Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 41 : Dia Pelakunya


__ADS_3

Sudah pasrah nunggu lolos review. ra lolos-lolos


**


Sinan langsung melangkah cepat begitu mendengar pintu diketuk 3 kali. Dan saat pintu terbuka Sinan langsung memeluk erat Anya dengan kaki yang ia gerakan guna menutup pintu.


Seharian ini kepalanya nyaris pecah karena masalah yang ada. Pihak pabrik bahkan mempertanyakan kelanjutan proses produksi karena semua bahan sudah siap. Ditambah lagi dengan tim design yang tidak ada yang mengaku telah membocorkannya.


"Biar seperti ini. Sebentar aja. Sampai emosiku mereda " mempererat pelukannya pada Anya. Sinan bisa merasakan dirinya jauh lebih tenang. Emosinya sedikit menurun sekarang.


Mata Sinan terpejam saat Anya balik memeluknya erat. Tepukan tangan wanita ini di punggungnya sungguh berhasil untuk membuatnya jauh lebih nyaman.


"Maaf karena hal ini, usahamu 1 bulan ini sia-sia " bisik Sinan. Tak mampu ia bayangkan seberapa kecewanya Anya karena kasus yang terjadi sekarang.


"Tidak masalah. Aku punya kamu yang selalu bisa mendapat jalan keluar"


Suara Anya yang lembut membuat Sinan semakin erat memeluk wanitanya ini.


"Bahaya makan disini. Kita ke rooftop saja ya" bisik Anya lagi.


Sinan melerai pelukannya. Tangannya masih melingkar di pinggang Anya " Tidak perlu. Aku sudah cari semuanya dan tidak ada lagi penyadap suara disini."


"Bapak yakin?"


Sinan mengangguk. Ia menarik Anya agar berjalan bersama menuju sofa. Makanan yang tadi Sinan pesan kepada Navel sebelum sekretarisnya itu makan siang sudah tersaji di atas meja.


Sinan melepas semua bungkusnya dan meletakan nya tepat di depan Anya.


"Kenapa taruh di depan saya semua. Bapak nggak makan?"


Sinan tersenyum "Makan. Suapin kamu tapi. Saya mau sambil ngasih laporan ke kakek" Sinan mengambil laptopnya yang ada di atas meja kerja lalu kembali bergabung dengan Anya.


"Modus banget dah" jawab Anya.


"Walaupun modus. Tetep cinta kan?" goda Sinan.


"Banget"


Sinan tersenyum lebar lalu menerima suapan dari Anya. Rasanya? Jelas jauh lebih enak karena berasal dari tangan wanita yang ia cintai ini.


"Pak"


"Hmm?" tak menoleh sedikitpun ke arah Anya, pandangan Sinan masih tertuju ke arah layar laptop yang kini tengah menampilkan isi blog yang menyajikan produk baru kompetitornya itu.


"Nggak jadi deh"


Tak seperti tadi. Kepala Sinan kini menoleh sepenuhnya ke arah Anya. Hal yang paling tak disukai Sinan adalah ketika ada orang yang tak berniat melanjutkan ucapannya. "Kenapa?" tanya Sinan lembut.


"Nggak jadi"


"Kenapa nggak jadi. Nggak baik loh bikin orang penasaran"

__ADS_1


Sinan bisa melihat Anya kini terdiam cukup lama sambil menatapnya. Seakan tengah mempertimbangkan antara ditanya atau tidak.


"Kenapa?" tanya Sinan lagi. Ia mengambil sepotong daging dan balik menyuapkannya ke Anya.


"Kalau, ini baru kalau ya. Kalau ternyata ada campur tangan Navel. Bagaimana sikap kamu?"


Tangan Sinan yang berniat mencomot lagi daging untuk dimakan sendiri, terhenti seketika. Kepalanya menoleh perlahan menatap kedua mata Anya yang tengah balik menatapnya.


Radit yang mengatakannya tadi saja berhasil membuat Sinan kecewa, dan sekarang mendengarnya langsung dari mulut Anya membuat Sinan tak bisa lagi berkata-kata. Daripada marah, ia lebih memilih berdiri dan kembali duduk di kursi kerjanya lengkap dengan laptop yang juga ia boyong bersama.


"Aku udah kenyang. Teruskan makan kamu, dan kembali bekerja"


"Sinan"


"Makan Sayang. Keburu dingin " perintah Sinan dengan nada tak kalah dinginnya.


"Aku bilang cuman kalau kan Nan. Bukan beneran."


"Aku paham. Jadi makan aja dulu" tatapan Sinan kini tak lagi menatap ke arah Anya. Ia menatap kosong ke layar laptop dengan isi kepala yang berkecamuk.


Tidak mungkin Navel yang melakukannya. Itu yang Sinan katakan berulang kali di kepalanya sekarang.


"Maaf"


Mata Sinan terpejam saat merasakan pelukan dari samping.


