
Sinan terbangun saat sesuatu yang berada di atas dahinya jatuh ke samping. Matanya mengerjap pelan dan tak menemukan siapapun disampingnya. Suara pisau yang beradu dengan talenan menarik Sinan agar bangun dan melihat apa yang tengah dilakukan Anya di dapur.
Wanita yang kini menggunakan kaos kebesaran serta celana training miliknya berdiri didepan kompor dengan wajah serius. Sinan tersenyum melihat pemandangan yang tersaji didepannya sekarang. Kelak mungkin jika dirinya dan Anya menikah, pemandangan setiap pagi akan menjadi hal yang paling Sinan sukai.
"Masak apa?" Sinan berjalan mendekat lalu duduk di kursi meja makan. Tersenyum lebar saat melihat Anya tersenyum manis semanis gula jawa pagi ini.
"Bubur. Udah mendingan?"
Sinan mengangguk.
"Cobain masakan aku, enak nggak?"
Sinan menerima suapan Anya. Rasa asin dan gurih dari bubur kini memanjakan isi mulutnya yang sejak kemarin memuntahkan apapun yang masuk ke dalam mulut. Mungkin karena tidur nyenyak malam ini, perutnya bisa untuk diajak kerjasama hari ini.
"Enak" jawab Sinan jujur.
Senyuman manis itu kembali mengembang di wajah cantik Anya. Jika saja mereka sudah menikah, Sinan yakin dirinya pasti sudah menerkam Anya detik ini juga.
"An, nikah yuk" Sinan tahu ini adalah ajakan yang tak tahu waktu. Maka melihat respon Anya yang tertawa membuat Sinan juga ikut tertawa.
"Apaan sih pak. Nggak jelas"
Sinan berdiri, mengambil botol susu dari dalam kulkas dan dituang ke dalam dua gelas " Jam berapa pindah ke kamar tamu?"
"Jam 2. Habis ngompres kamu, aku pindah"
Sinan mengangguk. Saat melepas selang infus, Anya masih tertidur di sampingnya, namun saat jam 3 dini hari, Sinan menemukan Anya terlelap di kamar yang berada tepat di samping kamarnya.
Mata Sinan terpejam saat Anya menyentuh dahinya. " Sudah turun demamnya. Terimakasih" ucap Sinan lalu mengecup singkat bibir Anya.
"Kamu panas banget semalam. Yakin nggak mau ke dokter"
Semangkuk bubur kini tersaji tepat didepan Sinan. Menggeleng sebentar, Sinan mulai melahap bubur yang dimasak Anya. Jika perlu ke dokter, Sinan akan jalan sendiri. Sudah semalaman dirinya menahan Anya agar tidak pergi, maka hari ini Sinan akan membiarkan Anya pulang untuk menemui Arum. Mau bagaimanapun Anya sudah memiliki anak dan Sinan juga tak ingin dianggap sebagai calon ayah yang jahat karena menahan Anya.
"Beneran nggak mau ke rumah sakit? Saka semalam pesan kalau panas kamu nggak turun, maka lebih baik ke rumah sakit"
__ADS_1
"Nggak usah. Dia mah emang rese. Ujung-ujungnya cuman mau ngeledekin saya di rumah sakit nanti"
Anya mengangguk. "Mau berjanji sama aku Nan?''
Sinan mendongak menatap kedua mata Anya yang menatapnya lembut " Tentang?"
"Setelah ini. Ceritakan apapun yang mengganggu di kepala kamu. Aku siap dengerinnya"
"Oke. Kamu juga"
Setelah mendapat anggukkan kepala dari Anya. Sinan kembali melahap buburnya. Masalah Navel akan ia pikirkan nanti setelah kepalanya terasa jauh lebih ringan, tidak pening seperti sekarang.
**
Gosip di kantor itu menyebar begitu cepat layaknya kapas yang terbang karena ditiup oleh angin. Hinggap dari satu mulut ke mulut lain hingga semut pun akan tahu apa yang tengah terjadi di kantor.
Anya berjalan menyusuri koridor kantor dengan sesekali melirik orang yang berkumpul untuk menggosip mengenai Navel.
