
"Jadinya bagaimana An? sudah menemukan cara agar produk itu diangkat lagi di pasaran dengan kandungan yang jauh lebih kena ke target pasar?" tanya Radit
"Sudah pak"
"Presentasikan kalau begitu"
Anya mengangguk dan berjalan maju mendekati layar proyektor yang kini sudah menunjukan produk yang tengah ia tangani. Anya kini berada di ruang rapat untuk departemen pemasaran yang langsung dipimpin oleh Radit. Syukur Radit, bukan Sinan. Karena kalau Sinan maka usaha seminggu ini untuk mengurangi sebanyak mungkin pertemuan dengan Sinan gagal.
Sejak kejadian di restoran steak minggu lalu dan Sinan dengan gilanya berteriak mengajaknya berkencan didepan pelanggan yang berakhir dengan tepuk tangan meriah, Anya berusaha untuk tak berhubungan lagi dengan bosnya itu. Anya bisa gila kalau terus berhubungan dengan Sinan yang bahkan baru-baru ini sering kali mengirim pesan hanya berisi ajakan berkencan.
"Untuk zaman sekarang banyak sekali keluhan para wanita yang mengeluh karena kulitnya yang kering dan kusam, terlebih untuk wanita yang sibuk kerja hingga terkadang lupa dengan umur dan tiba-tiba wajahnya berubah kusam karena penuaan dini. Maka dari itu varian baru untuk produk ini adalah penambahan hyaluronic acid"
Jini yang juga berada di ruangan ini langsung angkat tangan untuk menyanggah. Sejak awal Anya sudah menebak jika Jini pasti akan menyanggah usulannya sekarang meski saat rapat khusus tim pemasaran 1 tadi, wanita itu setuju saja dengan usulan Anya.
"Bukankah itu biasanya lebih banyak digunakan untuk produk serum? bukan untuk pelembab wajah"
Anya mengangguk " Ya betul. Cuman remaja zaman sekarang terutama anak-anak SMA akan memburu produk 2in1 dengan harga yang jauh lebih murah"
Anya melirik sebentar ke arah Radit yang kini menganggukkan kepalanya seakan setuju dengan ucapan Anya.
"Tapi jika seperti itu maka serum kita tidak akan lagi dilirik karena sudah ada yang mencangkup keduanya dengan harga yang lebih murah" ucap Jini lagi.
Anya mengganti layar ke slide berikutnya. Tulisan target pemasaran anak SMA tertulis begitu besar. Alun yang duduk berhadapan dengan Jini menahan senyumnya. Meski bawahan wanita itu, Anya tak bodoh hingga bersedia ditindas. Nggak tahu aja kalau 1 minggu yang lalu Anya habis diajak nikah oleh CEO Miracle.
"Seperti tujuan target awal adalah anak SMA yang beli skincare dengan uang sisa saku mereka. Sepertinya tak akan memberikan dampak apapun pada penjual prodak kita yang lainnya. Dan lagi pula kadar hyaluronic acid yang ada di produk ini hanya nol koma berapa persen dari jumlah hyaluronic acid di produk serum kita. Dan itu berarti para wanita kerja akan ada kemungkinan membeli 2 produk ini sekaligus. serum dan pelembab."
Seakan kena serangan bertubi-tubi dari penjelasan Anya barusan. Jini kini diam seribu bahasa dan tak kembali menyanggah. Alun mengacungkan jempolnya pada Anya begitu melihat atasannya itu terdiam seribu bahasa.
Radit yang jelas memperhatikan semuanya sejak awal juga tersenyum tipis melihat kemenangan mutlak Anya. Hanya sebentar sebelum kembali memasang wajah datar. Jangan sampai orang tahu jika dirinya masih menyukai istri orang lain.
"Oke. Bagaimana yang lain? Ada lagi yang ingin ditanyakan? atau ditambahkan?" tanya Radit.
