Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 50 : Pertemuan Pertama


__ADS_3

maaf kalau banyak typo yang bertebaran. Karena nggak aku edit ulang lagi.


**"


"Cemen lo mas. Beraninya umpet-umpetan"


Suara dari arah belakang Sinan, membuat mereka melerai pelukan satu sama lain. Keduanya menoleh bersamaan dan melihat Setta tengah berdiri tak jauh dari mereka dengan cengiran lebarnya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendekat. Sinan bahkan pasrah saat Anya tiba-tiba mendorong tubuhnya agar sedikit menjauh.


"Kamu ngapain disini? Sendirian lagi"


Setta yang ditanya menunjukkan smirk nya "Lah mas ngapain disini. Sama mbak—"


"Anya" jawab Anya yang tahu jeda dari ucapan Setta karena tidak tahu namanya.


"Iya. Mbak Anya. Mas dicariin nenek, mbak juga"


"Ngapain?" Sinan yang memiliki firasat buruk langsung berdiri di depan Anya. Alasan mereka sampai di panggil pasti karena gosip tadi pagi, dan itu jelas tak mungkin luput dari perhatian mamahnya.


"Ya mana Setta tahu, pokonya mas sama mbak dipanggil" setelah mengatakan itu, Setta langsung melenggang pergi semakin jauh drai area hotel. Saat dipanggil oleh Sinan, adiknya itu hanya melambaikan tangannya sebagai jawaban.


"Mau kemana itu bocah" ucap Sinan. Memang ini bukan pertama kalinya Setta berada di Bali, namun biasanya setiap berada di sini, adiknya itu tak pernah sekalipun pergi sendirian.


"Ini gimana pak, dipanggil kita"


Sinan menoleh ke arah Anya yang masih berdiri di sampingnya dengan raut wajah antara takut dan khawatir. Jika Anya juga ikut dipanggil, maka sudah pasti hubungan mereka berdua yang akan dibahas.


"Ayo" ajak Sinan. Namun bukannya menyambut uluran tangannya, Anya malah menggelengkan kepala menolak ajakan Sinan.


"Ini seriusan, aku juga dipanggil? Mau ngomong apa nanti pak?"


"Biar saya yang jelasin semuanya. Kamu hanya perlu berdiri di samping saya dan jangan pernah ngelepasin tangan ini" Sinan langsung mengambil tangan Anya dan digenggamnya erat. Saat menemui mereka nanti, pasti akan ada kalimat menyakitkan yang akan Anya dengar, maka dari itu Sinan mengeratkan genggamannya dan tidak akan pernah melepasnya sedikitpun.


"Tapi pak" tahan Anya.


Sinan tersenyum penuh keyakinan saat Anya menatapnya lekat. "Percaya sama saya"

__ADS_1


***


Duduk di depan bu Beti dan Pak Hamdan sebagai kekasih cucu mereka berdua tak pernah Anya bayangkan sebelumnya. Jika duduk bersama hanya untuk sekedar makan, jatungnya tak akan begitu berdebar seperti sekarang. Entah sudah beberapa kali, Anya meremas tangannya sendiri yang sudah mulai berkeringat. Sinan yang tadi berkata akan menggenggam tangannya selama pertemuan terpaksa harus melepasnya ketika pria itu diminta bicara 8 mata dengan Pak Hamdan dan kedua orang tuanya dikamar. Meninggalkan Anya dan bu Beti yang masih duduk di ruang tamu.


"Gugup ya?" tanya bu Beti.


Anya menelan salivanya dan tersenyum kikuk saat mendapat pertanyaan itu dari bu Beti. Biasanya jika hanya berdua dengan bu Beti, Anya akan merasa biasa saja bahkan nyaris nyaman karena sikap wanita ini yang begitu halus padanya. Bu Beti bahkan secara terang-terangan pernah berkata jika Dia menganggap Anya sebagai putrinya sendiri.


"Mau minum?"


Anya menganggukkan kepalanya. Saat bu Beti berjalan menuju pantry, Anya langsung berdiri dan mengekor bu Beti kemanapun dia pergi. Anya takut jika ketemu Anggi dan wanita itu akan ngamuk karena melihat gosip tadi pagi.


"Sudah berapa lama hubungan kalian?" bu Beti menyerahnya satu botol jus jeruk yang langsung di terima oleh Anya.


"Maaf ya bu" untuk saat ini hanya itu yang sangat ingin Anya katakan. Seharusnya Anya hanya bekerja saja dengan baik di perusahaan sebagai tanda terimakasih karena bu Beti menginzinkannya untuk kembali bergabung, bukan malah mengencani cucunya yang membuat heboh satu perusahaan.


Bu Beti mengerutkan dahinya bingung "Maaf untuk apa?"


"Gosip tadi pagi" jawab Anya jujur.


Senyum bu Beti muncul, wanita itu kini duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari Anya "Jatuh cinta itu bukan kesalahan An. Lagi pula Sinan juga sudah suka sama kamu sejak lama"


"Malah ibu seneng karena rencana ibu berhasil. Maaf ya" lanjut bu Beti.


