
“Maaf ya bu tadi dari pabrik bu” Anya mencium tangan ibu diikuti oleh Ocha. Tadi sebelum mendekati ibu, Anya sudah wanti-wanti akan merobek mulut Ocha jika wanita ini membahas apa yang wanita itu liat barusan. Jika ibu tahu kalau Anya diantar oleh bosnya, dia yakin ibunya ini akan terus memaksa untuk dipertemukan.
“Lama banget mbak. Ibu sampai nelfon Ocha minta buat jemput ibu” keluh ibu Anya yang memiliki nama Aisyah.
“Maaf ya bu” Anya langsung bergelayut manja di tangan ibunya. Mereka bertiga keluar dari bandara dengan Anya yang sesekali mencubit pinggang Ocha yang gatal ingin bercerita. Dulu Ocha memang terbilang paling pendiam diantara mereka, namun setelah wanita ini bertunangan, hidup Ocha sepertinya akan lebih berwarna jika menjahili dirinya atau Wine. Tingkat kejahilannya meningkat 50%.
“Lo pesen taxi nggak Cha?” tanya Anya begitu mereka sampai di pintu keluar.
Ocha menggeleng.
“Oke” seakan baru sadar jika ada sesuatu yang aneh, Anya menghentikan langkahnya tiba-tiba. Tasnya, tas berwarna hitam yang sejak tadi ia bawa kini menghilang tiba-tiba.
Melihat Anya yang berhenti tiba-tiba, Ocha dan Ibu juga berhenti melangkah sambil menatap Anya bingung.
“Kenapa lo?” tanya Ocha sambil ikut melirik kearah bawah mengikuti tatapan Anya
“Tas gue”
“Tas kamu? Kayanya tadi ibu nggak liat kamu bawa tas deh”
Anya panik sendiri. Jelas-jelas dirinya tadi membawa tas dari kantor. Jika hanya make up dan dompetnya saja, mungkin Anya tak akan sepanik ini. Masalah kartu ATM dirinya bisa memblokirnya detik ini juga, masalahnya adalah didalam situ ada berkas mengenai produk yang tengah ia pegang, ditambah dengan sampel satu-satunya yang ada sekarang.
“Mbak Anya”
Panggilan itu seakan membuat bulu halus disekitar leher meremang seketika. Anya jelas mengenal suara itu. dengan tatapan horor Anya menoleh ke sumber suara, di sana Sinan tengah berjalan mendekat kearahnya sambil membawa tas berwarna hitam, milik Anya.
Ocha yang berdiri di samping Anya langsung mencolek pinggang sahabatnya ini. sedangkan ibu kini menatap Anya dan pria itu secara bergantian, sebelum akhirnya menatap ke arah Ocha seolah meminta penjelasan.
“Bosnya Anya” bisik Ocha pada ibu.
Ibu terlihat mengangguk-angguk sambil tersenyum menatap ke arah bos putrinya ini. dengan kondisi pria itu yang juga ada di bandara, maka Aisyah yakin jika ada sesuatu antara pria itu dengan putrinya ini.
“Siapa mbak?” tanya Aisyah pura-pura begitu pria itu berdiri di depannya.
__ADS_1
“Perkenalkan tante, nama saya Sinan”
Mata Anya membulat seketika melihat Sinan kini memperkenalkan diri sendiri, bukan hanya memperkenalkan diri saja, Sinan juga kini malah mencium tangan kanan ibu bak anak sholeh yang baru saja keluar dari pesantren.
“Oh nak Sinan ya. Bosnya Anya yah?”
Sinan kembali mengangguk. “Iya tante”
“Oh, Kok tas Anya ada di nak Sinan?”
“Ini tadi—“
“Makasih ya pak” Anya langsung mengambil tas dari tangan Sinan. Jika di teruskan maka semuanya tak akan selesai dalam waktu dekat. Lagi pula ini kenapa ada acara tas ketinggalan juga sih?.
“Sudah dapat taxi An?” tanya ibu.
Anya melirik sebentar kearah ibunya yang baru saja bertanya barusan. percayalah Ocha pun sadar ada hal terselubung dibalik pertanyaan tadi. Ibu jelas-jelas tahu jika tas baru kembali ke tangan Anya dan itu berarti dirinya belum memesan taxi sama sekali.