Hanya dalam satu malam kabar mengenai Navel yang menjadi penyebab gagalnya produk baru Miracle menyebar.
"Mbak"
"Mbak udah denger?" tanya Alun.
Anya menganggukkan kepala. Pandangannya kini beralih ke arah Jini yang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Antara kecewa dan bahagia bercampur aduk di raut wajah wanita itu.
"Sejak kapan mbak? Kok mbak ngga bilang sama aku"
"Sejak semalam"
Raut wajah Alun berubah menjadi bingung. Ia melirik ke arah Jini sebentar lalu kembali menghadap ke arah Anya.
"Katanya udah setahun mbak?"
Kali ini Anya yang dibuat bingung dengan ucapan Alun. Ditemukannya alat penyadap itu saja baru kemarin. Jadi apanya yang sudah 1 tahun?.
__ADS_1
"Jadi pak Sinan jadi orang ke tiga?" lanjut Alun.
Anya berusaha untuk mencerna ucapan Alun sekarang. Bukankah mereka sedang membahas mengenai Navel?. Lalu kenapa jadi pihak ke 3?.
"Emang ya. Orang cantik itu kadang keliatan alim di luar tapi ternyata menghanyutkan di dalam" kali ini bukan Alun yang bicara, melainkan Jini yang mengatakannya tanpa menatap ke arah Anya sama sekali.
"Maksud lo apa sih Jin?!" Anya menggebrak mejanya hingga membuat semua orang di tim 1 maupun tim 2 menoleh kearah mereka. Masalah Navel dan produknya yang gagal saja sudah membuat kepala Anya terasa akan pecah. Dan sialnya Jini malah mengajaknya ribut di pagi hari.
"Lo yang maunya apa mbak! Gue penasaran, maksud lo balik lagi ke kantor itu maunya apa sih mbak?!, mau jadi penggoda pak Sinan padahal lo udah punya suami?! Gue juga heran, pak Sinan kok mau sih jadi penghancur rumah tangga orang"
Plak.
Satu tamparan Anya layangkan ke pipi Jini membuat wanita di depannya ini memekik seketika.
"Gila lo ya mbak!" pekik Jini.
"Lo yang gila. Jangan berani bicara kalau lo nggak tahu apa-apa!!"
Jini tertawa sarkas " Nggak tahu apa-apa? Buktinya, foto lo sama pak Sinan udah kesebar, bahkan foto lo yang nerima di cium sama pak Sinan juga sudah ke sebar!!"
Anya terdiam seketika. Sepanjang jalan menuju lantai 5, semua orang saling berbisik satu sama lain. Dan itu bukan karena masalah Navel tapi karena membicarakan dirinya?!.
"Lo udah nikah mbak, sadar!! Jangan jadi wanita egois dan murahan!!"
Satu tamparan lagi Anya layangkan ke pipi Jini. Saat wanita itu hendak membalas, Anya menangkap tangan Jini yang melayang dan memelintirnya hingga ringisan kesakitan terdengar.
"Gue udah bercerai 1 tahun ya lalu. Dan gue baru kenal pak Sinan kurang dari 2 bulan. GUE UDAH BERCERAI! PUAS LO SEMUA!!" pekik Anya akhirnya.
Mau bagaimana pun, cepat atau lambat, dirinya yang sudah bercerai akan tetap menyebar. Dan setelah itu, dirinya yang memiliki anak karena hasil diperkosa juga akan menyebar. Karena itu Anya akan mengatakannya sendiri saat ini juga.
"Dan gue juga punya anak di—"
Ucapan Anya terputus saat tangannya tiba-tiba ditarik keluar dari ruangan. Hanya dari suhu tangannya yang terasa panas, Anya langsung bisa menebak siapa yang menarik tangannya tanpa perlu melihat punggung laki-laki yang masih menariknya ini.
Sinan. Dia pasti mendengar gosip itu dan langsung datang ke kantor.
__ADS_1
***
ini cerita pengin aku tamatin aja bulan ini ah. soalnya makin sepi kaya kuburan. 🤭