"Maksudnya bu?"


"Kamu tahu Sinan pernah ditinggal nikah kekasihnya?"


Anya menganggukkan kepalanya.


Bu Beti mengambil tangan Anya dan menepuknya pelan "Dia depresi, dan kebetulan ibu ketemu sama kamu, ibu cari tahu tentang kamu. Saat tahu kamu sudah bercerai dan kamu bekerja serabutan, ibu sengaja mengajak kamu bergabung lagi untuk membuat hidup kamu lebih baik, dan barangkali juga bisa membuat Sinan membaik. Makanya saat ibu denger gosip itu, ibu dan bapak tidak komentar sama sekali, karena itu memang tujuan kami"


Anya tak menjawab apapun, hanya mendengarkan sambil balas menggenggam tangan Bu Beti.


"Karena itu Sinan lagi berusaha untuk mempertahankan kamu di depan orang tuanya." lanjut bu Beti lagi.


Suara pintu yang dibuka, membuat Anya dan Beti menoleh ke sumber suara. Sinan tersenyum lebar ke arah Anya seakan baru saja mendapatkan hadiah ratusan juta. Dibelakang pria itu ada pak Hamdan, dan orang tua Sinan yang juga ikut berjalan mendekat. Pak Hamdan tersenyum sedangkan dua orang sisanya menatap sekilas ke arah Anya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

__ADS_1


Anya yang sebelumnya duduk langsung berdiri. Tangannya digenggam erat oleh Sinan hingga membuat pria itu menoleh seketika saat merasa kulit dingin Anya.


"Gimana?" bisik Anya.


"Nanti aku ceritain" jawab Sinan.


Mereka semua kini diarahkan untuk duduk di ruang tengah, lebih tepatnya Sinan, Anya, pak Hamdan, Bu Beti dan ayah Sinan, sedangkan Anggi langsung pergi begitu saja saat tanpa menoleh sama sekali. Anya merasa maklum dengan sikap itu, karena mau bagaimana pun dirinya adalah janda anak 1 sedangkan Sinan adalah pria muda, tampan dan mapan. Ibu manapun jelas akan menolak hubungan ini.


Sinan masih menggenggam tangannya membuat Anya sedikit merasa jauh lebih baik. Tangan besar Sinan begitu hangat berbanding terbalik dengan tangan kecil Anya yang dingin.


"Saya harap kalian berdua masih bisa bersikap profesional saat bekerja. Karena masalah kemarin, maka kamu Anya, coba buat acara dan promosi yang menarik agar produk kita tidak gagal total karena kalah saingan"


Anya menganggukkan kepalanya. Mereka datang ke sini jelas untuk bekerja. Dan Anya nyaris lupa jika Jini meminta untuk berkumpul rapat.


"Saya tidak tahu bagaimana memulainya untuk membahas mengenai hubungan kalian. Karena seperti yang kamu liat An. Mamah Sinan belum setuju"


"Kakek" ucap Sinan. Tangan pria itu semakin erat menggenggamnya.


Kalian tahu bagaimana rasanya di tolak oleh orang tua pacar sendiri? Rasanya masih sama menyakitkan meski Anya sudah menebak sebelumnya.


"Saya dan ibu tidak masalah dengan hubungan kalian. Kami tahu Anya bagaimana, karena itu kami tidak menolaknya. Dan ayah Sinan juga sudah sedikit bisa menerima" ucap pak Hamdan lagi.


Satu yang Anya rasakan sekarang. Rasanya dirinya ingin menghilang sekarang juga. Memiliki anak jelas bukan sebuah kesalahan fatal, namun memiliki anak hasil pemerkosaan jelas berbeda. Sebisa mungkin Anya menahan air matanya agar tak menggenang. Dirinya tak ingin terlihat begitu rendah di keluarga Sinan sekarang.


"Jangan kesinggung sama ucapan bapak ya An" ibu Beti mengusap punggung Anya pelan.


"Saya"


Kali ini semua mata tertuju pada ayah Sinan yang mulai bicara.


"Saya memang sedikit keberatan sebelumnya karena masa lalu kamu. Jika anak kamu adalah bukan anak di luar nikah mungkin—"


"Ayah" potong Sinan.


Anya memegang lengan Sinan untuk menghentikan laki-laki itu menyela ucapan ayahnya.


"Mungkin saya dan istri bisa menerima semua ini. Saya bisa, tapi mamah Sinan butuh waktu. Saya harap kamu bisa mengerti"

__ADS_1


Anya menganggukkan kepalanya "Saya bisa mengerti untuk alasan masa lalu saya. Tapi saya harap agar bapak dan ibu tak menatap sebelah mata putri saya." jawab Anya.


Seperti biasa. Jika dirinya direndahkan maka itu bukanlah sebuah masalah. Tapi jika Arum yang direndahkan, Anya akan menjadi benteng paling depan yang melindungi putri kecilnya itu.


__ADS_2