Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 49 : Ketahuan Setta


__ADS_3

Sinan:


Bisa keluar sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan.


Satu pesan dari Sinan masuk begitu Anya kembali mengaktifkan ponselnya. Karena kehadiran Anggi, Anya sepertinya tak diizinkan untuk menikmati perjalanan ini karena sejak tadi jantungnya sudah berdetak begitu cepat. Baru sedikit kembali normal saat dirinya tiba di hotel dan ditempatkan di satu kamar yang sama dengan Alun dan Jini. Ya. Wanita itu satu kamar dengan Anya yang membuat Alun mengeluh karena suasana kamar pasti akan terasa begitu canggung.


"Begini aja biar enak. Aku tidur di tengah, mbak Anya di sebelah kiri aku dekat jendela, mbak Jini di sebelah kanan aku. Oke?"


"Oke" jawab Anya. Syukur kamar ini terdiri dari 3 kasur yang di susun berdekatan hanya disekat dengan meja berukuran kecil. Setidaknya Anya tak tidur satu ranjang dengan Jini.


"Satu jam lagi kita rapat" Jini masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan ekspresi Alun yang semakin ditekuk.


"Nyebelin banget sih tuh orang. Capek, istirahat dulu napa!!" omel Alun sambil meninju udara ke arah pintu kamar mandi.


Satu pesan lagi kembali masuk ke ponsel Anya. Pengirimnya masih sama. Pria yang kini menginap di hotel yang sama.


Sinan :


Mau saya ke kamar kamu atau tunggu di lobi? Kalau cuman baca doang, saya bakal langsung ke kamar kamu.


"Mbak keluar sebentar" setelah mengatakannya pada Alun, Anya langsung melesat keluar dari kamar dan berjalan menuju tempat Sinan berada. Tangannya dengan lincah membalas pesan Sinan dan meminta pria itu menunggu di bawah saja. Jika Sinan sampai ke kamarnya, maka tamatlah riwayatnya.


Begitu sampai di bawah, Anya langsung mencari keberadaan Sinan. Saat pandangan mereka bertemu, Anya langsung melotot tajam seolah mengatakan kepada pria itu agar tak mengangkat tangannya. Bukan berjalan mendekati Sinan, Anya malah berjalan menuju pintu keluar. Berbicara di area hotel masih cukup rawan karena kemungkinan bisa ada yang melihat mereka.


Sinan yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan ikut mengekor dibelakang Anya. Sesekali mencoba untuk menjahili dengan memanggil nama yang membuat Anya semakin berjalan cepat.


"Anya"


"Sayang"


"Honey"


"Mamah Arum tersayang!"


"Kesayangan akuhh"


"Pak please deh. Nggak usah rese" omel Anya begitu posisi keduanya sudah cukup jauh dari area hotel. Entah Anya tidak tahu dimana, dirinya hanya terus berjalan lurus menjauh dari hotel. Teriakan Sinan benar-benar membuat beberapa orang asing menoleh ke arah mereka. Beberapa dari mereka bahkan tersenyum melihatnya. Anya yakin mereka pasti menduga jika Anya adalah istri yang tengah marah kepada suaminya.


"Bapak mau ngomong apa?" tanya Anya lagi.

__ADS_1


Sinan tergelak tawa melihat ekspresi Anya sekarang. Wajah ibu Arum ini sudah merah padam seolah siap untuk mengumpati Sinan sekarang. Sebelum itu terjadi, Sinan langsung memberikan satu paper bag kepada Anya.


"Apa ini?"


"Makanan. Tadi saya beli makanan di bandara. Jadi saya pikir kamu juga pasti suka"


"Bapak cuman mau ngasih ini aja? Nggak jadi ngomong?" Anya mengintip isi dari dalam paper bag. Satu kotak coklat dan beberapa keripik berada di sana. Lumayan, untuk teman ngemil saat bekerja nanti.


"Ada. Kamu belum terlalu sibuk kan? Saya mau ngajakin kamu makan di tempat langganan saya"


Anya menghela napasnya "Kita jauh-jauh ke sini hanya untuk bicarain hal itu? Cuman buat ngajakin saya makan?"