"Maaf karena kalimat ku barusan" ucap Anya lagi.


"Jangan katakan hal seperti tadi. Saya mohon. Karena—" Sinan menjeda kalimatnya. Rasanya tak sanggup untuk melanjutkan kalimat berikutnya. Cukup lama Sinan diam dengan memeluk Anya, sebelum akhirnya kalimat selanjutnya terucap juga " Karena jika kamu sampai mencurigai Navel, pertahanan ku untuk tetap mempercayainya juga akan menurun An. Aku takut untuk hal itu"


Tak ada jawaban dari Anya. Sinan hanya bisa merasakan jika pelukan wanita ini pada tubuhnya juga terasa semakin erat.


**


"Jadi maksud kamu ada yang nyadap?"


Anya mengangguk. Sudah 3 hari sejak ditemukannya alat penyadap suara di ruangan Sinan, namun hingga sekarang belum juga menemukan siapa dalangnya. Naasnya layaknya di sinetron stasiun Tv swasta, CCTV bukti akurat satu-satunya pun lenyap tak terekam di hari tepat saat alat itu dipasang.


Maka dari itu, Anya memilih untuk menceritakannya pada Arka dan Wine. Barangkali suami sahabatnya ini tahu tentang alat penyadap suara yang Anya bawa setelah memintanya pada Sinan.


Anya mengangguk menjawab pertanyaan Wine. Pandangannya kini tertuju pada Arka yang tengah mengamati benda berukuran kecil itu.


"Ini barang mahal An" jawab Arka.


"Ya?!"


"Ini dibeli di toko khusus. Tidak sembarang toko yang menjualnya" jawab Arka lagi.


"Abang tahu dimana yang jual?"


Arka menggeleng. " Abang nggak tahu. Tapi kayanya Kais atau Alan tahu."

__ADS_1


"Bisa bantu carikan bang?"


"Oke"


"Sekarang bisa mas?" kali ini Wine yang bertanya " Kalau mas bisa nemu sekarang. Wine kasih hadian nanti malam. Plus plus hadiahnya"


Jika saja ini tak menyangkut Sinan. Anya pasti sudah menempeleng kepala Wine karena ucapan Wine yang terkesan bar-bar barusan. Ibu dua anak ini kadang benar-benar tak bisa melihat sekeliling ada orang atau tidak. Dan ajaibnya Arka yang mendengar itu mengangguk semangat dengan mata berbinar.


Suami, istri memang nggak ada yang waras.


"Bener ya bun. Mas telfon Alan sekarang"


Anya memutar bola matanya saat melihat Wine menjawabnya dengan mengedipkan satu matanya.


Mari bertahan Anya. Demi Sinan.


Anya duduk sambil meremas tangannya menunggu Arka yang tengah menjawab telfon teman mess nya dulu sebelum dipindahkan ke Halim guna mengejar mati-matian sahabatnya ini. (untuk cerita Wine ada juga ya. Udah tamat. Promosi sebentar 🤭).


Pandangan Anya berbinar saat melihat Arka kembali duduk.


"Berhubung ini produk dari perusahaan milik keluarga Alan. Dia bisa—"


"Keluarga bang Alan tajir juga ya mas?!" potong Wine.


Anya mencubit lengan Wine keras "Simbet, lo bisa diem dulu nggak?! Lanjutin lagi bang"


"Dia bisa mengakses data siapa saja yang membelinya. Khususnya untuk toko di Jakarta, diluar Jakarta butuh waktu 3 hari untuk bisa kumpul semua" ucap Arka lanjut.


Satu notifikasi kembali masuk kedalam ponsel Arka. Pria itu membukanya lalu menunjukkannya pada Anya.


"Ini data pembelinya"


Anya langsung mengambil Ponsel Arka yang kini menunjukkan deretan nama pembeli. Pada deretan huruf A, Anya bisa bernapas lega karena tidak ada nama Alun di sana. Nama Ali tidak ada, nama Jini juga tidak ada.


Jantung Anya berdetak lebih cepat saat deretan nama dengan awalan huruf 'N' ia liat. Dan seakan ada bom yang nyaris meledak, mata Anya menangkap nama lengkap Navel di sana. Bersamaan dengan itu, ponselnya bergetar menunjukkan nama Radit sebagai sang penelfon.


"Halo pak"


"Datang ke apartemen Sinan sekarang ya An, dia lebih butuh kamu sekarang"


Ini alasan kenapa Anya seringkali melihat Navel mengenakan earphone. Guna mendengar apapun yang dibahas di dalam ruangan Sinan.


**


Pr



promosi sebentar. ini karya selinganku ya. ini karya udah tamat, jadi pasti bakal up terus. kalau rame bisa sampai 3 kali up dalam sehari. karena tinggal ngedit doang. Mampir ya..


pasti udah ketebak dari awal kalau Navel pelakunya kan.

__ADS_1


okelah dukung karya ku ya..


__ADS_2