
udah double up.
yuk LIKE dan KOMEN.
Biar bagian komentarnya nggak kaya kuburan .
silahkan membaca.
***
***
Untuk kedua kalinya Anya kembali berdiri diruangan besar ini yang kali ini bernuansa serba hitam. Tirai jendela hitam, sofa hitam, hingga dibeberapa sudut ruangan juga berwarna hitam.
Selagi menunggu Sinan yang kini tengah berbicara di telfon sambil berdiri di dekat dinding kaca yang memperlihatkan kota Jakarta, Anya berjalan mendekati rak guna melihat-lihat koleksi foto di sana.
Beberapa foto model yang dikontrak untuk menjadi wajah perusahaan berjejer rapih di rak, kurang lebih ada sekitar 14 foto yang ada di sana, termasuk juga dengan fotonya yang berada di urutan ke 3. Foto saat dirinya masih kuliah di semester 3.
“Maaf menunggu lama”
Anya langsung memutar tubuhnya menghadap Sinan lalu berjalan mendekati bosnya itu. sepertinya Anya tahu alasan para wajah baru staf pemasaran yang sepertinya lebih banyak wanita yang bertahan dengan tekanan perusahaan yang lumayan berat adalah karena wajah Sinan yang bisa dibilang ketampanannya di atas rata-rata. Jika Sinan orang Korea, pasti akan banyak yang menganggapnya melakukan operasi pelastik.
“Ini tugas kamu”
Hidung mancung, alis mata tebal, bibir tipis dan bola mata yang jika benar-benar diperhatikan sedikit berwarna coklat jelas membuat siapa saja jatuh cinta pada pria ini. terlebih rahang pria ini tegas dengan rambut yang disisir ke belakang menambah tingkat ketampanannya.
“Anya?”
Dengan wajah yang nyaris sempurna ini, mana mungkin akan tertarik padanya meski Anya yakin wajahnya juga nggak jelek-jelek amat. Anya sadar diri saja karena profesinya dengan Sinan bak langit dan bumi. Satunya CEO serta keponakan pemilik perusahaan dan satunya kacung yang mengais recehan untuk bertahan hidup.
“Anya?!”
Panggilan barusan membuat Anya tersadar seketika. Buru-buru ia mengambil berkas yang ada ditangan Sinan yang entah sudah menggantung beberapa lama karena Anya terlalu fokus dengan ketampanan bosnya ini.
“Ini?” Anya mengerutkan dahinya begitu membaca berkas yang ada ditangannya ini.
__ADS_1
“Iya, sekarang untuk produk itu saya serahkan kepada kamu. Pelajari produknya dengan baik dan saya minta review nya 2 minggu ke depan. Ini peroduk lama, dan saya berniat untuk membuat inovasi baru dengan merek ini, kita bisa menambahkan beberapa keunggulan yang membedakan dengan produk pertama”
Sambil mendengarkan penjelasan Sinan, Anya membaca berkas ini cermat. Ini memang produk lawas, pertama kali dirinya menjadi model miracle adalah produk ini. dan ini sempat kembali diedarkan setelah dirinya mengajukan resign.
“Berhubung kamu juga sudah sangat tahu dengan produk ini. maka dari itu saya ingin kamu membuat inovasi baru dengan produk yang sama, setidaknya ada satu hal yang bisa diunggulkan dari pada produk sebelumnya agar mampu menarik minat pembeli. Untuk sampelnya kamu bisa minta ke gudang, kemarin saya sempat meminta ke pihak produksi untuk membuat 5 produk ini dengan bahan yang sama namun baru, jadi bisa kamu aplikasikan ke kulit manusia langsung” lanjut Sinan.
“Tapi pak, ini produk yang pernah di pegang oleh Jini”
Sinan mengangguk, ia berjalan menuju bagian depan meja lalu bersandar di sana. Untuk sesaat Anya kagum dengan apa yang ia lihat sekarang, bagaimana mungkin ada makhluk yang ketampananya bertambah hanya dengan posisi berdiri bersandar pada meja dengan dua tangan yang dilipat didepan dada.
Anya. Stop. Mata jangan jelalatan. Kondisikan dirimu sendiri. Batin Anya.
