Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Salto Dunia Anya : Susahnya Sikap Arum


__ADS_3

"Maafin kalau kami punya banyak salah ya Anya" ucap ayah mertuanya itu lembut.


Mereka kini tengah duduk diteras rumah sebelum pulang ke rumahnya sendiri. Anya dengan sengaja membawa secangkir kopi untuk ayah mertuanya lalu ikut duduk di samping pria yang kini rambutnya nyaris berwarna putih. Jika dibanding dengan mamah Sinan yang masih terlihat muda, ayah mertuanya ini sudah terlihat keriput di wajahnya.


Kata Sinan, ayah menikahi mamahnya yang baru saja lulus SMA. Dan usia keduanya terpaut 10 tahun lamanya. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa Sinan dulu tak boleh menikahi Anya yang lebih tua 3 tahun. Mengingatkan ibu mertuanya itu saat menikah diusia belia dengan pria yang memiliki jarak umur cukup jauh.


"Anya nggak marah yah. Karena semuanya memang seperti ini adanya" Anya tersenyum simpul yang dibalas dengan senyuman ayah mertuanya.


"Tapi kamu pasti marah kan kalau Arum diperlakukan berbeda? Semua orang tua seperti itu, terutama ibu yang sudah susah payah melahirkan"


Anya mengangguk mengiyakan. Dibanding dengan ibu mertuanya, Anya lebih dekat dengan ayah Sinan karena lebih sering mengobrol dan membahas pemikiran masing-masing. Meski jarang datang ke rumah, namun ayah selalu mengirim pesan atau jika tidak menelfon guna mengetahui keadaan cucunya, dan itu berlangsung bahkan sebelum Arun ada di dunia ini.


"Pernah kecewa. Tapi kecewa saja tanpa Anya ikut berusaha juga akan sia-sia. Anya yang menjadi anak di sini, maka itu juga menjadi tugas aku untuk mendekati mamah" menggenggam tangan ayah mertuanya. Anya kembali menunjukan senyuman terbaiknya.


"Anting tadi tidak semuanya pemberian akung. Uti Arum juga yang memilihnya."


Anya kembali mengangguk. Semuanya memang membutuhkan waktu dan bertahap, Anya akan tetap sabar dan berusaha untuk mendekatkan Arum dengan ibu mertuanya. Setidaknya ibu mertuanya mengakui keberadaan Arum sebagai cucunya juga.


Setelah itu Sinan keluar dengan Arun digendongan dan Arum yang berjalan di samping papihnya.


"Ayok pulang Yang" ajak Sinan.


"Udah izin mamah?"


Sinan menganggukkan kepalanya, berpamitan dengan ayah, mobil kembali melaju membelah keramaian kota Jakarta. Arum yang duduk di samping Anya, hanya diam sambil terus membolak-balikkan anting yang berada ditangan.


"Cici seneng?" tanya Anya.


Sinan juga melirik sebentar ke arah kaca spion dalam sebelum akhirnya tersenyum melihat raut wajah Cici yang terlihat datar tanpa ekspresi itu.


Tak menjawab, Cici memasukkan kembali anting itu lalu melihat keluar jendela. Membiarkan pertanyaan mamihnya hanya menggantung di udara tanpa ada jawaban pasti.


"Besok kita ke pantai"

__ADS_1


Kepala Cici langsung menoleh seketika tepat setelah Sinan berkata demikian. Raut wajah datarnya kini berubah dengan sebuah senyuman gembira dan mata berbinar. Menatap ke arah papihnya, lalu menatap Anya yang langsung mendapat anggukkan kepala, Cici bersorak gembira yang langsung disahutin oleh ocehan Arun.


"Dedek Arun ikut seneng juga ya mih?"


Anya kembali mengangguk. Melihat ekspresi Arum membuat hatinya tenang sekarang. "Iya. Cici senyum, jadi Arun senyum deh"


"Kita ke pantai Ade Arun" seru Cici senang.


Sinan kembali melirik ke arah kaca spion dalam "Abang Arsya sama Abang Aaras juga ikut loh Ci"


Sudah berbinar-binar, mata Arum semakin berbinar saat mendengar Arsya dan Aaras juga akan ikut ke pantai. Di komplek rumah, hanya kembar yang umurnya seumuran dengan Arum. Terlebih Wine juga suka menculik Arum dan dibawa pulang, sudah bisa menebaklah sedekat apa mereka bertiga.


