
"Sudah lebih baik?"
Sinan mengangguk menjawab pertanyaan ibu. Setelah pergi dari dapur meninggalkan Anya bersama mertua jadi-jadiannya itu, Sinan mengekor calon mertua aslinya hingga mereka duduk di ruang tengah. Satu bocah laki-laki memanyunkan bibirnya seolah pasrah begitu saja saat gadis kecil yang Sinan tahu bernama Arum kini tengah mewarnai kuku-kuku kecil anak Arka ini.
Semalam, Arum memang nangis kencang saat melihat Sinan datang ke rumah ini. Pagi ini jauh lebih baik karena sebelum ke pasar tadi, Sinan sempat untuk mendekati Arum kembali meski hanya mendapat lirikan mata. Setidaknya calon anaknya ini tak takut dan tidak menangis setiap kali melihat wajah Sinan. Lama kelamaan Sinan yakin dirinya bisa dekat dengan Arum.
"Sudah lebih baik tante" jawab Sinan.
"Sudah minum obat?"
Sinan menggeleng. Ia belum makan apapun pagi ini, jadi tidak mungkin jika minum obat dalam kondisi perut kosong.
"Sudah makan?" tanya Aisyah lagi.
Sinan kembali menggeleng sambil tersenyum tipis. Tadi pagi Tante Aisyah meminta Anya untuk membuat roti panggang sebagai sarapan, namun karena kedatangan kedua sahabatnya itu, sepertinya Anya lupa dengan apa yang disuruh. Tak sopan jika Sinan membuatnya sendiri.
"Lah gimana sih. Sebentar tante bil—"
"Tidak perlu tante" potong Sinan.
"Ya udah, nanti kita sarapan bareng-bareng aja ya. Masakan Wine enak. Tenang aja"
Sinan tersenyum. Selain mengaku memiliki tenaga dalam, ibu mertua jadi-jadiannya itu ternyata bisa masak juga. Pantes suaminya terlihat begitu cinta dengan Wine hanya dengan menatap matanya. Kelak hidup Sinan bersama Anya juga akan seperti itu. Sinan benar-benar sudah tidak sabar.
"Jadi apa benar Anya ngajakin kamu buat ketemu sama orang tua kamu?"
Sinan yang tengah membayangkan kehidupan bahagia penuh warna bersama Anya menoleh seketika. Ia lupa, tujuan Aisyah memanggilnya untuk duduk di ruang tengah adalah untuk membicarakan hal ini. Arka baru saja pulang ke rumahnya sambil menggendong Arsya. Hanya berdua saja jelas membuat tante Aisyah begitu mudah untuk memulainya. Dua bocah yang duduk melantai jangan dianggap, karena mereka tak tahu apapun bahkan nyaris tak peduli dengan apa yang tengah mereka bicarakan.
"Iya tan"
"Kapan?"
__ADS_1
Bisa dilihat ada sedikit keraguan dari mata tante Aisyah sekarang. Sinan yang sebelumnya sangat yakin bisa meyakinkan ibu Anya untuk kedua kalinya, kini keyakinan itu menipis sedikit demi sedikit. "Hari Sabtu tante. Saya janji tidak akan ada hal buruk yang terjadi, saya akan melindungi mereka berdua"
"Lalu hari-hari setelahnya?"
Sinan mengerutkan dahinya bingung "Ya?"
"Hari-hari setelahnya, apa kamu yakin tidak ada kalimat yang akan menyakiti anak dan cucu saya?"
Dahi Sinan semakin berkerut tidak mengerti dengan apa yang tengah Aisyah bahas sekarang. Pasalnya ucapan Wine soal tidak sudi jika Arum direndahkan di keluarga Sinan sudah membuatnya bingung. Kini ucapan Asiyah membuat Sinan yakin ada yang tak beres yang hanya diketahui oleh keluarga Anya.
Orang tuanya memang tidak menyetujui hubungan mereka, tapi mamahnya tak seburuk itu hingga melimpahkan kesalahan atau mengucapkan hal yang buruk untuk gadis kecil yang usianya bahkan baru menginjak 3 tahun kemarin. Lagi pula saat bertemu di Bali, Sinan juga bersama Anya, tak ada kalimat tak pantas yang mamahnya katakan. Sedangkan di unit apartemennya kemarin, Anya bilang jika ibunya pura-pura tak melihatnya. Atau Anya yang berbohong padanya kemarin?.
"Maaf saya tidak mengerti apa yang tante maksud. Ucapan seperti apa yang tante maksud?"
