Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 53 : Tak Ada Harapan


__ADS_3

Kedatangan Anya dalam hidup putih abu-abunya kala itu menjadi warna bagi hidup Sinan dan Setta yang suram karena minimnya kasih sayang.


Setiap pagi Sinan akan bangun bukan karena belaian lembut atau kecupan kasih sayang dari mamahnya seperti anak lain biasanya. Sinan akan terbangun karena tepukkan di bahu oleh bibi Juminten selaku asisten rumah tangga. Setelah itu Sinan akan membangunkan Setta pelan karena adiknya itu akan mengamuk jika dibangunkan oleh orang lain selain mamah, ayah dan kakaknya.


Mereka akan duduk berdua di meja makan dengan seragam yang lengkap. Menyantap dalam diam karena membuat keributan pun tak akan menarik perhatian, karena pada jam segitu kedua orang tuanya sudah dalam perjalanan menuju kantor masing-masing.


Dalam satu minggu. Sinan hanya bisa menekuk 1 jarinya untuk menghitung berapa jumlah hari untuk bisa makan bersama ke dua orang tuanya. Hanya hari Minggu dan itu pun keduanya makan dengan ponsel di tangan masing-masing.


Karena itu saat dirinya menginjak kelas 3 SMA yang memiliki jadwal begitu padat untuk mempersiapkan ujian dan masuk ke perguruan tinggi. Sinan sangat bersyukur saat bibi Juminten berkata jika dirinya tak perlu khawatir tidak ada yang mengajak Setta bermain lagi karena dirinya terlalu sibuk belajar. Mamah dipaksa resign dari kantor oleh nenek dan diminta untuk fokus menjadi ibu rumah tangga. Meski terlambat untuk Sinan, tapi setidaknya tidak terlambat untuk Setta yang baru berada di kelas 3 SD.


Sina mencari tahu dan mendengar nama Anya untuk pertama kalinya. Wanita yang umurnya hanya beda 2 tahun darinya itu yang kini menjadi wajah baru perusahaan dan mengganti posisi sang mamah. Karena penasaran Sinan mendatangi perusahaan sang kakek dan terpana untuk pertama kalinya.


Cantik. Itu kata yang terlintas pertama kalinya. Meski hanya menggunakan blus warna ungu dengan celana jeans yang membentuk pensil di bagian bawahnya, Anya terlihat sangat cantik.


Setelah itu, tanpa sadar setiap Jumat sore dimana jadwal bimbel nya tak terlalu padat. Sinan akan mencuri-curi pandangan untuk melihat Anya.


Hidup warna abu-abunya berubah menjadi berwarna hanya dalam sekejab. Meski sempat kembali menjadi kusam karena melihat undangan pernikahan Anya. Setidaknya sekarang dirinya benar-benar memiliki Anya seutuhnya.


Sekarang, Sinan tak bisa menyembunyikan senyumnya semenjak Anya meminta Sinan untuk memarkirkan mobil di swalayan yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah kekasihnya ini. Anya ingin berjalan menikmati udara malam, dan Sinan jelas dengan senang hati mengabulkannya.


Memang tak ada yang bicara karena Anya juga memintanya untuk diam dan menikmati masa-masa jalan berdua malam-malam dengannya. Sinan hanya menggenggam tangan Anya erat, menautkan jari-jari mereka yang membuat kekhawatiran seharian ini jatuh satu per satu.


Benar kata mas Radit. Anya bukanlah anak ABG lagi yang masih labil dan baperan.


Hingga rasanya hidup penuh warnanya sekarang mulai redup perlahan dan berubah menjadi warna hitam pekat. Bukan abu-abu lagi, tapi benar-benar pekat membuat langkah Sinan berhenti seketika.


"Kamu bilang apa barusan?" Sinan berusaha menahan tangan Anya yang ingin lepas dari genggamannya.

__ADS_1


"Ayo kita pikirkan ulang baik-baik lagi untuk hubungan ini. Tidak. Aku ingin akhiri hubungan kita"


Pemaparan panjang yang keluar dari mulut Anya barusan terasa seperti petir yang menyambar tubuh Sinan seketika. Senyuman yang sebelumnya mengembang kini berubah menjadi datar dengan wajah yang terkejut bukan main.


