
Begitu sampai di depan unit apartemen Sinan. Anya menekan bel berharap jika Sinan membukanya dan menunjukkan jika pria itu baik-baik saja.
Anya pernah merasakan di khianati oleh orang terdekatnya, karena itu ia paham betul sesakit dan sekecewa apa rasa itu muncul di dada.
Tak ada jawaban atau tanda-tanda pintu di buka. Anya kembali menekan bel kali ini dalam tempo cepat agar Sinan tahu jika Anya merasa khawatir dengan pria itu.
"Sinan. Buka pintunya!!" kali ini Anya menggedor pintunya. Tak peduli jika unit lain terganggu dengan apa yang Anya lakukan. Dia hanya butuh melihat Sinan dalam kondisi baik-baik saja.
Bagaimana, jika Sinan melakukan hal konyol?
Itu memang sedikit mustahil karena sosok Sinan tak mungkin jatuh hingga ke dasar jurang karena hal ini. Tapi jika mengingat Navel adalah orang yang paling Pacarnya percayai, jantung Anya berdetak seirama dengan gedorannya di pintu ini.
Saat berniat untuk kembali menekan bel, pintu terbuka dan menampilkan wajah Sinan yang tersenyum lebar.
"Hai" sapa Sinan halus.
Mata Anya memindai tubuh Sinan dari atas hingga bawah. Pria ini menggunakan kaos hitam dengan celana training biru dongker. Satu handuk menggantung di lehernya, rambut basah dan wajah yang terlihat begitu segar meski mata merah itu tak bisa sepenuhnya menyembunyikan hal yang telah terjadi.
"Hai" sapa Anya balik dengan senyuman mengembang "Kenapa lama banget bukanya?"
"Habis mandi, nggak kedengaran" Sinan menggeser tubuhnya mempersilahkan Anya untuk masuk.
"Harum, masak sesuatu?" tanya Anya. Langkahnya kini langsung menuju ke arah dapur dan menemukan satu panci kecil dengan sayur asam yang mendidih di dalamnya.
"Ke sini naik apa?"
"Minjem mobil super mahal punya Wine. Orang di parkiran ngeliatin aku semua tadi"
"Semahal apa emang mobilnya?"
"Lamborghini" Anya tersenyum saat melihat mulut Sinan membentuk huruf O.
Pertanyaan bagaimana kondisi Sinan sekarang setelah menemukan Navel sebagai dalang dari semuanya, sengaja Anya tahan dan tidak ditanyakan sekarang. Sinan masih berusaha untuk baik-baik saja dan Anya tak ingin merusak usaha laki-laki ini.
"Kamu tahu nggak. Hidup aku dan Ocha itu kaya bagaikan langit dan bumi kalau dibandingin sama hidup Wine. Cita-citaku kelak mau jodohin Arum sama Aaras biar bisa ikut kaya"
Dahi Sina berkerut bingung " Aaras?"
"Anaknya Wine" mematikan kompor, Anya mengambil satu mangkuk berukuran sedang dan menuangkan sayur asam dari panci.
Sedangkan Sinan yang sejak tadi berdiri di sampingnya membawa mangkuk sayur asam itu ke meja makan yang sudah tersaji Ikan goreng dan sambal terasi.
Dengan piring yang sudah berisi dua nasi, Anya mengambil posisi duduk dihadapan Sinan. "Aneh makan sayur asem malam-malam. Tapi liat kamu yang masak, aku jadi pengin makan"
"Emang belum makan malam?" Sinan menuangkan sayur asam ke piring Anya lengkap dengan ikan goreng dan sambalnya.
__ADS_1
"Belum. Makanya aku lapar" jawab Anya.
"Makan yang banyak kalau begitu"
"Pasti dong" Anya langsung melahap sesendok nasi dengan ikan goreng. Pandanganya masih tertuju ke arah Sinan, barangkali bisa melihat perubahan raut wajah pria ini. Meski terlihat baik-baik saja, Anya tahu Sinan dalam kondisi terpuruknya.
"Enak?" tanya Sinan tanpa menatap balik ke arah Anya.
"Liat aku. Baru aku jawab enak atau tidak" tantang Anya. Senyum Anya mengembang saat melihat ke dua mata itu balik menatap ke arahnya. Jika Anya, dirinya pasti tak mampu untuk menatap balik.
"Enak" lanjut Anya.
"Syukurlah"
"Kamu nggak mau nanya kenapa aku bisa di sini Nan?" tanya Anya balik. Anya harap pertanyaannya kali ini bisa membawa mereka ke arah pembicaraan mengenai Navel. Namun sepertinya Anya salah saat melihat pria ini malah tersenyum lebar.
