
“Aduh anaknya bunda yang cantik sekali” Anya langsung mengambil alih Arum dari gendongan Wine.
Ibu dokter yang biasanya tak pernah menyambut kedatangannya dan dengan suka rela mengembalikan Arum pada Anya kini sudah berdiri di depan rumahnya dengan cengiran lebar. Siapa lagi jika bukan Ocha yang memberi tahu hal ini pada Wine. Wine langsung mepet kearahnya kemudian menyenggol pelan Anya.
“Siapa tuh, kenalin dong” bisik Wine pelan.
“Ayo nak Sinan masuk dulu, ini kebetulan tante bawa oleh-oleh. Biar nanti bisa dibawa pulang sekalian”
Aanya amat bersyukur saat Sinan kini menggelengkan kepalanya. Siapa juga yang mau masuk jika di tatapan penuh penasara oleh Wine dan Ocha.
“Tidak perlu tante, saya pamit pulang ya tan.”
“Nggak mau masuk beneran?” tanya Aisyah memastikan.
“Tidak usah tante. Saya pamit ya tan. Permisi, mbak Anya permisi”
Lagi Wine menyenggol bahunya dengan cengiran yang dirasa semakin lebar ini.
Anya mengangguk kepada Sinan. *Bagus pak, lebih baik pulang sekarang sebelum Wine berubah jadi ronggeng dengan menggunakan sederet nama artis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
"Jadi?”tanya Wine.
Setelah kepergian Sinan, Wine sama sekali tak menjauh darinya, bahkan jika Anya tadi tak menendang perempuan ini yang malah ikut ke kamar mandi, Anya pasti gagal mandi sudah. Memasukkan beberapa oleh-oleh masakan matang ke dalam kulkas, Anya masih saja diapit oleh Wine dan Ocha yang seperti cicak yang menempel di dinding.
“Apanya?”
“Bos lu” jawab Ocha.
“Nggak ada apa-apa” ke dua sahabatnya ini masih saja menempel saat Anya bergerak mengambil satu box makanan dari atas meja untuk dituangkan ke piring.
“Bohong hidung lo panjang loh” Wine mencomot satu rendang dan memasukkannya dalam mulut.
“Seriusan. Ngapain juga gue bohong!” lagi. Saat Anya bergerak guna memasukan rendang kedalam microwave, Ocha dan Wine masih setia menempel di sisi tubuhnya. kadang Anya bahkan hampir terjatuh karena tersandung kaki Wine.
“Lo ada sesuatu kan sama dia? Dia baru ditinggal kawin sama pacarnya, pas tuh lagi jomlo, bisa lo pepet” Timpal Ocha.
__ADS_1
Anya yang emosinya sudah hampir ubun-ubun karena sikap kedua sahabatnya ini menghela nafasnya kesal. Ocha masih saja berpikir jika dirinya harus mendekati Sinan agar bisa cepat nikah dan mengalahkan Danu, sedangkan Wine dengan mata berbinar masih saja mepet hingga membuat Anya kesulitan jalan.
“Serius tuh cowok baru putus sama pacarnya?” tanya Wine antusias.
Ocha mengangguk “Bukan cuman putus, tapi habis ditinggal nikah padahal lagi sayang-sayangnya. mantep kan”
“Wih mantep Nya. Pepet aja terus gih”
“Lo bisa pada diem nggak sih. Terus ini jauh-jauh, kaya cicak semua” gerutu Anya sambil menghempaskan kedua tangan Wine dan Ocha yang melingkar di lengannya.
Sudah merasa puas menjahili sahabatnya ini, Ocha dan Wine merangkul satu sama lain sambil tertawa. Keduanya kini duduk di meja makan dan dengan santainya tanpa beban sama sekali, makan keripik pisang. Anya hanya bisa mengelus dadanya melihat kedua sahabatnya itu.
“Nyet gih cepet pe–”
“Gue timpuk pakai spatula enak loh Win” potong Anya. Tangannya sudah memegang spatula besi, siap-siap untuk di lempar ke arah Wine jika tak kunjung berhenti menggodannya.
“Pada ngomongin apa sih? Rame banget, kedengaran sampai kamar” Aisyah yang baru saja menidurkan Arum kini ikut bergabung duduk di kursi meja makan. Wine yang melihat itu langsung berpindah posisi duduk di samping ibu Anya lalu bergelayut manja di tangan wanita itu.
“Bu, anaknya mau nikah lagi noh sebentar” ucap Wine.
