
Melihat Saka yang kini terus mengedipkan mata kerahnya, membuat Sinan ingin sekali mencongkel ke dua mata itu. Sejak awal mulai menginfusnya, Saka tak henti-hentinya tersenyum meledek ke arah Sinan. Jika tak ada Anya di dapur, Sinan pasti sudah menendang Saka detik ini juga.
"Kenapa? Pengin nendang gue cuman takut kalau ketahuan pura-pura lemah?" ledek Saka sambil menggantungnya cairan infus di tongkat.
"Takut nggak bisa ngusel lagi kan lo" ledek Saka lagi.
"Anjir ini orang" umpat Sinan.
Saka tertawa keras mendengar umpatan lirih itu. Sinan yang biasanya selalu mengumpat dengan suara keras kini malah mengumpat dengan suara berbisik yang membuat telinganya malah geli alih-alih marah.
"Balik sana lo. Ganggu aja" usir Sinan.
Bukannya keluar dari kamar, Saka malah duduk di sofa yang ada di kamar "Satu botol habis, baru gue balik"
"Woy. Lama bener kalau gitu!!" sulut Sinan. Jika Saka terlalu lama di sini, Anya pasti akan merasa tak nyaman. Bisa-bisa kekasihnya yang berniat untuk menginap malah batal dan pulang ke rumah.
"Lah kenape? Kalau ada gue, lo nggak bisa ehem sama pacar lo kan?" tawa Saka lagi-lagi keluar.
Sinan menggeram kesal."Gue nggak kaya lo ya. Yang suka main sana main sini!!"
Main sana dan sini yang di maksud bukan berarti Saka suka bermalam dengan wanita. Meski terkenal playboy temannya itu tak pernah bermalam dengan wanita lain. Jika mereka berada di bar, maka ujung-ujungnya mereka bertiga akan tidur di bar hingga esok hari.
"Iya udah. Sinan mah yang paling alim. Lengkap udah. Gue playboy, lo Alim, dan Gema super kutub"
"An—" umpatan Sinan terhenti saat melihat Anya berjalan masuk dengan segelas jus jeruk lengkap dengan cemilan di piring.
"Silahkan di minum dok" ucap Anya. Wanita itu meletakkannya tepat di meja yang berada di depan Saka.
"Mbak. Hati-hati, Sinan mah keliatan alim, tapi bisa jadi harimau yang bisa nerkam mbak"
Satu bantal Sinan lempar tepat mengenai kepala Saka. Sahabatnya itu lagi-lagi tertawa meski Sinan sudah melemparkan pandangan maut ke arahnya.
"Dokter mau menginap?"
"Nggak. Dia mau pulang sekarang" bukan Saka yang menjawab, melainkan Sinan yang menjawab pertanyaan Anya barusan. Sinan yakin, Saka yang biasanya enggan untuk menginap di rumah orang pasti akan tiba-tiba menginap hanya untuk menggoda Sinan. Menggagalkan keinginan sahabatnya ini yang hanya ingin berdua dengan kekasihnya.
"Niatnya sih pengin nginep mbak. Cuman.."
"Pacar lo nungguin kan? Udah sana pulang!" potong Sinan.
"Lah gue kan jomlo. Pacar dari mana. Mbak Anya kalau punya temen yang masih jomlo, kenalin ke saya ya mbak"
Sinan memutar bola matanya jengah. Temannya ini semakin mengada-ngada agar tetap berada di sini.
"Saya nunggu sampai infusnya habis mbak" lanjut Saka lagi.
__ADS_1
Anya menganggukkan kepala kemudian mengambil posisi duduk di tepian kasur "Kalian temen satu kampus?"
"Bukan. Saya aja nggak kenal dia siapa. Temen saya nggak serese itu" jawab Sinan cepat.
Saka bersiul " Cielah pakai saya. Biasanya juga gue lo"
"Berisik" geram Sinan.
Anya yang melihat itu hanya bisa tertawa. Hubungan mereka berdua sama persis dengan hubungan dirinya bersama Ocha dan Wine. Jika sudah menggoda dan jahil, maka tak akan berhenti sampai yang di goda dongkol setengah mati.
"Oke. Gue puas sekarang. Gue cabut ya mbak. Harus balik ke rumah sakit lagi soalnya"
Anya ikut berdiri saat Saka berdiri. Pria itu masih melempar senyuman meledek ke arah Sinan.
"Copot selang infusnya bagaimana dok?" tanya Anya.
"Saya bisa lepas sendiri Yang." Ya. Karena biasanya, setelah memasang infus di lengannya, Saka akan langsung pergi tanpa menunggu hingga cairan infus habis. Sahabatnya ini pasti puas bukan main setelah habis-habisan menggodanya.
