
"Aku laper" ucap Anya setelah menjauhkan diri dari Sinan. Kakinya yang sudah terlalu lama berdiri ditambah perutnya yang terasa lapar membuat Anya berjalan memasuki area dapur. Meninggalkan Sinan yang kini malah ikut mengekor ke dapur.
"Kenapa senyam-senyum begitu?" tanya Anya. Sinan yang kini duduk disalah satu kursi meja makan menatapnya sambil tersenyum. Tidak ada yang lucu, tapi pria itu terus tersenyum seakan ada hal baik yang perlu dirayakan.
"Nggak ada" jawab Sinan. Ia kini bergerak mendekati Anya, lalu membimbing Anya untuk duduk di tempatnya. " Kamu duduk aja, biar aku yang masak"
"Emang kamu bisa masak?"
"Bisa dong" Sinan membuka kulkas dan mulai mengeluarkan satu per satu bahan masakan "Tinggal sendiri tapi nggak bisa masak itu hanya akan bikin penyakit"
Anya tersenyum. Bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan mendekati Sinan "Ayo masak bareng, biar cepet selesai"
"Kalau cepet selesai, nanti kamu cepet pulang juga dong?"
"Apaan sih pak"
Keduanya tertawa bersamaan. Hal yang Anya syukuri adalah menerima Sinan di waktu yabg tepat, tidak terlalu cepat dan tidak juga terlalu lambat yang mungkin akan berakhir dengan penyesalan.
Hanya butuh waktu sekitar 90 menit, 3 jenis lauk pauk sudah tertata rapih di meja makan. Sinan duduk di kursi setelah menerima satu mangkuk nasi dari Anya.
Anya yang juga membawa satu mangkuk berisi nasi duduk di depan Sinan. Keduanya melahap makan malam mereka yang sudah terlambat karena jam sudah menunjukkan pukul 22.00.
"Masih ada sekitar 30 menit lagi sebelum aku pulang, ada yang kamu tanyakan?" tanya Anya sebelum menyuap makanan.
Sinan yang tengah menggigit tempe goreng kembali tersenyum "Contohnya tentang?" tanya Sinan balik. Sejujurnya Sinan jelas paham arah bicaraan Anya sekarang.
"Tentang apa yang terjadi pada ku dulu? Atau tentang hal yang buat hubunganku dengan ayah amat tidak baik?"
Sinan mencomot satu ayam goreng "Aku udah tahu semuanya dari Mike. Sampai alasan kedua orang tua kamu yang bercerai, aku juga tahu"
"Bisa sajakan versi ceritanya berbeda?"
Sinan kini meraih tangan Anya di atas meja dan di genggamnya erat "Untuk apa aku tanya jika hal itu membuat kamu mengingat semua hal menakutkan itu. Fokus ku sekarang adalah menjaga kamu agar nggak di curi sama Radit"
Anya menopang kepalanya dengan satu tangan yang bebas "Beuh.. Sok cool banget bapak ini"
Sinan tertawa " Lah kok manggilnya jadi bapak lagi sih?"
"Ya terus?"
__ADS_1
"Aku, kamu, kaya tadi."
"Oke" Anya menyetujuinya begitu saja.
"Atau manggil sayang juga boleh"
Anya hanya tersenyum sambil memutar bola matanya. Keduanya kini kembali makan sambil berbagi kisah masing-masing. Sinan menceritakan kisah kondisinya yang ditinggal nikah dulu sama Anya sebelum menyatakan perasaannya, dan Anya menceritakan segala hal mengenai Arum dan ke dua sahabatnya.
Nada dering panggilan yang masuk ke ponsel Anya, membuat obrolan mereka terhenti sejenak. Anya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang tengah dimana ponselnya berada.
Nama Wine yang kini tertera di layar ponselnya. Sudah terlalu malam dan Anya belum juga kembali, ke dua sahabatnya itu pasti penasaran dimana dirinya berada sekarang.
"Halo Win?"
"Dimana lo?"
"Sebentar lagi aku pulang". Tak nyambung memang jawaban yang di berikan dengan pertanyaan Wine barusan. Hanya saja jika Anya menjawab sedang di rumah Sinan maka dirinya sama saja melemparkan diri ke dalam jurang.
" Kira-kira bisa sekarang nggak balik ke rumah?"
"Kenapa?" Anya kembali berjalan menuju ruang makan.