"Kamu bilang apa?" Sinan harap telinganya yang salah dengar kali ini.


"Ayo kita putus" jawab Anya tegas.


"A..An?" efeknya benar-benar dahsyat hingga Sinan terbata hanya untuk memanggil nama wanita di depannya ini.


"Asal kamu tahu Nan. Sejak awal aku mendekati mu hanya karena aku butuh uang kamu untuk mempertahankan Arum. Tapi sekarang aku sadar jika itu semua salah"


Sinan menggelengkan kepalanya "Jangan bercanda An. Sejak awal aku juga tahu jika ini hanya untuk menguntungkan satu sama lain. Karena itu aku berusaha untuk buat kamu benar-benar jatuh cinta sama aku. Jadi jangan katakan jika hingga sekarang kamu hanya butuh uang aku. Tapi kamu juga butuh aku di hidup kamu"


"Aku hanya butuh uang kamu sejak awal hingga sekarang"


"Kamu salah Nan. Aku Nggak mau ngelibatin kamu lagi untuk urusan ku dengan mantan suami ku"


"Apa karena mamah?" Sinan semakin meremas tangan Anya yang masih berada di genggamannya.


"Bukan. Aku hanya sadar jika aku memang nggak pantas untuk kamu. Aku hanya membutuhkan uang kamu. Dan itu salah"


"Persetan dengan itu semua An. Aku nggak peduli, jadi mari kita anggap tidak pernah ada pembicaraan ini diantara kita, ya?" mohon Sinan.


Anya menggeleng "Mari kita bersikap seperti bosa dan karyawan di hari Senin ya Nan. Bye"


Sinan hanya bisa terpaku melihat punggung Anya semakin jauh masuk ke dalam rumah. Semuanya jelas masih sangat tidak nyata. Hidupnya yang penuh warna kini kembali gelap seakan semua pemadaman listrik mati hanya dalam satu kata itu 'Putus'.

__ADS_1


***


Begitu masuk ke dalam rumah, pertahanan Anya runtuh seketika. Tangannya menggenggam erat knop pintu dari arah dalam dengan pandangan yang menatap ke dua temannya lekat. Air mata meluncur satu persatu menumpahkan rasa sesak di dada. Saat Ocha berjalan maju terlebih dahulu lalu memeluk tubuhnya erat. Tangis Anya pecah seketika.


Rasa sakitnya jauh lebih sakit ketimbang bercerai dengan Danu dulu. Karena sekarang melibatkan perasaan sedangkan dulu tidak sama sekali.


"Cerai cekakak-cekikik. Putus sama Sinan nangis sesenggukan" ucap Wine sambil ikut memeluk Anya erat.


Jika bersama kedua temannya. Menjadi lemah tidak masalah sama sekali. Anya tidak bisa berpura-pura kuat lagi jika sudah berada di dekapan Wine dan Ocha.


Saat dalam perjalanan tadi, Anya mengirim pesan di group meminta agar kedua sahabatnya ini menunggu di rumahnya. Sedangkan Ibu dan Arum diminta untuk tidur di rumah Ocha. Alasannya karena Anya tak ingin terlihat lemah di mata kedua orang yang paling penting di dalam hidupnya.


"Rasanya sakit Cha, Win" ucap Anya lirih. Tangannya mencengkram erat baju Ocha dengan tangis yang semakin menjadi.


Melihat bagaimana ekspresi Sinan tadi yang penuh dengan kekecewaan, rasanya membuat hatinya seperti teriris perlahan. Meski berulang kali Anya meyakinkan diri untuk mengakhiri hubungan ini demi Arum, tapi nyatanya rasa sakit itu masih menghunjamnya bertubi-tubi.


Ocha dan Wine tak ada lagi yang menjawab, mereka hanya memeluk Anya semakin erat dengan tangan yang menepuk punggung sahabatnya ini pelan berusaha untuk menenangkannya.


Sinan : Aku nggak mengiyakan permintaan kamu ya An. Setelah aku pulang dari luar kota. Kita bahas lagi.


***


Mohon dukungannya untuk karya aku ini juga ya.



Yang belum baca cerita Wine, ada di sini. isinya ketawa doang sama dia mah.

__ADS_1



__ADS_2