Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Salto Dunia Anya : Bakso atau Lahiran


__ADS_3

Anya menatap kearah dua orang yang tengah duduk sambil berkutat dengan  pensil warna masing-masing. Sesekali saling bercanda hingga suara renyah tawa anak-anak menggema di pagi hari. Menunjukkan kepada semua orang jika ada kehidupan bahagia dibalik rumah berlantai 2 ini.


Meletakan sepiring biskuit di meja. Anya duduk di sofa dengan kamera ditangan. Mengabadikan momen ini agar bisa sebagai bukti jika rumah ini penuh dengan kasih sayang. Sesekali Anya juga mengelus perut besarnya agar nyawa yang berada didalam tubuhnya juga bisa merasakan kehangatan keluarga pagi ini.


Rencana ingin melakukan persalinan di kampung halaman gagal sudah karena permintaan ibu mertuanya ini agar Anya tetap melahirkan di Jakarta. akhirnya ibu yang datang ke Jakarta karena rasanya juga mustahil jika dirinya melahirkan hanya ditemani oleh ibu mertuanya.


"Dek liat deh. Itu ayah kamu dan itu cici kamu. Kalau adek sudah lahir, yang akur ya sama Cici" gumam Anya.


Sinan menoleh saat mendengar gumaman sang istri. Meski mamahnya tak menerima keadaan keluarga kecilnya seutuhnya, Sinan berjanji akan tetap menghangatkan keluarga ini dengan penuh kasih sayang. Sayang kepada istri dan anak. Serta akan tetap bersikap adil sebaik mungkin pada kedua putrinya.


"Pasti" jawab Sinan menjawabi gumaman sang istri.


Arum menoleh sebentar ke arah mamihnya hanya untuk tersenyum manis sebelum kembali fokus dengan apa yang tengah ia warnai.


"Ih.. Papih. Kan keluar garis. Papih kalau mewarnai di liatin" protes Arum kepada papihnya yang masih tetap mewarnai namun pandangannya tertuju kepada mamih yang duduk di belakang mereka.


Mendapatkan protes dari putrinya, Sinan langsung menoleh dan benar saja menemukan dirinya mewarnai melewati garis. Buru-buru ia mengambil penghapus guna menghapus warna yang keluar dari garis namun tangannya langsung ditahan oleh Arum.


"Jangan di hapus papih. Nanti malah tambah jelek" bibir super kecil itu kini manyun menunjukkan kekesalannya.


"Terus papih harus gimana?"


"Nggak tahu. Kesel" jawab Arum.


Sinan mengulum senyumnya. Gemas melihat tingkah Arum yang tengah mode kesal seperti ini. Ini adalah ketiga kalinya Sinan mewarnai melewati garis. Pertama dan kedua, Sinan melakukannya dengan sengaja untuk menjahili Arum, masih dimaafkan dengan ekspresi datar Arum seolah tak menjadi masalah. Dan yang terakhir, Sinan benar-benar tak sengaja karena terlalu fokus melihat Anya yang makin hari makin terlihat cantik saja, namun kini membuat Arum kesal dibuatnya.


"Maafin papih ya. Cici mau apa deh, nanti papih beliin"


"Nggak mau!" jawab Arum kesal.

__ADS_1


"Mau ice cream pisang?" tawar Sinan. Rasanya ingin sekali mencubit bibir Arum yang tengah mengerucut lucu itu.


"Nggak mau juga"


"Terus Cici maunya apa?"


"Cici maunya papih nggak usah bantuin cici mewarnai lagi. Gambar cici jadi jelek" Cici menggeser buku mewarnainya sedikit menjauhi Sinan.


"Ya udah lah papih nangis aja" Sinan kini sudah memasang ekspresi sedihnya. Biasanya jika Sinan sudah berekspresi seperti ini, Arum akan menoleh ke arahnya lalu memeluknya erat.


"Papih nangis ya" ucap Sinan lagi saat Arum tak kunjung menoleh ke arahnya.


Anya tersenyum melihatnya. Meski pawang pertama Arum adalah Arka, namun Sinan kini juga sudah mulai bisa membujuk jika Arum tengah kesal seperti ini.


Dan benar saja. Setelah mengucapkan kalimat barusan, Arum menoleh ke arah Sinan lalu langsung memeluk tubuh Sinan.


"Papih jangan nangis. Cici nggak suka kalau ada orang yang cengeng. Papih jangan cengeng ya" pinta Arum.


Dengan gerakan tiba-tiba, Sinan mengangkat Arum kemudian mencium pipi Arum gemas. Bulu-bulu halus disekitar dagunya, sontak membuat Arum tertawa geli.


"Hahahaha. Papih geli" tawa Arum.


Untuk kali ini, Sinan hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Anya dan Arum, mengenyampingkan terlebih dahulu ucapan menohok mamahnya kemarin. Selain sebagai anak penurut, Sinan juga harus bisa menjadi sosok ayah yang membanggakan putrinya.


"Cici mau jalan-jalan nggak sama papih?"


Arum yang masih berada di atas badan Sinan mengangguk senang. Mata cantiknya berbinar seolah mendapat hadiah luar biasa diulang tahunnya sekarang.


"Kita mau kemana?" Tanya Sinan.

__ADS_1


"Pantai. Cici mau berenang di pantai"


"Siap putri papih yang cantik" Sinan kembali mencium Arum yang membuat tawa renyah itu kembali menggema.


Anya tersenyum bahagia. Mengecek kembali foto yang ada di kamera dan berniat untuk mencetak semuanya. Anya sepertinya akan membeli album sendiri khusus untuk foto kedekatan Arum dan Sinan.


"Tapi nanti tunggu Adek lahir ya Pih. Mamih nggak bisa ikut soalnya kalau adek masih di dalam perut" ucap Arum.


Ini baru putri Anya. Pengertian sekali.


Anya ikut berbaring di lantai. Miring menghadap ke arah Sinan dan Arum. Tangannya mengusap kepala Arum yang masih berada di atas Sinan. "Aku berharap kita bakal terus begini ya Yang"


Untuk sesaat Sinan terdiam sebelum akhirnya mengangguk. Selamanya dia akan menjaga keluarga kecilnya ini.


"Papih udah cium Arum. Kalau Papih cium mamih juga boleh kan Ci?" tanya Sinan pada Arum yang mendapat anggukan dari gadis kecil ini.


Anya memutar bola Matanya sambil mencubit lengan Sinan. Emang buaya darat.


Namun belum sampai Sinan menciumnya, Anya sontak duduk ketika perutnya merasakan nyeri yang luar biasa. Meski sakit, Anya tetap menjaga ekspresinya sedatar mungkin. "Kayanya adek udah nggak sabar mau ikut ke pantai Yang"


Sinan menurunkan Arum lalu beranjak duduk dengan ekspresi khawatirnya. "Kamu mau lahiran Yang?"


"Kayanya"


"



__ADS_1



__ADS_2