
"Mbak, ada nak Sinan di depan"
Anya yang tengah duduk menemani Arum yang berlarian di halaman belakang dengan kedua anak kembar Wine, menolehkan kepala.
Jihan mendekat dan menepuk pundak Anya " Ada nak Sinan di depan" ulangnya lagi.
Anya mengangguk. Berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ruang tamu. Semalam Sinan memang mengabarkan jika dirinya akan datang berkunjung besok untuk membicarakan mengenai kelanjutan hubungan mereka, namun Anya tak membalasnya dan hanya membacanya saja.
Melirik sebentar ke arah dua orang absurd di dapur yang tengah adu mulut satu sama lain, karena Wine yang jago masak tapi tak bisa membuat telur mata sapi sempurna sedangkan Ocha yang menatap nanar deretan telur yang gosong itu sudah menyerah. Siapa juga yang mau makan telur-telur mengenaskan itu.
"An makan nih ya telur. Lama-lama bisa bulet gue!" ucap Ocha.
Anya hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali berjalan menuju ruang tamu. Tak menemukan Sinan di sana, Anya berjalan ke teras dan menemukan Sinan yang masih berdiri di luar pagar sambil bersandar di mobil.
Pria itu tersenyum manis saat Anya berjalan mendekatinya.
"Kenapa nggak masuk?" tanya Anya begitu sampai di depan Sinan.
"Semalam kamu nggak balas pesanku. Jadi saya kira kamu marah. Makanya nunggu di luar aja"
"Masuk pak. Nggak enak kalau diliatin tetangga"
Anya berjalan lebih dahulu masuk ke rumah, Sinan mengekor di belakangnya dengan wajah yang merasa tak enak dengan Anya.
"Kamu marah ya An?"
Anya yang hendak duduk berhenti seketika, tak menjawab lalu kembali duduk di sofa "Marah untuk apa pak?"
"Pesan dari mamah ku"
Semalam Anya memang mendapat pesan beruntun dari nomor yang tak di kenal. Jika di lihat dari profilnya, itu jelas Ajeng—ibu dari bosnya ini. Pesan yang dari awal hingga akhir berisi ketidak setujuan wanita itu atas hubungan putranya dengan Anya. Ajeng bahkan membahas mengenai Anya yang tak bisa menjaga diri hingga hamil di luar nikah. Wanita seperti Anya tak pantas untuk putranya. Dan segala hal lain yang membuat harga diri Anya rasanya seperti terjun payung. Jika hanya menghinanya, Anya tidak masalah. Tapi Ajeng malah mengatakan jika Arum adalah anak haram secara terang-terangan membuat hati Anya remuk semalam. Ibu tidak tahu mengenai hal ini, jika tahu ibunya pasti sudah menemui Ajeng dan menamparnya bolak-balik.
Apa yang bisa Anya balas dari pesan Sinan yang mengatakan akan berkunjung setelah Ajeng mengirimkan pesan seperti itu?. Anya jelas hanya menghiraukannya tapi nyatanya Sinan benar-benar datang.
Apa yang salah dari Sinan hingga dirinya berniat untuk menjauhi pria ini? Tidak ada. Pesan itu datang dari Ajeng, bukan dari Sinan. Dan itu membuat malam Anya terasa begitu kacau.
__ADS_1
"Maaf. Saya minta maaf atas nama mamah saya" ucap Sinan lagi.
Anya tetap diam saat Sinan mengatakannya dengan tangan pria itu yang menggenggamnya erat. Jika melihat sehebat apa Sinan, dirinya jelas tak sebanding dengan sosok Sinan. Pria ini terlalu sempurna untuk dimiliki dan terlalu sayang untuk dilepas.
"An jangan diam saja, hmm?"
"Saya nggak marah. Saya hanya merasa nggak pantas untuk kamu"
Anya menatap lekat ke dua mata Sinan yang sarat akan ketidak setujuan itu. Pria itu menggelengkan kepalanya .