Semua orang yang berada di ruangan menggeleng menjawab pertanyaan Radit. Penjelasan Anya sudah cukup jelas hingga tak perlu lagi di sanggah atau ditambahkan.
"Jika tidak ada. Oke saya juga setuju dengan variasi ini. Jadi sampai disini ra—"
"Bagaimana dengan harganya? Kau yakin jika anak SMA mampu membelinya padahal yang kita tahu harga bahan hyaluronic acid terbilang tidak murah"
Suara dari arah luar membuat semua mata tertuju ke arah pintu. Sinan dengan setelan rapih muncul dari sana lalu duduk di samping Radit dengan kaki yang disilangkan, tangannya dilipat didepan dada, sedangkan matanya menatap tajam ke arah Anya seolah ingin mengajak wanita itu adu tinju.
__ADS_1
Anya yang tak menduga kedatangan Sinan, menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Aksi main kucing-kucingan 1 minggu ini gagal sudah. "Saya sudah membicarakannya dengan bagian pengadaan barang untuk produk ini, kita akan menggunakan hyaluronic acid dengan molekul yang tinggi sehingga bisa menekan biaya produksi" Mau beberapa kali Anya menghindari tatapan Sinan. Pria itu masih terus menatapnya lekat yang kali ini seolah tengah bertanya 'Mau lari lagi?' hanya dengan pandangan itu.
"Bukankah terlalu jauh dengan yang kita gunakan pada serum. Pada serum kita gunakan molekul yang kecil, sedangkan di pelembab menggunakan molekul besar alih-alih sedang?" tanya Sinan lagi.
Radit yang merasa pertanyaan itu tak seharusnya ditanyakan menyikut sepupunya ini. Demi menekan biaya, semua orang disini tahu alasan Anya menggunakan molekul yang besar. " Lo kesambet setan dimana? Kenapa harus setan bego sih yang masuk tubuh lo" bisik Radit.
"Alasannya untuk menekan biaya produksi" jawab Anya.
Tak peduli dengan bisikan Radit, Sinan kembali bertanya " Bukankah jika tetap menggunakan molekul besar dan ternyata nggak ada khasiatnya bisa menjadi kasus penipuan prodak"
Semua mata menatap Sinan tak percaya. Tak percaya jika kalimat barusan keluar begitu mulus dari CEO perusahan kosmetik ini. Radit bahkan kini mencubit pinggang Sinan.
"Aww. Sakit tahu!" ucap Sinan tak terima dicubit.
Radit tersenyum saat menyadari semua orang masih menatap kearah mereka berdua. "Kalian bisa kembali bekerja. Untuk Anya lanjutkan. Kita bisa mencantumkan molekulnya dibungkus prodak." Pandangan Radit kini terarah pada Sinan, dia memegang dahi Sinan " Oh pantes. Pak Sinan lagi sakit. Makanya bicaranya aneh hari ini. Silahkan kembali bekerja. Anya semangat"
Anya mengangguk. Merapihkan laptopnya kemudian langsung keluar dari ruang rapat bersama staf yang lain. Meninggalkan Sinan yang masih menatap tajam kearah Anya.
Begitu memastikan semua staf kembali ke kubikelnya masing-masing. Navel yang sudah paham langsung menutup tirai ruang rapat kemudian keluar meninggalkan Sinan dan Radit di ruang rapat.
Satu pukulan langsung Radit layangkan ke kepala Sinan " Lo itu mau dianggap bego sama bawahan lo ya?. Kesambet setan bego dimana sih?. Sinan yang amat cerdas hingga berhasil menaikan saham perusahaan jadi ikut bego tiba-tiba"
Radit berkedip beberapa kali karena tak percaya dengan ucapan sepupunya barusan. cosplay jadi tukang bully? " Wah lo kesambet setan beneran kayanya. Penipuan prodak? ini prodak perusahaan dan CEO nya bilang begitu? alasannya cuman karena pengin cosplay jadi tukang bully? Ikut gue ke rumah sakit sekarang. Kepala lo perlu diperiksa"
Sinan menunjukkan senyuman tak bersalah " Kalau kesambet itu diajaknya ke kyai mas. di ruqiyah. Bukan ke dokter"
Radit mengepalkan tangannya kesal " Nggak usah ke kyai atau rumah sakit. Kayanya cukup gue tempeleng ini kepala biar lo sadar"
Sinan langsung berdiri dari posisi duduknya. Jika sudah melihat rahang Radit mengeras maka bercanda Sina harus disudahi detik ini juga.