"Gue pergi dulu. Nanti kalau ada sesuatu atau Sinan berubah jadi ganas. Mbak telfon saya ya mbak"
"Nggak ada!" pekik Sinan.
Saka tertawa puas lalu berjalan keluar dari kamar. Besok dirinya harus buat perhitungan dengan temanya itu.
"Asik nggak. Gila nggak"
Anya tertawa, jika dibandingkan dengan kedua temannya, Saka sepertinya mirip dengan Wine karena kesukaan pria itu dalam meledek orang lain.
"Rebahan sini. Saya ngantuk" Sinan menepuk bagian kosong di sisi kanan kasurnya.
"Nanti kalau temen kamu masuk lagi gimana? Nggak kedengeran pintu luar kebuka soalnya"
"Nggak bakal. Sini"
Anya mengangguk. Ia mengambil posisi rebahan di samping Sinan dan membawa pria itu ke dalam pelukannya.
"Bapak mungkin tahu alasan kenapa Navel ngelakuin hal ini" tanya Anya hati-hati. Dirinya belum begitu mengantuk, ia masih ingin mengobrol dengan Sinan. Setidaknya sampai cairan infus Sinan habis.
"Karena adiknya"
Anya menunduk, mencoba melihat wajah Sinan yang kini memejamkan matanya "Adiknya?"
"Adiknya meninggal karena jatuh dari lantai 8 apartemen" saat mengatakan itu, Sinan mempererat pelukannya. Siapa yang tahu kejadian beberapa tahun lalu yang Sinan pikir sudah selesai ternyata masih meninggalkan luka yang sama di hati Navel hingga pria itu berniat untuk membalas dendam.
"Aku terlambat menjemputnya. Dan dia menjatuhkan dirinya dari sana" lanjut Sinan.
__ADS_1
Anya bisa merasakan jika tubuh Sinan kembali bergetar.
"Dia menyukaiku. Dia gagal ujian masuk perguruan tinggi. Dia meminta ku untuk menjemputnya di hari yang sama dengan ulang tahun mantan kekasihku"
"Aku tidak bisa datang. Dan ketika aku datang larut malam. Dia—" Sinan menggantungkan kalimatnya.
"Aku paham pak. Jadi tidak usah dilanjutkan" ucap Anya lirih.
Sinan menganggukkan kepalanya " Saya ngantuk An"
"Tidur pak"
"Peluk yang erat"
"Oke"
Anya merubah posisinya berbaring menghadap Sinan. Menarik Sinan ke dalam dekapannya dan memeluknya erat. Malam ini Sinan hanya ingin tidur dan mengistirahatkan otaknya yang berfikir keras seharian ini.
***
"Lo gila!" satu tinju Radit layangkan tepat mengenai wajah Navel. Setelah mendengar penjelasan Sinan yang mengetahui jika Navel dalang semuanya. Radit langsung menelepon Anya dan meminta wanita itu agar menemani Sinan. Setelah itu tujuannya jelas langsung ke apartemen Navel. Tak menemukan Navel di sana, Radit langsung menuju apartemen milik adik Navel dan menemukan pria itu di sana.
"Sudah berapa kali gue bilang kalau itu bukan salah Sinan!!" satu tinju lagi, Radit layangkan ke Navel yang kini tergeletak pasrah di lantai.
Mata pria itu sudah sembab setelah mengingat jika adiknya pernah lompat dari sini. Dirinya tak mampu membujuk Adiknya dulu hingga hal naas itu terjadi.
Radit mencengkram erat kerah leher Navel "Lo mau ngehancurin perusahaan setelah apa yang pak Hamdan lakukan buat lo?!" pekik Radit lagi.
"Hanya karena selalu mendoakan kematian adik ku diacara ulang tahun pernikahan. Lo pikir itu cukup?" balas Navel.
"Apa kematian adik lo itu salah kita semua?! Dia depresi karena nggak lolos seleksi masuk kampus!!"
"Tapi dia bisa selamat kalau Sinan datang!!" pekik Navel. " Adikku bisa selamat kalau Sinan datang ke sini alih-alih menemui pacarnya" lanjut Navel.
"Emang bre*sek lo!" Radit kembali melayangkan tinjunya.
"Ya gue emang bre*sek. Dan Sinan jauh lebih sialan karena dia berkencan dengan Anya di hari yang sama dengan kematian adikku!!" Navel kembali menangis. Sebenarnya bukan hanya kantor saja yang Navel pasangi penyadap suara, tapi di mobil Sinan juga. Maka dari itu, mendengar jika Sinan malah berkencan dengan Anya dihari kematian adiknya. Membuat Navel emosi. Ini baru awal pembalasan, dan sangat di sayangkan karena dirinya ketahuan secepat itu.
**
Kali aja ada yang punya temen yang baca di NT juga, boleh dong cerita ini di promosiin. biar rame 🤭
__ADS_1