Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 34: Ingatan Mengerikan


__ADS_3

ini bab padahal udah aku up dari semalam, tapi masih review aja sampai jam 10.22 pun masih di review 🤔 akhirnya bolong 2 hari deh.


...****************...


Sebelum dua orang itu melihat keberadaanya, Anya langsung membalikan badannya memunggungi mereka. Anya mengepalkan tangannya, Jantungnya sudah berdetak sangat cepat mengingat semua kenangan buruk itu. Setelah ketahuan hamil diluar nikah ibu memutuskan untuk bercerai dengan ayah karena suaminya tak percaya jika Hani lah yang menyebab semua hal itu. Ayah malah menyalahkan Anya karena tak bisa menjaga diri dan segala hal ***** bengek lainnya yang membuat ibu memutuskan berpisah dan keluar dari rumah itu. Bertahun-tahun berusaha agar tak bertemu, namun takdir selalu berkata lain.


"Ayo"


Suara ajakan pelan itu membuat Anya menoleh, Sinan berdiri di sampingnya dengan senyuman tipis, tangan pria itu melerai kepalan tangan Anya kemudian digenggamnya dengan erat. Karena tahu apa yang terjadi dulu, mudah bagi Sinan untuk bersikap saat wajah Anya memucat. Tak lagi panik dan bisa mengatasinya dengan tenang.


"Ayo masuk"


Pandangan Anya kini melirik ke arah Hani berada tadi, ketiga orang itu masih berdiri di tempat. Saat pandangannya bertemu dengan ke dua mata ayahnya, Anya yang tak menunjukkan ekspresi apapun, kembali menatap ke arah Sinan yang kini masih mempertahankan senyumnya.


"Kamu nggak jadi ngobrol sama mereka?" tanya Anya.


"Nggak, nanti di dalam aja, tadi cuman nyapa aja"


Anya mengangguk. Tanpa melirik ke belakang lagi, Anya langsung berjalan menuju halaman tempat acara berada. Anya bahkan tidak sadar jika mereka masih bergandengan tangan hingga membuat beberapa orang berbisik satu sama lain begitu mereka sampai di halaman belakang. Saat berniat untuk melepaskan tangannya, Sinan kini menggenggamnya erat hingga Anya tak bisa lepas sama sekali.


"Bapak!" bisik Anya.


"Udah nggak apa-apa, nanti saya keliatan ngenes kalau kamu lepasin" bisik Sinan lagi.


Disisi lain, Radit dan Hani yang juga berada disini melihat ke arah mereka tak suka.


"Oh, jadi kamu pilih Sinan An?" goda pak Hamdan sambil berbisik agar suaranya tak terdengar oleh Radit.


Anya hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ayahnya duduk tepat di samping menantu pak Hamdan, sesekali pria itu juga melirik ke arah Anya yang membuat Anya berusaha untuk tak menatap balik kedua mata itu.


"Ya sudah duduk gih, mamah kamu Nan, katanya datang telat" ucap pak Hamdan yang kini kembali duduk di samping bu Beti.


Saat Sinan berniat untuk mengajak Anya duduk di meja yang sama dengan ayah. Anya langsung menggelengkan kepala dan memilih untuk duduk di meja dimana Jini dan Alun berada. Jika satu meja dengan mereka, Anya rasa jantungnya pasti akan bekerja diluar kendali.


Acara berjalan dengan lancar. Di buka dengan mendoakan bersama-sama adik Navel yang telah meninggal kemudian dilanjut dengan acara sambutan dari pak Hamdan dan bu Beti yang malam ini penuh dengan kejutan, membuat semua karyawan yang di undang bertepuk tangan meriah bahkan ada yang berani bersiul.


"Sebagai perayaan pernikahan saya dan istri. Akhir bulan ini, akan ada acara family gathering untuk kantor ke Bali selama 3 hari."


Semua orang bertepuk tangan gembira tak terkecuali dengan Alun dan Jini yang duduk di samping Anya. Sinan yang kini juga duduk di samping Anya memperhatikan wajah wanitanya ini dengan seksama, hanya senyuman kecik yang Anya berikan atas ucapan pak Hamdan barusan, wanita ini lebih sering diam sambil meremas tangannya sendiri.