“Oh gitu ya nak. Bagus deh kalau begitu”
Tak seperti ibu yang langsung bejalan menuju mobil Sinan dengan pria itu yang membawakan tasnya. Anya hanya bisa berdiri mematung melihat apa yang terjadi didepannya sekarang. Kenapa dari banyaknya waktu, Sinan harus bertemu dengan ibunya sekarang?.
“Udah ayok. Lumayan GRATIS TIS TIS TIS”
Anya mendelik kearah Ocha yang kini tertawa sambil ikut berjalan menuju mobil Sinan. Jika saja dirinya diberi pilihan untuk ikut atau pergi, Anya lebih memilih memutar tubuhnya dan melenggang pergi dari pada naik kembali ke mobil bosnya ini.
“Mbak ayo” ajak ibu.
Mau tak mau, Anya mengangguk kemudian berjalan mendekat. Berniat untuk duduk di kursi belakang— bertiga dengan ibu dan Ocha, sahabatnya ini malah mendorongnya keluar dan menunjuk kursi depan dengan dagu dan senyuman super menyebalkannya.
“Ayo mbak. Ada mobil di belakang yang kehalang” ucap Sinan yang sudah duduk di kursi belakang kemudi.
Anya kembali mengangguk dan duduk di samping bosnya ini.
__ADS_1
Perjalanan menuju rumah kini dipenuhi oleh suara ibu yang seakan tengah menginterogasi bosnya ini. mulai dari bertanya umur berapa, tinggal sendiri atau dengan orang tua hingga bertanya mengenai punya pacar atau tidak, tak lepas dari semua pertanyaan ibu. Ocha yang duduk dibelakangnya kini malah terus mencoleknya dan baru berhenti saat Anya menarik jari telunjuk wanita itu hingga membuat Ocha mencium sandaran bagian belakang kursinya.
“Nak Sinan nggak ada niatan untuk nikah? Kalau ad—”
“Ibu” potong Anya segera. Sinan baru saja ditinggal nikah oleh kekasihnya, bukankah itu pertanyaan yang akan menyinggung pria ini sekarang.
“Maaf ya pak” ucap Anya lanjut.
Sinan tersenyum sambil menggeleng “Nggak apa-apa mbak”
Mbak, mbak, mbak! Dari tadi juga pakai kamu!.
“Loh pertanyaan tante buat kamu nggak nyaman ya Nak Sinan?” tanya ibu.
Anya menghela napasnya. Jelas tidak nyaman. Jika Anya yang mendapat pertanyaan barusan dalam kondisi baru kenal ditambah baru saja ditinggal kawin oleh pacarnya sendiri, Anya juga pasti akan merasa tidak nyaman.
“Nggak kok tante. Kebetulan saya baru putus karena pacar saya nikah sama sahabat saya sendiri. Jadi sekarang belum kepikiran untuk memulai hubungan baru”
Ekspresi Sinan kini terlihat begitu santai tak seperti ekspresi Anya yang terkejut dengan pengakuan terbuka bosnya ini. Anya pikir Sinan tak akan mengungkit masalah pacarnya, lagi pula Anya juga tahu hal itu karena Sinan menceritakannya dalam kondisi tak sadarkan diri. Tapi sekarang? Bosnya ini benar—benar dalam kondisi sadar.
“Ya Allah. Maaf ya nak. Tante nggak tahu.”
“Seriusan An? Kaya gue dong?” bisik Ocha.
Lagi Sinan kembali tersenyum, senyuman yang entah kenapa menurut Anya terlihat begitu horor sekarang. “Tidak apa-apa bu. lagi pula saya juga sudah move on”
“Baguslah kalau begitu. Noh Nya udah MOVE ON” celetuk Ocha.
Oh sungguh. Cobaan macam apa ini?. ibunya saja sudah membuat Anya mengelus dada berulang kali, ditambah dengan Ocha, Anya rasanya ingin menghilang dari bumi ini sekarang juga.
“Sekali lagi saya minta maaf ya pak. Temen saya kalau udah sore itu emang rada-rada” mohon Anya. Jika sekarang Sinan tersenyum, tidak ada yang tahu bagaimana dalam hati pria ini sekarang. Bisa aja kan sekarang tersenyum dan besok akan balas dendam kepadanya?.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1