Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 51 : Tamparan akibat ucapan


__ADS_3

"Mbak Anya"


Anya mengerutkan keningnya sambil terus berjalan mendekati Alun yang berdiri tepat didepan pintu kamar hotel. Wanita itu menggerakkan tangan memintanya untuk segera mendekat.


Setelah dari kamar bu Beti, Anya dan Sinan berpisah dilantai 10, kamar Sinan ada dilantai 10 sedangkan kamarnya ada di lantai 5.


"Kok diluar? Dari mana?" Anya berdiri tepat di depan pintu. Tangan yang sudah menyentuk knop pintu setelah menempelkan kartu akses dicekal oleh Alun yang menggelengkan kepalanya pelan.


Jika seperti ini, sudah bisa dipastikan jika Jini pasti berubah layaknya nenek ronggeng saat tak menemukan Anya di kamar setelah wanita itu keluar dari kamar mandi. Jadwal rapat harusnya diadakan 1 jam setelah mereka sampai, tapi nyatanya Anya pergi hingga hampir 2 jam lamanya. Sudah pasti Jini uring-uringan apa lagi jika membayangkan Anya pergi untuk bertemu dengan Sinan.


"Jini ngamuk ya? Mbak lupa" jawab Anya.


Alun menarik tangan Anya agar berdiri sedikit jauh dari pintu "Mbak habis ketemu sama pak Sinan?"


Anya mengangguk "Iya. Tadi ketemu sama bu Beti juga"


"Sama ibu Anggi juga"


Anya mengangguk. Meski tak saling bicara, Anya tetap bertemu dengan Anggi di kamar bu Beti tadi.


"Dia ada di dalam mbak" lanjut Alun.


Mata Anya jelas melotot seketika. Terkejut karena wanita yang enggan untuk bicara dengannya tadi kini malah repot-repot datang hingga ke kamarnya. Tak ada lagi alasan yang bisa Anya temukan dari kedatangan Anggi, kecuali wanita itu pasti akan marah-marah di depannya.


"Ibu Anggi?"


Alun mengangguk "Nggak usah masuk ya mbak. Mukanya nggak enak banget soalnya"


Anya menghela napasnya. Dirinya jelas harus tetap masuk dan menemui Anggi guna memutuskan untuk terus melanjutkan hubungan ini atau tidak. Menghindar tak akan pernah menyelesaikan masalah.

__ADS_1


"Mbak" Alun kembali menahan tangan Anya yang hendak masuk.


"Nggak sopan kalau nggak nemuin ibu dari bos kita Lun"


"Tapi mbak?"


Anya tersenyum lalu mendorong pintu. Begitu pintu terbuka muka kesal Jini yang Anya liat pertama kali. Pandangannya kini beralih ke arah Anggi yang langsung mendekatinya dan —.


Plakk.


Satu tamparan mendarat mulus di pipi kanan Anya. Jini dan Alun yang melihatnya terkejut bukan main, sama seperti Anya yang kepalanya menoleh ke kiri dan pipinya terasa panas dan kebas seketika.


"Ini maks—"


Belum juga menyelesaikan kalimatnya. Anya mendapat satu tamparan lagi ditempat yang sama. Posisi berdirinya bahkan sempat bergeser sedikit karena sekencang itu tamparan Anggi di wajahnya.


"Mbak" Alun langsung menahan tubuh Anya yang oleng sedikit. Sedangkan Jini menahan tangan Anggi yang hendak kembali melayangkan tamparannya.


"Kamu nggak tahu apa-apa Jin. Minggir. Atau saya pecat kamu" ancam Anggi.


Jini yang memang memiliki mental kepemimpinan layaknya seringan kapas langsung menyingkir.


Tangan Anggi kembali melayang namun kali ini langsung di cekal oleh Anya sebelum mendarat ke pipi untuk ke tiga kalinya.


"Bisa tolong jelaskan alasan apa yang membuat saya berhak mendapat tamparan ini?" tanya Anya. Kesabarannya benar-benar sudah diambang batas. Jika saja wanita di depannya ini bukanlah ibu Sinan, sudah dipastikan Anya pasti akan balik menamparnya.


"Mengencani Sinan. Kamu terlalu berani untuk menyentuh anak ku. Dulu kamu ngambil alih posisi saya di perusahaan dan sekarang kamu mau ambil anakku juga?"


"Sayangnya saya nggak merasa bersalah untuk hal itu. Saya suka sama Sinan begitu pula sebaliknya"

__ADS_1


Anggi kini tertawa sarkas. Matanya masih menatap nyalang ke arah Anya. "Ga tahu diri banget kamu ternyata ya. Kamu janda anak satu dan anak saya pria mapan di usianya yang masih muda. Dia juga tampan. Kamu pikir sebanding dengan diri kamu?"


"Dimana letak kesalahannya mbak? Janda satu anak tetaplah manusia yang bisa untuk jatuh cinta. Bukan sampah yang perlu dimusnahkan dari muka bumi"


"Kamu merasa diri kamu masih berharga jika mempunya anak dengan status seperti itu?"


Jika Anggi sampai mengatakan hal yang paling tidak ingin Anya dengar. Maka percayalah dirinya tak mampu lagi menahan tangan agar tak menampar wanita di depannya ini.


"Putus dengan anak saya. Buat alasan apapun. Karena Sinan menolak untuk putus hubungan dari kamu" lanjut Anggi.


Bukan hanya Sinan saja yang berusaha mempertahankan hubungan mereka. Anya juga perlu melakukan hal yang sama "Jika pak Sinan menolak, maka saya juga menolaknya"


"Jangan kurang ajar kamu ya!!" pekik Anggi.


"Apa yang bisa anak saya dapatkan dari kamu? Barang bekas? Bahkan jebol sebelum halal hingga menghasilkan anak?!" lanjut Anggi.


Tangan Anya mengepal seketika. Dari tempatnya berdiri Anya bisa melihat Alun dan Jini kembali terkejut dengan ucapan Anggi barusan. Hal yang selama ini paling ingin Anya kubur kini kembali diungkit.


"Maksud ibu?" tanya Jini.


"Anak hasil pemerkosaan tak akan pernah di terima di masyarakat" jawab Anggi.


Tangan Anya yang sejak tadi mengepal kini melayang tepat di pipi Anggi hingga membuat wanita paruh baya itu tersungkur ke tanah. Status sebagai anak pemilik perusahaan sekaligus ibu dari bosnya ini hilang seketika dimata Anya begitu Anggi mengatakannya. Jika sudah menyangkut Arum maka Anya akan berubah menjadi setan yang penuh amarah.


"Jaga mulut kamu!!" pekik Anya.


Alun dan Jini membekap mulut mereka masing-masing agar tak membuat kegaduhan yang kali saja bisa didengar hingga luar kamar.


"Jaga mulut anda jika tak ingin aku cabik-cabik" ancam Anya lalu berjalan masuk ke kamar mandi dan membanting pintunya.

__ADS_1


***


__ADS_2