“Beneran mau gue timpuk lo ya!” seru Anya sambil memicingkan matanya. Wine kadang jika tidak benar-benar ditimpuk maka ibu dua anak itu tak akan pernah berhenti.
“Mas liat deh ini”
Sinan yang malam ini diminta untuk pulang ke rumah mengangguk saat sang ibu yang baru saja masuk kedalam kamar kini duduk di tepi kasurnya. Setta sang adik yang kini tengah menjadikannya bahan percobaan menggerutu kesal saat sang ibu malah mengajak kakaknya bicara.
“Mah, malam ini mas Sinan aku loh yang booking dia, dia mau jadi pasien aku”
Saat kembali ke rumah, Sinan memang menjadi bahan percobaan praktek bagi adik semata wayangnya yang kini baru saja mengambil jurusan kedokteran semester 2. Memiliki jarak usia yang cukup jauh, membuat keduanya sangat dekat meski Sinan terkadang lebih memilih untuk tinggal di apartemennya sendiri.
“Sebentar. Mamah butuh mas buat liat ini”
“Enak aja nanti. Mas diam dong, jangan gerak-gerak!”
“Dek ini sakit. Sumpah!” keluh Sinan, Setta menyuntiknya dengan pelan-pelan saja rasa sakitnya minta ampun, apalagi jika dilakukan dengan tergesah-gesah.
hal yang terkadang membuat Sinan lebih memilih untuk hidup sendiri adalah karena sang mamah dan adiknya, setiap hari jika ada Sinan di rumah, keduanya akan menempel bahkan terkadang keduanya tidur di kasur Sinan dan dirinya tidur di sofa panjang di dalam kamarnya.
__ADS_1
“Ya makanya masnya jangan goyang-goyang”
“Mas coba liat fotonya deh, tadi mamah udah hubungi temen mah, terus dikasih foto-foto anaknya nih, cantik banget kan”
Sinan yang hendak menoleh ke arah mamahnya langsung ditarik oleh Setta agar menghadap kearah gadi sini.
“Mas liat aku!”
“Mas coba deh liat. duh mamah nggak sabar punya mantu begini”
“Liat sini mas. Kalau nggak tak tusuk nanti!”
Dari pada gendang telinganya pecah. Sina memilih berdiri didepan ke dua wanita ini sambil melipat tangannya di depan dada. Rasanya jika seperti ini Sinan sangat menyesal pulang sebelum jam 22.00, lebih baik dirinya tadi tetap di rumah Anya dan mengenal lebih jauh keluarga wanita itu. “Ini kalau begini, mas mending pulang aja deh”
“Pulang kemana? ini kan rumah kamu” ayah yang sebelumnya berada di ruang tengah ikut masuk dan berkumpul di kamar Sinan.
Sepertinya jika Sinan pulang maka ruang keluarga sepenuhnya pindah ke kamar Sinan, tinggal di tambah sofa panjang aja lagi maka Sinan yakin semua orang yang ada di rumah ini akan memilih untuk menonton TV dan bercengkrama di kamarnya ini.
“Ayah tanya mas pulang kemana?. pulang ke rumah gebetan” jawab Sinan asal. Ia lebih memilih duduk di sofa tunggal sambil berselancar di media sosial, barangkali dirinya bisa menemukan media sosial wanita itu dan mengajaknya berteman di media maya.
"Kamu udah punya pacar mas?" tanya mamah yang langsung pindah posisi di samping Sinan.
Setta yang juga penasaran karena baru kemarin dia menjemput kakaknya di bar karena mantannya memosting bulan madu, ikut duduk di sebelah kiri Sinan.
Sinan yang kembali duduk diapit oleh mamah dan adiknya menghela napasnya kesal " Ini ngapa jadi duduk semua di sini sih?"
"Siapa mas?" Tanya Setta.
"Apanya yang siapa?"
"Pacar kamu" mamah memperjelas pertanyaan Setta.
"Nggak ada. Masih terbang berkelana di kayangan" Jawab Sinan asal lagi. Tadi Sinan hanya menjawabnya asal agar sang mamah tak membahas mengenai anak temannya itu lagi. Masalah kencan, Sinan akan tetap datang besok. Selagi dirinya belum mengajak Anya berkencan, Sinan akan berkelana mencari perempuan lain terlebih dahulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
NOTE :
__ADS_1
Tinggalkan KOMENTARNYA ya.., ngehujat Sinan yang masih cari cewek lain juga nggak masalah. Biar ini cerita ada levelnya. Sekarang belum ada levelnya karena masih sepi.
Jangan lupa VOTE nya juga ya.