
“Jangan bilang lo semalem ke rumah dia?!”
Anya mengalihkan pandangannya ke benda apapun yang bisa ia lihat selain mata Ocha dan Wine sejak pagi terus saja mengekor kemanapun dirinya bergerak. Bahkan saat dirinya mandi kedua makhluk kasat mata itu duduk didepan pintu dan terus mengulangi pertanyaan yang sama.
Anya menghindar. Tentu saja, karena belum juga genap satu minggu dari drama tangis Anya yang membuat dua orang ini mengumpat karena tahu kalimat tak pantas Anggi yang ditunjukkan untuk princess satu-satunya mereka. Wine bahkan berniat untuk mengunjungi rumah Anggi dan memberikan sumpah serapah pada wanita itu. syukur saja ada Ocha yang sebelumnya juga mengumpat namun segera mengingatkan Wine jika wanita yang mereka umpat itu sudah berumur.
“Lo datang ke sana dan maafin dia?” kali ini Ocha yang bertanya. Sambil menggendong Arsya yang entah kenapa hari ini begitu menempel kepada aunty nya. Sedangkan Arka kini tengah pasrah membiarkan Arum mewarnai kuku-kuku jarinya ditemani dengan Aaras yang menertawakan sang ayah di ruang tengah ini.
Berbeda dengan Ocha yang kini memilih duduk di meja makan dengan Arsya yang duduk di pangkuannya. Wine masih saja mengekor kemanapun Anya bergerak, menempel seperti cicak persis kaya Sinan semalam. Bedanya Anya membiarkan Sinan karena pria itu tak terus bicara, namun Wine terus saja nyerocos layaknya jalan tol yang lancar.
“Lo nggak inget ucapan ibunya dia?” tanya Wine lagi.
“Inget” akhirnya Anya memilih untuk menjawab karena telinganya terlalu bising dengan ocehan Wine.
“Kalau masih inget kenapa setuju?” Ocha menepuk pelan-pelan punggung Arsya yang sudah mulai mengantuk.
Jadi ceritanya semalam setelah bicara mengenai kunjungan ke rumah orang tua Sinan. Anya tak tega jika harus meninggalkan Sinan sendirian dalam kondisi badan yang masih demam, namun tidak mungkin juga menginap karena Arum menunggunya di rumah. Ibu pasti akan curiga dan bertanya panjang lebar dimana Anya akan menginap, keluar kota sedikit mustahil jika dadakan seperti ini. Maka dari itu dengan nyali seujung jarum, Anya membawa Sinan kerumahnya agar menginap. ibu menerimanya dengan tangan terbuka, tapi tidak dengan kedua sahabatnya yang langsung mendatangi rumahnya begitu melihat ibu pergi ke pasar pagi-pagi diantar oleh Sinan.
“Dia sakit” jawab Anya.
Satu pukulan melayang tepat di punggung Anya. Siapa lagi jika bukan Wine yang melakukannya “Kalau sakit itu di bawa ke rumah sakit. Bukan dibawa ke sini gelo!!”
“Dia nggak mau ke rumah sakit. Ya mau gimana lagi, gue ajak pulang lah”
“Lo masih suka sama dia?” tanya Ocha.
“Masih. Wine yang ditinggal 1 tahun aja masih suka sama bang Arka, lah gue baru 5 hari” Anya akui, perasaan itu masih ada hingga sekarang. Sejak kejadian naas dimasa mudanya, Anya tak pernah sedikitpun memiliki perasaan dengan sosok laki-laki manapun, dengan Danu yang tinggal serumah selama 1 tahun pun, Anya tak memiliki perasaan apapun pada pria itu. Hatinya seolah tertutup rapat dan kepalanya memiliki mindset jika semua laki-laki adalah sama. sama-sama bre*sek seperti yang lainnya.
__ADS_1
“Kalau Wine bisa kembali lagi sama bang Arka, gue juga boleh kan Cha?”
