
"Jadi mau kemana kita habis ini?"
Anya melirik sebentar ke arah Sinan yang kini tengah menyetir dengan senyuman mengembang. Tangannya sesekali menyentuh tangan mungil Arum yang langsung di tepis oleh gadis kecil dipangkuan Anya ini. Misi mendekati Arum jelas tak semudah yang Sinan bayangkan.
Menikah. Anya setuju saja. Hanya syaratnya sama seperti Anggi, Sinan harus bisa mendekati Arum agar putrinya ini juga menerima keberadaan Sinan didalam hidupnya.
"Udah malam. Pulang aja"
Sinan memanyunkan bibirnya "Lah pulang? Aku masih kangen sama kamu"
"Ini udah jam tidurnya Arum. Kita bisa ngobrol lagi besok."
"Aku maunya sekarang. Kita bisa pacaran terang-terangan sekarang karena kantor udah tahu dan orang tua aku juga udah setuju. Ya kali langsung balik"
Anya mencubit pinggang Sinan membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan "Jangan kaya bocah deh. Gimana aku mau setuju nikah sama kamu kalau kamu mentingin diri kamu dari pada Arum. Batalin aja udah"
"Oke. Kita pulang"
Anya tersenyum geli saat melihat Sinan begitu mudah menyerah. Biasanya dirinya yang akan kalah dengan semua kemauan bosnya ini, tapi sepertinya setelah ini Anya bisa menggunakan Arum sebagai alasannya.
"Kalau aku bisa deket sama Arum dalam waktu 2 minggu. Jangan bikin alasan buat nolak nikah sama aku ya An"
"Tergantung" Anya menjawabnya sambil melihat ke luar jendela. Sejak pertemuan dengan orang tua Sinan barusan, tak ada lagi keraguan untuk hubungan mereka kedepannya. Hanya saja tak menyenangkan jika tidak menjahili Sinan terlebih dahulu. Dan melihat bagaimana reaksi Sinan yang tak terima dengan jawaban Anya—mengerutkan dahinya dengan rahang yang mengeras.
"Kenapa tergantung?"
"Tergantung aja. Tergantung sama mood ku nanti kedepannya" Anya melirik ke arah Sinan yang kini menatapnya lekat begitu mobil berhenti di lampu merah.
"Tergantung mood kamu? Oh ya udah. Sekarang kamu lagi mood buat nikah sama aku kan? Yuk ke KUA sekarang"
Anya tertawa mendengarnya. Ekspresi Sinan saat mengatakannya terlihat begitu lucu baginya. Percayalah detik ini Anya merasa seperti kembali jatuh cinta pada sosok bosnya ini. "Deketin Arum dulu baru mikirin nikah" ucap Anya sambil mengusap pipi Sinan lembut.
Hanya dengan satu sentuhan itu saja, Sinan yang sebelumnya memasang wajah marahnya luluh seketika. Sebuah senyuman terbit diiringi dengan cubitan Sinan pada pipi wanitanya ini, lalu beralih mengusap pipi Arum yang mulai tertidur di pangkuan Anya "Rum. Mamah kamu itu gemesin banget. Jadi yang nurut ya sama Om. Biar bisa secepatnya berubah status menjadi papah kamu"
Anya ikut tersenyum. Semoga saja pilihan untuk menikahi Sinan adalah pilihan yang tepat. Setidaknya Arum akan tumbuh dengan kasih sayang lengkap dari sosok ibu dan ayah yang lengkap.
__ADS_1
"Jadi langsung pulang sekarang?" tanya Sinan.
Anggukkan Anya membuat Sinan kembali melajukan mobil sesuai dengan tujuan awal. "Tapi aku nggak langsung pulang boleh kan? Kita ngobrol dulu sama ibu kamu juga"
"Ibu udah istirahat kalau jam segini" Anya melirik jam yang kini sudah menunjukkan pukul 21.00.
"Ya udah ngobrol sama kamu juga nggak masalah"
"Idih modus. Ngomong aja masih kangen"
Sinan tertawa " Kan emang masih kangen. Sampai rasanya pengin tak culik kalian berdua dan aku bawa ke apartemen"
"Dihalalin dulu"
"Ayok. Ke KUA atau ke rumah nih?"
"Ke rumah"
Sinan tertawa mendapat jawaban tegas dari Anya tanpa berpikir terlebih dahulu.
Perjalan setelahnya diisi dengan segala hal cerita Anya dan Sinan mengenai kehidupan pribadi masing-masing. Terkadang Sinan menjahili Anya dengan menggoda wanita ini. Namun namanya juga wanita yang sudah terbilang bukan lagi remaja, Anya sama sekali tak tersipu malu yang membuat Sinan malah semakin gemas dengan ekspresi datarnya.
