Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Salto Dunia Anya : Ekspresi Arum Yang Datar


__ADS_3

"Ini mamah yang beli semua Set?"


Setta yang duduk di sofa setelah lelah mengangkuti semua hadiah mamah untuk Arun dari mobil bersama Radit, hanya menganggukkan kepalanya.


"Mamah yang beli semua. Eh malah nyuruh aku nganterin ke sini. Untung ada mas Radit"


Radit yang namanya disebut kini merebahkan tubuhnya di karpet yang berada diruang tengah."Udah ngenes ditinggal nikah sampai punya anak. Eh malah jadi tukang kuli gue" rutuk Radit.


Anya tersenyum sambil melempar bantalan sofa untuk menyanggah kepala pria itu.


"Tapi mbak. Ini ngga ada yang buat Arum" kata Setta pelan.


Ibu mertuanya mulai lagi. Dari banyaknya hadiah yang ada didepan matanya, tak ada satupun yang ditunjukkan untuk Arum, semuanya untuk Arun seakan tengah membalas dendam karena kejadian kemarin.


"Nanti Cici beli sendiri ya sama mamih" Anya mengelus rambut panjang Cici.


Gadis kecil yang kini menggunakan sendal berbulu berwarna pink itu menatap mamihnya sebentar sebelum akhirnya menggeleng "Cici nggak mau. Cici nggak butuh juga. Cici mau tidur"


Anya melirik Sinan yang menghela napasnya. Arum dibawa oleh ibu ke kamarnya meninggalkan ruangan tengah yang kini terasa dingin seketika. Setta yang merasa bersalah karena ucapannya barusan langsung mengatupkan bibirnya, sedangkan Radit merubah posisinya menjadi duduk.


"Lain kali kalau ada Arum, jangan bilang begitu lagi ya Set. Bilang dulu sama mas kalau mamah bawa hadiah buat Arun, biar mas beli juga buat Arum" tegur Sinan pelan.


Setta mengangguk, ia menggenggam tangan kaka iparnya erat "Maaf ya mbak"


"Nggak papa, nanti biar besok mbak beli hadiah buat Arum" Anya menepuk punggung tangan Setta guna mengurangi rasa bersalah wanita itu.


Meski masih berusia 5 tahun. Arum bukanlah anak kecil lagi yang tak tahu apapun. Jangan sampai Arum meminta untuk tinggal bersama Danu.


***


"Ya Allah. Kamu mau buka toko Yang?" Anya mengerjakan matanya beberapa kali melihat setumpuk mainan yang berada di ruang tamu. Semalam, karena Cici tak mendapatkan mainan. Sinan bertekad untuk membeli mainan di pagi hari nya. Hanya saja Anya pikir 1 atau 2 mainan, tapi yang ada di depannya sekarang, lebih dari 20. Bukan hanya hadiah untuk Cici saja, ada juga hadiah untuk Arun karena Sinan berulang kali berjanji untuk bersikap adil kepada keduanya.


"Tinggal beli rak. Terus kamu bikin stan di depan rumah Yang" sindir Anya. Menjadi papah baru memang terkadang berlebihan. Anya bahkan ingat dengan jelas, bang Arka pernah membelikan satu keranjang besar berisi hot wheels yang harganya mampu membuat Wine mencak-mencak 1 minggu full.


Dan bertambah 1 minggu lagi saat mobil-mobil kecil itu masuk kedalam kolong-kolong sofa dan lemari.

__ADS_1


"Jangan berlebihan begitu Yang" omel Anya lagi.


Yang diomelin kini diam seribu bahasa. Tak berani menjawab saat melihat kepala Anya seakan memiliki tanduk di atasnya. Sinan memainkan jari tangan Arun yang berada di pangkuannya ini.


"Ya udah lah mbak. Udah dibeli juga. Ya kali mau dibalikin ke tokonya lagi" Aisyah yang juga duduk di ruang tamu tak tega melihat menantunya di omelin panjang lebar oleh sang istri.


