
Dengan tanda besar di kepalanya mengenai tujuan apa Sinan memanggilnya ke ruangan pria itu, Anya berdiri diam di lift yang membawanya ke lantai paling atas gedung ini.
Pasalnya tenggat waktu yang diberi Sinan untuk Anya memikirkan kira-kira variasi apa yang harus ia tambahkan di produk ke 5 milik miracle adalah minggu depan. Jangankan menemukan idenya sekarang, Anya mengambil sampel yang ada di pabrik pusat saja belum sempat.
Jika membahas mengenai kejadian semalam, sepertinya itu tidak mungkin. Karena jika dilihat dari cara kerja pak Hamdan dan bu Beti dulu, mereka tak pernah membahas masalah pribadi di jam kantor seperti ini, dan itu kemungkinan besar juga turun ke Sinan.
Tepat setelah pintu lift terbuka, Anya yang harusnya berbelok kearah kanan kini memilih berbelok ke arah kiri dimana pantry lantai atas berada saat ponsel yang ia pegang berdering. Melihat jika nama mbak Laksmi yang terpampang di layar ponselnya, ini jelas pasti berurusan dengan Arum. Jika tidak Arum yang menangis karena Aaras, atau Arum yang menangis karena Arsya, maka ke dua anak kembar Wine lah yang menangis dan Arum akan mengadu dengan jujur jika dia membuat di kembar menangis.
Anya menggeser tombol warna hijau ke atas yang membuat sambungan video call terhubung, bukan hanya ada dirinya dan mbak Laksmi saja, melainkan wajah Wine juga ikut terpampang di layar ponselnya.
“Jadi siapa nih yang menang?” Wine yang memulai obrolan pertama kali.
Saat melihat wajah Arum yang kini mengambil alih ponsel mbak Laksmi. Suara helaan napas Wine terdengar.
“Kembar yang kalah ya mbak”
Anya tersenyum mendengarnya. Percayalah, meski melawan dua anak laki-laki pun, Arum memiliki sifat baja yang tak takut selagi dia menggenggam kebenaran.
“Arsya sama Aaras kenapa nangis?”Tanya Anya halus.
“Nda tau. Tiba-tiba nangis” jawab Arum.
Anya melirik kearah Wine yang kini benar-benar terlihat senang hanya dengan kalimat Arum barusan. Biasanya jika tidak ada Anya, Arum lebih cenderung diam dan tak mengatakan apapun meski gadis kecil itu sudah bisa mulai bisa bicara di usianya 1 ½ tahun.
“Bukan Arum kan yang bikin nangis?”
Arum menggeleng tak menyetujui ucapan Anya barusan. Dari muka gadis kecil ini jelas ada yang tidak beres. Salah namun tidak mau disalahkan.
“Emang kenapa mbak?” tanya Wine pada mbak Laksmi.
Tanpa menunjukan wajahnya karena ponselnya di pegang erat oleh Arum, mbak Laksmi yang duduk di samping Arum sambil memangku Aaras menjawabnya.
“Jadi ceritanya tadi Arsya lagi susun balok bu, udah lumayan tinggi dan bentuknya juga hampir persis kaya rumah, nah Arum lagi mewarnai di meja. Eh Aaras dateng terus ngeledekin Arum, ngambil pensil warna Arum, akhirnya kejar-kejaran deh. Karena nggak liat, Aaras nabrak balok Arsya. Ngambek lah si Arsya, ngelempar balok ke Aaras terus kena jidad. Nangis semua akhirnya”
Wine dan Anya tertawa bersamaan mendengar cerita mbak Laksmi barusan. Sebenarnya bukan hanya mbak Laksmi saja yang menjaga anak-anak selagi Wine dan Arka kerja, masih ada 1 mbak lagi, yang sayangnya hari ini cuti karena sakit.
Satu pesan lagi dari Sinan yang menanyakan keberadaanya membuat Anya langsung mengundurkan diri dari video call. Mengobrol dengan Arum kadang membuat Anya lupa dimana dia berada. Maka dari itu setelah mematikan sambungnya. Anya langsung kembali berjalan menuju ruangan Sinan. Ia sempat berpapasan dengan mbak Ajeng selaku staf keuangan saat keluar dari pantry, hanya sekedar membungkuk memberi salam, Anya langsung melesat ke ruangan Sinan.
__ADS_1
“Ada pak Sinan mas?” tanya Anya kepada mas Navel.
“Ada mbak. Masuk aja katanya”
Anya mengangguk. Berjalan mendekati pintu ruangan Sinan lalu mengetuknya 3 kali. Setelah mendapatkan jawaban, Anya langsung masuk ke ruangan Sinan dan berdiri di depan pintu sambil menunggu Sinan yang tengah sibuk melakukan sambungan telefon.
Buset. 3 kali gue kesini, dan 3 kali juga gue harus nunggu dia telfonan. Sibuk bener nih orang!
