
ini up ba'da maghrib padahal, dan sampai sekarang masih belun lolos review 😩.
***
Anya tahu, penampilannya kali ini pasti akan menarik perhatian banyak orang. Kabar mengenai dirinya yang berkencan dengan Sinan saja masih belum juga mereda meski sudah lebih dari 1 minggu berlalu. Terlebih para staf yang baru di rekrut seakan penasaran bagaimana sosok wanita yang bisa memikat hati bos mereka yang kadar ketampanannya bisa dibilang di atas rata-rata. Bahkan ada yang secara terang-terangan mendatangi kubikelnya dengan kedok pekerjaan. Selagi tak mengganggu pekerjaannya, Anya tidak merasa keberatan sama sekali.
Tapi pagi ini, Anya tahu dan sadar semua mata kembali menatapnya begitu Anya memasuki area kantor. Bagaimana tidak, Anya yang biasanya datang tanpa menggunakan kaca mata dan topi kini kedua barang itu sudah menempati posisinya masing-masing. Kaca mata bulat bertengger di hidungnya demi menyamarkan kedua matanya, dibantu dengan topi agat sorot pandang orang tak langsung ke arah wajahnya.
Alasannya jelas. Karena tadi pagi Anya berakhir dengan menangis sesenggukkan di dalam pelukan Sinan. Bosnya itu hanya memeluknya tanpa mengatakan apapun, seolah ingin membuat Anya meluapkan semua emosinya.
Setelah menangis dan bersiap-siap untuk kerja, Sinan akhirnya pulang ke rumahnya sendiri meski sebelumnya pria itu memaksa untuk mengantarkan Anya ke kantor.
"Mbak Anya?"
Anya mengangguk sambil meletakan telunjuknya di bibir, meminta Alun tak banyak bicara dan membiarkannya duduk tenang di kubikelnya sendiri.
Namun bukan Alun jika kadar kekepoan wanita ini berkurang. Bukannya duduk di mejanya sendiri, Alun malah mendorong kursi yang wanita itu duduki guna mendekat ke arah Anya.
"Kenapa itu— Aww!" pekik Alun.
Anya langsung melemparkan satu cubitan yang membuat pekikan Alun tak selesai. Wanita ini benar-benar luar biasa hebohnya.
"Kenapa matanya mbak?" tanya Alun lagi, kali ini berbisik. "Mbak habis nangis?"
Anya menahan kaca matanya yang hendak di lepas oleh Alun. Akibat nangis tadi, matanya langsung membengkak padahal Anya yakin tangisannya tak selama itu. Mungkin karena dipeluk Sinan, tanpa sadar Anya menumpahkan segala hal yang menumpuk di hatinya dalam bentuk air mata.
"Mbak nggak direstuin ya?"
Dahi Anya berkerut bingung. "Maksudnya?"
Alun kini malah menepuk punggung Anya pelan seolah tengah menenangkan rekan kerjanya ini "Yang sabar ya mbak. Alun juga pernah nggak direstuin orang tua pacar"
"Mbak nggak ngerti maksud kamu"
"Mbak habis ketemu sama orang tua pak Sinan kan mbak? Soalnya Misya—departemen keuangan, katanya liat mbak sama pak Sinan di restoran, habis itu ada orang tua pak Sinan juga yang datang"
"Ya?!" seharusnya Anya tak perlu terkejut sama sekali karena tahu karyawan disini berasal dari berbagai penjuru jabodetabek. Bertemu di salah satu restoran di Bogor, jelas memiliki kemungkinan banyak bisa dilihat oleh staf lain. "Terus udah heboh nih gosipnya?"
Alun mengangguk "Iya. Makanya liat mbak datang pakai kaca mata sama topi pasti bikin orang-orang di lobi heboh ya?"
Anya benar-benar tak habis pikir dengan semua karyawan di perusahaan ini. Salah sendiri memang karena berkencan dengan cucu pemilik perusahaan. Jika dirinya berkencan dengan sesama kacung perusahaan, pasti tak akan heboh seperti ini.
"Beneran nggak direstuin mbak?" Alun kembali memastikan. Menatap prihatin ke arahnya seolah benar-benar yakin jika Anya ditolak oleh keluarga bosnya itu.
"Balik ke meja kamu gih. Kerja!"
__ADS_1
"Jadi beneran ditolak mbak?" kali ini bukan Alun yang bertanya, melainkan Jini yang entah sejak kapan menguping obrolan mereka berdua. Sama seperti Alun, Jini juga menarik kursinya mendekati meja Anya.
"Kepo" jawab Anya acuh.
Jini berdecak "Ck. Ya kepo lah mbak. Mana liat mata bengkak begitu"
Tawa Anya terdengar "Hai ibu-ibu. Pada balik gih. Ini mata sembab bukan karena hal itu"
Suara dering telfon kini terdengar. Namun sang pemilik meja dengan telfon berdering itu sama sekali tak beranjak dari posisinya. Jini masih menatap penuh ingin tahu ke arah Anya.
