
"Ngapain ikut ke sini?"
Pertanyaan itu tertuju kepada Sinan yang jelas-jelas beberapa menit yang lalu sudah Anya peringatkan agar istirahat dan tidak turun dari ranjang selagi Anya memasakan sesuatu yang bisa Sinan makan.
Tahu jika pria ini belum makan dari pagi meski Anggi membawa bubur Manado kesukaan Sinan, Anya langsung berinisiatif untuk membuat makanan lain. Sinan bahkan tidak menyentuh bubur itu sama sekali dan membiarkannya masih utuh di dalam bungkusan.
"Bosan di dalam. Kemarin seharian tiduran di kamar. Soalnya yang dibutuhin ngga datang-datang padahal udah di telfon terus-terusan"
Sindiran halus yang keluar dari mulut Sinan membuat Anya berdecak tak suka "Nyindir nih?"
Tawa Sinan terbit bersamaan dengan pria itu yang berjalan mendekat lalu memeluk dari belakang. Tangan kekarnya melingkar dengan mulus di perut Anya.
"Kalau sukanya nyindir, nggak usah deket-deket. Belum halal" Meski mulutnya menolak, namun Anya tetap fokus dengan kegiatan memasaknya tanpa melepaskan tangan Sinan yang melingkar di perut.
"Makanya pengin cepat di halalin tapi yang dihalalin nggak mau. Kan nyebelin"
Anya memotong wortel dalam bentuk lidi "Iya yah. Nyebelin banget itu orang"
"Banget. Di telfon berkali-kali juga nggak pernah diangkat. Di chat juga nggak di bales"
"Wah. Itu mah ngeselin banget. Kalau aku jadi kamu, aku bakal ninggalin itu orang"
Bukan tidak tahu siapa yang tengah mereka bahas sekarang. Anya jelas tahu jika Sinan tengah menyindirnya yang tak menjawab telfon sama sekali 5 hari ini. Namun rasanya tidak akan menyenangkan jika Anya langsung mengakhiri obrolan ini. Hitung-hitung membiarkan Sinan melupakan unek-unek nya 5 hari lalu.
"Jangan dong. Untung sih saya sayang banget sama itu perempuan"
Dari pantulan pintu kulkas, Anya bisa melihat Sinan yang masih memeluknya ini tersenyum lebar.
"Ini nggak mau lepas? Aku susah geraknya kalau kamu nempel kaya cicak begini" keluh Anya. Karena posisi Sinan yang masih memeluknya bahkan saat Anya bergerak untuk mengambil bahas masakan yang lain, membuat Anya sedikit kesulitan bergerak.
"Nggak mau. Masih kangen" bisik Sinan tepat di telinga Anya.
"Lah katanya tadi sayang sama perempuan yang nggak mau angkat telfon kamu 5 hari lalu. Jadi jangan deket-deket, aku nggak mau jadi yang ke dua"
Bukan hanya senyuman yang terbit. Anya bisa mendengar Sinan tertawa sekarang. "Ssst. Biarin aja. Kan nggak ada dia. Jadi aku mau manja-manja dulu sama yang lagi masak"
Anya memukul pelan kepala Sinan dengan irus "Idih playboy. Aku penasaran, emang dia itu siapa?"
"Pacar saya"
"Namanya?" Semur hidup ini adalah pembasahan terabsurd yang pernah Anya bahas selain dengan Wine dan Ocha. Jika dengan Wine maka tidak ada pembahasan yang serius sama sekali seperti sekarang ini.
"Anya Aliska Budiman" jawab Sinan.
Anya menghentikan pergerakan tangannya yang tengah mencuci irus yang ia gunakan untuk memukul kepala Sinan barusan "Kok aku kayanya kenal nama itu ya. Kaya nama aku"
__ADS_1
Tawa Sinan kembali pecah. Pria itu pasti tak menyangka jika Anya bisa diajak bercanda seperti ini. "Lah emang."
"Katanya aku yang kedua"
"Itu kan kamu yang ngomong. Bukan aku."
"Oh iya yah" Anya ikut tertawa.
"Udah ah. Kamu gemesin banget. Takut nanti saya khilaf, bisa gawat"
Sinan melepaskan belitan tangannya di perut Anya dan kembali duduk di meja makan. Memandangi wajah cantik dan serius wanitanya yang tengah masak sepertinya akan menjadi candu baginya kelak. Sinan sudah tak sabar untuk menikahi Anya segera.
"An" panggil Sinan pelan. Karena terlalu senang Anya mendatangi unit apartemennya, Sinan sampai lupa jika ada kemungkinan wanita ini bertemu dengan orang tuanya di jalan. Jarak Anya datang dan orang tuanya pergi hanya sekitar 5 menit, maka mustahil jika mereka tidak berpapasan.