Sinan dan Anya memiliki latar belakang keluarga yang berbeda dan tentu dengan didikan yang berada berbeda juga. Mungkin Sinan hidup dengan penuh kecukupan, sedangkan Anya hidup dengan keluarga sederhana setelah Aisyah bercerai.


"Ya sekarang mau buat apa sebanyak ini bu? Arum sekarang lebih cenderung suka baca buku. Bukan main barbie atau masak-masakan lagi" keluh Anya. Akhir-akhir ini karena sudah lancar baca, Arum cenderung lebih suka membaca buku cerita ketimbang bermain diluar. Kecuali jika ada kembar yang mengajaknya bermain.


"Maaf ya Yang" permintaan maaf tulus dari Sinan.


Anya hanya menghela napasnya. Bener kata ibu, toh ini semua sudah dibeli dan tak mungkin dikembalikan ke tokonya lagi. Nanti mungkin Anya akan meminta Arum untuk memilih mana saja mainan yang diinginkan, sedangkan sisanya akan di lelang ke Ocha agar dijual lagi di tempat daycare.


"Jangan berlebihan kedepannya ya Yang"


Sinan mengangguk. Sejujurnya ia hanya ingin menunjukkan jika Sinan tak membeda-bedakan antara Arum dan Arun. Apa yang didapat oleh Arun, makan Arum akan mendapat dengan jumlah yang sama. Dan itu berlaku sebaliknya. Pokoknya jika salah satu punya maka satunya lagi juga akan punya.


"Papih" Arum berjalan mendekat dari ruang tengah sambil membawa buku dongeng kancil. Gadis kecil itu duduk di samping Sinan dengan mata yang menatap papih nya penuh harap.


"Kapan ke pantai?. Arun udah keluar"


Anya dan Sinan saling pandang satu sama lain. Janji untuk ke pantai saat Arun lahir sempat mereka lupakan.


"Cici pengin ke pantai?" tanya Sinan.


Arum menganggukkan kepalanya semangat "Mau. Sama uti, sama Mamih, sama Arun juga"


"Tapi mamih sama Arun nggak bisa ikut. Gimana dong?"


"Kenapa nggak bisa?"


"Arun masih terlalu kecil. Nggak baik kalau kena angin pantai yang kenceng"


"Kenapa?"

__ADS_1


Anya diam saja. Membiarkan Sinan yang menanggapi setiap pertanyaan Arum yang panjangnya akan seperti rel kereta api itu.


"Nanti pasirnya masuk mata" jawab Sinan seadanya. Lebih tepatnya agar mudah dipahami oleh bocah berusia 5 tahun ini.


"Kan bisa pakai kaca mata?"


"Oh iya yah"


Anya mendelik ke arah suaminya itu yang malah mengiyakan jawaban Arum.


Sinan buru-buru mengoreksinya "Pakai kaca mata bisa Ci. Cuman di pantai kan biasanya anginnya kenceng, nanti Arun masuk angin dan pasir yang halus tetep bisa masuk ke mata"


"Arun pakai jaket aja" jawab Arum enteng.


Sinan membetulkan posisi duduk Arum agar menghadap ke arahnya "Papih mau tanya. Menurut Cici matahari panas tidak?"


"Panas"


"Nah bayi yang baru lahir seperti Arun itu nggak boleh kena panas matahari terlalu lama. Nanti kulit Arun merah terbakar"


"Kaya kulit Cici yang merah?"


Sinan menganggukkan kepalanya "Kita ke pantainya kalau Arun sudah besar ya. Besok Cici boleh ikut Papih ke kantor"


"Oh jadi kita nggak jadi ke pantai?"


"Iya. Cici sabar ya"


"Oh ya udah" setelah mengatakannya. Arum langsung masuk kembali ke ruang tengah dengan ekspresi datarnya.


Anya dan Sinan hanya saling bertukar pandang. Semakin ke sini, semakin sulit untuk menebak kondisi hati Arum dari ekspresi bocah kecil itu. Sedih atau senang, ekspresinya terkesan datar tak seperti bocah seusianya.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2