
1 minggu kemudian.
Rumah terasa ramai dengan sanak saudara dan beberapa tetangga yang datang di acara aqiqah Arun. Ibu-ibu satu kompleks kini sudah duduk di ruang tamu Anya yang kemarin sudah didekor dengan mengungsikan sofa-sofa mahal ke rumah Ocha. Satu karpet besar digelar dari ruang tamu hingga raung tengah yang kini sudah diduduki oleh para ibu-ibu.
Suara lantunan ayat Al-Quran terdengar bersamaan dengan Anya yang keluar dari kamarnya. Tadi ia sudah duduk di ruang tamu, namun Arun bangun dan menangis membuat Anya kembali masuk kedalam kamar untuk menyusui Arun.
Disampingnya ada Arum yang menggunakan busana muslim duduk dipangkuan Ocha. Gadis kecil yang sebelumnya cantik menggunakan jilbab kini entah sudah kemana jilbab itu karena dibuang oleh Arum dengan alasan gerah. Di samping Ocha ada Wine yang sambil memangku Arsya dengan ekspresi pasrah melihat Aaras berjoget seakan ada musik koplo. Bahkan saat ibu-ibu berdiri dan lantunan Al-quran itu berubah menjadi sholawatan, Aaras malah semakin berjoget ria.
"Kok gue malu sama anak lo ya Win?" Ocha berbisik. Yang mendapat bisikan hanya menghela napasnya pasrah. Salah emang, karena Wine jarang-jarang ngajarin ngaji sama anak itu. Sekali diajari, Aaras sudah kabur terlebih dahulu. Kalau ada Arka, baru anak itu bisa diam dan mulai melafalkan huruf hijaiyah. Dan sayangnya Arka hari ini tak bisa menghadiri acara aqiqah Arun karena ada tugas di skadron.
"Pokoknya lo harus ngasih gue duit sebagai ganti rugi. Kalau nggak, gue bakal laporin ke persit lain yang tinggal disini kalau masa SMA lo suka nyontek" ancam Anya.
Wine hanya kembali menghembuskan napasnya pasrah. Ya mau bagaimana lagi. Memang itu sifat anaknya.
Bersamaan dengan Sinan yang mengambil alih Arun, suaminya itu berjalan beriringan dengan Anya mendatangi satu persatu ibu-ibu yang hadir agar menggunting rambut Arun sambil mendoakannya. Doa-doa baik diucapkan oleh para ibu-ibu yang membuat Anya terus mengamini dalam hati.
"Semoga jadi anak sholehah. Dan akur sama cicinya"
Itu adalah doa yang paling gencar Anya amini. Semoga doa itu terkabul dan kedua anaknya bisa menjadi saudara yang akur hingga tua.
***
"Kenapa? Ada yang aneh sama muka Arun yang bang?"
Anya menoleh kearah Ocha yang baru saja bicara. Arun tertidur lelap dipangkuan Ocha sedangan disampingnya ada Aaras yang menatap bayi mungil dipangkuan Ocha dengan tatapan bingung. Lebih ke arah heran.
"Kok Arun beda Aunty" jawab Aaras.
"Bedanya di?"
"Dulu di foto hidung Arun tinggi, sekarang udah nggak ada"
Anya yang tengah berdebat mengenai jumlah digit yang harus diberikan oleh Wine karena ulah Aaras tadi melotot seketika. Bukan melotot ke arah Aaras, tapi melotot ke arah Wine yang kini mengulum senyumnya sebelum akhirnya tertawa kencang. Wanita itu bahkan meminta Aaras untuk melihat Anya lalu melihat Arun, lengkap dengan kalimat-kalimat ibu dua anak itu.
__ADS_1
Oke. Lo puas tertawa, gue puas morotin duit lo.
Anya menambah satu digit angka lagi dibagian paling depan pada kalkulator ponselnya lalu menyerahkannya kepada Wine.
"Plus kado" tambah Anya.
Wine membulatkan matanya melihat nominal yang tertera. "Lo kalau mau morotin gue nggak gini juga kali"
Anya mengedikkan bahunya tak peduli "Biarin aja"
Jurus untuk menghindar. Wine mengangkat Arum kemudian memangkunya "Cici nggak mau kado dari ibun kan?"
Arum menganggukkan kepalanya. Hilang sudah harapan Anya untuk mendapat mainan gratis dari sahabatnya itu.
"Ngomong-ngomong mengenai kado. Lo pada belum ngasih kado lahiran buat gue. Inget ya. Kadonya jangan cuman 1, tapi 2. Biar kebagian semuanya" ucap Anya tanpa beban sama sekali.
Sudah menjadi tradisi diantara ketiganya. Jika ada yang mengalami kemajuan dalam hidup, entah naik jabatan, menikah atau punya anak. Mereka akan memberikan hadiah sebagai ucapan selamatnya. Saat Wine menikah dan melahirkan, Ocha dan Anya sudah memberi hadiah pada Wine. Maka sekarang waktu yang tepat bagi Anya untuk minta hadiah pada dua sahabatnya ini.