Sinan mengangguk tanpa dosa "Iya"


"Kalau gitu kan bapak bisa WA aja. Ngapain pakai ketemu segala"


Jari telunjuk Sinan menunjuk ke paper bag di tangan Anya "Itu. Kan nggak bisa di WA"


"Ya tadi kan bisa bicara di lobi. Jadi nggak sejauh ini"


"Lah kan tadi kamu yang ngajak saya jalan sampai sini. Saya mah ngikutin kamu aja"


"Kepikiran karena mamah saya ikut juga?" tanya Sinan. Langkah mereka kini semakin menjauhi hotel tempat menginap. Berjalan berdua dengan Anya seperti ini benar-benar menyenangkan. Seakan semakin membuat dirinya yakin jika Anya memang berada di genggamannya sekarang.


"Sedikit kaget. Ini perjalanan bisnis jadi nggak pernah nyangka kalau mamah kamu ikut"


"Saya juga nggak tahu, awalnya cuman Setta doang yang mau ikut karena pas liburan semester, dan ternyata malah mamah ikut"


"Bapak udah pernah bicara mengenai hubungan kita?"


Anya melihat Sinan terdiam cukup lama. Pria itu menatap lurus ke depan dengan sebuah senyuman tipis yang bertahan hanya dalam beberapa detik saja. Saat pandangan mereka bertemu, Sinan menganggukkan kepalanya.


"Sudah?" tanya Anya lagi.


"Sudah"


"Terus?" Anya menghentikan langkahnya begitu pula dengan Sinan yang akhirnya juga berhenti melangkah.


"Mau jawaban kaya apa yang pengin kamu denger?" Sinan mengusap puncak kepala Anya lembut. Sejak dulu Sinan selalu membayangkan bisa mengelus puncak kepala Anya. Dan kini menjadi kenyataan.

__ADS_1


"Jujur"


"Mamah nggak setuju" Sinan kembali mengelus kepala Anya.


"Ayah kamu?"


"Nggak setuju juga." lagi. Sepertinya akan menjadi kegiatan favoritnya untuk mengelus kepala Anya.


"Bisa berhenti nggak pak. Saya bukan hewan peliharaan yang di elus mulu"


Tangan Sinan yang hendak untuk kembali mengelus puncak kepala Anya segera ia tarik kembali. Lebih baik mengikuti permintaan Anya dari pada mood wanita ini menjadi berantakan. Menggandeng Anya, Sinan kembali melanjutkan langkahnya. "Saya akan berusaha agar mereka bisa setuju"


"Harus. Kalau nggak saya nggak mau nikah sama bapak"


Kali ini Sinan yang menghentikan langkahnya terlebih dahulu "Kok manggilnya bapak lagi? Udah naik kelas jadi 'saya kamu' jadi turun derajat lagi deh"


"Bapak yakin akan terus ngelanjutin hubungan ini?"


Sinan menatap lekat ekspresi Anya sekarang. Sebelum akhirnya mengangguk dan menarik Anya ke dalam pelukannya. "Sangat yakin. Saya bisa gila beneran kalau ngelepasin kamu lagi"


Anya mencubit pinggang Sinan pelan "Gombal"


Keduanya tertawa bersamaan. Mungkin melihat aneh ketika mereka berhasil meningkatkan mood masing-masing hanya karena satu kata. Tapi percayalah hubungan seperti ini tanpa sedikit-sedikit baper adalah ciri-ciri hubungan yang sehat.


"Gombal dari mana?, beneran"


"Terserah" Anya kembali mencubit pinggang Sinan.


"Cemen lo mas. Beraninya umpet-umpetan"


Suara dari arah belakang Sinan, membuat mereka melerai pelukan satu sama lain. Keduanya menoleh bersamaan dan melihat Setta tengah berdiri tak jauh dari mereka dengan cengiran lebarnya.


***



Demi mengambil alih perusahaan sang mamah dari kuasa ibu tirinya, Arini Leta Hilman mencari cara untuk menjebak Sagema Alka Birgantara. Pemegang saham terbesar ke dua di perusahaan, anggota DPR, dan juga calon suami saudara tirinya. Leta merencanakan one night stand Gema dengan wanita bayaran dan menjadikannya sebagai ancaman agar Gema bersedia untuk menikahinya.


Gema tahu Leta adalah sosok wanita gila yang begitu ambisi untuk mewujudkan apapun yang wanita itu inginkan sejak masa kuliah. Namun Gema tak pernah menebak jika Leta malah menyukainya dan menjebaknya agar bisa menikah dengannya.

__ADS_1


Lalu apa yang akan terjadi pada Gema setelah tahu dirinya hanya diperalat untuk mengambil alih perusahaan dan balas dendam pada wanita yang sangat ia cintai?.


__ADS_2