Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 20 : Gila Beneran Ini Orang!


__ADS_3

Sadar jika tindakan mereka sudah terlalu jauh, Anya mendorong tubuh Sinan yang kini berada diatasnya, posisinya sekarang dirinya bersandar di sofa sedangkan Sinan berdiri dengan tangan kanan yang menopang tubuhnya.


Ini jelas salah. Apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu jelas tak boleh terulang kembali dalam hidup Anya. Menjadikan Sinan sebagai alat untuk mendapatkan hak asuh adalah hal yang paling salah untuk Anya lakukan. Bagaimana bisa mereka berciuman hanya karena simbiosis Parasitisme? Anya akan menjadi parasit bagi hidup Sinan jika tetap menempatkan Sinan didalam rencananya.


Saat Sinan ingin kembali menciumnya, dengan sekuat tenaga Anya mendorong Sinan agar menjauh dari tubuhnya dan segera berdiri. Ini jelas salah dan tidak bisa dilanjutkan.


“Kenapa?”


Pertanyaan itu terdengar begitu halus di telinga Anya. Sinan kini sudah kembali duduk ditempatnya sambil menatap bingung kearah Anya yang berdiri disampingnya.


“Salah. Ini jelas salah pak!”


“Letak kesalahannya dimana?” tanya Sinan, pria itu mengambil bongkahan es di mangkuk lalu memasukannya kedalam mulut. Baru satu gigitan langsung ia memuntahkan lagi begitu giginya terasa ngilu.


“Bapak sadar jika saya memanfaatkan bapak hanya untuk memenangkan hak asuh anak saya?”


Anya mengerutkan dahinya saat melihat Sinan menganggukkan kepala menjawab pertanyaannya barusan. Tidak masalah?. Ini cowok waras nggak sih?.


“Tidak masalah?” tanya Anya lagi. rasanya tak masuk akal saat melihat Sinan menganggukkan kepalanya.


“Tidak masalah” jawab Sinan masih dengan nada halus sambil menarik Anya agar kembali duduk disampingnya. “Mau denger cerita nggak An?” tanyanya.


“Tidak. Terimakasih” untuk sekarang Anya merasa amat malu setelah apa yang telah mereka lakukan barusan. Sinan adalah CEO di kantornya, dan Anya adalah kacung yang berstatus janda anak satu. Hal tadi seakan membuat dirinya layaknya gundik yang siap melayani tuannya dengan imbalan harta. Anya langsung mengambil tasnya yang entah kenapa sudah tergeletak dilantai dengan isi yang berserakan.


“Dulu ada anak SMA yang bentuknya nggak karuan An, udah jelek, badannya gemuk, banyak jerawatnya, cuman punya 2 temen disekolah. Tapi anehnya kalau nggak ada jam tambahan dia bakal senyum selebar mulut kudanil dan langsung lari keluar sekolah saat jam sekolah berakhir”


Tangan Anya yang sedang memasukan barang-barangnya ke dalam tas berhenti sejenak saat Sinan mulai cerita padahal dirinya sudah menolak. Tak peduli, Anya kembali melanjutkan memasukan sisa barangnya kedalam tas.


“ Kaya gempa bumi, dia bakal masuk ke kafe cuman buat beli 4 kopi rasa latte terus lari ke kantor kakeknya cuman karena pengin ketemu model baru yang jadi wajah perusahaan”


Ucapan Sinan barusan membuat aktifitas Anya berhenti seketika. Anya menoleh ke arah Sinan yang langsung dibalas dengan senyuman lalu kembali melanjutkan ceritanya.


***


7 tahun yang lalu.

__ADS_1


Suara bel tanda berakhirnya sekolah membuat semua murid bersorak gembira, tak lain pula dengan anak laki-laki bertubuh gempal yang selalu duduk di barisan paling depan. Tak seperti anak-anak SMA lain yang akan membuat janji temu untuk menghabiskan akhir pekan. Bocah bernama Sinan itu kini langsung berlari keluar dari sekolah meninggalkan Saka dan Gema yang melongo melihat Sinan yang langsung ngibrit keluar dari kelas setiap hari Jumat, terhitung sudah hampir 2 bulan Sinan selalu melakukan hal yang sama.


“Sinan hp lo ketinggalan ini” Teriak Saka begitu melihat Sinan berlari melewati jendela.


Sinan langsung mengerem mendadak, membuat beberapa siswa lain yang berjalan di belakangnya menabraknya hingga jatuh mengingat yang di tabrak memiliki tubuh sebesar badak.


“Yak lo kalau mau lari jangan ngerem mendadak!” omel siswa lain.


“Maaf” hanya itu yang Sinan katakan, sebelum akhirnya kembali masuk kedalam kelas dan mengambil ponselnya dengan logo apel tergigit yang tertinggal lalu langsung lari keluar kelas kembali. Saka yang baru saja akan bersuara menanyakan tujuan temannya ini langsung mengatupkan mulutnya kembali.


“Sinan jangan lari” tegur guru yang hampir tertabrak juga oleh Sinan.


“Maaf bu. buru-buru!” jawab Sinan tanpa berhenti sama sekali.


