Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Bab 28 : Janda? it's Okay


__ADS_3

Sambil menteng tas yang entah kenapa hari ini begitu merepotkan. Anya buru-buru berlari masuk ke lobi setelah pagi ini hujan deras mengguyur kota Jakarta. Sambil membersihkan cipratan hujan pada celana yang ia gunakan, Anya terus berjalan tanpa sadar semua mata yang berpapasan dengannya mengamatinya lekat-lekat. Mereka berbisik satu sama lain dengan topik yang sepertinya sama.


Anya yang merasa banyak suara berbisik didekatnya menghentikan langkahnya, tatapannya kini ia edarkan ke seluruh sudut lobi guna mencari tahu apa yang tengah mereka bahas. Dilihat dari mereka yang kadang melirik ke arahnya, Anya tahu dirinya lagi yang menjadi pembahasan mereka.


"Ikut aku mbak"


Dari arah belakang, Alun tiba-tiba menarik tangannya dan mengajaknya ke tangga darurat, menjauhi belasan pasang mata yang secara terang-terangan menatap tak suka padanya. Anya tidak terlalu perduli sebenarnya, toh sejak dirinya kembali bergabung dengan kantor desas-desus tak enak tentang dirinya menjadi konsumsi para biang gosip di kantor ini.


Begitu sampai tangga darurat, Alun langsung menutup pintu "Mbak. Mbak selingkuh sama pak Sinan ya?"


"Ya?!"


"Mbak selingkuh nggak?"


Anya mengepalkan tanganya. Harusnya para wanita yang menggosipinya kemarin tak Anya lepaskan begitu saja. Awal gosip ini pasti dari tiga wanita itu.


"Dari mana asal kabarnya?" tanya Anya.


Alun kini merogoh ponselnya dari kantong celana dan menunjukkannya pada Anya "Dari blog perusahaan. Pengirimnya anonim"


Mata Anya melebar seketika "Blog perusahaan?" jika dari sana maka ada kemungkinan bu Beti dan Pak Hamdan juga membacanya.


"Iya mbak. Jadi mbak beneran selingkuh?!"


Anya menggeleng "Gue nggak pacaran sama pak Sinan. Dan jika pacaran pun bukan selingkuh namanya, karena gue udah cerai"


"Mbak udah cerai?"


"Iya. 1 tahun yang lalu. Jadi gue nggak selingkuh sama si bos"


"Kenapa mbak nggak bilang-bilang kalau udah cerai?"


"Nggak ada manfaatnya juga cerita sama kalian kan" Anya merebut ponsel Alun "Gimana nih cara balas komentarnya?!"


Alun yang tahu jika username nya akan digunakan untuk membalas postingan, langsung mengambil kembali kembali ponselnya "Percuma"


"Percuma?"


"Iya percuma. Gue udah balasin semalam. Dan akhirnya gue yang diserang. Mbak balas aja sendiri"


"Gue belum daftar sebagai peserta"


"Pakai akun pak Sinan biar pada kicep semuanya"

__ADS_1


"Oke"


Alun memukul lengan kanan Anya " Mbak beneran seling—, eh bukan. Pacaran sama pak Sinan"


Anya gantian menepuk pundak Alun tiga kali "Oke. lo juga gila" ucap Anya kemudian langsung keluar dari tangga darurat.


**


"Oke, jadi bagaimana?" Sinan kini berdiri di samping kaca yang menampilkan kepadatan kota Jakarta. Begitu mendapat pesan dari Mike, Sinan langsung menghubungi temannya itu. Mike cenderung sangat cepat jika diminta mencari informasi.


"Mereka saudara tiri"


"Mereka saudara tiri?" tanya Sinan memastikan.


"Iya. Edgar menikah lagi tanpa persetujuan Istri dan anaknya. 1 tahun setelah pernikahan, Aisyah memilih untuk bercerai dan membawa Anya ikut bersama"


Sinan mengangguk mengerti. Tapi untuk ukuran Anya, dampak dari perceraian itu tak akan mungkin membuat wajahnya pucat pasih apalagi setelah bertahun-tahun berlalu. Pasti ada hal besar lagi dibalik tingkah lakunya kemarin.


"Asiyah membawa Anya kembali ke kampung halaman dan tidak pernah berkontak lagi dengan Edgar."


Sinan kini memilih duduk di kursinya saat seseorang mengetuk pintu ruangan. ponselnya masih menempel di telinganya mendengar sederet penjelasan Mike di sebrang telefon.