Anya mengerutkan keningnya bingung saat melihat Sinan kini malah tersenyum dan berubah menjadi tawa dengan orang di sebrang telfon sana. bahasa yang digunakan pria itu juga bukan bahasa formal seperti biasanya yang digunakan kepada rekan bisnis. Maka kesimpulannya adalah Sinan tengah bicara dengan orang yang dekat dengannya sekarang.
Pacar barunya kan? Kalau di drama-drama kan biasanya bos itu pas putus sama cewek bisa langsung nemu cewek lain. Yang ngantri buat jadi pacarnya banyak soalnya.
“Maaf buat kamu nunggu. Silahkan duduk”
Anya mengangguk lalu duduk di sofa dengan Sinan yang kini duduk di sofa tunggal. Pria itu meletakan 3 tumpuk file di meja lalu mendorongnya kearah Anya.
“Ini adalah arsip dari penjualan produk ini selama 3 peluncuran. Peluncuran pertama dan kedua berhasil dipasaran. Sedangkan yang ke tiga gagal” lanjut Sinan.
Jangan bilang gue disuruh baca semua ini?. buset dah, gue tim marketing, bukan tim hukum yang perlu membaca tumpukan kertas itu. kalau tim hukum emang harus karena menyangkut kasus. Lah gue?. Keluh Anya dalam hati.
“Kamu bisa mempelajari ini semua untuk mengahasilkan produk yang baru dan bisa diterima di pasaran”
“Maksud bapak, saya harus baca ini semua?”
Sinan mengangguk.
Serius deh, ini nggak masuk akal.
“Semisal kamu minta data ke Jini, dia pasti asal ngasih datanya ke kamu. Maka dari itu saya yang nyari datanya dan kamu tinggal baca”
“Bapak serius?” tanya Anya lagi tak yakin. ini orang bercandanya nggak lucu.
Berbalik dengan Anya yang menatap dengan raut wajah tak percaya, Sinan kini malah tertawa melihatnya.
Lah, malah ketawa.
“Kenapa bapak ketawa?”
__ADS_1
“Lucu aja ngeliat kamu percaya kalau saya nyuruh baca ini semua. Lagi pula sekalipun saya minta untuk baca, pasti saya kasih dalam bentuk softcopy”
Tak ada yang lucu. Anya sama sekali tak tertawa dan hanya menatap wajah bosnya itu dingin. Sinan yang merasa mendapat tatapan seperti itu, sedikit demi sedikit menghilangkan tawanya dan kembali memasang wajah datar. Takut lebih tepatnya.
“Ehem” dehem Sinan canggung. Pria itu berjalan kearah mejanya sendiri, mengambil dua kertas yang di stepler jadi satu lalu kembali duduk ditempat semula.
“Kamu bisa baca ini. ini sudah saya rangkum jadi satu kekurangan dan kelebihan produk ini dari perilisan 3 tahun sebelumnya.”
Masih memasang wajah datar, Anya mengambil kertas yang di berikan oleh Sinan. Untuk sesaat Anya bisa melihat jika tangan Sinan bergetar saat memberikan kertas tadi.
Takut kan lo. Gue lebih tua, jadi jangan macam-macam. Ucap Anya dalam hati. Jika dengan dirinya yang menatap dingin saja Sinan sudah takut, gimana kalau dia ngeliat Ocha?.
“Baik pak, saya akan mempelajarinya” Ucap Anya diimbuhi dengan senyuman tipis.
“Mbak Anya”
Anya yang baru saja ingin berdiri dan keluar dari ruangan Sinan kembali duduk saat pria ini kembali bicara. Apa Sinan udah ingat kejadian semalam? Makanya dia ngajak ngobrol lagi?.
“Ya pak?”
Ada sedikit keraguan dari wajah Sinan yang Anya liat sekarang.
“Kenapa pak?” Tanya Anya balik. Lebih kearah menantang pria ini, takut-takut jika Sinan memang mengingat apa yang sudah dia lakukan kepadanya semalam.
“Kamu belum ngambil sampel di pabrik pusat kan?”
Anya mengangguk. Hari ini setelah membahas terlebih dahulu dengan Jini, Anya berniat untuk ke pabrik setelahnya.
“Saya juga mau ke pabrik pusat buat ketemu sama pak Johar. Kita bisa kesana bareng-bareng”
Untuk sesaat Anya berusaha untuk mencerna setiap kalimat Sinan barusan. Ke pabrik pusat bersama? Dari kantor yang kemungkinan besarnya diliat oleh karyawan lain?. makin dianggap anak emas gua lama-lama.
Lagi pula, ini orang beneran lupa sama kejadian semalam sampai senekat itu ngajakin Anya satu mobil bersama. Jika jarak pabrik utama tak jauh, mungkin tak masalah. namun jarak pabriknya membutuhkan waktu hampir 3 jam jika tidak macet. Saya tekankan, Jika Tidak Macet.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kok ini yang Like berkurang ya. ada apa gerangan? ceritanya ngebosenin kah?
__ADS_1
waktu up nya aku percepat lagi ya.