Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Salto Dunia Anya : Kejutan Ulang Tahun


__ADS_3

Tak pernah membayangkan jika dirinya akan kembali memiliki keluarga kecil yang lengkap seperti ini. Trauma akan kejadian mas lalu, cukup untuk membuat Anya menghindari hubungan dalam bentuk apapun dengan sosok manusia berjenis kelamin laki-laki. Bang Arka dan Kais, itu adalah pengecualian karena mereka pula yang membantu Anya menjaga Arum.


Tapi sekarang, dua sosok gadis kecil yang berbaring di sampingnya membuat Anya tersenyum lebar. Sebaik itu Allah hingga menghadirkan satu anak perempuan lagi dalam hidup Anya. Meski menambah tanggung jawab dunia akhirat, Anya benar-benar bersyukur atas kehadiran Arum dan Arun. Tidak lupa juga dengan kehadiran sosok suami hebat seperti Sinan.


Meski usia lebih tua Anya, namun Sinan bisa membawa diri menjadi sosok kuat yang bisa menjadi sandaran tiga perempuan di keluarga kecil ini. Sekali lagi, Anya benar-benar bersyukur.


Mengikuti nasihat dari Wine yang kadang bisa menjelma menjadi ahli ilmu agama, Anya memegang ubun-ubun Arum yang tengah tidur kemudian membacakan segala doa baik untuk putrinya ini. Yang Anya harapkan adalah Arum tumbuh menjadi kakak yang sayang kepada adiknya dan menjadi wanita kuat dengan kepercayaan tinggi.


Beralih dari Arum, Anya kali ini memegang ubun-ubun Arun dan membacakan doa yang sama. Terus seperti itu tiap malam, dengan harapan yang sama.


"Kemana?" Anya berucap pelan kearah Sinan yang berdiri diambang pintu sambil menggerakkan tangannya meminta Anya untuk mendekat.


"Aku ngantuk. Kamu nggak ngantuk?"


Sinan menarik Anya keluar dari kamar dan menutup pintu itu dengan kondisi sedikit terbuka. Takut-takut jika Arun terbangun dan tangisannya akan membuat Arum juga terbangun.


"Tutup matanya ya" Sinan mengikatkan kain di untuk menutupi mata Anya.


Anya menahan tangan Sinan "Jangan bilang kamu beneran beli rak dan sekarang pengin bikin aku kaget karena kamu pengin bukan stan di depan rumah?"


Sinan tertawa. Kadang sikap Anya dan ucapan istrinya ini sangat mirip dengan Wine. "Nggak. Aku punya kejutan buat kamu. Jadi biar surprise kamu matanya aku tutup kain dulu"


"Tidur di luar kalau kamu macam-macam ya Yang"


"Iya cantikku, manis ku, sayangku"


Jika sudah kalimat jurus maut suaminya, Anya tak bisa untuk tidak tersenyum setelah mendengarnya. Pasrah. Matanya ditutup oleh Sinan. Dan tubuhnya tiba-tiba digendong dengan alasan karena mereka perlu menuruni anak tangga.


Benar juga. Kalau Anya memaksakan untuk turun sendiri, mungkin akan menghabiskan waktu lebih dari 30 menit.


Sesuai dengan hitungan jumlah anak tangga didalam hati. Di hitungan terakhir, tubuh Anya diturunkan oleh Sinan dan kini dituntun untuk berjalan. Melewati ruang tengah, melewati dapur dan berakhir dengan kaki Anya yang tiba-tiba merasakan rerumputan yang menggelitik kakinya.


"Ini dihalaman belakang ya Yang?" tanya Anya.

__ADS_1


"Iya. Kita udah sampai. Kamu bisa buka penutup matanya"


Menurut. Anya membuka penutup matanya dan cahaya yang berasal dari lilin menjadi hal pertama yang Anya liat. Lilin yang diletakan didalam mangkuk besar untuk berjaga-jaga takut jatuh itu berjejer sepanjang mata melihat, dan berakhir dengan bentuk love besar yang didalamnya sudah ditaburi dengan bunga.


"Selamat ulang tahun Yang" bisik Sinan lirih. Suaminya ini berdiri dibelakang tubuh Anya dan memeluknya hangat.


