
Anya menghela napasnya saat satu pesan dengan pengirim Sinan masuk kedalam ponselnya. Isinya sama saja seperti sebelumnya, memintanya untuk menjemput padahal Anya bukan supir pribadinya. Tempatnya berbeda, yang biasanya berada di bar, kini lokasinya berada di sebuah kafe yang sepertinya hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya sekarang.
Ini orang kan punya supir pribadi? Kenapa minta gue yang jemput dia terus sih? Dibayar mending, ini geratisan.
Anya yang kini tengah pergi berbelanja bersama Ocha dan Wine memberikan troli pada kedua sahabatnya ini.
“Gue nitip sebentar ya. nanti gue bayar tagihannya dirumah.”
“Mau kemana lo?” Tanya Wine.
“Ada urusan.”
“Mau ketemu Sinan kan lo?” Ocha yang tengah memilih daun bawang ikut melemparkan pertanyaan.
“Berisik. Gue titip. Nanti ketemu di rumah, gue nggak bakal lama”
Sebelum mendapatkan pertanyaan kembali dari Ocha dan Wine, Anya langsung melesat keluar dari supermarket dan berjalan menuju kafe dimana Sinan berada. Jaraknya tidak terlalu jauh, jalan sekitar 15 menit juga akan sampai.
Sambil berjalan, Anya menguhubungi Sinan guna memastikan kondisi bosnya itu. dia berada di restoran, maka seharusnya masih dalam kondisi sadar dan bisa menyetir mobilnya sendiri. Kenapa pula harus meminta Anya untuk menjemputnya?.
Sambil menunggu nada dering berubah menjadi salam dari sebrang telfon, Anya melihat posisi letak restoran yang dituju dari maps. Hanya tinggal belok ke kiri 1 kali lagi, dirinya akan sampai di tempat itu.
“Halo mbak, selamat malam?”
Anya mengerutkan keningnya bingung saat bukan suara Sinan yang ia dengar melainkan suara pria lain “Selamat malam. Maaf, ini bukanya ponsel pak Sinan ya?”
__ADS_1
“Oh iya mbak, ini saya Saka mbak, yang kemarin sempet ketemu di bar”
“Oh iya. Pak Sinannya ada tidak mas?” jika sampai orang lain yang mengangkat panggilannya, bosnya itu pasti dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Ada mbak. Maaf mbak, boleh minta jemput sebentar? Karena kebetulan restoran saya masih buka mbak, jadi nggak bisa antar nih orang”
“Maaf ya mas. Lain kali jangan hubungi saya untuk hal seperti ini ya mas. Masnya bisa langsung hubungi supir pribadi pak Sinan” Anya belok ke arah kiri dan bangunan restoran yang menjual steak berada tepat di ujung jalan.
“Dari tadi temen saya manggil nama mbak terus mbak, makanya saya nelfon mbak sekarang”
Anya menghela napasnya lelah. Jika restoran ini menjual steak maka ada kemungkinan tempat ini juga menjual wine. Dan ada kemungkinan juga dirinya akan menemukan Sinan dalam kondisi tak sadarkan diri didalam sana “Iya mas. Ini saya sudah sampai” jawab Anya sambil memasuki restoran.
Begitu melewati pintu yang membuat bel di bagian atas pintu berbunyi, pria yang pasti bernama Saka itu langsung berjalan kearahnya. Pria itu mengajak Anya menuju ruangan VIP yang letaknya berada di ujung bangunan ini. melihat seberapa besar restoran, Anya tahu pasti ada banyak ruangan khusus yang disediakan untuk para tamu khusus.
“Dia ada didalam mbak. Saya harus balik lagi ke dapur. Minta bantuannya ya mbak” ucap Saka begitu sampai di depan ruangan VIP. Pria itu langsung melenggang pergi meninggalkan Anya.
“Sial!” umpat Anya. Mantan suaminya itu benar-benar serius untuk pengambilan hak asuh. Anya akan menggunakan banyak cara agar bisa menggagalkan rencana pria itu bahkan sebelum sampai ke pengadilan.
Memasukan kembali ponselnya kedalam tas, Anya mengetuk pintu 3 kali sebelum akhirnya masuk kedalam dan menemukan Sinan dalam kondisi tertidur lelap dengan posisi duduk dan bersandar di sofa.
