Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 40 : Obat Pereda Emosi


__ADS_3

Kesamaan perilisan produk membuat geger seluruh devisi. Bahkan para manager pabrik juga sedang dalam perjalanan ke kantor utama guna membahas mengenai hal ini.


Anya yang sudah selesai dengan pembahasan mereka memilih keluar dari ruangan Sinan. Mengenai alat penyadap suara, hanya dirinya, Radit dan Sinan yang tahu. Belok ke kiri, Anya berpapasan dengan Navel yang berjalan menuju ruangan Sinan dengan beberapa orang dari tim design. Anya membungkuk dala saat orang-orang itu berjalan melewatinya dengan tatapan tak suka.


Design pertama dibuat lebih dari 1 bulan, saat sudah sepenuhnya jadi dan ditunjukkan kepda Anya, dirinya malah meminta revisi dengan menambahkan beberapa design yang berasal dari ide Sinan. Dengan adanya kasus ini, bisa dimaklumi jika mereka cukup kesal kepadanya.


"Mbak"


Panggilan yang terdengar nyaris berbisik itu membuat Anya menegakkan kembali tubuhnya, ia menoleh ke kanan dan mendapati Alun yang berjalan mendekat dengan raut wajah cemas.


"Mbak serius bukan aku. Gimana cara jelasinnya ke pak Sinan?"


Untuk saat ini, Alun dan tim design lah yang paling di curigai oleh Sinan.


"Masih di selidiki Lun. Kalau memang bukan kamu, jangan panik ya" jawab Anya berusaha untuk menenangkan wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya ini. "Jangan nangis"


Alun mengusap air matanya "Mbak Jini nuduh aku mbak. Semuanya nggak percaya kalau bukan Alun yang nyebarin mbak"


"Emang dasar rubah" ucap Anya ikut kesal dengan tindakan Jini. Anya menatap Alun lama, menimang antara dirinya perlu menceritakan perihal penyadap suara itu atau tidak. Namun saat teringat bagaimana loyalnya wanita ini kepada perusahaan sejak dulu, Anya menganggukkan kepalanya mantap.


"Ada satu cara yang bisa buktiin kalau itu bukan kamu" ucap Anya lagi. Ia menarik Alun masuk kedalam lift dan menekan tombol yang akan membawa mereka ke rooftop.


"Gimana caranya mbak?"


"Kita bicara nanti di atas"


Begitu pintu lift terbuka, Anya langsung menarik Alun melewati pintu yang akan membawa mereka ke rooftop. Di jam kerja seperti ini, Anya yakin tidak akan ada orang dimana.


Setelah memastikan jika memang hanya mereka berdua di sini, Anya langsung duduk di salah satu kursi, begitu pula dengan Alun.


"Ada penyadap suara di ruangan pak Sinan " ucap Anya.


Alun langsung membekap mulutnya sendiri karena terkejut. " Serius mbak?"


Anya mengangguk. " Untuk masalah harga dan tema apa yang akan aku buat untuk menarik minat anak-anak saat perilisan, hanya mbak dan pak Sinan yang tahu. Karena mbak bahas ini di ruangan pak Sinan."


"Jadi maksud mbak, Alun bisa terlepas dari tuduhan kalau nemuin siapa yang menyadap ruangan pak Sinan?"


Anya mengangguk lagi. Untuk sekarang hanya cara itu yang bisa Alun gunakan. Meski tanpa bantuan Alun, Sinan pasti akan menemukan pelakunya. Namun menurut Anya, ucapan Radit ada benarnya juga dan itu berarti Sinan akan begitu terpukul jika menemukan dalangnya sendiri.

__ADS_1


"Nggak ada yang berani masuk ruangan pak Sinan kalau nggak ada beliau kecuali sekretarisnya, berarti—"


"Itu baru kemungkinan Lun" potong Anya


Untuk kali ini, memang ada sedikit keraguan jika Navel yang melakukannya. Pria itu sudah cukup lama bekerja di sini. Bahkan Navel bergabung 2 tahun lebih awal dari pada dirinya dulu. Mustahil jika orang yang begitu dipercaya oleh pak Hamdan malah melakukan hal keji seperti itu.


Jika Alun yang melakukannya, Elen juga sedikit tak yakin mengingat bagaimana awal mula wanita ini bergabung. Dan jika tim design juga sedikit tidak mungkin karena mereka sampai lembur untuk mengerjakannya.