"Sudah saya bilang sebelumnya kan? Saya nggak peduli dengan masa lalu kamu. Saya juga sudah bicara sama mamah kamu kalau saya akan berusaha kan? Jadi jangan pernah lepasin tangan ini" ucap Sinan berusaha untuk meyakinkan.
Mereka bukan anak remaja yang perlu baper dengan kata orang lain dan langsung berpisah tanpa usaha terlebih dahulu. Tapi entah kenapa, kepala Anya masih juga enggan untuk mengangguk mengiyakan ucapan Sinan.
"Beuh so sweet banget"
"Kaya bang Arka dulu"
Anya memejamkan matanya saat terdengar suara bisikan dari arah dalam. Dua makhluk astral itu benar-benar membuat suasana berubah seketika.
"Saya akan berusaha untuk meyakinkan keluarga saya" ucap Sinan lagi.
"Iya dong itu harus. Semangat!!"
Kepala Anya menoleh ke belakang saat suara Wine tak lagi berbisik. Memberikan laser dari tatapan mata yang membuat Wine dan Ocha hanya nyengir kemudian kembali masuk ke dapur. Karena ada ibu di sini, kedua sahabatnya ini tak pernah absen sehari pun untuk mengunjungi rumahnya. bukan hanya Ocha dan Wine, Arka dan Kais—adik laki-laki pria itu juga kadang berada di sini. Hari ini saja mereka tidak ada karena ada urusan di skuadron.
"Temen kamu tinggal satu rumah sama kamu ya? Kayanya setiap saya ke sini pasti ada mereka"
"Nggak. Cuman yang satu kaya tapi pura gembel minta makan sama ibu dan satunya jomlo akut yang nggak suka sendirian di rumah kalau hari libur"
Sinan menganggukkan kepalanya. Mendengar Anya yang sudah mau menjawabi pertanyaannya membuat Sinan merasa sedikit lega " Jadi udah nggak marah kan?"
"Saya dari awal juga nggak marah sama bapak. Sekarang saya mau tanya, apa rencana bapak setelah ini?"
"Menikah sama kamu"
__ADS_1
"Bagaimana caranya menikah kalau keluarga bapak aja nggak setuju?"
"Setelah dari Bali, kita coba berkunjung ke Kakek dan Nenek untuk membicarakan hal ini, sekaligus minta bantuan"
Anya jelas tahu siapa Kakek dan Nenek yang dimaksud. Pak Hamdan dan bu Beti.
"Mau ketemu sama calon anak saya dan calon mertua saya, boleh kan An?"
Belum juga menjawab, suara ingin muntah Wine dan Ocha terdengar dari arah dalam lalu berubah menjadi tawa yang menggema. kedua temannya itu bahkan tak repot-repot untuk menyembunyikan tawanya seakan sengaja agar Anya bisa mendengarnya. Anya yakin kedua temannya itu pasti masih berada di ruang tengah dan menguping. Dan nanti malam dirinya akan menjadi bahan ejek kedua makhluk itu.
"Kamp—" umpatan Anya terhenti seketika saat Sinan tiba-tiba mencium pipinya.
"Jangan ngumpat An"
"Bapak ken—"
"Mbak Anya bawa pergi temen lo!!!"
Suara teriakan Kais dari luar membuat Anya merinding seketika. Buru-buru dirinya berdiri di depan Sinan guna menghalau Arka yang jalan masuk dengan langkah lebarannya lengkap dengan muka merah penuh amarah.
"Berani Lo cium adik gue!!!" pekik Arka.
Satu yang Sinan ketahui sekarang. Bukan hanya memiliki dua sahabat yang aneh, Anya juga memiliki satu kakak laki-laki dengan baju tentara yang ngamuk hanya karena dirinya mencium pipi Anya.
Sinan yakin tubuhnya akan bonyok kalau kakak Anya tahu jika Sinan sudah pernah merasakan bibir adiknya.
**
Comedy dulu sedikit deh. karena lagi kehilangan feel untuk cerita ini. malah garap cerita baru lagi yang bakal di up disini.
diikutin Event soalnya.
Mohon Dukungannya ya.
Like dan Komentarnya jangan lupa.❤️
__ADS_1