"Wusss" Sina berputar 3 kali "Setannya sudah pergi mas barusan. Udah nggak kesambet lagi gue. Assalamualaikum" ucap Sinan lalu langsung buru-buru keluar sebelum Radit benar-benar menempeleng kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mbak itu kok pak Sinan aneh banget ya mbak" ucap Alun.
"Yang tadi?"
Alun mengangguk. Mereka kini sedang berada di pantry lantai 5 selepas keluar dari ruang rapat. Perilaku aneh Sinan tadi jelas menjadi bahan perbincangan semua orang di lantai 5, bahkan ada yang menebak saking stress nya Sinan karena ditinggal menikah oleh pacarnya adalah penyebab dari keanehan pria itu.
__ADS_1
"Jangan-jangan pak Sinan depresi karena ditinggal nikah ya mbak. Kaya nggak ada perempuan lain aja. Kalau tiba-tiba ada keajaiban dan pak Sinan ngajakin gue nikah, gue terima dengan semangat 45 mbak" ucap Alun diiringi tawa wanita itu.
Tak seperti orang lain yang menganggap Sinan depresi karena ditinggal nikah yang membuat pria itu aneh saat di ruang rapat tadi, Anya tahu penolakannya 1 minggu yang lalu ditambah dengan dirinya yang main kucing-kucingan dengan pria itu yang membuat Sinan aneh pagi ini. Pandangan tajam Sinan bahkan membuat nyali Anya sempat menciut barusan.
"Cobalah deketin kalau kamu suka" Timpal Anya.
Alun tertawa sambil mengibaskan tangannya di depan muka. " Mau gue deketin sampai tua juga, yang namanya kacung ya tetep kacung mbak. ya kali pak Sinan ngelirik saya"
Anya ikut tertawa. Nggak tahu kacung di depan lo Lun, baru diajak nikah minggu lalu. "Di novel kan banyak tuh kacung yang jadi pacar CEO. Kali aja beneran di dunia nyata kan?"
"Itu novel mbak. Kalau aslinya hanya 1% doang. Bukan jadi istri, jadi gundik mungkin banyak"
"Kalau ngomong disaring dulu Lun"
Alun tersenyum " Siap mbak. Tapi kenyataan hidup itu tak seindah alur novel"
tok tok tok
suara pintu yang diketuk membuat Alun dan Anya menoleh ke sumber suara. Sinan berdiri diambang pintu.
"Ikut ke ruangan saya An!" ucapnya kemudian melenggang pergi begitu saja.
Semua mata staf yang ada di pantry menatap Anya dengan tatapan memelas. Alun bahkan mengepalkan tangannya ke udara kemudian menariknya cepat.
"Semangat ya mbak. Kasihan banget sih mbak, kamu jadi target omelan pak Sinan setiap hari"
"Semangat. Gue cabut dulu ya" Ucap Anya lalu kembali ke kubikelnya. Jini yang mendengar Anya dipanggil Sinan ke ruangan pria itu tersenyum penuh kemenangan. Seakan dirinya menang karena Sinan juga tak setuju dengan cara kerja Anya pada prodak baru.
Namun tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di ruangan pria itu nanti, jika hanya ada Anya dan Sinan di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
yuk tinggalkan jejak kalian.
Kasih Like dan Komen (authornya maksa kalau ini 🤭)
Kasih point juga boleh (Terimakasih ❤️)
Bisa kali kasih pesan-pesan kalian untuk cerita ini di kolom komentar.
__ADS_1