"Biar anak gue ngerasa adil. Jadi harus dua ya. Gue kalau ngasih kado buat Arsya pas ulang tahun, gue pasti ngasih kado juga buat Aaras" ingat Anya lagi.
Rasa takut jika tak bisa bersikap adil. Menghantui Anya selama ini, terlebih ibu mertuanya itu terkadang datang ke rumah untuk memberikan kado pada Arun, tapi tak membawa apapun untuk Arum. Meski hanya sebuah hal kecil, Anya tahu dampaknya akan cukup besar untuk Arum kelak.
"Nya noh liat siapa" ucap Ocha.
Pandangan Anya mengekor ke arah pandangan sahabatnya ini. Mereka yang tengah duduk santai dihalaman rumah setelah acara selesai bisa melihat satu mobil berhenti tepat didepan rumah. Dari mobilnya saja, Anya tahu siapa pemiliknya.
Saat pengendara mobil itu turun dan berjalan melawati pagar. Arum langsung berlari dengan cengiran lebarnya. Saat diangkat oleh pria itu lalu diputar sekali. Arum tertawa keras penuh kebahagiaan.
"Siapa?"
Anya menoleh ke belakang dimana Sinan tengah berjalan mendekat dari arah ruang tamu. Setelah berada di sampingnya, suaminya tertegun sebentar sebelum akhirnya tersenyum dan berjalan mendekati Danu guna untuk menyambutnya.
Ocha dan Wine yang tahu kondisi, segara menyingkir masuk kedalam rumah. Meninggalkan dirinya, Arum, Sinan dan Danu yang kini memilih untuk duduk diruang tamu.
__ADS_1
Melihat ekspresi sarat akan kecemburuan Sinan karena Arum tertawa begitu lepas bersama Danu, Anya menggenggam tangan suaminya dan tersenyum saat Sinan menoleh ke arahnya.
Seperti yang dikatakan Sinan dulu saat di rumah sakit. Anya juga akan membantu Sinan untuk menjadi suami dan papah yang baik di keluarga kecil ini.
"Maaf ya. Datang nggak ngabarin dulu" Danu memangku Arum yang kini duduk sambil memeluk erat boneka pemberian Danu.
Sinan tersenyum kemudian menjabat tangan Danu "Tidak apa-apa. Sebelumnya kita belum kenalan ya. Saya Sinan, suami Anya"
Saat mereka menikah. Anya memang tak mengundang Danu ke acara pernikahan mereka. Alasannya jelas karena tak ingin merusak suasana karena saat itu Danu masih saja kekeh untuk mengambil hak asuh Arum.
Beberapa hari yang lalu. Danu sempat memberi kabar jika pria itu berniat untuk tinggal di Jerman sambil cabang perusahaan barunya disana. Jelas dengan harapan bisa membawa Arum ikut bersamanya. Namun baru berniat untuk mendebatnya dengan kembali mengirim pesan. Danu kembali mengirim pesan dengan text yang cukup panjang. Isinya ucapan permintaan maaf atas apa yang telah terjadi, dan kerelaan dia untuk membiarkan Arum tetap bersamaan Anya.
"Saya Danu. Mantan suami Anya dan ayah Arum." Danu ikut menyalami tangan Sinan dengan raut wajah dinginnya.
Dia itu kemarin niat beneran minta maaf nggak sih?.
"Selamat atas kelahiran putri kalian" Danu tersenyum.
Saat melihat senyuman itu, Anya bisa bernapas lega karena itu adalah tipe senyuman yang sering ditunjukkan kepada Arum. Danu benar-benar akan menjauh dari kehidupannya.
"Terimakasih" jawab Sinan.
"Berangkat sekarang?" Anya yang sudah tak sabar untuk mengetahui tujuan Danu mendatangi mereka akhirnya bertanya. Jika ingin bertemu dengan Arum, biasanya laki-laki itu tak pernah duduk dan langsung membawa Arum, atau mereka akan bertemu di tempat biasa.
Danu menganggukkan kepalanya. Kemarin seharian penuh Arum bersama Danu, mungkin sekarang pria itu hanya ingin izin untuk terakhir kalinya. "Titip Arum ya bro. Jagain dia kaya anak lo sendiri. Soalnya kalau sekali saja Arum nelfon gue dan minta tinggal sama gue. Gue nggak bakal ngelepasin dia sama sekali"
Sorot mata serius itu menunjukkan keseriusan. Namun Sinan tak akan membiarkan semua itu terjadi. Arum bertemu sesekali dengan Danu, tidak masalah. Tapi jika harus diambil oleh Danu, Sinan juga tak rela sama sekali.
...****************...
***Danu pamit ya. Bye Bye 😂
Dan yang ini masih mikir judul apa yang tepat 👇🏻***
__ADS_1