Dunia Anya (Janda? It's Okay)

Dunia Anya (Janda? It's Okay)
Salto Dunia Anya : Arum Nggak Mau Ulang Tahun


__ADS_3

2 tahun kemudian.


Suara ocehan anak-anak sudah terdengar dari lantai bawah. Terutama suara Aaras yang berulang kali bernyanyi lagu selamat ulang tahun dengan gitar kecilnya. Ada beberapa yang ikut bernyanyi, namun ada juga beberapa yang mulai memasang wajah kesal karena acara ulang tahun belum juga dimulai meski mereka sudah datang sejak 1 jam yang lalu.


Beberapa kali Ocha datang ke kamar guna menanyakan kapan acara akan dimulai, namun kembali berakhir dengan Anya yang meminta 5 menit lagi hingga sudah terhitung itu adalah 5 menit untuk ketiga kalinya.


Anya melirik ke arah Arum yang duduk bersila di atas kasur dengan tangan yang dilipat didepan dada. Baju pesta berwarna pink sudah dikenakan oleh gadis kecil itu dengan beberapa pita yang berada di rambut. Sudah cantik dan siap untuk turun kebawah merayakan ulang tahunnya yang ke 5, namun bibirnya masih mengerucut dengan wajah ditekuk.


Anya dengan perut besarnya memilih untuk duduk di pinggir ranjang setelah lelah membujuk putrinya ini. Sedangkan Sinan kini duduk bersila di depan putrinya itu.


"Cici mau turun nggak? Nanti kue ulang tahunnya dimakan Aaras loh" ucap Sinan lembut.


Anya hanya memperhatikannya dengan sesekali menghela napas melihat tingkah Arum yang akhir-akhir ini memang agak sedikit sulit untuk diatur. Anya bahkan sempat menanyakan hal ini pada teman dokter Wine, takut jika tingkah Arum berhubungan dengan kehamilannya ini.


Saat pertama kali Anya mengatakan jika Arum akan menjadi cici sebentar lagi, putrinya tersenyum lebar bahkan sangat antusias karena terus mengelus perut Anya. Namun akhir-akhir ini menjelang kelahiran adiknya, sifat Arum berubah drastis hingga Anya merasa takut barangkali tanpa sadar dirinya berlaku tak adil hingga membuat Arum merasa tersaingi.


"Cici mau papih gendong? Temen-temen Cici sudah nungguin dibawah" bujuk Sinan lagi.


"Nggak mau! Pokoknya Cici nggak mau turun papih" jawab Arum dengan raut wajah kesalnya.


Anya kembali menghela napasnya lelah "Kenapa cici nggak mau turun?"


"Nggak ada uti. Nggak ada nenek. Cici nggak mau ulang tahun." air mata kini mulai menggenang dikedua mata cantik Arum. Seperti biasa, layaknya Ocha, air mata itu hanya akan sampai di pelupuk mata tanpa terjun membasahi pipi sama sekali. Raut wajah dingin Arum sekarang, bahkan membuat Arka tak mampu membujuk gadis kecil ini melalui video call tadi.


Uti adalah sebutan untuk ibu Sinan, dan nenek adalah sebutan Arum untuk ibu Anya.


"Mamah masih lama mas?" tanya Anya pada Sinan.

__ADS_1


"Katanya macet yang" Sinan menggendong Arum dan kembali membujuk putrinya itu.


"Yakin macet? Bukan nggak mau datang kan mas?"


Sinan tak menjawab pertanyaan istrinya itu. Karena sejujurnya dirinya pun tak tahu mamahnya benar-benar terkena macet atau hanya alibi saja karena tak ingin datang dan memilih berkumpul dengan teman-teman mamahnya itu.


Nenek—ibu Anya jelas tak mungkin datang dari kampung ke Jakarta hanya sekedar untuk merayakan ulang tahun. Lagi pula dalam minggu ini, Anya juga berniat untuk pulang ke kampung halamannya dan melakukan persalinan di sana. Maka dari itu, hanya ibu mertuanya yang Anya harapkan bisa hadir di acara ini, terlebih Arum juga beberapa hari yang lalu baru saja menghadiri acara ulang tahun Caca, semua anggota keluarga berkumpul tak terkecuali dengan nenek dan kakek temannya itu.