"Mau cari udara segar?" bisik Sinan.


Anya yang mendengar ajakan itu menganggukkan kepalanya. Keberadaan ayahnya di sini membuat suasana menjadi suram bagi Anya.


Menerima uluran tangan Sinan yang menggandengnya, Anya bangkit dari posisi duduknya kemudian mengikuti Sinan kembali masuk ke dalam rumah. Sinan mengajaknya Anya ke lantai 3 dimana letak kamarnya berada dan juga spot terbaik di rumah ini. Namun baru juga satu langkah menaiki anak tangga, mereka berpapasan dengan wanita paruh baya yang mengenakan gaun mewah. Anya masih ingat jika dia adalah anak pertama ibu Beti. Karena dulu, Anya sering kali ribut dengan wanita ini karena dia merasa Anya yang masih bau kencur itu malah merebut posisinya sebagai wajah perusahaan. Padahal alasan bu Beti menggantinya dengan Anya adalah karena wanita itu yang dibilang sudah berumur sedangkan perusahaan membutuhkan wajah segar remaja.


"Mah nggak salah pakai bajunya?" ucap Sinan.


Mamah? Jadi Sinan anak wanita ini?. Cepat-cepat Anya langsung melepaskan tangannya dari Sinan.

__ADS_1


"Loh, Anya ya?" bukannya menjawab pertanyaan anaknya. Anggi malah balik bertanya.


"Iya mbak, apa kabar?" Anya menarik senyumnya tipis. Hubungan mereka sejak dulu tidak baik. Lebih tepatnya, Anya baik-baik saja sedangkan Anggi selalu mencari ribut dengannya.


"Eh kamu balik lagi ke perusahaan?"


"Iya mbak"


"Awas loh An. Kalau udah berumur itu bakal di geser dan nggak jadi model lagi, kaya aku dulu yang ke geser sama kamu"


Bukan lagi ikhlas. Anya kini menarik senyumnya paksa. Jika seperti ini maka percayalah hubungan dirinya dengan Sinan tak akan berjalan mulus. Anya pikir Sinan bukanlah anak Anggi, melainkan anak dari putri kedua pak Hamdan.


"Kamu ngapain mas disini? Ayo ikut ke halaman. Mamah sengaja ngundang Hani sama orang tuanya ke sini. Kata Hani kalian udah berniat untuk nikah kan?"


Mata Sinan membulat seketika "Kata siapa? Nggak mah. Hubungan Sinan sama Hani udah selesai sejak pertemuan pertama"


"Maksudnya gimana?"


"Sinan bakal nikahin Anya, bukan Hani"


Bukan hanya mata Anggi yang membulat terkejut, mata Anya juga membulat seketika. Mereka baru berpacaran, dan Sinan juga tak mengatakan apapun seputar pernikahan.


"Kamu bilang apa mas?" tanya Anggi


"Kalau mamah nyuruh mas nikah, maka mas bakal milih Anya yang mas nikahi"


"Maaf bu Anggi, pak Hamdan dan bu Beti nyari ibu"


Ucapan Anggi terputus ketika Navel tiba-tiba datang dan menyampaikan pesan dari pak Hamdan. Pria itu melepaskan earphone nya kemudian kembali bicara saat Anggi ingin kembali bicara.


"Tung—"


"Mari saya antar bu. Bu Beti ingin segera anda datang" ucap Navel lagi.


"Denger ya mas, mamah belum ngasih restu. Inget itu" setelah mengucapkan hal barusan. Anggi langsung berjalan mengekor Navel menuju halaman.


Sinan kembali menggandeng Anya dan kembali menaiki anak tangga. Rumah ini memiliki lift sebenarnya, namun sepertinya menaiki anak tangga jauh lebih baik untuk memanfaatkan waktu agar mereka bisa berdua saja.


"Kamu kenal sama mamah saya?" tanya Sinan.


"Iya. Saat saya gabung di perusahaan pas semester 3, mbak Anggi yang jadi model perusahaan. Tapi 1 bulan kemudian pak Hamdan minta mbak Anggi untuk fokus pada anak-anaknya."


