Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 18: Oleh-Oleh


__ADS_3

Terhitung sudah hampir 5 menit Anya berdiri di depan meja Navel dengan satu paper bag yang ada ditangannya. Karena usul gila Ocha dan Wine yang mengatas namakan tanda terima kasih, mereka berdua memberikan usulan pada ibu agar Anya membawa oleh-oleh ke kantor untuk Sinan. Dengan usulan itu jelas ibu menyetujuinya dan berakhir dengan Anya yang membawa 5 paper pag berisi oleh-oleh, 4 diantaranya sudah dibagikan kepada tim pemasaran 1,2, pak Radit dan juga kepada Navel yang ajaibnya menolak Anya yang berniat untuk titip oleh-oleh untuk Sinan pada pria ini.


“Pak saya nitip aja ya” mohon Anya.


“Kasih sendiri mbak. Tunggu aja, sebentar lagi pak Sinan juga datang”


“Bukan masalah itu. Ini saya ngasih begini doang. Malu pak”


“Yaelah tenang, pak Sinan nggak bakal liat seberapa banyak isinya, tapi niatnya mbak”


Anya menyerah sekarang, mau dibujuk bagaimanapun, Navel tetap tidak akan mau menolong dirinya. Menunggu sekitar 10 menit, akhirnya Sinan datang dan langusung masuk kedalam ruangannya, posisi pria itu yang sedang menelfon membuat Anya yang jelas-jelas duduk disamping Navel seakan makhluk astral yang tak terlihat oleh pria itu. satu yang Anya sadari, ekpresi bosnya kali ini berbeda seperti biasanya, rahangnya terlihat mengeras dengan ekpresi marah seakan siap untuk mengeluarkan umpatanya pada orang yang menelfon di sebrang sana.


Anya langsung menatap memelas pada Navel, melihat ekspresi Sinan langsung membuat nyali Anya yang hendak untuk mengetuk pintu ruangan menciut seketika “Pak tolong ya”


Navel menggeleng cepat “Ogah ah mbak. Gue kena nanti kalau ngetuk pintu dia sebelum disuruh”


“Apalagi gue pak. Bapak yang sekertarisnya aja takut, lah gue. Bisa dicincang gue didalam”


“Mbak kasih sendiri aja ya”


Anya menggeleng.”Nggak jadi deh, gue bawa pulang lagi aja” lebih baik dibawa pulang ketimbang harus mengetuk pintu ruangan yang bisa saja penghuninya kini berubah menjadi singa buas yang bisa menerkam siapapun.


“Terserah mbak aja deh”


Anya mengangguk. Berniat untuk kembali menuju lift, langkahnya tiba-tiba terhenti begitu pintu ruangan dibelakangnya tiba-tiba terbuka dan suara Sinan yang memanggilnya membuat Anya memutar tubuhnya.


“Anya? Kamu ngapain disini?”


Mata Anya langusung melirik kearah Navel seakan minta pertolongan membaca ekspresi bosnya itu sekarang, setelah mendapatkan anggukkan dari Navel, Anya berjalan mendekat ke arah Sinan dan menyerahkan paper bag yang ada ditangannya “Ibu saya bawa oleh-oleh pak”


“Masuk. Bicara di dalam” ucap Sinan.


Tunggu, ini kenapa harus bicara di dalam sih?


Cuman sekedar mau ngasih oleh-oleh. Bukan mau bahas kerjaan.


Meski menggerutu dalam hati, Anya mengangguk kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan Sinan. Satu doa yang Anya panjatkan sekarang, semoga dirinya tak jadi sasaran empuk omelan bosnya pagi ini.


“Taruh aja dimeja”


Anya mengangguk lagi, menaruh paper bag di meja tamu kemudian membungkuk sedikit berniat untuk kembali keluar dari ruangan Sinan. urusanya sudah selesai, maka tidak ada alasan lain untuk dirinya berada di ruang ini lebih lama lagi.


“Bisa bantu saya sebentar?”