"Kita beli baju renang dulu ya buat adek" ucap Anya lembut. Padahal nanti tak mungkin juga Anya membiarkan Arun ikut berenang, Anya hanya akan menurunkan Arun di pasir guna melatih sensoriknya.


"Cici juga beli lagi kan?"


"Punya Ci—"


"Iya. Cici beli juga" potong Sinan cepat.


"Hore"


Sinan dan Anya tertawa bersamaan mendengarkan sorakan bahagia putrinya itu ditambah dengan ocehan Arun yang seakan tengah merayakan hal yang sama dengan Cicinya.


"Abang beneran ikut ya mih?" tanya Arum. Tangan mungilnya memainkan jari-jari tangan Arun yang bocah kecil yang ada di pangkuan Anya, meronta-ronta dengan tawa khasnya.


"Nanti kita coba ajak ibun sama ayah ya. Kalau ibun sama ayah nggak bisa kita ajak aja abang kembar"


Itu bukan Anya yang menjawab. Melainkan Sinan yang selalu berkata latihan jadi ayah 4 anak setiap kali Arsya dan Aaras dititipkan di rumah. Jika 4 anak perempuan mungkin agak sedikit tenang, namun Arsya dan Aaras berjenis kelamin laki-laki dan kalian tahu semirip apa sikap kembar dengan sosok bernama Wine.


"Kamu yakin Yang? Kalau Wine sama bang Arka nggak bisa ikut, ya udah nggak kita berempat aja Yang" usul Anya. Karena membayangkan jika mereka hanya membawa kembar di luar rumah tanpa orang tuanya, Anya yakin dirinya tak akan mampu menjaga 4 anak sekaligus.


"Tenang. Aku udah terlatih jadi bapak 4 anak" jawab Sinan enteng.

__ADS_1


"Jangan aneh-aneh" membayangkannya saja Anya sepertinya tidak mampu.


Merasa lengan banjunya ditarik-tarik, Anya kembali menatap Arum yang kini malah memasang kembali ekspresi datarnya. "Cici maunya sama abang juga. Kalau nggak Cici nggak mau ke pantai"


"Kita tanya ke ibun kalau sudah sampai ya" jawab Anya.


***


"Kena cacar? Serius? Siapa?"


"Kembar" suara Wine disertai dengan lantunan tangis Aaras yang menggema.


Setelah sampai tadi. Anya langsung menelfon Wine guna mengajak kembar ke pantai besok pagi. Namun dirinya malah mendapat kabar jika kembar terkena cacar.


"Aaras rewel banget ini. Udah hampir keluar semua"


"Tapi panasnya udah turun?" Anya dibuat ikut khawatir.


"Udah. Alhamdulillah. Cuman lagi ada yang ngambek karena mukanya jelek banyak bentol-bentolnya"


"Siapa? Aaras?" Anya ingat bocah bercita-cita menjadi penyanyi itu seringkali berkaca dan berkata jika dirinya tampan. Jauh lebih tampan dari pada kembarannya. Benar-benar menunjukkan anak siapa.


"Awalnya Aaras, eh sekarang bapaknya"


"Bang Arka kena juga?"


"Iya. Bisa bayangin kan lo, serepot dan segila apa gue di rumah?"


Anya mengangguk ikut prihatin. Saat sedang sakit Arsya dan Aaras termasuk anak-anak yang manja luar biasa dan itu ternyata turunan dari ayahnya. Ya. Pak komandan yang disegani dan hormati oleh semua orang, akan menjadi anak kecil super manja jika sedang sakit. Terlebih jika berada di samping istrinya itu.


Setelah mematikan ponselnya. Anya melirik ke arah Arum yang sejak tadi mendengarkan obrolan mamihnya dengan ibun. "Abang sakit Ci. Jadi nggak ikut ke pantai. Kita berempat aja ya"


Tanpa ekspresi, Arum balik menatap mamihnya "Oh ya udah Mih. Cici juga nggak mau ke pantai" jawabnya kemudian langsung kembali fokus mewarnai.

__ADS_1


Jika sudah 'tidak' maka jawaban Arum akan tetap sama. Anya dan Sinan hanya saling pandang kemudian menghela napas lelahnya.


***


__ADS_2