Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 26 : Teman Kencan Buta Pak Bos.


__ADS_3

Karena keterlambatannya yang memakan waktu hingga 45 menit karena nyatanya jalanan juga macet parah dan berujung dengan Anya yang turun dari mobil Sinan. Waktu pemotretan harus mundur hingga 1 jam lebih karena Anya perlu di make up terlebih dahulu. Terlebih posisi Anya yang tadi menggunakan ojek online, membuat wajahnya sedikit memerah. Beberapa mata kini menatapnya dengan tatapan sinis, Anya hanya tersenyum sambil sesekali menbungkukkan badan. Jika saja Sinan tadi tak datang, dengan sepeda motor Anya pasti tak akan terlambat karena bisa meminta abang gojek melewati jalan tikus.


“Lama bener you ih” ucap Bibil sambil bersiap-siap dengan kameranya.


Anya yang sudah berganti pakaian dan di make up, mengambil salah satu produk miracle baru dan berdiri di spot foto. Jepretan kamera kini mulai berkedip membuat Anya mengganti gaya setiap kali jepretan tanpa diarahkan kembali. Bibil juga tersenyum lebar dengan hasil foto lumayan bagus.


Saat sedang mengubah gaya, pandangan Anya kini bertemu dengan pandangan Sinan yang baru saja masuk sambil membawa banyak tentengan makan di kedua tangan pria itu. Sinan meletakkannya di meja snack lalu berdiri di samping Bibil dengan tangan yang dilipat didepan dada. Mata Anya membulat saat melihat Sinan masih sempat-sempatnya mengedipkan satu matanya ke arah Anya.


“Eh ada bos ganteng ekke” girang Bibil. Pria gemulai itu kini berjalan menuju layar komputer begitu pula dengan Anya dan Sinan. Setiap gaya Anya di foto berubah, membuat Bibil girang sambil terus bertepuk tangan. Syukur meski dirinya telat, pemotretan bisa lebih cepat selesai karena pengalaman yang dimiliki Anya.


“Uh, gemes banget sih An. Coba kalau model kaya lu semua. Bahagia ekke. nggak pusing” Tangan Bibil kini mencubit gemas pipi Anya.


Baru juga Anya berniat ingin menepis, Sinan terlebih dahulu memukul tangan Bibil hingga pria gemulai itu melepaskan cubitannya. “Saya bawa makanan noh Bil. Istirahat dulu 10 menit” perintah Sinan.


Meski baru saja pemotretan di mulai, para staf tetap mengangguk mengiyakan untuk istirahat apalagi bos mereka membawa makan siang. Semuanya kini mengerumbungi meja snack dengan gembira, kecuali Anya yang memilih untuk minggir ke ruang make up guna mengecek kondisi Arum di rumah.


“Makan”


Anya mengangguk saat Sinan duduk disampingnya dan meletakan 1 burger di atas meja. Tanpa perlu ditanya, Anya tahu jika Sinan pasti akan ikut mengekornya hingga ruang make up.


“Nanti malam jam 7, ketemu di restoran Saka steak”


Anya tak menjawab, tangannya kini fokus mengetikkan pesan di room chat ‘group harta karun dunia’.


“Saya kencan buta nanti malam di sana. Jadi pastikan kamu datang”


Tanpa menoleh dan tetap fokus ke ponselnya, Anya menjawab pertanyaan Sinan “Pemotretan kayanya sampai malam belum tentu selesai, Bibil minta dibantu untuk pengeditan pak, belum lagi nanti jalanan juga pasti macet, malam minggu soalnya”


“Kalau gitu saya akan tetap disini dan tunggu pemotretan selesai. Masalah edit bisa dilakukan nanti hari Senin”


“Terserah bapak kalau gitu. Tapi saya tetap nggak bisa datang”


“Saya tunggu di ruangan saya. Setelah pemotretan langsung datang ke sana” ucap Sinan kemudian langsung melenggang pergi begitu saja.

__ADS_1


1 menit setelah kepergian Sinan, sayup-sayup terdengar suara berbisik dari luar. Dengan langkah yang dibuat pelan, Anya berdiri dibalik tembok dekat pintu guna mendengar lebih jelas apa yang dibicarakan dua orang di luar sana.


“Bukannya itu pak Sinan sama mbak Anya ya?”


“Iya.”