Anya yang sudah memegang knop pintu memutar tubuhnya kembali menghadap Sinan. Berjalan mendekati meja pria itu, Anya menemukan kotak p3k yang juga ada diatas meja.


“Bapak nggak kenapa-kenapa kan pak?”


Tak menjawab, Sinan membuka jas yang pria itu kenakan kemudian menggulung lengan baju hingga ke siku, luka yang berada di siku tangan sebelah kanan terlihat merah dengan darah segar yang masih mengalir. Sinan menggunakan jas berwarna hitam, itu yang membuat Anya tak melihat jika ada darah yang menyerap di baju bosnya ini.

__ADS_1


“Ada yang nabrak saya tadi.”


“Nabrak bapak? Kok bisa?” tanya Anya sambil berinisiatif menarik kursi terdekat dan duduk disebalah kanan Sinan. Mengambil kapas yang sudah diberi alkohol, Anya mulai membersihkan luka Sinan dengan hati-hati.


“Saya nggak tahu. Tadi nyebrang di persimpangan jalan depan sana. eh tiba-tiba ada motor yang langsung nabrak saya”


“Bapak kali yang nggak liat-liat lampu, main nyebrang aja”


“Enak aja. Saya udah liat-liat lampu, dan lampu buat penyebrang jalan udah hijau”


Anya mengambil obat merah dan mulai menempelkannya pada luka Sinan “Yakin itu buat penyebrang jalan? Bukan untuk kendaraan?”


“Ya kali lampu masih warna merah saya nyebrang An?. Saya belum nikah, nggak mau mati duluan”


“Tapi kok bisa ketabrak pak?”


“Ya mana saya tahu. Kamu harusnya nanya sama yang bawa motor, kenapa nabrak saya”


“Ya berarti, besok-besok kalau mau nyebrang liat kanan dan kiri dulu pak”


“Loh ini kok saya malah ngerasa lagi diomelin ya An?”


Anya yang seakan sadar jika pria yang tengah ia obati adalah bosnya sendiri langsung diam seribu bahasa. Untuk sesaat Anya benar-benar lupa jika pria yang duduk disebelahnya adalah Sinan, bukan Radit atau Danu yang bebas ia integrosi seperti tadi.


“Maaf pak. Saya nggak ingat ini bapak”


Sinan mengerutkan dahinya tak suka “Kalau nggak ingat saya, terus kamu mikirnya siapa? Radit?” tebak Sinan.


Sinan menahan tangan Anya “Kamu belum jawab pertanyaan saya loh An?”


“ Sepertinya itu bukan sebuah pertanyaan yang perlu saya jawab pak.”


“Kalau saya minta kamu untuk jawab gimana?”


Dahi Anya berkerut bingung. Apa tabrakan tadi bukan hanya membuat tangan bosnya ini terluka tapi kepalanya juga?. Siapa yang Anya pikirkan jelas bukan sesuatu yang perlu Sinan ketahui.


“Saya tidak memikirkan siapapun” jawab Anya bohong. Setelah jawaban itu Anya pikir Sinan akan membiarkanya pergi, namun pria ini kini malah menariknya dan membuat Anya kembali duduk di kursi.


“Serius? Bukan Radit?”


“Pak, maaf ya pak, kalau boleh saran lebih baik bapak ke dokter saja ya pak.”


“Karena menurut kamua ada yang salah dengan kepala saya?”


Anya mengangguk jujur.


“Karena saya bertanya siapa yang kamu pikirkan dan itu menurutmu itu aneh?”


Anya kembali mengangguk. Sejak tadi obrolan mereka terus saja berputar pada masalah yang sama, dan itu membuat Anya perlahan kehilangan kesabarannya “Iya. Siapa yang sejak tadi saya pikirkan jelas tidak ada hubungannya dengan bapak. Saya harus kembali bekerja. Saya permisi ya pak!” Anya langsung menarik tanganya agar terlepas dari genggaman tangan Sinan. Jatungnya berdetak seirama dengan langkah cepatnya yang berjalan keluar dari ruangan Sinan. Berada dekat dengan pria itu sepertinya bukan hal yang baik bagi jantungnya.