"Hmm?"
"Boleh tanya sesuatu?"
"Kenapa? Kamu mau bilang kamu cinta sama aku kaya pas di pintu tadi?"
Sinan tersenyum. Meski Anya menjawabnya tanpa menoleh sama sekali dan fokus mengaduk sup iga, Sina bisa melihat senyuman terbit di wajah jelita wanitanya.
"Kalau itu mah aku bisa ngucapin tiap hari ke kamu. Tinggal nunggu jawaban kamu aja. Aku bi—"
Berbanding terbalik dengan ekspresi Anya yang masih datar tanpa rona merah sama sekali di pipinya. Sinan yakin pipinya pasti sudah merah seperti terbakar. Mendengar kalimat itu membuat hati Sinan berbunga-bunga.
Mengenai pertanyaan tentang berpapasan dengan kedua orang tuanya. Sepertinya akan Sinan pending dulu agar tidak merusak suasana sekarang.
"Sumpah pengin gue cium itu bibir. Gemesin banget" ucap Sinan lirih agar tak terdengar oleh Anya.
"Kenapa? Kamu ngomong apa?"
"Aku laper" bohong Sinan.
"Oke. Sebentar lagi selesai."
"Aneh tadi nggak laper. Eh ngeliatan masakan kamu aku jadi laper"
"Bagus kalau gitu. Cuci tangan dulu. Nanti makanannya aku siapin di meja. Makan sambil nonton ya?"
"Oke" Sinan mengangguk dan langsung mencuci tangannya di wastafel.
5 menit kemudian, makanan sudah tersaji di atas meja. Anya sengaja tak masak bubur seperti saat Sinan sakit dulu karena pria didepannya ini berkata tidak ingin makan bubur.
"Aku makan ya"
__ADS_1
Anya mengangguk "Makan, terus minum obat"
"Oke"
Untuk sesaat tak ada lagi yang bicara. Mereka makan dalam diam sambil menatap layar televisi yang kini tengah menayangkan salah satu film barat. Sebelum akhirnya Anya menoleh ke arah Sinan dan laki-laki ini balik menoleh ke arahnya.
"Aku ketemu mamah kamu tadi" Anya tahu ini adalah jawaban atas pertanyaan yang sejak tadi ingin Sinan tanyakan kepadanya. Tak ingin merusak suasana, Anya meletakan sepotong telur di atas sendok Sinan.
"Aku tahu itu yang mau kamu tanyakan dari tadi kan? Iya. Aku papasan sama orang tua kamu di lift tadi" lama melihat Sinan yang tak kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut. Anya mengambil sendok Sinan yang sudah berisi nasi dan telur lalu menyuapkannya ke mulut Sinan.
"Terus?" tanya Sinan sebelum menerima suapan Anya.
"Mamah kamu pura-pura nggak liat aku"
"Kalian nggak—?"
"Berantem saling cakar maksud kamu?"
Anya tersenyum saat melihat anggukkan kepala Sinan.
"Sudah aku bilang mamah kamu pura-pura nggak liat aku"
"Kalau ayah?"
"Dia nahan pintu lift karena aku bukannya langsung keluar malah berdiri kaya patung"
"Kamu gugup?"
Kali ini Anya yang menganggukkan kepala."Karena itu. Biar aku nggak gugup lagi. Gimana kalau hari Sabtu nanti kita makan malam bareng orang tua kamu?"
Sinan yang berniat untuk mencomot telur dengan garpunya terkejut bukan main. Bahkan garpu ditangannya sampai jatuh dan menimbulkan suara dentingan pelan. "Ya?"
"Makan malam sama orang tua kamu. Sambil bawa Arum" ulang Anya.
Padangan Anya kini kembali tertuju ke arah Tv. Perihal pertengkarannya dengan Anggi di Bali kemarin, Sinan belum mengetahui sama sekali. Anya juga tak berniat untuk menceritakannya. Jika ingin tetap bersama Sinan, maka Anya juga harus berusaha agar orang tua Sinan terutama Anggi bisa menerima keberadaan Arum.
Asal tak ada lagi kalimat seperti kemarin. Anya bisa mencoba untuk kembali melangkah maju.
***
Udah mau ditamatin, eh ini cerita level karyanya naik. jadi bimbang hayati.
oh ya setiap hari Senin kalian dapat Vote loh, kali aja mau dikasih ke Anya. Author siap menerima dengan tangan kebuka lebar kaya jalan tol 🤭
__ADS_1