Dan benar saja, begitu mobil Sinan berhenti tepat di depan rumah. Anya bisa melihat ada asap yang berasal dari halaman rumah Wine. Buru-buru Anya menggendong Arum dan menahan Sinan yang hendak keluar dari mobil.
"Nggak usah keluar. Aku ngantuk. Kita ngobrol besok aja ya" ucap Anya. Ya lebih baik Sinan pergi sebelum ke dua makhluk itu melihat keberadaan mereka. Anya yakin ini adalah ide gila Wine yang ajaibnya selalu saja di setujui oleh pak komandan.
"Kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa. Pokoknya aku keluar. Kamu langsung pergi aja ya"
"Tapi.."
"Nggak ada tapi-tapian. Gantinya aku bakal setuju mau diajak kamu kemana aja" potong Anya lalu langsung ke luar dari mobil.
Namun namanya juga berurusan dengan makhluk yang mengaku memiliki tenaga dalam. Baru satu langkah menjauh dari mobil Sinan, suara sapaan yang memanggil Sinan membuat langkah Anya terhenti seketika. Memutar tubuhnya dan menemukan kepala Wine yang menyumbul dari balik tembok pagar rumah wanita itu.
__ADS_1
"Sinan. Sini gabung" ajak Wine.
Anya langsung menatap Sinan yang kini sudah keluar dari mobil dan Anya langsung menggelengkan kepalanya. Jika Sinan ikut bergabung maka sesi wawancara pasti akan dimulai. Cukup lama Anya menggeleng agar Sinan menolak ajakan itu, namun karena sama gendeng nya dengan Wine, bos nya ini malah mengangguk kemudian berjalan menuju rumah Wine tanpa menghiraukan tatapan maut Anya sama sekali.
"Sini mbak biar Arum sama ibu. Sanah kamu gabung, kalau ditinggal, Sinan bisa di bully sama temen-temen kamu" ucap ibu sambil mengambil Arum dari gendongan Anya.
Gagal sudah rencana untuk menghindar. Anya berjalan menuju rumah Wine dengan gerutuan lirihnya. Sumpah dua makhluk itu benar-benar tak melepaskannya sama sekali.
Di halaman rumah Wine yang kini sudah di sulap dengan meja-meja kecil layaknya bar. Anya menatap horor ke arah Wine dan Ocha bergantian. Oh jangan lupa juga ke arah Arka dan Kais yang kini seolah-olah tak melihatnya dan fokus dengan daging yang mereka panggang. Seakan dengan tindakan itu mereka tengah menunjukkan jika mereka berdua tak terlibat dengan ide gila sang mertua jadi-jadiannya.
"Lo belum makan kan Nan? Sini, sepiring daging khusus untuk pak bos yang guanteng sekali" ucap Wine sambil menarik Sinan agar duduk di sampingnya.
Tak ingin Sinan menjadi sasaran empuk ke kepoan Wine, Anya menyelip dan duduk diantara Wine dan Sinan. Yang membuat Wine kini mendecih tak suka.
"Cielah. Cha, liat. Ada yang nggak mau pacarnya diganggu gue" ledek Wine.
"Ga usah genit. Udah ada suami noh" jawab Anya sambil menunjuk bang Arka yang lagi-lagi seolah tak peduli dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Mungkin sudah kehabisan kata-kata untuk membuat istrinya layaknya manusia biasa tanpa ada ide-ide gilanya.
"Kalau gitu gue duduk di sini" Ocha yang sebelumnya tengah menata minuman kaleng, kini mengambil posisi kosong di samping Sinan.
"Kais. Nih jagain. Lo ngomongnya suka doang, tapi sampai sekarang nggak ada gerakan sama sekali" kali ini ucapan Anya tertuju ke arah Kais yang hanya nyengir menunjukkan sederet giginya.
"Level gue belum nyampai mbak. Nanti kalau udah sampai baru gue berani mepet beneran" jawab Kais yang mendapat lemparan sendal dari Ocha.
"Jadi, jadi"
Anya mendelik ke arah Wine yang mulai melancarkan aksinya. Bukan Wine namanya jika ampuh dengan pelototan mata Anya sekarang.
"Jadi, jadi kapan nih jadi ayah sambung Arum beneran?" tanya Wine.
Ingin rasanya Anya meremas bibir yang bicara di sampingnya ini. Di remas seperti jeruk peras sepertinya akan membuatnya jera.
Sinan yang tengah mengunyah daging yang di sodorkan Wine langsung tersedak tiba-tiba. Anya memberikan Sinan minum yang langsung mendapat cengiran tipis dari si wajah mayat hidup itu.
"Uhuk, uhuk. Romantis bener sih." ledek Wine.
__ADS_1
***
dipotong sampai sini dulu ya. lanjut besok 😂