"Masuk" ucap Sinan.


"Anya dijebak dimalam saat mereka liburan. Dia dikasih obat tidur sama Hani dan ditempatkan dikamar pacar Hani."


"Karena?" Mata Sinan kini menatap lekat wanita yang tengah duduk didepan sana sambil memainkan ponselnya.


"Hani menyukai pacar Anya"


"Apa yang terjadi?" Meski sudah bisa menebak apa yang terjadi setelahnya, Sinan masih bertanya. Semoga tebakannya salah.


"Anya di perkosa karena Hani juga ngasih obat perangsang sama pacarnya. Karena Anya hamil, mereka memutuskan untuk menikah"


Jika tidak ada Anya disini. Sinan pasti sudah menggebrak meja dengan segala umpatan untuk Danu dan Hani. Posisinya yang sudah tiba-tiba berubah menjadi berdiri menarik perhatian Anya. Dia menoleh dengan dahi berkerut yang membuat Sinan menarik napasnya dalam lalu kembali duduk di kursi.


"Cari info lebih, dan beritahu gue lagi"


Mematikan telfon Sinan duduk di sofa tunggal dekat Anya. Pernikahan dadakan Anya dulu memang sempat membuat para pria di kantor patah hati serempak. Anya tak pernah mengenalkan pacarnya namun tiba-tiba menikah. Semua orang termasuk Sinan berpikir jika cuti liburan Anya dulu itu adalah acara pertunangan. Tapi nyatanya, kehormatannya dirampas dengan cara hina seperti itu.


Sinan menarik senyumnya "Ada yang bisa dibantu sayang?" goda Sinan.


"Jangan panggil saya begitu pak. Kita nggak ada hubungan apapun dan jangan nambah memperkeruh keadaan" ucap Anya. Tak peduli jika dianggap tak sopan sekalipun.

__ADS_1


"Keadaan seperti apa yang dimaksud?" Sinan menyandarkan tubuhnya. Dengan posisi seperti ini dirinya bisa mengamati sepuasnya wajah wanita yang tak akan pernah ia lepaskan kembali.


"Di blog"


"Oh yang di blog"


"Oh?"


"Iya. Saya juga sudah melihatnya. Dan tulisannya cukup rapih dan menarik"


Sinan bisa melihat Anya menghembuskan napasnya kesal. Wanita itu datang ke sini dengan membawa map yang sepertinya berisi laporan mengenai produk yang ditanganinya, tapi sekarang sepertinya Anya lupa dengan tujuan awalnya.


"Saya dan bapak dianggap selingkuh dan itu baik?"


Sinan menganggukkan kepalanya "Kenyataannya tidak seperti itu kan? Saya mengencani wanita yang tak berstatus sebagai pacar orang apalagi istri orang?"


"Siapa?"


"Ya kamu." Sinan tersenyum menunjukkan sederet gigi putihnya.


"Mari kita bahas pekerjaan ya pak, Ini laporan saya pak. Jika bapak setuju maka proses produksi akan segera di mulai"


Sinan menerima map yang di berikan oleh Anya, namun alih-alih di tandatangani, Sinan malah meletakkannya di atas meja lalu kembali menatap Anya. "Ayo kita menikah An"


"Maaf pak boleh minta di cek lalu ditandatangani?" tanya Anya mengalihkan pembicaraan.


Tak lagi melipat tangannya di dada, Sinan kini duduk tegak dengan mata menatap lurus ke arah Anya. "Ayo kita berkencan. Saya suka sama kamu" ucap Sinan serius.


"Tapi saya bukan seseorang yang pantas untuk bapak?"


"Kenapa? karena kamu sudah punya anak? saya tidak masalah sama sekali. Janda? It's Okay. itu hanya status"


"Saya pamit kembali bekerja ya pak. Jika bapak setuju nanti hubungi saya kembali"


Saat melihat Anya hendak berdiri. Sinan kembali bicara " Jangan buat saya kalah start untuk kedua kalinya"


Bertepatan dengan ucapan Sinan barusan, pintu ruangan Sinan tiba-tiba terbuka tanpa ada ketukan sama sekali. Radit muncul dari balik pintu dengan wajah merah penuh emosi.


"Lo—"


Ucapan Radit berhenti saat melihat kehadiran Anya di ruangan ini juga.


"Kalian berdua berselingkuh?" lanjut Radit.

__ADS_1


__ADS_2