
“Boleh saya tahu ada keperluan apa bapak panggil saya?” tanya Anya begitu sampai di ruang kerja Sinan. Tak lupa ia juga sengaja tidak menutup pintu agar bosnya itu tak sembarangan melakukan hal diluar dugaan, setidaknya ada Navel di luar yang bisa melihat apa yang terjadi di ruang bosnya ini.
Namun harapan memang hanya sebatas harapan. Karena nyatanya Sinan yang tahu jika Anya pasti akan menolak untuk menutup pintu ruangan kini malah menghubungi Navel dan meminta sekertarisnya itu untuk menutup pintu. Navel yang betemu padangan dengan Anya mengulas senyumnya bersalah sambil menutup pintu pelan.
“Apa kita anak SD An?” tanya Sinan begitu suara pintu tertutup terdengar. Sinan memutar tubuhnya yang langsung menghadap kearah Sinan. Matanya tak percaya menatap Anya yang kini masih berdiri di dekat pintu alih-alih mendekat kearahnya. Bisa dibilang jarak mereka sekitar 5 meter sekarang. Sinan berdiri didepan meja kerjanya dan Anya berdiri disamping pintu yang sudah tertutup.
“Ya ampun. Kamu takut saya gigit, berdiri sejauh itu?”
Tak peduli dengan ucapan Sinan, Anya tak melangkah sedikitpun “Ada keperluan apa bapak memanggil saya ke sini?” tanya Anya ulang.
“Kemari, mendekat” Sinan menggerakkan tangannya meminta Anya untuk mendekat.
“Jika bapak tidak setuju dengan ide saya, saya bisa ganti lagi pak”
“Kemarin An, jangn jauh-jauh”
“Saya akan menyerahkan ide baru dalam waktu 4 minggu”
Sinan menghela napasnya “Kemari. Jangan jauh-jauh. Saya nggak bakal gigit kamu”
“Oke. 3 minggu pak”
“Ya Ampun!!” merasa jika ucapannya barusan tak akan digubris oleh Anya. Sinan yang memilih untuk maju mendekat sambil membawa kotak kecil ditangannya.
Anya yang melihat Sinan mendekat, reflex mundur cepat hingga tubuhnya kini membentur tembok dibelakanngnya. “Bapak mau ngapain. Ini di kantor pak!” pekik Anya.
Sinan yang melihat raut wajah khawatir Anya tersenyum tipis. Ekspresi wanita ini sangat berbeda dengan ekspresi yang ia lihat 1 minggu yang lalu. Saat Anya menanyakan bagaimana cara untuk menggodannya.
“Bapak mau ngapain. Stop jangan deket-deket saya!”
“Kalau kamu teriak begitu nanti Navel bisa denger loh. Nanti dia ngira saya ngapa-ngapain kamu”
“Ya terus bapak mau ngapain?!” Anya langsung menyilangkan tangannya didepan dada.
Mata Sinan membulat tak percaya dengan tingkah Anya sekarang. wanita yang 1 minggu lalu berani menggodanya kini berubah drastis seperti anak SD yang takut untuk dilecehnya. Buset gue keliatan ba*sat banget apa di mata dia?. “Saya cuman mau masangin kamu kalung” Sinan membuka kotak yang ia pegang.
Satu kalung dengan bandul permata zamrud terlihat begitu kotak dibuka. Bukan terpana karena pertama kali liat mengingat Wine punya 3 kalung seperti ini di rumah wanita itu, Anya lebih ke arah bingung karena Sinan kini malah memasangkannya ke leher Anya.
__ADS_1
“Cantik” bisik Sinan setelah selesai memasangkan kalung itu.
Anya kembali melepas kalung itu dan diberikan kepada Sinan. Dirinya bukan wanita murahan yang langsung takluk hanya dengan 1 kalung secantik itu. “Saya tidak butuh pak. Lagi pula kenapa juga bapak ngasih ini sama saya?”
Sudah bisa menebak jika Anya akan menolaknya. Sinan menuntun Anya agar duduk di sofa. Posisi Anya yang berdiri diantara tembok dan tubuhnya, membuat pikiran liar Sinan untuk merasakan bibir manis itu muncul di kepala. Sinan tak ingin melakukannya jika hanya dirinya saja yang menginginkannya.
“Itu seharusnya kalung yang saya kasih ke mantan pacar saya. Berhubung dia malah ninggalin saya, makanya saya kasih ke kamu aja”
“Jadi saya dikasih barang bekas nih?” jawab Anya.
Sinan tertawa “Kalau mau menikah sama saya, saya bisa belikan yang baru”
“Maaf saya tidak tertarik”
“Serius tidak tertarik?” Sina kini pindah posisi duduk disamping Anya. Ia memrikingkan kepalanya dengan tangan sebagai penyanggah. Menatap lekat kearah wajah cantik yang sudah 1 mingguan ini membuatnya uring-uringan tak jelas.
Anya menggeser posisi duduknya saat Sinan duduk begitu dekat dengannya. Namun namanya juga Sinan, bocah gila yang ia umpat malam itu namun belum juga mnegingat apa yang terjadi malah ikut bergeser mendekat kearah Anya. Terus seperti itu hingga Anya berakhir disudut sofa.
