Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 47 : Sidang Calon Kakak Ipar


__ADS_3

"Kalau pakai baju tentara, saya juga takut An" bisik Sinan. Pria yang sejak tadi dipanggil oleh Anya dengan sebutan 'Abang' itu masih menatap tajam ke arah Sinan. Dirinya sudah duduk di samping Anya dengan tangan yang di letakan didepan badan saling menggenggam satu sama lain. Bersikap sesopan mungkin agar pria yang memiliki banyak bintang di bahunya itu setidaknya bisa menatap santai ke arahnya. Namun mau sesopan apapun, pria itu masih menatapnya tajam seolah ada laser yang tertuju langsung ke jantung Sinan.


"Siapa kamu?"


"Dia bos An—"


"Abang tanya sama dia bukan sama kamu Anya. Jadi kamu diam aja"


"Uhh seyemmm" sahut dari arah belakang Arka. Tak perlu ditanya lagi, jelas Wine yang baru saja bicara. Wanita itu benar-benar nggak ada akhlaknya.


"Saya Sinan mas."


"Mas mas. Saya bukan kakak kamu, lagi pula saya nggak setua itu untuk dipanggil mas sama kamu"


"Ingat umur" sahut Wine lagi. Jihan yang duduk di samping Wine memukul wanita itu agar diam sekarang.


Anya tak memiliki saudara kandung apalagi sosok kakak laki-laki. Maka dari itu melihat Arka yang tak diterima Anya di cium sebelum menikah marah layaknya kebakaran jenggot, membuat Jihan senang karena setidaknya ada yang menjaga putrinya sekarang.


"Dek" tegur Arka. Wine yang di tegur tersenyum manis ke arah suaminya. Membuat pertahanan Arka untuk tetap memasang ekspresi serius hampir gugur.


"Ada hubungan apa kamu sama adik saya?" lanjut Arka.


Sinan yang ditanya melirik sebentar ke arah Anya. Ia mengambil tangan Anya lalu digenggamnya dengan erat " Saya pacar Anya bang"


"Baru pacar tapi udah berani cium?!"


Untuk kali ini Sinan tak bisa menjawabnya bukan karena merasa tindakannya salah, namun merasa bingung dengan pertanyaan pria yang duduk di hadapannya ini. Cium pipi jelas bukan suatu hal yang aneh didalam suatu hubungan antara laki-laki dan perempuan. Di zaman sekarang bahkan ada yang jauh gila dari itu. Jika Sinan di omelin karena melakukan hal 'itu' diluar pernikahan, dirinya bisa memahami kesalahannya. Tapi sekarang?.


"Mas kalau kamu nanya begitu, keliatan banget umur kamu udah tua" Wine yang sejak tadi duduk di belakang Arka kini pindah dan duduk di samping suaminya. Ia menepuk paha Arka sambil menggelengkan kepalanya.


Jika Wine berteman dengan Anya, Sinan tahu jika Wine menikah di usia muda, dia pasti tahu hal-hal seperti apa yang di lakukan muda-mudi khususnya daerah ibu kota dalam berhubungan dan—.


Tunggu.


Sinan mendekatkan bibirnya di sebelah telinganya Anya "Bang Arka itu suami tenaga dalam?"


Anya yang mendengar Sinan memanggil Wine dengan sebutan tenaga dalam, tertawa seketika. Tak peduli dengan tatapan kepo Wine dan Arka. "Iya, dia suami tenaga dalam" jawab Anya sambil balik berbisik.

__ADS_1


"Bukan kakak kandung kamu berarti?" tanya Sinan lagi dengan masih berbisik.


"Emang saya nggak pernah cerita kalau saya anak tunggal pak?" kali ini Anya sengaja tak berbisik agar Arka dan Wine tahu apa yang tengah mereka bicarakan. Lebih tepatnya menjahili mental Sinan yang hampir meningkat lagi dan langsung down dengan ucapannya barusan.


"Kenapa? Karena saya bukan kakak kandung Anya makanya kamu nggak takut dan merasa bersalah lagi sama saya?" tanya Arka dengan nada super wibawa.