"Kita turun yuk Ci. Tante Setta juga sebentar lagi sampai. Nanti kita telfon sama uti akung, sama nenek juga kan?"


"Nggak mau!"


Jawaban yang masih sama kembali Sinan dapatkan dari Arum. Anya yang sudah kehilangan kesabaran mengambil Arum dari gendongan suaminya dan diturunkan di atas kasur. Bisa dibilang kesabaran Anya jauh lebih tipis ketimbang kesabaran Sinan.


"Ya udah. Nggak usah ulang tahun sekalian kalau Cici nggak mau turun!!" ucap Anya.


Anya langsung menampik tangan Sinan yang mengelus lengannya "Nggak usah dibela mas. Kebiasaan.Cici nggak mau turun kan?! Ya udah nggak usah. Mamah minta aunty Ocha buat tutup aja acaranya dan minta teman-teman kamu pulang"


Jangan berpikir jika air mata yang sudah menggenang di sudut mata Arum akan meluncur. Gadis kecil itu hanya menunduk sebelum akhirnya bergumam kecil yang membuat siapa saja hanya bisa menghela napas dengan apa yang dikatakan.


"Ya udah, teman-teman suruh pulang aja. Uti nggak sayang sama Arum. Mamih juga" setelah mengatakannya Arum turun dari kasur dan masuk kedalam kamarnya sendiri.


***


"Nangis bikin jelek tau"


Arum yang tengah berada dibalik selimut menyibakan selimut itu dan duduk bersila di atas kasur. Menatap nyalang ke arah anak laki-laki yang berdiri diambang pintu kamarnya. Arsya—anak laki-laki yang usianya hanya beda 6 bulan lebih tua diatasnya itu berdiri dengan tangan yang berkacak pinggang menunjukkan wajah kesalnya. Tahun depan Arsya akan masuk ke Taman kanak-kanak.

__ADS_1


"Siapa juga yang nangis?!" jawab Arum sewot.


"Kamu" Arsya berjalan masuk kedalam kamar lalu memilih untuk duduk di sofa sambil menyomot keripik singkong dari toples yang ada di atas meja belajar Arum.


"Aku nggak nangis! Nyebelin banget. Keluar sana abang. Nanti keripik ku habis"


Tak peduli, Arsya kini malah memeluk toples berisi keripik singkong itu membuat sang empunya makanan turun dari kasur.


"Ini punya aku. Makan bareng, abang geser gih"


Kali ini Arsya menurut, menggeser posisi duduknya dan membiarkan Arum duduk di sampingnya dengan nasib toples yang sudah kembali lagi berpindah tangan ke Arsya.


"Kenapa nggak mau turun? Aku nggak jadi makan kue gara-gara kamu" sejujurnya tadi dibawah, aunty Ocha sudah memotong kuenya dan membagikannya secara adil. Namun Arsya menolaknya karena sebelumnya tak ada lilin yang menyala lalu ditiup di atas kue itu.


"Berisik"  itu adalah jawaban handal Ocha setiap kali Wine dan Anya mengganggunya, namun kali ini kata itu sepertinya sudah diambil alih oleh Arum.


"Karena nggak ada uti kamu?"


"Abang turun aja deh kalau nanya terus"


"Oke. Abang diem"


Setelahnya, kedua bocah kecil itu benar-benar diam tak ada yang bicara. Kamar besar Arum hanya diisi dengan suara kunyahan keripik di mulut masing-masing. Namun hal itu hanya sebentar saja sebelum suara gitar terdengar semakin mendekat.


Tak ingin bertemu dengan Aaras. Arum langsung menarik tangan Arsya keluar dari kamar, lalu kembali menutup pintu dan menguncinya. Bertemu dengan Aaras hanya akan membuatnya semakin kesal.


***

__ADS_1



__ADS_2