Anya bahkan sampai lupa jika dirinya berulang tahun hari ini. Acara aqiqah kemarin membuat dirinya larut didalam acara dan tak mengingat sama sekali hari kelahirannya.


"Semoga kita bisa terus bersama hingga tua ya Yang" ucap Sinan lagi.


"Sampai tua aja nih? Berarti diakhirat nggak mau bareng-bareng juga?"


Sinan tertawa "Dunia dan Akhirat" koreksinya cepat.


Melepaskan pelukan Sinan. Anya berjalan menyusuri barisan lilin dan berhenti saat berada di bagian tengah. Ada banyak foto mereka di sana. Dan rasanya Anya seakan kembali ke kenyataan jika dirinya memang benar-benar menjadi ibu 2 anak.


"Kue ulang tahunnya mana?"


"Lah Win. Kok lo disini?" tanya Anya dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat.


"Ya kan mau ikutkan kasih kejutan. Mumpung kembar tidur"


Melirik ke arah Ocha dulu sebentar, Anya baru kembali bicara " Lah ini gue udah jaga lilin, sia-sia dong. Nggak ada yang muter soalnya. Duitnya nggak nambah ini"


"Kampret emang!!" pekik Wine. Meniup lilin kesal, Wine berniat untuk melemparkan kuenya ke muka Anya, namun berhenti saat Anya malah bersembunyi dibelakang tubuh Ocha.


Sedangkan para pria yang ada disini, memilih untuk duduk di kursi dengan bang Arka yang terus istighfar tak terima istrinya dijadikan pesugihan.


"Ini ide Ocha Win. Sumpah" bela Anya.


"Lah kenapa jadi gue yang salah?" Ocha berniat untuk menggeser tubuhnya namun gagal karena Anya menahan tubuhnya kuat agar tak menyingkir. Dijadikan tameng lebih tepatnya.


"Ya waktu Bridal Shower. Itu kan ide lo dulu"

__ADS_1


"Emang mulutnya nggak pernah makan bangku sekolah ini berdua!!"


"Bercanda Wine. Sensi bener?!"


"Lagi sensi dia. Abang habis hot wheels lagi soalnya" kali ini bukan Wine yang menjawab, melainkan Arka yang kini duduk sambil kipas-kipas sedangkan Sinan dan Kais mulai memanggang daging.


Yang paling Tua, akan tetap dihormati disini.


***


"Jadi maksud lo, lo udah nggak bisa nebak kalau Arum sedih atau nggak?"


Anya mengangguk menjawab pertanyaan Wine. Setelah acara berantem tak jelas. Mereka duduk di halaman sambil berbincang-bincang.


Tangan Anya menunjuk ke arah Ocha "Persis banget kaya dia. Nggak bisa ditebak"


"Coba kasih perhatian lebih ke dia" Arka—sang pawang Arum yang bicara.


Sinan menghela napasnya. Seperi kata Anya, sikap Arum memang sedikit beda dari biasanya. Satu hal yang Sinan takutkan, jika dirinya yang menjadi alasan atas perubahan sikap gadis itu "Aku sudah mencoba untuk bersikap adil bang"


Wine yang kini menjelma menjadi ibu normal menggelengkan kepalanya "Adil saja nggak cukup Nan. Coba didahulukan apa yang Arum inginkan, agar nanti dia memiliki rasa cinta kepada Arun, jadi nggak merasa tersaingi dari adiknya."


Dan maaf kalau merasa tersinggung. Lebih baik juga kalau bicara sama utinya Arum biar bersikap adil untuk keduanya" lanjut Wine.


Ocha yang menjadi pendengar menganggukkan kepalanya setuju. Hal ini pula yang ia terapkan saat para ibu-ibu daycare yang mengeluh atas sikap anak pertamanya karena memiliki jarak anak yang dekat.


"Beuhh. Gue bisa normal juga ternyata kalau mereka berdua" jujur Wine diikuti gelak tawa wanita itu.


Sudah amat serius. Semua gagal karena ucapan Wine barusan. Mereka semua tertawa bersamaan.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2