
Suara deburan ombak menyapa langkah-langkah kecil Arum dan Arun yang berlari dengan tawa menggema. Saling berkejaran untuk sampai diujung batas pantai dengan suara teriakan keduanya yang mengalahkan deburan ombak. Kecipak-kecipuk air membuat kaki keduanya basah namun menghasilkan rasa bahagia yang ada.
Mungkin, mungkin kelak Anya akan melihat pemandangan seperti itu saat Arun sudah bisa berjalan dan berlari. Membayangkan hal itu rasanya membuat sudah tak sabar hingga hari itu datang.
Jika kembar tak sakit, tawa Arum pasti sudah menggema menyapa laut luas, tidak seperti sekarang yang hanya diam sambil terus berjalan tanpa ekspresi. Entah kesal atau senang, tak bisa terbaca dari raut wajahnya.
Dibelakang mereka, ada Sinan yang ikut mengekor sambil membawa sekotak mainan. Alasannya katanya dia akan bermain dengan Arum di pantai hingga berhasil memperbaiki mood putri kecilnya itu.
"Cici seneng nggak?" Anya melirik sebentar ke arah Arum. Tadi pagi, jelas ada drama penolakan yang dilakukan oleh gadis kecil ini. Hingga akhirnya setuju untuk ikut ke pantai setelah Anya menelfon Ocha dan Setta untuk datang ke pantai juga.
"Aunty Ocha sama Aunty Setta mana?" tanya Arum. Masih enggan untuk melepaskan sepatu dan merasakan lembutnya pasir pantai. Arum masih menggunakan sepatu kesukaannya. Mungkin saat nyebur ke air, Arum pasti akan tetap menggunakan sepatunya.
"Sebentar lagi datang" jawab Anya. Ia menggelar tikar berukuran sedang dan mendudukkan Arun di kursi bayi yang memang sengaja dibawa. Mungkin bukan tawa Arum yang menyapa laut sekarang, namun ocehan Arun yang menyapanya semenjak mereka memarkirkan mobilnya.
"Cici mau main air dulu atau kita buat istana pasir?" Sinan meletakan satu kotak di pasir lalu membuka tutupnya. Isinya alat-alat untuk membuat istana pasir dan ada juga pelampung kesukaan Arum.
"Cici mau duduk aja papih"
Anya mengangkat bahunya sendiri saat Sinan malah memandang ke arahnya karena jawaban Arum.
Tak menyerah. Sinan duduk di samping Arum lalu mulai membuka kotak bekal yang mereka bawa. Sandwich, buah, nasi goreng sosis, sudah tersaji manis dengan dekorasi bergambar doraemon yang berada di atasnya. Doraemon adalah kartun yang paling Arum sukai.
"Kamu dekor begini sendiri Yang?" Anya jelas ingat jika dirinya hanya membuat makanan tanpa dekoran kartun seperti itu. Anya memasukannya ke kotak bekal lalu pergi mandi. Tak sedikitpun berpikir untuk meletakan bentuk doraemon di atasnya.
Sinan menganggukkan kepalanya "Wah Cici, ada doraemon" seru Sinan.
__ADS_1
"Cici nggak laper. Doraemonnya juga jelek" bukannya memakannya, Cici malah kembali menutup bekal itu.
Anya yang rasanya memang sudah berada ditingkat paling ujung kesabarannya. Anya menahan tangan Arum yang sedang menutup bekal sisanya. Hingga berakhir menarik tangan Arum yang malah hendak melanjutkan kegiatan menutup semua bekal.
"Cici tahukan, itu bukan sikap yang bagus?" tanya Anya dengan nada yang sudah berubah.
Jika terus dibiarkan, maka percayalah sikap putrinya ini akan semakin buruk kedepannya.
Udah biarin aja sih. Kan masih kecil.
Jika ada yang mengatakan hal itu kepadanya sekarang. Anya akan membalasnya dengan kalimat 'Karena masih kecil, makanya harus dididik sekarang agar sikapnya tak semakin menjadi parah kedepannya.
"Cici nggak baik ya begitu! Abang sakit, makanya abang nggak bisa ikut. Cici nggak boleh marah karena hal itu!" Anya menepis tangan Sinan yang berniat untuk menghentikan aksinya mengomeli Arum.
"Cici dengar mamih nggak?!"
"Sedikit sedikit Cici marah. Sedikit-sedikit Cici marah. Cici nggak boleh seperti itu."
"I..iya"
Anya menutup matanya sebentar guna mereda emosinya. Selama menjadi sosok ibu, baru kali ini Anya mengomeli Arum sampai mata putri kecilnya itu berkaca-kaca. Dulu saat sedang marah, Anya akan langsung berhenti saat bibir Arum mengerucut.
"Cici kalau mau sesuatu, bilang sama mamih papih. Kalau kesal sesuatu, bilang mamih papih. Jangan diam saja!!"
"Iya cici tahu. Huaaaa"
__ADS_1
Dan tangis Cici yang menyapa laut pagi ini. Anya hanya menghela napasnya lelah, diberikannya Arun kepada Sinan lalu mengambil Arum dan dipeluk erat.
Saat berada di pelukannya, tangis Arum semakin pecah. Ini jelas lebih baik, karena setidaknya Arum menumpahkan semua rasa kesalnya dengan tangisan. Tak seperti kemarin-kemarin yang hanya diam dengan ekspresi datarnya.
"Cici ngerti kan?" tanya Anya dengan nada lembut.
Ada anggukkan kecil yang bisa Anya rasakan. Menjadi seorang ibu memang tidak lah muda. Saat-saat seperti ini, Anya rasanya ingin pulang kampung dan memeluk ibu Aisyah.
Cukup lama Arum menangis dan enggan untuk dibujuk bermain air oleh Sinan. Sebelum akhirnya Ocha dan Setta datang dan berhasil membujuk Arum untuk bermain air. Ada sebuah tawa yang terdengar dengan raut wajah bahagia yang Anya liat dari tempat duduknya.
Arum tertawa senang sambil bermain air dengan Ocha dan Setta. Sedangkan Sinan menurunkan Arun di pasir pantai untuk melatih sensoriknya. Anya hanya diam sambil merekam ekspresi bahagia kedua putrinya dalam ingatan. Meyakinkan diri jika kelak dirinya akan mampu membuat senyuman kedua putrinya tak akan pernah pudar. Menciptakan rasa bahagia didalam keluarga kecilnya.
Jika tak bisa seutuhnya didapatkan dari keluarga besar, setidaknya didalam keluarga inti yang dirinya dan Sinan bangun akan membuat dua putri kecil meraka merasa nyaman dan bahagia.
Selalu. Anya berjanji atas hal itu.
Masa kecil yang tak ia dapatkan dengan kasih sayang sosok ayah, tak akan pernah terulang kepada Arum dan Arun. Sinan akan menjadi benteng besar keduanya agar tetap aman.
"Aku harap kamu tetep terus senyum secantik itu" bisik Sinan yang kini sudah berdiri didepannya sambil mengulurkan tangan.
"Pasti" jawab Anya lalu meraih tangan Sinan dan ikut bermain air bersama.
...****************...
...TAMAT...
__ADS_1