
"Mau kemana mbak?"
Anya menoleh sebentar kearah Alun yang memanggilnya tepat saat pintu lift lantai 5 terbuka.
"Mau ke lantai 3"
"Ngapain?"
"Gebukin orang yang nyebarin gosip?"
"Ya?!"
"Mau ngikut nggak?" tanya Anya balik sambil menahan pintu lift yang hendak tertutup.
Alun meski tak tahu siapa yang mau digebukin oleh Anya, tetap mengangguk lalu masuk ke dalam lift. Syukur lift hanya berisi Alun dan Anya, jika ada orang lain maka ucapan Anya barusan akan menjadi masalah besar.
"Mbak udah tahu nggak kalau ada foto mbak sama pak Sinan di blog? memang dari belakang sih, gambar dari pantulan cermin juga diblur, cuman masih keliatan kalau itu mbak"
Anya mengangguk, matanya menatap nyalang ke angka yang tertera di atas "Tahu. Makanya ini mau gebukin orang yang nyebarin"
Begitu pintu lift terbuka dilantai 3, Anya langsung ke luar dan berjalan menuju studio Bibil, hari ini seharusnya mereka datang karena Bibil juga hadir di kantor untuk mengedit foto kemarin.
"Mbak tungguin" panggil Alun yang kerepotan mengikuti langkah cepat Anya.
Seolah tak mendengar rengekan Alun, Anya terus saja berjalan menuju studio Bibil. Hanya tinggal satu belokkan lagi Anya akan sampai di sana. Beberapa orang yang melihat Anya melewati mereka berbisik satu sama lain dan Anya benar-benar tak memperdulikan hal itu.
"Bil, dimana Nida?" tanya Anya begitu melihat Bibil.
Pria gemulai yang sudah tahu bagaimana watak Anya kini menahan Anya dengan cengiran lebar.
"Duduk dulu yu Say. Ih jangan marah-marah, nanti cantik you ilang"
Anya menepis tangan Bibil yang hendak menariknya untuk duduk di kursi "Berisik lo. Dimana Nida? oh bukan Nida doang, tapi Sinta sama Lina juga. Cari gara-gara mereka sama gue!"
"Mereka ada, ngumpet takut sama lo. Jadi duduk dulu ya" Bibil mengedipkan matanya ke arah Alun guna membantu menarik Anya agar duduk.
Seolah tahu dengan kedipan itu, Alun langsung melingkari lengan Anya dan bersama Bibil menarik wanita yang tengah jadi kucing garong ini agar duduk.
"Udah sadar takut sama gue masih cari gara-gara!" Anya yang hendak berdiri kembali ditarik oleh Alun dan Bibil agar duduk. Tangan Anya dikunci oleh Alun dan Bibil hingga tak bisa bergerak sama sekali.
"Eke udah tanya sama mereka, dan mereka bilang bukan mereka si anonim itu" ucap Bibil.
Anya tertawa sarkas. Yang melihat dirinya dan Sinan di ruang make up kemarin hanya ke tiga wanita itu. Tidak ada orang lain lagi. "Dan lo langsung percaya? cuman mereka yang ngeliat gue sama pak Sinan kemarin!!"
__ADS_1
"Eke ngacam mereka, kalau sampai nipu bakal eke pecat. Dan mereka tetap bilang bukan mereka"
"Kalau gitu biar gue nanya langsung sama mereka"
"Mbak, diliatin orang. Nanti malah tambah kacau" bisik Alun.
Pandangan Anya kini melotot ke arah beberapa orang yang menatap mereka. Tatapan maut dari seorang senior membuat mereka langsung kembali ke tujuan masing-masing. Anya memejamkan matanya dan menarik nafasnya dalam. Emosinya benar-benar naik sekarang dan siapapun yang nyari masalah dengannya saat ini maka harus bersiap-siap untuk disemprot panjang lebar.
"Mbak"
Suara lirih dan sarat akan ketakutan itu terdengar. Bukan dari Alun, melainkan dari Nida yang kini berjalan mendekati Anya sambil menundukkan kepala, dibelakang wanita itu ada Sinta dan Lina yang ikut mengekor dengan kepala yang juga menunduk takut.
"Sini lo pada!!" ucap Anya geram.
"Mbak serius, itu bukan kita. Lagi pula waktu itu juga gue nggak bawa hp mbak, hp gue ada di tas" ucap Nida.
"Bukan gue juga mbak. Gue bawa hp, tapi gue juga ngeliat pas pak Sinan keluar" kali ini Sinta yang bicara.
Lina meremas tangannya sendiri " Gue juga bukan mbak. Suer. Ngeliat mbak sama pak Sinan aja nggak gue mbak. Tahu gue juga dari Nida sama mbak Sinta"
Anya menghela napasnya sebal. Jika saja gosip ini tersebar di group chat whatsapp yang isinya hanya ada para kacung perusahaan, Anya tak perlu ambil pusing. Masalahnya ini adalah blog perusahaan yang juga bisa di akses oleh para petinggi, tak terkecuali pak Hamdan dan Bu Beti. Belum saja mereka menghubungi Anya. Oh jangan lupa dengan anak perempuan bu Beti yang gemar mengoreksi penampilan orang lain.
