
Terhitung sudah hampir 5 hari mereka tak saling bertegur sapa satu sama lain. Lebih tepatnya Anya yang tak mengangkat setiap Sinan menelfonya. Membiarkan ponselnya terus berdering lalu mati lalu berdering lagi. Jika merasa terganggu, Anya bahkan menonaktifkan ponselnya dan menyimpannya didalam tas.
Sedih?.
Tentu. Tak bicara dengan Sinan lebih dari 2 hari saja membuat Anya begitu merindukan sosok Sinan. Namun jika mengangkat telfonnya, Anya akan semakin lama merasakan kesedihan ini sampai bisa sepenuhnya melupakan Sinan.
Arum adalah pertama. Jika kedua orang tua Sinan tak bisa menerima keberadaan putrinya, maka Anya jelas memilih untuk mundur. Hidup berdua sama Arum saja hingga tua pun, Anya tidak masalah sama sekali.
"Mbak hp lu" bisik Alun.
Anya melirik ponselnya yang berada di atas meja dan kembali bergetar. Meski sudah di silent, karena posisi mereka sedang berada di ruang rapat, getarannya masih menimbulkan suara yang membuat Alun mencolek lengannya.
Nama Sinan lagi yang tertera di sana. Menonaktifkan ponsel, Anya kembali memperhatikan presentasi Jini di depan sana.
Karena isu plagiat dan sebagainya. Setiap minggu perusahaan selalu mengadakan event di mall agar bisa menjual produk yang sudah terlanjur di buat. Produksi selanjutnya dihentikan sementara sampai batas waktu yang masih belum di prediksikan.
"Sinan?" tanya Radit begitu rapat selesai. Semua orang sudah keluar dari ruangan ini, meninggalkan Radit, Anya dan Jini yang harus membahas mengenai kekurangan dari presentasi barusan.
"Jadi bagian mana yang masih kurang pak?" menghindar. Radit dan Jini jelas tahu jika Anya tengah menghindari pembahasan mengenai Sinan sekarang.
"Yang kurang itu fokus kamu sampai nggak bisa dapat ide agar acara lebih meriah lagi" jawab Radit.
Jini yang duduk di sebelahnya menepuk pundak Anya pelan "Fokus mbak. Pak Sinan pulang hari ini"
Hanya sebuah senyuman tipis yang bisa Anya berikan. Perihal dirinya yang meminta putus dari Sinan, tak ada satupun orang kantor yang tahu, bahkan Radit pun tak tahu menahu tentang apa yang terjadi dengan hubungan sepupunya ini.
Sinan mengancam Anya dengan pernikahan paksa jika Anya mengumumkan hubungan mereka sebelum Sinan setuju.
"Coba bikin 2 atau 3 konsep acara lain. Kalau sudah jadi, nanti bisa kita bandingkan dengan konsep hari ini"
Anya dan Jini mengangguk bersamaan mendengar masukan dari Radit. Benar, Anya harus fokus bekerja jika tak ingin mendapatkan SP dari perusahaan yang bisa membuatnya kehilangan pekerjaan.
Putus dari Sinan, sekaligus kehilangan pekerjaan, pupus sudah harapan Anya untuk mempertahan kan hak asuh Arum.
__ADS_1
Begitu rapat bertiga selesai. Anya kembali ke kubikelnya sambil mengaktifkan kembali ponsel. Ada 5 panggilan tak terjawab dari Sinan dan 30 chat dari orang yang sama. Anya meletakan ponselnya di meja tanpa berniat untuk membukanya.
"Mbak, tadi ada telfon dari pak Sinan. Katanya mbak suruh angkat telfon kalau nggak baca pesannya mbak" ucap Alun.
"Sudah. Barusan mbak baca" kebohongan Anya mungkin sudah tak terhitung lagi oleh jari.
"Oh, ya sudah. Tadi neflon pribadi ke aku soalnya mbak"
"Oke. Thanks ya" lebih baik menghentikan pembicaraan ini ketimbang terus membahas mengenai Sinan yang jelas tak akan bagus untuk kesehatan mentalnya.
"Mbak dipanggil pak Radit ke ruangannya"
Baru saja berniat untuk membuka laptopnya. Ucapan Jini membuat Anya mengurungkan niatnya. Mengangguk lalu jalan menuju lift.
Anya tahu bukan mengenai pekerjaan yang akan Radit bahas sekarang. Melainkan mengenai kecurigaan laki-laki itu terhadap hubungan Anya dan Sinan. Dibanding Sinan, Radit jauh lebih peka dan akan langsung menanyakan inti masalahnya.
Begitu sampai dilantai palingan atas, Anya berpapasan dengan Vanya yang menekuk wajahnya hampir 3 hari ini berturut-turut. Alasannya karena alih-alih mengajaknya dinas keluar kota, Sinan malah mengajak sekretaris Radit dan berkata jika Vanya perlu belajar lagi untuk bisa mengatur kerjaannya.
"Pak Sinan belum pulang mbak" ketus Vanya. Kabar mengenai hubungan Anya yang berpacaran dengan Sinan juga sudah sampai ditelinga wanita ini.
Mengetuk pintu dan mendengar jawaban dari arah dalam. Anya masuk ke dalam ruangan Radit dan langsung mendapat lambaian tangan agar duduk di sofa bagian tengah.
Menurut. Anya duduk di samping Radit. Pria itu menatap dalam Anya tanpa bicara apapun. Seolah menunggu Anya untuk menceritakannya terlebih dahulu.
Masalahnya. Sehari sebelum Sinan ke laur kota. Sepupunya itu menginap di apartemen Radit tanpa mengatakan apapun.
"Kenapa?" tanya Anya bingung.
Bukannya menjawab, Radit malah balik bertanya "Emangnya kenapa?"
"Apanya?"
"Kamu"
__ADS_1
"Aku kenapa?"
"Kalau Sinan?"
Anya mengerutkan dahinya bingung. Sebenarnya bukan karena tak tahu inti dari pembahasan ini, hanya saja Anya tak berniat untuk menceritakannya, dan malah menjadi memutar-mutar tak jelas. "Mas tuh sebenarnya mau nanya apa?. Nanya kerjaan?"
Radit menggeleng " Bukan. Tapi hubungan kamu sama Sinan"
"Emang kenapa?"
"Nggak mau cerita sama mas?"
"Cerita apaan?"
Radit menganggukkan kepalanya "Kalau nggak mau cerita nggak apa-apa sih. Cuman bukan sebagai atasan kamu, tapi sebagai orang yang kamu anggap sebagai mas kamu di kantor ini. Mas mau bilang, jangan pernah mundur hanya karena tante Anggi. Asal kamu tahu, tunangan Sinan sebelumnya pun tidak disetujui sama tante Anggi. Cuman karena mereka berdua terus berusaha, akhirnya tante Anggi setuju."
"Saya nggak ngerti maksud mas ini apa. Kalau nggak mau bahas pekerjaan, saya izin balik kerja pak"
Anya langsung berdiri dan berjalan menuju pintu. Namun baru hendak keluar, suara Radit kembali terdengar.
"Dia sakit An. Dia pulang 1 hari lebih cepat. Dan sekarang nggak jadi masuk karena dia sakit"
Anya menoleh seketika.
"Dia sakit. Dan nggak mau ke rumah sakit" lanjut Radit.
***
info dulu hampir menjelang tamat ini cerita ya. cuman nanti masih ada extrapartnya juga.
*
__ADS_1