Sinan menggeleng seketika. Jika Arka datang dengan kaos dan celana training, mungkin Sinan akan menganggukkan kepalanya. Tapi melihat seragam yang kini digunakan Arka membuat nyali Sinan menyusut seketika.


Nggak lucu kan kalau dirinya tiba-tiba di tembak?.


Meski itu tidak mungkin karena Sinan adalah warga sipil ditambah tak melakukan kejahatan ditambah lagi Arka yang juga tak mungkin membawa pistol.


"Nggak bang."


"Sejak kapan kamu jadi pacar Anya?"


"Baru 2 minggu ini bang"


"Apa kerjaan kamu?"


"Berapa umur kamu?"


"Abang ih" ucap Anya keberatan. Arka seakan tengah mewawancarai Sinan sekarang.


"Umur Saya 24 tahun bang"


Arka terkejut sendiri dengan jawaban Sinan. Usia laki-laki ini 2 tahun di bawah usia Anya, dan itu berarti 9 tahun di bawah usianya.


Arka mengatur ekspresinya kembali "Pantes karena usia kamu masih muda maka gaya pacaran kamu juga seperti zaman sekarang yang tidak tahu batasan. Saya nggak suka kalau kamu cium-cium adik saya sebelum resmi menikah"


Wine yang sudah kasihan melihat ekspresi Sinan memukul dada suaminya pelan "Udah sih mas ah. Dulu waktu kita pacaran, aku juga cium pipi kamu kan?"


"Kapan?"


"Yang waktu di lapangan itu. Yang pantun sebelumnya 'Ke Bali beli oleh-oleh, jangan lupa mampir ke Medan. Wine cantik pulang dulu deh, kali aja besok ke pelaminan', ingat mas?"


Sinan yang mendengar pantun itu mengacungkan jempol ke arah Wine. Takjub karena selain mengaku punya tenaga dalam, teman Anya ini jago juga dalam pantun. Dilihat dari sifatnya sepertinya Wine mendekati Arka terlebih dahulu.

__ADS_1


Acungan jempol Sinan hanya bertahan 5 detik dan kembali turun saat mendapat tatapan maut dari Arka. Ingin sekali Sinan membalas tatapan itu, namun waktu sekarang jelas kurang tepat. Bisa-bisa dirinya malah di usir dari rumah ini.


"Tapi itu kan beda. Kamu yang cium mas. Lah ini, dia yang nyium Anya"


"Alah udah sama aja. Balik yuk. Jadwalnya anak-anak tidur" ucap Wine lalu menarik Arka masuk ke dalam rumah. Hanya selang beberapa menit, keduanya keluar dengan jeritan tangis bocah laki-laki yang di gendong paksa oleh Arka.


"Anaknya?" tanya Sinan ke Anya.


"Iya. Kembar"


"Yang nangis suaranya tinggi. Bisa jadi penyanyi"


Yang nangis adalah Aaras dan Anya hanya bisa menggelengkan kepalanya atas kebenaran tebakan Sinan barusan.


"Udah selesaikan kan sidangnya. Nak Sinan sudah makan?" tanya ibu.


"Belum tante"


"Syukurlah, Yuk makan nak Sinan. Tante baru selesai masak tadi" Jihan langsung menggandeng tangan Sinan dan mengajaknya menuju ruang makan. Meninggalkan Anya yang menghela napasnya melihat kelakukan ibunya ini.


"Gue kira bakal ada adu jotos. Eh nggak malah. Nggak seru" kata Ocha yang masih duduk di tempatnya. Di sampingnya ada Kais yang sedari tadi memainkan ponselnya dengan wajah yang tak kalah dingin nan datar seperti Ocha.


"Pulang gih lo berdua. Apek gue ngeliatnya."


"Kais mau makan dulu mbak, baru pulang" jawab Kais kemudian melenggang masuk ke dalam rumah.


"Gue juga. Lumayan irit" tambah Ocha lalu berjalan mengekor Kais.


Jika saja tak ada Arum dan Sinan. Anya pasti sudah meneriaki keduanya GEMBEL.


**


Untuk cerita Wine bisa ditengok di sini ya.



__ADS_1


__ADS_2