“Sadar nggak sih kalau pak Sinan itu baik banget sama mbak Anya? mana tadi gue sempet liat di studio pak Sinan negdipin mbak Anya”


Anya memejamkan matanya. Bersandar di tembok tangannya ia lipat di depan dada dengan pendengaran yang semakin ia tajamkan, kali ini suara lain ikut masuk ke dalam obrolan. Sekitar 3 orang kini tengah menggosipinya dibalik tembok sana.


“Nggapain pada di sini?”


“Kita liat mbak Anya sama pak Sinan berduaan di ruangan mbak”


“Seriusan?”


“Iya, tapi sekarang pak Sinan udah pergi mbak. tapi kok mbak Anya begitu ya? Dia kan udah punya suami, masa dua-duan sama pria lain tadi.”


Tangan Anya kini mengepal erat. Sejak awal kehadirannya sudah tak di sukai, maka dari itu mereka akan mencari-cari masalah dengannya.


Tak lagi bisa bersabar karena Arum sudah masuk ke dalam obrolan mereka. masih berdiri dibalik tembok, Anya melongok kan kepalanya hingga ketiga wanita itu terkejut. Ketiganya kini langsung salah tingkah setelah ketahuan jika pembicaraan mereka ternyata didengar oleh Anya.


“Jangan suka berpikir negatif sama orang lain. Syukur saya yang dengar, kalau pak Sinan yang dengar maka sudah beda ceritanya” Ucap Anya kemudian langsung melenggang pergi menuju studio.


***


“Oke caukeep” Seru Bibil girang yang menandakan selesainya pekerjaan Anya hari ini. Anya menunduk pada beberapa staf lain sambil berjalan menuju layar komputer guna melihat hasil foto. Tangannya mengambil ponsel dari dalam tas guna melihat pesan balasan dari Wine. Arum kembali menangis mencari keberadaan Anya, dan itu berarti dirinya harus langsung kembali sekarang juga.


“ Untuk masalah edit nanti dulu ya Bil. Hari Senin aja ya. Anak gue udah kejer nangis”


“Siap. Kayanya juga nggak banyak yang harus diedit. Sempurna”


Anya tersenyum. Tangannya meraih tas selempang “Gue cabut duluan ya”

__ADS_1


“Oke”


Begitu mendapat persetujuan dari Bibil. Anya langsung berjalan menuju lift yang membawanya turun menuju lobi. Perihal Sinan yang menunggunya di ruangan pria itu, Anya akan memberi pesan nanti setelah dirinya sudah berada di bus. Jika sekarang mengirim pesan, Anya yakin Sinan akan menyuruhnya untuk datang saat ini juga.


Namun seolah memang takdir tak ingin memisahkan mereka. Begitu lift terbuka, mata Anya langsung bertatap pandangan dengan Sinan yang duduk di sofa lobi, di samping pria itu ada seorang wanita yang menggunakan gaun putih yang membuat aura elegan memancar dari sosoknya.


Berpura-pura tak lihat meski pandangan dirinya dan Sinan sudah bertemu, Anya berjalan keluar dari lift sambil memainkan ponselnya, berharap jika Sinan tak akan memanggil namanya saat pria itu sedang bersama teman kencannya.


Please. jangan panggil gue pak.


“Mbak Anya ya?”


Langkah Anya yang hampir mencapai pintu keluar terhenti seketika. Bukan Sinan yang memanggilnya, namun suara yang begitu familiar di telinganya lah yang membuat Anya berhenti tiba-tiba.


“Beneran mbak Anya ya?”


Kepala Anya menoleh seketika. Wanita yang duduk di samping Sinan lah yang bicara barusan. Untuk sesaat Anya terdiam saat matanya bisa sepenuhnya mengamati teman kencan Sinan. Dia, Hani, saudara tirinya. Seketika tangan Anya mengepal menahan gejolak amarah dalam hati.


“Kamu kenal sama Anya Han?”


“Iya mas”


Sinan berjalan mendekat ke arah Anya kemudian merengkuh pinggang Anya, tak sadar jika yang direngkuh ini menahan gejolak marahnya didalam hati.


“Maaf jika saya menyakiti hati kamu. Tapi perkenalkan ini pacar saya. Anya pacar saya.” Lanjut Sinan.


Sinan tak tahu jika ucapannya barusan sama sekali tak didengar oleh dua wanita yang kini saling memandang satu sama lain dalam diam.


**


Maaf ya kalau ada typo, belum aku edit lagi soalnya.


Yuk tinggalkan LIKE dan KOMENTARNYA ya.

__ADS_1


Biar aku semangat up. Karena harus mikir kerangka bab selanjutnya.


__ADS_2