Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Salto Dunia Anya : Arum dan Arun


__ADS_3

Kata orang hidup Arum itu amat sempurna. Cantik, pintar, dari keluarga kaya, orang tuanya menyayanginya dan segala embel-embel lainya yang seakan membuat dirinya bak putri disney di dunia nyata. Namun tak ada yang tahu jika hidup sempurna yang mereka lihat bukanlah yang sebenarnya.


Pintar? itu benar.


Cantik? itu benar.


Kaya? itu benar.


Orang tua menyayanginya? itu belum sepenuhnya benar, karena adakalanya Arum merasa keberadaannya tak dianggap disana saat sedang berkumpul dengan keluarga besar dari pihak ayah.


Arum merasa sendiri di kerumunan banyak orang, dengan tubuh yang tak bisa bergerak sesuka hati karena tangannya digenggam erat oleh mamihnya agar tidak pergi kemanapun.


Dirinya hanya merasa hidup jika di sekolah atau dirumah ibun atau bunda nya. Maka dari itu, Arum berniat untuk menjadi salah satu anggota osis agar waktu disekolah jauh lebih banyak. Seperti sekarang mungkin, setelah berakhirnya festival yang diselenggarakan sekolah untuk memperingati acara ulang tahun sekolah yang ke 23 tahun, Arum masih berada disekolah dikala semua teman-teman sekelasnya yang setingkat pulang, Arum bergabung dengan kakak kelas 11 untuk membereskan kembali lapangan. Apapun akan Arum lakukan asalkan tak pulang ke rumah sebelum matahari terbenam. Setidaknya untuk mengurangi waktu bertemu dengan Arun—adik perempuannya ini.


Namun takdir seolah tak memisahkan mereka diluar jam sekolah, dari jauh Arum bisa melihat Arun berlari dari pagar sekolah menuju tengah lapangan dimana dirinya berada. Teriakannya yang memanggil sebutan Cici menarik perhatian semua orang. Cara tertawa, rambut yang dikuncir dua dan bergoyang seirama dengan lari zig-zagnya membuat siapa saja merasa gemas melihatnya, kecuali Arum yang kini melotot ke arah Arsya yang berjalan dibelakang Arun dengan senyuman tanpa rasa bersalah.


“Cic—”


Dubrak.


Arum menghela nafasnya saat Arun menabrak kursi plastik yang sudah disusun rapi. Meski tubuh Arun kecil seperti anak kelas 4 SD pada umumnya, namun tenaga bocah itu cukup kuat hingga mampu menjatuhkan 3 tumpuk kursi plastik. Bukannya menangis, Arun malah menciumi kursi itu sambil meminta maaf sebelum akhirnya kembali berlari ke arah Cici.


“Kalau gue punya adik kaya Arun, gue kayaknya bakal betah di rumah”

__ADS_1


Arum melirik dingin kearah mbak Beta yang baru saja bicara. Mendapat lirikan dingin dari adik kelasnya, membuat Betka lebih memilih mundur daripada kembali bicara. Meski terkadang ramah, Arum terkenal dengan sifat dinginnya jika suatu hal yang paling wanita itu benci mengusiknya. Tak pandang bulu antara senior ada teman sekelas, pandangan sedingin kutub utara itu akan tetap dilemparkan ke lawannya.


Brakk.


Suara benda yang jatuh membuat Arum kembali menoleh ke arah adiknya. Kali ini karung yang berisi botol bekas yang ditabrak oleh Arun hingga isinya berserakan, bocah kecil itu kembali berlari ke arah Arum membiarkan Arsya dan Aaras yang merapikan kembali akibat ulahnya.


Merasa tak perlu lagi melihat hal apa yang akan kembali Arun lakukan untuk membuat lapangan kembali berantakan. Arum tanpa menoleh sedikitpun ke arah Arun yang masih berlari ke arahnya, langsung membalikan badannya dan berjalan ke arah berlawanan, tak peduli sama sekali dengan suara Arun yang terus memanggilnya.


Ini bukan pertama kalinya Arun datang ke sekolahnya, sudah terhitung ketiga kalinya Arun datang hingga membuat seluruh anggota OSIS hingga teman-teman sekelasnya mengenal siapa sosok Arun. Dan itu benar-benar membuat Arum merasa tak nyaman.


“Cici aku beli tikus putih di sek—”


Dubrak.


“Cici, berdarah. Huaaa” tangis Arun sambil memegangi lututnya yang berdarah.


Ingin rasanya Arum berteriak kencang sekarang. Tempat yang membuatnya merasa hidup hanyalah sekolah, dan kini harus kembali terusik karena kehadiran Arun disini.


***


“Cici”


“Apa?” Arum yang akhirnya memilih untuk tetap tinggal di UKS sampai kedua orang tuanya datang memilih untuk duduk di bangkar yang berhadapan dengan bangkar Arun. Selain lutut dan telapak tangan yang berdarah, kaki Arun ternyata juga terkilir hingga membuat mereka malah berakhir diam di uks.

__ADS_1


“Arun haus”


Meski sambil ngoceh, Arum tetap bangun dari posisi duduknya kemudian membuka sebotol air putih dan memberikannya pada Arun lengkap dengan sedotan didalamnya.


Arun tersenyum lebar, menjadi sakit dengan posisi tanpa mamih atau papih, membuat mereka jauh lebih dekat. setidaknya Arun tahu jika Cicinya ini tak sepenuhnya membencinya.


“Cici”


Arum yang sudah berniat untuk kembali duduk, menoleh ke Arun “Apa lagi?”


“Arun lapar, pengin roti”


Bersabar saja. Arum kembali mendekati meja lalu mengambil roti dan memberikannya kepada Arun. Namun bukannya diambil, Arun malah menatap Cicinya dengan tatapanan penuh harap yang membuat dahi Arum berkerut tak suka “Apa lagi sih? jangan bilang kamu minta disuapin. Jangan aneh-aneh!!” jawab Arum ketus.


Meski sudah takut duluan karena mendapat tatapan tak suka lengkap dengan nada dinginnya. Arun masih tetap melancarkan rencananya takut-takut “Suapin. Tangan Arun kan lecet Ci. Perih”


Ada helaan napas kesal Arum yang terdengar saat melihat kedua tangan kecil yang ditunjukkan ke arahnya oleh si empunya. “Manja banget sih!” Arum duduk didepan Arun dan mulai menyuapi adiknya itu roti.


Disisi lain, Arsya yang sejak tadi sudah berada di depan ruang UKS tersenyum melihat interaksi keduanya. Seperti yang ia duga, meski wajah Arum terlihat dingin, setidaknya dia masih memiliki kehangatan sebagai seorang kakak.


...****************...


Inilah Arum dan Arun. Arum dinginnya udah kaya kutub utara. Arun slengean dan doyan nabrakin barang-barang.

__ADS_1



__ADS_2