"You pada kalau bohong, gue pecat ya" ancam Bibil.
"Cari siapa yang bikin gosip ini. Baru gue percaya sama lo pada" Anya langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kembali menuju lift. Orang itu akan mati jika berhasil ia temukan.
***
"Jadi gosip itu benar?" tanya Radit.
Mereka kini memilih duduk di kursi setelah berbaring hingga 40 menit lamanya dengan pikiran masing-masing.
"Gue suka sama Anya sejak SMA, itu alasan gue dulu sering mondar-mandir ke kantor pulang sekolah" jawab Sinan.
"Oke"
Kepala Sinan langsung menoleh begitu jawaban singkat itu terdengar begitu mudah meluncur begitu saja. Radit kini malah tersenyum seperti biasanya seolah tak pernah adu tinju yang mereka lakukan beberapa menit yang lalu. ekspresi pria ini sama persis dengan yang ditunjukkan saat kakek berkata jika Sinan akan menjadi CEO dulu "Oke?"
"Hmm. Oke. Ya udah gue balik kerja dulu ya"
Belum juga Sinan menjawab, sepupunya itu langsung berdiri lalu meninggalkan ruangan tanpa berkata apapun. Hal yang paling Sinan hindari adalah ribut dengan sepupunya sendiri.
Namun baru juga keluar, Radit tiba-tiba masuk kembali dengan raut wajah begitu panik. Pria itu buru-buru membereskan kekacauan yang mereka buat barusan berusaha untuk tidak meninggalkan jejak.
__ADS_1
"Kenapa mas?" tanya Sinan ikut panik.
"Ada bu Beti sama pak Hamdan dibawah. Mas liat di parkiran"
"Bu Beti dan Pak Hamdan?. Kakek nenek?"
"Iya"
Dengan posisi yang ikut panik, Sinan langsung bergegas membantu membereskan semua barang-barang yang berserakan. Mau sehebat apapun pertengkaran mereka berdua, sejak dulu Sinan dan Radit akan langsung merapihkan kekacauan yang mereka perbuat saat melihat kakek dan neneknya datang. Setidaknya tidak membuat para sesepuh keluarga ikut naik pitam saat melihat kekacauan.
"Bibir mas berdarah itu. Gimana dong?" tanya Sinan begitu melihat sudut bibir Radit. Mereka lupa jika bukti konkrit dari perkelahian mereka berada di tubuh mereka sendiri.
"Pakai masker" jawab Radit. Pria itu langsung berdiri dan berlari mengambil kotak masker yang ada di laci Sinan. Setelah itu kembali lagi ke Sinan dan memberikan satu pada sepupunya.
Sinan manut aja, menerima masker dari Radit kemudian langsung memakainya. "Kalo sudut mata gue yang ikut bonyok gimana nih?"
"Pakai kacamata hitam. Ada kan?"
"Lah gue kaya tukang pijet kalau gitu!"
"Ya mau gimana lagi. Sebelum itu, sinih gue salepin dulu sudut bibir lo"
Sinan kembali membuka maskernya dan pasrah saja saat tangan Radit memberikan salep di sudut bibirnya yang terluka.
"Gantian, bantu gue sekarang" Radit memberikan salep ke Sinan. "Pelan-pelan ya"
"Cemen" jawab Sinan. Tangannya mulai memberikan salep di luka Radit dan membuat ringisan keluar dari mulut sepupunya itu.
"Sakit Nan. Lo sih nonjok gue kekencengan" keluh Radit.
"Lah mas juga sama. Ini kalau ada orang lain yang ngeliat kita pasti bingung nih, habis tonjok-tonjokkan malah saling ngobatin" begitu selesai, Sinan menutup salep dan meletakan ditempat semula.
"Biarin aja. Setidaknya telinga kita nggak ikut bonyok karena dengerin ocehan nenek" Radit langsung kembali duduk di sofa. Membuka map milik Anya, seolah-olah mereka berdua tengah berdiskusi masalah kerjaan.
Tak ingin terlihat aneh karena Radit bicara mengenai kerjaan sendirian, Sinan ikut duduk di sofa tunggal dan menimpali ide-ide yang keluar dari Radit.
"Pura-pura batuk kalau nenek sampai" ucap Radit sambil memakai kembali maskernya, begitu pula dengan Sinan.
Bertepatan dengan itu, pintu di ketuk 3 kali lalu terbuka menunjukkan wajah kakek dan nenek. Sinan dan Radit langsung berpura-pura batuk.
**
Random banget ini dua orang. Nggak jelas.
__ADS_1