"Jadi diterima mbak?" Jini kembali bertanya. Sama sekali tak menghiraukan telfon yang kembali berbunyi.
Ali yang baru saja melewati tim pemasaran 1, terpaksa putar balik hanya untuk mengangkat telfon yang terus berdering. Tak lupa dengan gelengan kepala khas bapak-bapak yang heran melihat kaun hawa bergosip ria.
Anya mengangguk menjawab pertanyaan Jini.
"Kalau diterima kenapa mata mbak bengkak?" Alun berniat menyentuh mata Anya yang langsung di tepis olehnya.
"Soalnya tad—"
"An. Dipanggil pak Sinan suruh ke ruangannya" potong Ali.
Anya ingat betul tadi pagi dia sudah mewanti-wanti agar Sinan tak masuk ke kantor. Melihat kondisi Sinan, membuat Anya meminta agar laki-laki itu beristirahat di apartemen.
Lalu kenapa sekarang ada di sini?.
"Ya kalau Anya dipanggil berarti tuh bos ada di ruangannya" jawab Ali lalu langsung melenggang pergi menuju mejanya sendiri.
Meski bingung Anya tetap bangkit dari kursinya dan berjalan menuju lift tak lupa dengan kaca mata yang masih bertengger di hidung. Mulutnya terkatup rapat guna menahan omelan yang siap keluar sekarang.
Biarkan saja. Begitu sampai di ruangan Sinan. Anya akan mengomeli pria itu panjang lebar.
Saat pintu lift terbuka, Anya langsung berjalan menuju ruangan Sinan. Mengetuk pintu itu tiga kali lalu bersegera masuk begitu mendapat jawaban dari dalam.
Tak langsung mengomel, Anya menutup pintu ruangan Sinan terlebih dahulu "Kamu tu—"
Anya tersentak saat tubuhnya direngkuh tiba-tiba bersamaan dengan pintu tertutup. Bibir Sinan membungkam bibirnya seolah mencegah Anya mengomel panjang lebar.
"Aku mau ngomelin kam—hmmp"
"Aku janji bakal dengerin kamu. Tapi biar aku cium kamu dulu. Aku kangen"
Anya tak menjawab. Tangannya bergerak melingkar di leher Sinan dan membalas ciuman lembut laki-laki ini. Hampir 1 minggu tak bertemu jelas membuat Anya juga merindukan Sinan, ditambah lagi karena kejadian tadi pagi, rasanya Anya benar-benar ingin membuat dirinya sendiri percaya jika Sinan memang berada di sisinya sekarang.
Setelah lama saling mencium satu sama lain. Sinan menjauhkan wajahnya lalu menarik Anya untuk duduk di sofa.
__ADS_1
Dua piring berisi ketoprak kini tersaji manis di atas meja.
"Belum sarapan kan?" tanya Sinan
Anya menganggukkan kepala. "Tapi aku nggak pengin makan"
"Penginnya apa?" tanya Sinan lagi.
"Pengin ngomelin kamu karena seharusnya kamu istirahat di rumah. Bukan malah di kantor"
Sinan tersenyum. Pria itu berpindah posisi duduk menjadi berbaring menjadikan paha Anya sebagai bantal "Kamunya di kantor. Bosen banget aku kalau di apartemen sendirian"
Anya tertawa "Biasanya juga sendirian"
Dari bawah, Sinan bisa menatap sepuasnya wajah cantik Anya "Makanya, nikah sama aku sekarang yuk An."
"Iya"
"Kan Arum juga ud— apa?" Sinan langsung duduk saat mendengar Anya mengiyakan ajakannya.
"Iya, kita nikah"
"Serius?"
Anya mengangguk "Tapi lamar aku dulu"
"Oke. Pulang kerja aku datang ke rumah ngelamar kamu."
Anya membulatkan matanya "Nggak secepat itu juga kali"
"Kenapa? Detik ini suruh ngelamar kamu juga bisa" Sinan tersenyum lebar sebelum akhirnya menarik Anya ke dalam pelukannya.
***
Yey tamat juga cerita ini. Meski galau karena Noveltoon malah ngasih cover baru padahal tamat hari ini. 😟
Terimakasih banyak yang mendukung cerita ini dari bab 1 sampai bab 64 ini. Waw kaget sih karena aku bisa bikin 1 cerita berbab-bab begini. padahal di lapak dulu paling cuman sampai 25 bab. 😘😘
Jadi Terimakasih sampai tumpah-tumpah ke kalian semua. Terimakasih untuk dukungannya selama ini.
Anya dan Sinan akan menyapa kalian dalam bentuk Extra Part ya nanti. Tentang Arun juga nanti akan nyapa kalian di Extra Part.
Ada yang nungguin cerita Ocha nggak sih. Tapi nggak tahu juga nanti bakal up cerita siapa dulu. Soalnya ada niatan mau bikin cerita Arsya juga, kalau nggak tokoh wanita yang tingkahnya kaya Wine 🤭
mohon dukungannya untuk cerita ini juga ya teman-teman tercinta ❤️❤️❤️
__ADS_1