
Anya terdiam sambil menatap gedung apartemen Sinan yang pernah ia datangi dulu. Setelah mendengar kabar Sinan yang sakit, Anya tak bisa lagi-lagi berpura-pura tuli dan tak peduli. Fokus kerjanya bahkan benar-benar hilang hingga dirinya memilih untuk izin pulang lebih cepat pada Radit. Dan disinilah dia.
Setelah turun dari taxi, Anya tak langsung masuk dan hanya menatap lantai dimana unit Sinan berada. Kakinya ingin berjalan masuk namun ucapan Anggi waktu itu membuat kakinya seakan terpaku di aspal sekarang. Padahal Anya tahu kemungkinan besar Sinan merasakan sakit sendiri tanpa ada yang merawatnya.
Bagaimana jika dirinya nekat masuk dan melihat kondisi Sinan hatinya akan goyah lagi?.
Bagaimana jika setelah hatinya goyah dan menerima Sinan kembali namun ujungnya hanya akan menyakiti Arum kelak?.
Bagaimana jika semua hal itu sudah terjadi dan hanya menyisakan penyesalan di akhir tuanya nanti?.
Dan segala bagaimana yang lainnya memenuhi kepala Anya sekarang. Ketimbang masuk ke dalam dan melihat kondisi Sinan, menelfon Wine untuk mengecek kondisi Sinan adalah jawaban yang paling masuk akal sekarang.
Namun sepertinya Tuhan memang ingin Anya melangkah ditakdir yang sudah digoreskan, hingga nada dering ke 5 kalinya, Wine tak mengangkat telfon. Hanya ada pesan otomatis yang masuk yang memberitahukan jika wanita itu sedang berada di ruang operasi dan tak bisa dihubungi.
Dengan hembusan napasnya. Anya memberanikan diri untuk melangkah masuk ke gedung apartemen ini. Pulang pun hanya akan membuat kepala Anya serasa ingin pecah karena terlalu khawatir dengan kondisi bos nya itu.
Dirinya hanya perlu melihat Sinan, memastikan pria itu makan dan minum obat, lalu langsung pergi begitu Sinan istirahat. Hanya butuh waktu kurang dari 3 jam, Anya yakin tak akan goyah sedikitpun dengan keputusannya minggu lalu.
Meski tak ada hubungan apapun diantara mereka selain bos dan karyawannya. Anya merasa harus tanggung jawab karena kemungkinan sakit Sinan kali ini ada sedikit efek dari ucapannya minggu lalu.
Namun sekali lagi, seakan takdir memang ingin menguji sekuat apa pendirian Anya atas ucapannya sekarang. Tubuh Anya kembali mematung begitu pintu lift yang membawanya ke lantai dimana unit Sinan berada terbuka. Pupil mata Anya melebar saat pandangannya bertemu dengan Anggi yang berdiri di depan pintu lift.
Wanita itu juga tak kalah terkejutnya melihat keberadaan Anya di sini. Namun hanya berselang beberapa detik sebelum akhirnya Anya merasa sedikit heran saat Anggi seolah-olah pura-pura tak melihatnya. Wanita itu masuk ke dalam lift dan tak mengatakan apapun.
Sedangkan ayah Sinan yang masih berdiri di luar lift menahan pintu agar tidak tertutup "Kamu nggak mau keluar?"
Anya tahu ucapan ayah Sinan bukan ditunjukkan untuk Anggi yang baru saja masuk ke dalam lift, melainkan untuk dirinya yang langsung tersadar dan segera berjalan keluar.
Sebelum pintu lift tertutup yang akan membawa ke dua orang tua Sinan turun, Anya menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
Ada sedikit rasa canggung karena sempat menampar Anggi, namun tetap tidak ada kata maaf yang ingin Anya ucapkan. Anya hanya berusaha untuk melindungi anaknya.
Setelah pintu lift tertutup, pandangan Anya kini tertuju ke unit dengan angka 013 didepannya.
"Password unit ku 01319"
Menekan bel hingga tiga kali tapi belum juga ada tanda-tanda pintu akan dibuka, Anya memasukkan password yang sempat Sinan sebutkan dulu. 013 adalah angka unit apartemennya dan angka 19 adalah tanggal dimana pertama kali mereka bertemu di bar dulu.
Begitu pintu terbuka, Anya masuk dan terkejut bukan main saat tiba-tiba ditarik kedalam dekapan Sinan. Suhu tubuh yang Anya rasakan begitu kulit Sinan menyentuh kulitnya membuat rasa khawatir Anya bertambah berkali lipat. Suhu tubuh Sinan sangat panas sedangkan kaos yang dipakai pria ini sudah basah keringat di bagian punggung.
"Badan kamu panas banget. Ayo ke rumah sakit" ajak Anya.