“Benar, pernah dipegang Jini dan gagal, tidak laku dipasaran. Maka dari itu saya ingin mencoba kamu yang handle produk ini”
Bukan lagi menyilang kan tangan didepan dada, Sinan kini bertolak pinggang yang membuat semburat cahaya matahari melewati celah antara badan dan tangan. Anya menggelengkan kepalanya cepat guna mengusir semua hal aneh yang ada di kepalanya.
Gara-gara Wine dan Ocha yang meledeknya, membuat Anya kini malah memperhatikan bosnya ini.
“Kamu nggak mau?”
“Terus kenapa kamu geleng tadi?”
“Tadi ada lalat yang ganggu telinga saya pak”
Mata Sinan langsung memindai setiap tempat. Ruangannya bersih tidak ada lalat “Masa sih di ruangan saya ada lalat? Ruangan saya bersih loh. Mana lalatnya?”
“Udah pergi barusan pak” bohong Anya. “Berhubung lalatnya sudah pergi, saya juga izin keluar ya pak”
Begitu mendapat anggukan kepala dari Sinan, Anya langsung ngibrit keluar dari ruangan.
Itu ruangan bersih mana mungkin ada lalat. Itu cuman akal-akalan Anya saja.
Tangannya baru menyentuh knop pintu, suara Sinan kembali terdengar.
“Ohya An, bu Beti ingin mengadakan acara makan-makan nanti malam sebagai acara penyambutan kamu. Tolong info ke staf pemasaran yang lain ya. tim 1 dan tim 2 ikut semua”
__ADS_1
Anya mengangguk paham. Semakin parah pula dirinya akan dianggap sebagai anak yang di emaskan oleh staf departemen lain. Setelah berpamitan ulang, Anya langsung keluar dari ruangan Sinan. Bersamaan dengan itu, dirinya berpapasan dengan Radit yang berniat untuk masuk menemui Sinan. Radit adalah wakil CEO sejak masa jabatan pak Hamdan.
“Anya ya?”
Anya tersenyum lebar sambil mengangguk. Dulu saat dirinya adalah karyawan baru, mas Radit lah yang sering turun tangan langsung untuk membantunya. Maka dari itu hubungan dirinya dan mas Radit bisa dibilang cukup dekat. Setelah Anya resign, mereka beberapa kali masih berkontak hanya sekedar menanyakan kabar satu sama lain.
“Mas denger kalau kamu balik lagi, baru habis ketemu pak Sinan mau langsung turun ke lantai 5 buat nemuin kamu. Eh malah ketemu disini”
“Iya mas. Habis dapat tugas dari pak Sinan”
Radit mengangguk “Oke, jangan kemana-kemana. Mas cuman sebentar doang ketemu Sinan. Kamu duduk sebentar di samping Navel”
“Kenapa?”
“Habis mas ketemu Sinan, kita ngobrol sebentar di ruangan mas” tak menunggu jawaban Anya, langsung masuk begitu saja.
Navel yang mendapat tatapan bingung dari Anya hanya mengedikkan bahunya sambil meletakan satu kursi lagi di sampingnya untuk Anya duduk.
“Mas Radit baru putus sama pacarnya 3 bulan yang lalu mbak” ucap Navel memberi info.
Anya hanya mengangguk menjawabnya. Lagi pula untuk apa Navel ngasih info seperti itu kepadanya?.
“Kali aja mas Radit pengin PDKT mbak”
Anya menoleh kearah Navel “Sama siapa?”
“Sama mbak lah”
“Kenapa sama saya?”
Navel memutar bola matanya “Ya elah, pura-pura bego si mbaknya. Semua orang yang udah lama kerja juga tahu kalau mas Radit suka sama mbak”
Anya tak lagi menjawab. Sejujurnya dulu Anya juga menyadari hal itu. Mas Radit begitu baik terhadapnya, sesekali pria itu bahkan mentraktirnya makan sepulang sekolah. Mas Radit juga kadang rela untuk menemaninya mengerjakan tugas di kampus agar bisa terkoneksi ke wifi kantor, hemat kuota lebih tepatnya.
Hanya saja, Anya pikir setelah dirinya menikah, Radit akan melupakannya. Apalagi 3 hari sebelum dirinya mengajukan resign, Mas radit memberi info kepadanya jika dia mendapat pacar baru. Bahkan saat ulang tahu Arum yang pertama, mas Radit juga datang bersama pacarnya. Jadi tidak mungkin jika pria itu menyukainya.
__ADS_1