"Berarti kayanya saya harus berterima kasih sama kamu ya"


"Untuk?" tanya Anya bingung.


"Karena setelah mamah di rumah, saya dan adik saya mendapatkan perhatian yang lebih dari mamah"


Anya tersenyum lebar. Dibalik ke sengsaraan dirinya yang sering menjadi korban omelan Anggi, ada dua manusia yang senang karena mamahnya bisa fokus pada keluarga.

__ADS_1


Begitu sampai di lantai 3. Sinan mengajaknya terlebih dahulu ke kamar pria itu, tak benar-benar masuk, hanya melihat dari luar sebelum akhirnya kembali mengajaknya menuju spot yang dimaksud.


Balkon luas dengan pemandangan kota Jakarta di malam hari menyapa Anya begitu kakinya memasuki area balkon. Di balkon ini juga di pasang lampu-lampu berwarna warni yang memanjakan mata, di sisi kirinya ada ayunan kayu sedangkan disisi kanannya terdapat 4 kursi bean bag dengan warna yang berbeda. Pot bunga berukuran kecil berjejer rapih di sepanjang pembatas balkon.


"Kamu liat-liat dulu aja. Saya angkat telfon dulu ya" ucap Sinan kemudian berlalu pergi menjauh dari area balkon.


Memanfaatkan waktu sendiri, Anya menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan. Malam ini akan tetap berjalan seperti ini, berpura-pura tak kenal dengan ayahnya hingga acara selesai.


"Kamu di sini ternyata. Pantas dicari dari tadi nggak ketemu"


Anya menolehkan kepalanya. Bukan menemukan Sinan yang bicara melainkan Radit yang kini berjalan mendekat ke arahnya. Dari cara pria itu yang melihatnya, Anya sudah tahu ada yang tidak beres dengan pria ini.


"Iya mas. Tadi pak Sinan yang mengajak saya ke sini. mas dari luar?" tanya Anya.


"Iya. Boleh tanya sesuatu?" tanya Radit sambil ikut berdiri dekat dengan pembatas balkon.


"Silahkan"


"Apa yang kurang dari saya Nya?"


"Maksudnya?"


"Kalian pacaran kan? Itu berarti ada yang kurang menarik dari saya hingga kamu lebih pilih Sinan"


Anya terdiam cukup lama. Untuk kali ini dirinya memilih untuk tak menjawab pertanyaan Radit barusan.


"Apa dia lebih tampan dari ku?" tanya Radit lagi.


"Mas"


"Apa Sinan perayu hebat sampai kamu terpikat? Kamu suka pria yang begitu ternyata ya?"


"Mas. Jangan sembarangan jika bicara ya"


Radit tersenyum miring, tatapannya kini tertuju tepat ke mata Anya " Atau dia pencium yang handal!?


Tangan Anya mengepal kuat mendengar ucapan Radit barusan.


"Karena aku juga bisa" ucap Radit lagi sambil mencekal tangan Anya kuat.


Merasa jika kondisi sudah tak kondusif lagi, Anya berusaha untuk melepaskan cekalan tangan Radit. Terlebih pria itu kini melingkarkan tangannya di pinggang Anya dan menarik Anya mendekat.


"Mas lepasin saya atau saya teriak?! Lepasin mas!!"


Tepat saat Anya menoleh ke kanan guna menghindari Radit yang berniat untuk menciumnya. Tubuh Radit tiba-tiba tersungkur ke bawah bersamaan dengan suara pecahan pot bunga. Anya terkejut bukan main saat Sinan tiba-tiba sudah berada disampingnya setelah melayangkan tinjunya pada Radit.


"Sialan lo mas. Mau diapain pacar gue mas?!" Sinan menarik kerah Radit dan kembali melayangkan tinjunya.


Anya yang melihat perkelahian sepupuan itu hanya bisa diam dengan badan yang bergetar. Ingatan mengenai Dani yang kala itu menciumnya setelah menjelajahi tubuhnya dalam kondisi tertidur kembali berputar di kepala Anya. Apa yang Radit barusan lakukan sama persis dengan apa yabg Dani lakukan padanya dulu.

__ADS_1


__ADS_2