"Pak Sinan tahu ruangannya di sadap?"


"Nggak. Cuman aku" bohong Anya. Bukan berarti dirinya tak percaya dengan Alun, namun lebih baik untuk berjaga-jaga.


"Karena itu bantu mbak buat tahu siapa yang naruh di sana" lanjut Anya.


"Mbak liat dimana?"


"Di vas bunga dekat pintu"


Alun mengangguk."Oke, aku bakal cari tahu siapa mbak. Tapi serius bukan aku ya mbak"


"Iya"


Sinan : Keruangan saya ya An. Aku udah pesan makanan.


"Mbak makan dulu, udah jam makan siang"


Setelah membaca pesan Sinan, Anya buru-buru meletakan ponselnya saat suara Alun yang mengajaknya makan terdengar dari balik pintu.


"Aku tahu mbak pasti pusing mikirin ini. Tapi makan dulu yuk mbak. Aku juga mau makan" ucap Alun lagi.


Baik tim 1 dan tim 2, semua orang di ruangan ini sudah pergi ke kantin guna mengisi energi setelah seharian penuh mereka rapat dengan Radit tadi. Bukan cuman rapat saja, namun juga kena imbas dengan omelan Radit yang membuat pria itu layaknya berubah menjadi macan buas. Anya bahkan tak berani mengangkat kepalanya selama rapat.


"Mbak di suruh ke pak Sinan. Kamu duluan aja ya"


Wajah Alun sedih seketika " Dimarahin lagi ya mbak? Ya Tuhan, kan ini jam istirahat. Kok pak Sinan gitu sih, kan mbak laper.


Anya tersenyum tipis. Gue nggak mau dimarahin Lun, mau diajak makan. Batin Anya.


"Mentang-mentang jadi bos. Seenaknya aja!" geram Alun.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, udah makan saja dulu sana. Sama pak Ali aja kalau sama Jini nggak nyaman"


Alun mengangguk " Beneran Alun duluan nih mbak?"


"Iya udah sana"


Sepeninggal Alun. Anya langsung mengambil ponselnya dan berjalan menuju lift sebelum ada lagi yang datang. Sejak memutuskan berkencan, ini adalah makan siang bersama di kantor mereka. Meski keadaan kantor sedang tidak membaik, Anya tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuat mood Sinan kembali baik. Jika mood pria itu membaik, maka Sinan bisa berpikir untuk mencari jalan keluar terbaik.


"Mbak mau kemana?"


Pertanyaan itu terlontar dari Navel begitu Anya keluar dari lift dan berjalan mendekati pria itu.


"Dipanggil pak Sinan. Masih adakan di ruangannya?"


Navel mengangguk. Pria ini menatap prihatin ke arah Anya yang membuat Anya terlihat begitu menyedihkan karena hampir semua orang menatapnya dengan tatapan seperti itu.


"Mau dimarahin lagi ya mbak?"


"Nggak tahu" Anya kini memilih duduk di kursi Navel. " Baru ya?" tunjuk Anya pada kota earphone yang berada di atas meja.


"Hadiah dari pak Radit"


Anya mengangguk paham. " Pak Sinan mukanya masih di tekuk ya Mas?"


"Belum keluar dari tadi. Sana gih masuk mbak. Nanti makin ngamuk"


"Males" bohong Anya agar Navel tak curiga.


Navel menggelengkan kepalanya "Gue mau makan dulu. Jadi tolong dengerin ocehan pak Sinan ya mbak. Gantian sebentar sama gue" ucap Navel sebelum akhirnya masuk ke dalam lift dengan tawa ceria.


Begitu pintu lift tertutup, Anya langsung berjalan menuju ruangan Sinan. Mengetuk pintu 3 kali dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari dalam.


"Kamu pe—" ucapan Anya terputus begitu Sinan berjalan mendekat ke arahnya dan langsung mendekapnya erat.


"Biarkan seperti ini, sebentar saja. Biar emosi saya sedikit menurun" ucap Sinan lirih.


Anya tersenyum tipis lalu balas memeluk Sinan erat. Tak lupa Anya juga menepuk punggung Sinan pelan.


Dari banyaknya orang yang pusing dan emosi karena masalah ini. Sinan pasti jauh lebih pusing dan emosi.

__ADS_1


__ADS_2