__ADS_1


Anya hanya mengangkat tangannya dan berlalu pergi saat Navel hendak bicara. Tak langsung menuju lift, Anya kini berjalan menuju kamar mandi dan mendekap disalah satu bilik. Sebelum kembali bekerja, jantungnya harus kembali berdetak normal telebih dahulu.


Sialan emang Ocha. Bikin racun di kepala gue. Gerutu Anya.


***


Nyatanya meski sudah dijadwalkan bertemu denga anak dari teman mamahnya, emosi Sinan yang sejak pagi sudah membuncah karena ditabrak lari ditambah dengan Anya yang tak menjawab pertanyaannya, membuat Sinan uring-uringan sejak pagi. Siapapun yang berbuat salah maka Sinan akan mengomelinnya habis-habisan hingga membuat beberapa karyawan yang biasanya memberi laporan mingguan seakan menghilang dan tak ada yang muncul didepan matanya.


Seperti sekarang. Sinan hanya duduk sambil menatap datar kearah perempuan yang memperkenalkan diri dengan nama Hani barusan. mereka memutuskan untuk bertemu di rumah makan milik Saka yang tak jauh dari area perkantoran. Dan untuk masalah Anya, wanita itu sama sekali tak lagi muncul dihadapannya setelah pembicaraan mereka tadi pagi.


“Kalau boleh tahu apa hobi kamu?”


Sinan menyesap kopinya sedikit “Hanya pergi ke bar dan kembali saat orang yang special datang menjemputku”


Jawaban Sinan barusan jelas membuat ekspresi Hani berubah seketika. Wanita didepannya ini menyesap sedikit minumannya sebelum akhirnya menarik senyumnya paksa “Orang yang special?”


“Iya.”


“Pacar?”


“Iya. Jika kencan ini berhasil maka kamu yang akan menjadi orang special bagi ku” jawab Sinan. Meski emosinya masih belum berubah, demi sang mamah, Sinan akan menjadi anak berbakti yang memiliki image yang tak akan membuat mamahnya malu didepan temannya.


Hani terlihat tersenyum malu “Waw, aku baru aja di gombalin barusan?”


“ Iya. Dan aku harap hal itu bisa membuat kita bertemu lagi nanti”


Hani kembali tersenyum. Seperti yang ia cari tahu info mengenai perempuan yang akan ia temui malam ini, semuanya sama persis dengan apa yang Sinan temui tentang wanita ini. wanita yang sama dengan para wanita lain yang begitu mudah untuk dirayu. Jika saja yang dirayu barusan adalah Anya, wanita itu pasti sudah tertawa sakras dan menganggapnya gila.


“Sayang sekali saya harus pergi sekarang. lain kali biar saya yang mengatur pertemuan kita”


Sinan mengangguk menyetujui usulan Hani, wanita itu kini membereskan semua barangnya kemudian berpamitan pergi. Begitu Hani keluar dari kafe, wajah Sinan yang sebelumnya tersenyum kini kembali berubah menjadi datar.


“Tumben habis ketemu cewek tuh muka kusem begitu” Saka yang sejak tadi duduk di kursi yang tak jauh dari Sinan berjalan mendekat dan duduk didepan sahabatnya ini.


“Pala gue penuh dengan satu orang” jawab Sinan. Sejak tadi meski dirinya terlihat nyaman didepan Hani, kepalanya masih penuh dengan Anya.


“Mbak Anya?”


Sinan mengangguk “Tadi pagi gue jelas-jelas ngeliat mata dia bergetar didepan gue, suhu tangannya juga berubah saat gue sentuh. Bukannya itu artinya dia juga tertarik sama gue?”


“Ya mana gue tahu. Kalau lo pengin tahu, di uji aja seperti cara lo biasanya”


Sinan mengangguk setuju. “Oke”.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


NOTE:


berhubung tanggal merah jadi bisa up cepat.

__ADS_1


Tinggalkan jejak kalian ya. LIKE dan Banjiri kolom komentar ya..


__ADS_2