Ocha menganggukkan kepala. Semua kembali ke keputusan Anya sendiri.
“Kalau bang Arka bisa meyakinkan bude lo, gue juga mampu ngeyakinin ibunya Sinan kan Win?” kali ini pandangan Anya tertuju pada Wine yang berdiri di sebelahnya. Cukup lama ibu dua anak itu tak menjawab pertanyaan Anya barusan, diam dengan tatapan lurus ke arah Anya seolah mencari tekad kuat di mata sahabatnya ini.
“Lo tau kan, mas Arka laki-laki dan Lo perempuan?. Gue nggak terima kalau Arum dipandang sebelah mata di keluarga itu” jawab Wine.
“Itu nggak akan terjadi kok mbak, Tenang aja, saya bisa menjamin hal itu”
Anya, Wine, dan Ocha menoleh ke sumber suara. Sinan berdiri di ambang pintu perbatasan antara dapur dan ruang tengah. menjinjing dua kantong plastik besar berisi bahan masakan sedangkan di sampingnya ada Arka yang menjinjing hal yang sama sambil menggelengkan kepalanya karena ucapan istrinya barusan.
“Jangan menyulitkan orang lain yang ingin menikah dek” Arka meletakan belanjaan ibu di meja makan lalu mengambil alih Arsya yang tidur di pangkuan Ocha.
“Ya bukan begitu mas. Aku sayang aja sama Arum jadi pengin yang terbaik buat Arum”
“Emang lo tega ngeliat Arum diperlakukan nggak adil nanti” tanya Wine pada Ocha.
“Ya nggak lah”
“Ya udah. Kalau Anya mau nikah silahkan, asal tanda tangani surat adopsi Arum buat gue” jawab Wine.
“Gila” timpal Anya.
Sinan yang sejak tadi masih berdiri di pintu kini berjalan masuk ke dapur dan meletakan belanjaan di meja makan. Ia menggenggam tangan Anya erat seolah ingin menunjukkan jika dirinya bisa melindungi dua wanita sekaligus kepada ibu-ibu yang mengaku punya tenaga dalam dan mbak berwajah pucat di depannya ini. “Saya berjanji akan menjaga Anya dan Arum seumur hidup saya mbak.”
“Dengan cara?” tanya Wine tanpa memperdulikan colekan Arka yang memintanya untuk berhenti. Biar saja dirinya sedang cosplay jadi ibu mertua galak sekarang.
__ADS_1
“Saya akan meyakinkan orang tua saya sebaik mungkin. Dan jika itu tidak berhasil, saya akan menjadi tameng terdepan untuk melindungi keduanya”
“Mas gentleman banget kaya kamu” bisik Wine pada Arka. Tak lupa dengan cengiran lebar mengakhiri cosplay nya sebagai ibu mertua galak.
Ocha yang melihat itu hanya memutar bola matanya jengah. Jika dirinya punya pacar nanti, sepertinya Ocha akan memilih menyembunyikannya dari Wine kelak.
“Jadi saya diterima nih mbak?” tanya Sinan polos.
Wine menganggukkan kepalanya “Bisa, bisa”
Melihat anggukkan kepala Wine, membuat Sinan tersenyum lebar, ia mengambil tangan Wine lalu salim dan terus seperti itu juga pada Ocha dan Arka.
“Buset gue berasa jadi ibu mertua beneran” ucap Wine.
suara tepuk tangan dari arah pintu membuat semua orang di dapur menoleh ke sumber suara. Ibu berdiri di sana dengan tangan yang terlipat di dada. “Main ibu mertuanya sudah selesai? sekarang ada ibu mertua beneran disini. Kalian bertiga cepat masak!!. Sinan ikut tante”
Ibu tahu ucapan Anggi tentang Arum. Dan Sinan tak tahu menahu tentang hal itu.
**
maaf ya kalau ada typo. Nggak aku cek lagi soalnya.
bagi yang belum tahu Wine. ada ceritanya juga di sini ya.
__ADS_1