Hanya dengan melihat mata merah tante Aisyah. Sinan bisa menebak kalimat yang diucapkan ibunya amatlah buruk.
"Anya nggak cerita apapun sama kamu?"
Sinan menggelengkan kepalanya.
Mendengar hal itu rasanya seperti ada yang meremas hatinya kuat. Sinan mengepalkan tangannya erat. Tubuhnya bergerak untuk duduk berlutut di depan Aisyah. Sampai detik ini dirinya bahkan tak menyangka jika sang mamah bisa mengatakan hal seperti itu.
"Maafin mamah saya ya tante"
"Jika kalian ingin tetap melanjutkan hubungan ini, tante tidak masalah. Asalkan kamu janji akan tetap menjaga putri dan cucu tante dengan baik. Alasan tante ngasih tahu kamu padahal Anya tak mengatakan apapun itu agar kamu tahu dan bisa mengantisipasi kalimat tak pantas seperti itu diucapkan lagi oleh anggota keluarga kamu. Karena setelah menikah maka nggak ada keluarga aku atau keluarga kamu. Kita semua keluarga"
Tak ada yang bisa Sinan katakan sekarang. Dirinya hanya bisa mengangguk untuk berjanji jika semua hal yang dikhawatirkan kelak tak akan pernah terjadi. Sinan menerima Anya begitupula dengan Arum.
**
Ada hal aneh yang terjadi pada Sinan sejak 3 hari yang lalu. Pria yang duduk disampingnya ini terlalu diam namun banyak perhatian yang Anya dapat sejak kemarin.
__ADS_1
Sinan memang tidak mengatakan apapun, namun terkadang laki-laki disampingnya ini membawakan makanan untuk Anya.
Atau mungkin memberi mainan untuk Arum dan anak kembar Wine. Atau juga mengirim pesan kepadanya hanya sekedar menanyakan sudah makan atau belum.
Banyak perhatian yang di berikan namun minim dengan ucapan.
Seperti sekarang contohnya. Perjalanan menuju rumah makan yang menjadi tempat untuk makan malam dengan orang tua Sinan terasa begitu sepi saat Arum mulai tertidur. Sebelumnya Sinan masih bercanda dengan Arum yang membuat putrinya ini semakin dekat dengan Sinan. Namun sekarang pandangan Sinan lurus ke depan, hanya sekali melirik lalu tersenyum tipis.
"Kenapa? Ada yang mau diceritain ke aku?" ucapan Anya barusan berhasil membuat Sinan menoleh sepenuhnya begitu berhenti di lampu merah.
Tangan Sinan mengusap lembut kepala Arum, lengkap dengan pandangan pria itu yang seolah menolak untuk menatap langsung wajah Anya. "Tidak ada. Kamu nggak gugup?"
"Kamu gugup?" tanya Anya balik.
"Gugup. Sangat-sangat gugup"
Anya tertawa. "Aneh. Jadi hampir 3 hari ini kamu irit banget ngomong, cuman karena gugup ketemu orang tua kamu sendiri?"
Gelengan kepala yang Anya dapatkan dari Sinan, lalu ke dua mata itu balik menatap matanya. Mata penuh ke tidak percaya dirian dan penuh dengan ketakutan.
Dahi Anya berkerut bingung "Kenapa?"
"Aku gugup, aku takut kalau nanti ada ucapan mamah aku yang bikin kamu sakit hati"
Anya tersenyum tipis. Hanya dengan kalimat Sinan barusan, Anya tahu jika ibu menceritakan hal itu pada Sinan kemarin. Tapi sekarang dirinya ingin pura-pura tidak tahu dulu "Contohnya seperti?"
"Kenapa kamu nggak cerita tentang ucapan mamah aku An?"
Jika berhadapan dengan Sinan. Maka segala pura-pura tak akan pernah berhasil sama sekali. "Awalnya pengin cerita. Cuman ayah kamu ngirim pesan ucapan minta maaf, makanya nggak jadi cerita"
"Maaf"
__ADS_1
"Untuk apa? Aku yang yakin melangkah maju ke unit kamu. Itu artinya aku tidak lagi mempermasalahkan hal itu. Cuman kalau terulang lagi, kayanya akan jadi hal yang berbeda dengan sekarang"
Sinan menggelengkan kepalanya tegas. " Nggak akan terjadi lagi. Aku janji sama kamu dan janji juga sama Arum" ucap Sinan sambil mencium dahi Anya dan Arum bergantian sebelum kembali melajukan mobilnya menuju restoran yang dituju.