__ADS_1
Bukannya mendapat jawaban, Anya malah merasakan dekapan tubuh Sinan pada tubuhnya semakin mengerat. Ada suara isak tangis yang terdengar, membuat Anya hanya bisa diam dan tak mengatakan apapun lagi. Tangannya Anya tahan sebisa mungkin agar masih berada di sisi tubuh. Takutnya jika Anya balik memeluk, maka dirinya juga akan ikut menangis karena rasa rindu yang membuncah.
"Tetap seperti ini dulu An" ucap Sinan lirih.
"Badan kamu panas banget. Aku antar ke rumah sakit ya"
"Aku kangen sama kamu An"
"Kita bahas itu nanti. Tapi sekarang ayo ke rumah sakit" Anya berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Sinan. Namun kembali kalah karena tenaga tak sebanding dengan tenaga Sinan.
Ini orang sakit, tapi tenaganya kuat bener!.
"Pak ki—"
"Aku cinta sama kamu An."
Anya menepuk punggung Sina keras "Setidaknya ganti baju kamu dulu. Basah banget. Nanti nambah sakit"
"Ku mohon jangan pernah tinggalkan aku"
Ucapan Sinan barusan membuat Anya kembali terdiam. Permohonan yang terdengar begitu tulus ditambah dengan isakkan tangis itu membuat air mata Anya yang sejak tadi ditahan agar tak meluncur kini seolah terbebas dari kekangan, meluncur bebas dengan beban di dada yang menekannya keras. Sinan menangis begitu pula dengan Anya yang ikut terisak di dada Sinan.
***
Dipaksa dengan berbagai imbalan agar mau ke dokter, Sinan tetap menolaknya dan memilih untuk kembali istirahat di kamar.
"Baju kamu ada di mana?"
Anya mengikuti letak lemari yang Sinan tunjuk. Mengambil kaos berbahan tipis dari dalam lemari itu dan memberikannya kepada Sinan. "Ganti baju kamu. Kalau lagi demam itu pakai baju yang tipis biar hawa panas dalam tubuh keluar, jangan pakai baju yang tebal"
"Oke"
Anya berpindah duduk ke kursi agar Sinan bisa turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Namun sepertinya dugaannya salah kali ini.
"Kamu mau ngapain?" tanya Anya panik saat melihat Sinan memegang ujung baju yang pria itu kenakan.
"Mau ganti baju lah. Kata kamu suruh ganti kan?"
"Ya di kamar mandi. Bukan di sini!"
"Kenapa? Aku jarang ganti baju di kamar mandi, pasti di ruang ganti atau nggak di atas kasur kaya gini"
__ADS_1
Anya melotot tajam ke arah Sinan "Ya itukan kalau lagi sendiri. Sekarang kan ada aku"
Sinan tersenyum tipis " Pacar sendiri yang sebentar lagi berubah status jadi istri mah nggak masalah. Lagi pula badan laki-laki dari atas pusar bukan aurat juga"
"Siapa juga yang mau nikah sama ka—. Yak!! Bapak!!" pekik Anya saat Sinan benar-benar meloloskan baju pria itu dari kepala. Anya langsung menoleh ke arah lain agar tak memandangi tubuh dengan bentuk kotak-kotak di bagian perut itu.
"Sudah belum?" tanya Anya tanpa menoleh ke arah Sinan lagi. Matanya tak boleh ternodai lagi sebelum berubah status menjadi istri.
"Belum."
"Kok lama sih pak. Kan cuman ganti kaos doang"
"Lah kalau belum mau gimana lagi? Kalau kamu mau nengok juga nggak masalah. Kamu dapat rezeki namanya itu"
"Gila!"
Suara tawa Sinan terdengar begitu renyah di telinganya Anya. Sepertinya keputusan untuk mendatangi unit ini adalah sebuah kesalahan.
"Udah pak?" tanya Anya lagi.
"Belum. Sebentar lagi"
"Kok lama banget. Bapak bisa nggak sih pakai kaos?!"
"Kalau ngga bisa, emang kamu mau bantu pakaiin saya baju?"
"Gila!" umpat Anya lagi.
Suara tawa Sinan kembali terdengar " Sudah. Kamu boleh nengok ke sini"
Anya menolehkan kepalanya sambil ngoceh panjang lebar. Namun ocehannya langsung terhenti saat wajah Sinan kini hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya. Begitu dekat hingga Anya bisa merasakan hembusan napas panas Sinan.
"Jangan panggil aku bapak. Coba kalau aku lagi nggak sakit, aku bakal cium kamu di sini"
Anya terdiam saat merasakan ibu jari Sinan mengusap bibirnya merahnya.
"Aku nggak mau kamu ketularan demam. Karena itu aku mau cium kamu disini"
Mata Anya terpejam saat bibir Sinan mendarat di dahinya. Cukup lama seolah menumpahkan semua kerinduan itu selama ini.
***
__ADS_1