"Kangen sama aku pasti?" tebak Navel.
Untuk saat ini, Sinan mungkin tak ingin membicarakannya. Maka Anya juga akan berhenti memancing Sinan " Betul. Kangen banget. Makanya aku curi aja mobil Wine"
Sinan tertawa. Pria itu menenggak air di dalam gelas "Ini sebenarnya masak bareng mas Radit tadi. Eh dia tiba-tiba nelepon terus malah nggak balik-balik" Raut wajah Sinan berangsur berubah menjadi datar.
"Dia tadi nelepon aku. Dia bilang kamu masak sayur asam. Makanya aku langsung ke sini. Laper sama kangen hampir sama"
"Syukurlah, jadi nggak dibuang"
"Hmm?"
"Aku habis ribut sama ayahnya Arum. Bisa tolong peluk aku?"
Mata Sinan kini balik menatap ke arahnya. Wajah tegar laki-laki ini, kini berubah menjadi tatapan penuh kekecewaan dengan mata yang semakin lama terlihat semakin memerah. Seolah pertahanannya sejak tadi runtuh seketika oleh ucapan Anya barusan.
Tak berkata apapun. Anya langsung berdiri dan berjalan mendekat ke arahnya Sinan. Di peluknya tubuh Sinan membuat suasana berubah seketika. Segala kekecewaan dan rasa amarah tumpah menjadi satu.
"Nggak masalah kalau nangis Nan. Anggap saja aku kakak kamu yang bisa membuat kamu bersandar"
Tangis Sinan pecah seketika. Anya mengusap halus kepala Sinan yang kini bersandar di perutnya.
Satu yang Anya sadari. Bukan hanya hati Sinan yang tidak baik-baik saja. Tapi tubuh pria ini juga tidak baik-baik saja.
**
"Minum obat dulu."
Anya memapah tubuh Sinan yang kini berbaring di kasur agar duduk. Memberi dua kapsul obat yang langsung di telan oleh Sinan dengan dorongan air minum.
__ADS_1
"Nggak mau ke dokter beneran?" tanya Anya lagi.
Sinan menggeleng. Pria itu kini kembali merebahkan tubuhnya di kasur " Istirahat sebentar juga nanti bakal turun demamnya"
"Kamu itu mandi berapa jam sih?" Anya menarik selimut hingga batas dada Sinan.
"Nggak tahu. Di bawah shower berapa lama. Rasanya kepalaku mau meledak soalnya" jawab Sinan sambil meringkuk mendekati Anya.
"Sesakit itu ya Nan?" tanya Anya akhirnya. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, membiarkan Sinan yang kini memeluk pinggangnya.
"Hmm" jawab Sinan lirih. Pria itu memejamkan kembali matanya menghalau air mata yang ingin kembali keluar.
"Besok-besok telfon aku ya kalau kepala kamu rasanya mau pecah. Kita berbagi beban bersama"
"Hmm"
Anya kini merubah posisinya menjadi berbaring di samping Sinan. Mendekap Sinan erat sambil mengusap punggung pria ini, berharap bisa sedikit menenangkan.
"Dia pasti punya alasan kenapa ngelakuin ini" ucap Anya lagi.
"Tapi dia juga yang nyebarin foto kita dulu An"
"Aku tahu. Karena itu aku ingin tahu apa alasannya"
"Aku ngantuk." ucap Sinan lirih " Rasanya nyaman"
Anya mengeratkan pelukannya " Kalau begitu tidur. Aku menginap malam ini"
Sinan tersenyum dibalik pelukan Anya. Biasanya dalam kondisi sakit seperti ini, Sinan akan kesulitan tidur. Tapi sepertinya malam ini dirinya akan tidur lelap.
"Buset dah. Mata gue ternodai!!"
Pekikan seseorang dari arah pintu membuat pandangan Anya dan Sinan tertuju ke sumber suara. Anya lupa jika dirinya tadi menelepon Radit agar mengirimkan dokter untuk memeriksa Sinan. Tapi tidak menyangka jika dokter yang di kirim Radit kini malah sudah berdiri diambang pintu kamar. Dokter yang tahu kode akses masuk unit ini.
Buru-buru Anya langsung turun dari kasur. Mereka tidak melakukan apapun, tapi bahasa pria itu seolah tengah melihat hal yang begitu haram.
"Saka?! Ngapain lo di sini?!" sewot Sinan.
"Gue diundang sama Radit. Katanya lo sakit, ya mau gue periksa"
Oke. Saka— pria pemilik restoran yang Anya temui beberapa minggu lalu adalah seorang dokter sekaligus.
Gue malu woyy!. Batin Anya
**
__ADS_1