Anya mengangguk sebagai jawaban. Namun baru juga berniat untuk kembali duduk di kursi, ucapan Wine selanjutnya membuat tubuh Anya mematung seketika.
"Ayah lo datang ke rumah, ketemu sama ibu"
Mendengar itu seketika membuat dunia Anya terasa berputar. Buru-buru ia menyambar tas selempangnya di atas sofa dan langsung mengenakan sepatunya.
Sinan yang melihat kepanikan Anya, langsung mendekat dan menahan tangan Anya yang hendak membuka pintu.
"Kenapa?" tanya Sinan.
"Aku pulang sekarang. Aku jelasin besok"
"Aku antar" ucap Sinan lalu segera menyambar kunci mobilnya. Membiarkan Anya pulang dengan kondisi panik seperti ini jelas bukan pilihan yang baik, karena itu Sinan akan mengantarnya guna membuat wanita ini tetap aman.
"Tidak perlu"
"Pilih Aku tahan kamu di sini atau pilih aku antar?" tanya Sinan tegas.
__ADS_1
Anya menghela napasnya "Oke. Antar"
Senyuman tipis terbit di waja Sinan. Setelah mengenakan sepatu keduanya langsung keluar dari unit dan berjalan menuju parkir. Sepanjang jalan, Anya tak bicara apapun, wanita itu fokus dengan ponselnya dengan jari-jari yang menari cepat di layar.
Merasa penasaran, Sinan melirik sebentar ke ponsel Anya dan melihat nama 'Wine' tertera di layar ponsel. Sinan menganggukkan kepala, wanita pemilik tenaga dalam itu yang sedang chat dengan Anya.
Begitu keduanya sampai parkiran dan masuk ke mobil, mobil Sinan melaju membelah jalanan kota Jakarta. Anya masih belum juga menoleh ke arahnya, pandangan wanita itu masih fokus ke ponselnya dengan rahang yang mengeras seakan menahan amarah.
"Ada masalah An?" tanya Sinan akhirnya setelah diam sepanjang jalan. Mobil sudah mulai memasuki area perumahan yang pernah ia datangi 1 kali ini.
"Ada mantan suami ibu di rumah" jawab Anya.
Begitu mobil terparkir di depan rumah Anya, wanita itu langsung ke luar dan berlari masuk ke dalam rumah. Sinan ikut ke luar dari mobil namun tak sampai masuk ke dalam rumah Anya. Karena ini adalah masalah keluarga, Sinan tak boleh ikut campur dan hanya memilih berdiri di batas pagar.
Anya yang merasa jika Sinan tidak lagi mengikutinya, membalikkan badan menghadap ke arah Sinan "Nggak ikut masuk pak?"
"Emang boleh?"
Anya menganggukkan kepalanya, lalu kembali masuk ke dalam rumah yang langsung di sambut oleh dua orang yang tengah duduk di sofa. Wine dan Arka yang juga duduk di sofa langsung berdiri begitu melihat Anya datang.
Jika Wine dan Arka yang menemui mereka, sudah di pastikan ibu enggan untuk keluar dari dalam kamar.
"An" Wine yang melihat raut wajah penuh amarah Anya berusaha untuk menenangkan sahabatnya.
"Bukannya gue udah pernah bilang jangan pernah buka pintu apalagi sampai mempersilahkan duduk dua orang itu di rumah gue Win?"
"Anya"
"Sama-sama anak dari korban perselingkuhan, lo harusnya tahu itu. Oh malah gue lebih parah, karena nggak di percaya sama bapak sendiri" omel Anya lagi.
"Anya" kali ini Arka yang bicara.
"Lo juga bang. Lo tahu apa yang di lakuin sama anak wanita itu ke gue. Dan lo masih mempersilahkan masuk. Bukan cuman Negara dan Wine yang lo jagain, gue dan Ocha juga perlu lo jagain. Dan kalian—" tatapan Anya kini beralih pada dua orang yang masih duduk dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Tolong gunakan etika dalam bertamu. Jam 22.30 sudah terlalu malam untuk bertamu ke rumah orang lain" ucap Anya lagi.
Sinan yang berdiri di samping Anya, bisa merasakan sekuat apa wanita ini meremas jari tangannya.
***
__ADS_1
kalau ternyata up lewat dari jam 4, itu karena nunggu review dr NT lama ya. tinggalakan jejak yuk