Tak langsung membopong Sinan pulang, Anya memilih untuk duduk di samping bosnya ini guna mengurangi emosinya setelah membaca pesan Danu tadi. Untuk sesaat Anya ingin berteriak kencang dan memukul Danu hingga babak belur. Diliriknya sebentar ke arah Sinan, Anya menatap lekat bosnya ini. Haruskah ia menggoda Sinan agar pria ini jatuh cinta padanya dan bersedia untuk menikahinya? Atau haruskan ia menjebak Sinan dengan membawa pria ini ke hotel, agar Sinan berpikir sudah tidur dengan Anya dan mau menikahinya? Jika Anya menikah dengan bosnya ini maka hidupnya akan jauh lebih baik, ekonominya akan sangat baik hingga mampu mempertahankan Arum didalam dekapannya
“Akhh. Sial!” umpat Anya lagi. Anya mengambil gelas wine milik Sinan dan mengisi kembali gelas itu. baru saja dirinya ingin minum, tangannya langsung dicekal oleh telapak tangan besar dengan otot-otot yang terlihat menonjol di lengan.
“Itu wine. Kamu bisa mabuk”
__ADS_1
Siapa lagi jika bukan Sina yang menahan tangannya sekarang. pria itu kini mengambil satu kaleng soda, membukanya dan memberikannya kepada Anya.
“Minum ini aja” ucapnya lagi.
Anya mengambil botol soda yang diserahkan oleh Sinan dan meneguk isinya hingga tak bersisa. Emosinya seakan meluap begitu saja bersamaan dengan soda yang meluncur bebas membasahi tenggorokannya. Menikah dengan Danu adalah hal yang amat ia sesali, seharusnya dulu Anya tak peduli apa kata orang dan memilih untuk membesarkan Arum seorang diri. Karena pada kenyataannya sekarangpun Anya membesarkan Arum seorang diri sejak putrinya baru berusia 5 bulan. Tak masalah karena nyatanya meski hidup pas-pasan dirinya dan Arum tetap hidup bahagia.
“Aishh, setan ******” umpat Anya lagi. minum soda tak membuatnya menjadi membaik, Anya kini mengambil satu batu es dan mulai mengunyahnya, membayangkan jika yang tengah ia kunyah adalah Danu sekarang.
“Ternyata hobi kamu emang mengumpat ya” Sinan yang sejak tadi diam dan memperhatikan Anya angkat bicara saat telinganya risih mendengar segala umpatan yang keluar dari bibir mungil Anya.
“Ada masalah?” tanya Sinan lagi, pura-pura mabuk untuk menguji perasaan Anya gagal sudah, sepertinya dirinya harus menjadi pendengar yang bagus bagi wanita yang kini menggunakan dress selutut berwarna tosca dengan rambut yang diikat ekor kuda, menampilkan leher mulus dan putih milik Anya.
“Pria bre*sek itu mau ambil alih hak asuh anak saya”
“Jangan ngumpat An” ingat Sinan. Rasanya dirinya tak rela melihat umpatan-umpatan kasar itu keluar dari mulut wanita yang ia cintai. Sinan menopang dagunya dengan satu tangan. matanya menatap lekat kearah Anya yang kini memasang wajah kesal namun masih terlihat cantik.
“Dia nikah lagi dan sekarang mau ambil alih hak asuh”
“Kalau gitu kalahkan dia lagi di pengadilan nanti” jawab Sinan. Dirinya tak tahu banyak mengenai hak asuh anak.
“Masalahnya dia lebih kaya dariku. Hukum juga melihat dari aspek ekonomi yang bisa membuat anak hasil perceraian agar tetap dapat hidup tercukupi”
“Kalau gitu kamu tinggal nikah aja sama orang yang lebih kaya dari manta suamimu itu” Sinan meringis ngilu saat mendengar gigi Anya memecahkan bongkahan es di mulut wanita itu. Yang mengunyah bongkahan es Anya namun gigi Sinan merasakan sensasi dingin. Namun dirinya juga dibuat penasaran bagaimana rasanya mengunyah bongkahan e situ.
“Bagaimana cara saya menggoda bapak agar mau berkencan dengan saya?” ucap Anya akhirnya.
__ADS_1
Sinan yang niatnya ingin mengambil bongkahan es di mangkuk dibuat terkejut mendengar sederet kalimat wanita didepannya sekarang. meski Sinan tahu jika kalimat barusan diajukan karena Anya merasa terpaksa untuk mempertahankan hak asuh Arum yang itu berarti dirinya dijadikan alat. Sinan tak peduli, dirinya langsung menarik Anya mendekat dan menyatukan bibir mereka.
Cinta lamanya kini akhirnya terbalas juga meski hanya karena kebutuhan Anya semata. Anya membutuhkan dirinya dan uangnya untuk mempertahankan Arum dan Sinan membutuhkan Anya untuk tetap berada disampingnya.