Dirinya harus cepat sampai di kantor kakeknya sebelum jam pulang kantor tiba. Berlari menuju parkiran, Sinan langsung mengambil motor besarnya dan menjalankannya menuju kafe terdekat. Setiap kali mengunjungi kantor sang kakek, Sinan tak pernah lupa membawa 4 kopi untuk dibagikan kepada kakek, sekertaris kakeknya, sepupu dan satu lagi diberikan pada orang wanita yang selama ini menjadi alasan Sinan rutin setiap jumat mengunjungi kantor sang kakek.


Sudah hampir 2 bulan Sinan melakukannya, namun nyatanya melihat wajah wanita itu membuatnya candu hingga Sinan tak sadar sudah benar-benar jatuh hati pada staf kakeknya sendiri.


Memarkirkan motor, Sinan langsung masuk kedalam gedung kantor dengan 4 kopi yang ada ditangannya. Wajahnya langsung tersenyum begitu melihat banner yang menunjukkan foto mbak Anya. Meski hanya melihat wajah di banner sudah cukup membuat hati Sinan berdebar-debar.


Hanya ada 1 makhluk hidup yang memanggil Sinan dengan sebutan itu membuat Sinan langsung menoleh ke sumber suara dengan penuh emosi. Sudah dibilang berkali-kali jika dirinya tak suka dipanggil seperti itu, namun Radit— sepupunya itu masih saja memanggil dengan sebutan yang sama.


Ekspresi Sinan berubah seketika saat melihat wanita itu berdiri tepat di samping Radit. Pakaian kantor dengan blush dan celana panjang yang dipadukan dengan sepatu flat sama sekali tak mengurangi kadar kecantikan wanita itu. Sinan bahkan sampai tak berkedip melihat Anya sekarang. emosinya pada Radit luntur seketika.


“Dih. Malam diam aja kaya patung sini buru!”


Sinan mengangguk, dengan debaran jantung yang rasanya bisa saja meledak, Sinan berjalan mendekati radit dengan kepala yang menunduk malu. Penampilan dirinya dengan Anya bagikan langit dan bumi.


“Wih kopi nih, mas minta ya”


Masih menundukkan kepala malu, Sinan mengangguk. Satu kopi juga ia berikan pada Anya yang langsung diterima oleh wanita itu.


“Terimakasih”


Buset Nan. Suaranya aja lembut banget. Ucap Sinan dalam hati.

__ADS_1


***


Masa sekarang.


“Itu adalah pertemuan pertama dan terakhir kalinya. Karena keesokan harinya, dia malah nemuin undangan pernikahan wanita itu di atas meja kerja kakeknya”


Anya yang sedari tadi mendengar sederet kalimat barusan terdiam tak menjawab apapun. Tanpa dijelaskan pun, Anya paham betul jika bocah SMA yang gendut itu adalah Sinan dan wanita yang di kagumi bocah itu adalah dirinya. Dulu Anya tak begitu memperhatikan karena Sinan selalu menunduk malu begitu bertemu dengannya. Tapi siapa yang menyangka pria yang semenjak Anya kembali berkerja menarik perhatiannya karena ucapan Ocha adalah bocah yang begitu mendambakannya hingga bocah itu tumbuh dewasa dan menjadi pria yang begitu mempesona.


“Jadi kamu bukan parasit. Tapi ini adalah simbiosis mutualisme, saya diuntungkan karena akhirnya bisa dekat dengan kamu diluar hubungan bosa dan karyawannya dan kamu diuntungkan karena jika bersedia untuk menikah denganku maka masih bisa mempertahankan hak asuh” ucap Sinan, “Jadi, mau menikah denganku mbak?”


Bukannya tersipu karena Sinan bersedia untuk membantunya, Anya kini malah tertawa mendengar sederet kalimat Sinan barusan. Bukankah bosnya ini terlalu gila untuk mengajak wanita menikah hanya karena satu belah pihak yang tertarik?.


“Kenapa tertawa?” tanya Sinan.


“Saya pamit pak. Arah pembicaraan kita semakin tak jelas arahnya”


Sinan menahan tangan Anya “Bagian mananya yang tak jelas arahnya? Saya bilang saya suka sama kamu kan?”


Sumpah ini orang jujur banget sih?.


“Saya permisi pak” Anya melepaskan genggaman tangan Sinan di lengannya dan langsung melenggang pergi.


Bukan Sinan namanya jika langsung pasrah begitu saja. Sinan ikut keluar dari ruangan dan saat mereka berada di area depan restoran yang malam ini penuh dengan pelanggan. Sinan berteriak kencang membuat langkah Anya berhenti seketika. Pandangan semua pengunjung kini tertuju kepada mereka berdua.


“Saya suka sama kamu. Jadi ayo nikah!!”


Gelo beneran ini orang. Gerutu Anya dalam hati.


Saka yang mendengar teriakan Sinan dari dapur tak bisa menyembunyikan senyumannya. Sahabatnya itu benar-benar luar biasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Punya temen gendeng semua 🤣


Ayok tinggalkan jejak kalian ya.

__ADS_1


__ADS_2