“Ada keperluan apa ya pak, bapak manggil saya? Jika tidak ada keperluan. Saya pamit kembali kerja”
“Ada. Ada yang ingin saya tanyakan sama kamu. Bagaimana cara saya menggoda kamu agar bersedia berkencan dengan saya?” tanya Sinan sama persis dengan pertanyaan yang Anya lempar padanya malam itu.
“Saya bercanda. Ada yang mau saya kasih ke kamu selain kalung itu”
“Jika bukan pekerjaan, saya akan menolak”
Sinan tertawa, mengelus puncak kepala Anya kemudian berjalan menuju mejanya. Menggoda Anya sepertinya akan menjadi hal yang ia sukai mulai sekarang. Mengambil berkas dari atas meja, Sinan kembali duduk disamping Anya “Saya ingin kamu menandatangani ini”
Anya menerima berkas yang diberikan oleh Sinan. Satu surat kontrak untuk mejadi model produk miracle selama 1 tahun tertulis dalam perjanjian. Anya tahu, dirinya kembali dipekerjakan di perusahaan ini adalah untuk kembali menjadi wajah perusahaan, namun Anya tak menyangka akan secepat ini menandatangi kontrak bahkan dikontrak selama 1 tahun lamanya.
“Jika kau setuju. Kita bisa melakukan pemotretan di luar hari kerja” lanjut Sinan.
Tak perlu memikirkan hal lain karena memang itu adalah perjanjian dari awal, Anya langsung menandatanganinnya dan memberikannya kepada Sinan.
“An nanti kalau saya kasih surat ajakan nikah tanda tanganinya yang cepet juga ya”
“Permisi pak”
__ADS_1
Lagi, tawa Sinan kembali muncul saat Anya menghindari ucapanya barusan dan langsung melenggang ke luar dari ruangan. Biarpun berasa tarik ulur seperti ini, Sinan tak masalah. karena jika tarik ulur seperti ini jelas sensasinya amat sangat berbeda.
***
“Jadi gimana ceritanya ini?” Wine yang pertama kali mengajukan pertanyaan saat mereka berlima berkumpul di halaman rumah Anya. Alasanya? Jelas untuk merasakan makan malam buatan ibu. Bukan hanya Wine dan Ocha saja, Arka dan adik pria itu juga berada di sini.
“Dia mau nikah 2 bulan lagi” jawab Anya. Jika berkumpul maka pembicaraan mereka jelas seputar menjulidi orang lain. Dan kali ini Danu yang menjadi korban mereka.
“Gila sih itu orang ya. Lo sih ya, dari zaman kuliah gue bilang apa, dia bukan pria baik. pengin gue cariin yang alim nggak mau” omel Ocha. Sejak zaman kuliah dulu, Ocha adalah orang yang paling tak setuju dengan hubungan Anya dan Danu. Namun karena kehadiaran Arum yang tak terduga membuatnya menyerah dan merestui pernikahan Anya dan pria bre*sek itu.
“Terus dia mau ngambil hak asuh Arum gitu?” Arka yang biasanya paling diam kini angkat bicara. Jika sudah berhubungan dengan Arum, maka Arka akan menjadi orang pertama yang ngomel sepanjang jalan kenanga. Bahkan Anya pernah kena omel suami sahabatnya ini hanya karena Arum jatuh hingga ada bejolan di kepalanya saat bocah perempuan itu belajar berjalan.
Anya melirik sebentar kearah rumah, takut jika mamah dengar pembicraan mereka di teras “Iya bang. Tapi jangan kenceng-kenceng, nanti kedengeran mamah”
“Nggak boleh. Enak aja” gerutu Arka.
“Eling mas, yang bapaknya Arum siapa” Wine menepuk pundak Arka yang emosi mendengar cerita Anya.
“Mbak. Kasih aja Arum ke bang Arka. Minta 5M juga bakal dikasih sama dia” timpal Kais— adik Arka.
Satu pukulan di kepala Kais dapatkan dari Ocha “Dikira Arum barang yang bisa dituker sama duit”
Lagi, satu pukulan yang kini mendarat dipunggung Kais berasal dari tangan m Anya “ Hamil sama ngelahirinya taruan nyawa”
“Kalau gitu nikah lagi aja mbak. Jangan mau kalah” jawab Kais enteng. Pria yang umurnya hampir berjarak 5 tahun dengan mereka bertiga itu belum tahu rasanya berumah tangga. Rintangannya bisa kaya badai ditambah angin topan lalu dilanjut dengan gempa bumi.
Mendengar kata menikah, mata Wine berbinar seketika “Sama CEO lu aja An. Godain aja terus nanti juga bakal kepincut”
“Dia udah ngajak gue nikah” jawab Anya. Dengan santai ia mengambil daging kemudian memasukannya ke dalam mulut. Seolah tak peduli dengan tatapan terkejut Ocha dan Wine.
“Serius lo?!”
“Serius lo?!”
Tanya Wine dan Ocha bersamaan.
***
__ADS_1
jangan lupa LIKE dan KOMENTARNYA ya.