2 bulan kelahiran Arun, melihat Anya yang sudah terlihat seperti mayat hidup karena stress, Ocha menceritakan semua yang wanita itu dengar di rumah sakit.
Marah? Tidak. Karena Anya sudah menebaknya dari awal. Kenal dengan Anggi sejak dulu, Anya tahu ibu mertuanya itu tak akan mudah menerimanya begitu saja.
Menikah dengan Sinan adalah keputusan yang dirinya ambil sejak awal. Maka dari itu, marah bukanlah hal yang harus dilakukan sekarang. Alih-alih marah, dirinya harus meluruskan semuanya sebelum ada noda hitam sakit hati di hati Arum.
Anya menangkap ekspresi terkejut pada wajah suaminya itu. Sebelum meneruskan pembicaraan, Anya memanggil mbak Ina—assiten rumah tangganya untuk membawa Arum dan Arun keluar.
"Ocha udah cerita semuanya" lanjut Anya saat hanya tinggal mereka berdua di kamar ini.
__ADS_1
Sinan menekuk satu lututnya didepan Anya, dan menggenggam tangan istrinya erat "Maaf ya yang"
Anya mengelus kepala Sinan lembut "Tanpa Ocha cerita, aku juga sudah menebak sejak awal bahkan saat kita belum menikah Yang. Cuman aku nggak tahu jika efeknya malah akan kena ke Arum"
"Aku benar-benar minta maaf"
"Bantu aku untuk jalanin ini sekarang ya Yang. Bantu aku agar mamah mau menerima aku dan Arum. Karena aku tidak akan pernah meminta kamu untuk memilih antara aku atau ibu kamu. Aku minta kamu untuk buat aku dan Arum diterima"
Sinan menganggukkan kepalanya dengan air mata yang meluncur. Anya mengusapnya dengan senyuman yang menguatkan. Mereka sudah menikah, segala masalah harus diselesaikan bersama.
Salah satunya, dengan tetap menjalankan rencana mereka untuk mengunjungi kediaman orang tua Sinan.
***
Perjalanan menuju rumah orang tua Sinan tak memakan waktu yang lama. Hari ini jalanan juga seakan membantu mereka untuk cepat sampai di rumah orang tua Sinan dan cepat menyelesaikan masalah.
Hanya dalam waktu 30 menit, mobil Sinan sudah terparkir di halaman rumah berlantai dua itu. Dan sejak sampai sudah hampir 5 menit pula Anya berada didalam mobil ini sambil terus membujuk Arum yang tak ingin turun.
"Kamu masuk aja dulu Yang. Bawa Arun juga ya, nanti aku sama Arum nyusul" usul Anya.
Sinan menggeleng "Kita barengan aja"
"Nggak enak sama mamah Yang"
"Sama aku aja nggak mau, apalagi sama kamu. Kamu duluan aja ya"
Setelah berdebat siapa yang masuk duluan, Sinan akhirnya mengalah dan masuk terlebih dahulu dengan Arun.
Anya kembali menatap Arum yang masih fokus membaca buku cerita "Cici nggak mau turun?"
Tanpa mengalihkan pandangannya dari buku, Arum menggelengkan kepalanya pelan "Arum mau baca ini dulu mih, tunggu selesai ya"
"Tapi itu udah seri kedua yang cici baca. Kita baca di dalam yuk. Baca sama tante Setta juga"
"Cici mau bacanya di mobil aja"
"Baca di dalam lebih seru" bujuk Anya lagi.
"Nggak mau"
"Kenapa nggak mau?"
__ADS_1
"Ada uti"
Anya terdiam seketika. Seharusnya tak perlu terkejut saat mendengar jawaban itu, tapi nyatanya Anya masih tetap saja kaget mendengarnya, ditambah pula dengan rasa sakit di hatinya.
"Cici Arum, ponakan tante yang cantik jelita"
Mendengar suara Setta, Anya langsung keluar dan membuka pintu mobil penumpang agar adik iparnya itu bisa ikut membujuk Arum. Tak seperti utinya, Setta lebih dekat dengan Arum, bahkan adik iparnya itu terkadang membawa Arum jalan-jalan di akhir pekan.
"Tante nungguin Arum masuk loh dari tadi. Eh malah disini" ucap Setta.
Melihat Arum yang tersenyum lebar sambil menunjukkan buku ceritanya kepasa Setta, membuat Anya ikut tersenyum juga.
"Cici lagi baca buku tante. Tante mau ikut baca juga?"
"Mau. Tapi tante nggak mau di mobil. Gerah. Kita masuk yuk, kita baca di dalam rumah aja sama tante"
Anya menghela napasnya saat melihat Arum kembali menggeleng "Tante Setta keringetan di mobil Ci. Kan mesinnya udah dimatiin sama Papih tadi"
"Tante keringetan?" tanya Arum pada Setta yang langsung mendapat anggukkan kepala oleh wanita itu.
"Mamih juga gerah?" kali ini pertanyaan Arum tertuju kepada mamihnya. Anya jelas langsung menganggukkan kepalanya.
"Cici juga gerah. Ayok masuk"
Anya dan Setta saling pandang sebelum akhirnya tersenyum lebar. Mission clear.
***
"Ini buat Cici. Dari Uti" akung—ayah Sinan lah yang bicara pertama kali begitu Cici ikut duduk di ruang keluarga.
Arum yang duduk di samping Anya menatap mamihnya sekilas. Anya yang sejujurnya juga terkejut mendengar hal itu menganggukkan kepalanya.
Sepasang anting yang mirip dengan Arun diberikan Akung kepada Arum. Namun tak ada senyuman sedikitpun yang terukir di wajah Arum. Putrinya ini hanya mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih.
"Cici seneng nggak?" tanya Setta.
Tak menjawab, Arum hanya menganggukkan kepalanya.
"Cici, uti mau taruh Arun di kamar, Cici mau ikut?" pertanyaan yang terlontar dari utinya kembali mendapat gelengan oleh Arum. Tak berniat untuk kembali membujuk, Anggi langsung bangun lalu membawa Arun kedalam kamar.
Bagi Anya, setidaknya ada sedikit perubahan dari sikap Anggi. Meski Anya yakin hadiah ini pun di beli karena bujukan ayah mertuanya ini.
__ADS_1
...****************...