
Sinan : udah tidur?
Anya tersenyum melihat pesan yang dikirim oleh Sinan. Pria itu benar-benar menginap setelah dipaksa oleh ibu. Sinan tidur di kamarnya, sedangkan Anya, ibu dan Arum tidur di kamar Arum. Posisi yang sebelumnya telentang, Anya ubah menjadi tengkurap dengan senyum geli yang masih setia menghiasi wajah.
Sinan : Kamu udah tidur beneran ya?
Anya melirik sebentar ke arah dua orang disampingnya yang kini tertidur lelap. Lalu mengetik balasan untuk Sinan.
Anya : Hampir. Kenapa?
Sinan : Saya nggak bisa tidur
Anya : Kenapa?
Sinan : Menurut kamu?
Anya membekap mulutnya agar tawanya tak sampai keluar. Sinan ditempatkan bukan di ruang tamu, melainkan di kamar utama di rumah ini dimana dulu juga menjadi kamar Anya dan Danu. Terlebih dikamar itu pula Anya memajang foto ibu super besar yang ia tempel di dinding tepat berhadapan dengan ranjang.
Anya : Ya terus mau gimana lagi? Mau tidur di gudang? Kamar tamu sekarang aku jadiin gudang soalnya.
Sinan : Kayanya mending tidur di sofa depan deh. Temenin yuk.
Anya : Aneh. Nanti kalau ibu liat gimana? Lagian saya juga baru tahu kalau bapak itu penakut.
Anya kembali tertawa saat satu balasan dari Sinan masuk ke ponselnya. Arum yang tidur di sebelahnya juga menggeliat terusik dengan tawa Anya.
Sinan : Kayanya sekarang lebih takut sama foto ibu kamu.
"Tidur mbak. Jangan pacaran mulu" tegur ibu.
Anya tersenyum malu karena ketahuan masih chatan dengan Sinan.
Anya : Udah pak tidur. Jangan banyak ngeluh.
Sinan : Saya nggak bisa tidur An. Jangan tidur dulu, temenin saya ngbrol dulu.
Anya : Sudah hampir jam 3 pak.
Sinan : Saya pengin coklat panas.
Anya : Bikin aja sendiri di dapur pak.
Anya yakin Sinan pasti tak berani pergi ke dapur sendiri. Pria itu padahal tinggal sendiri di apartemen, jadi seharusnya Sinan tak setakut itu untuk pergi ke dapur.
__ADS_1
Sinan : Nanti saya dikira maling kalau kelayaban di rumah orang malam-malam.
Anya menghela napasnya
Anya : Alasan.
Sinan : Saya juga lapar An.
Anya : Si bapak mintanya banyak banget sih.
"Kenapa sih mbak? Jangan goyang-goyang mulu" tegur ibu lagi. Pergerakan Anya jelas mengusik kenyamanan tidur Aisyah.
"Pak Sinan nggak bisa tidur bu, katanya lapar dan pengin coklat panas"
"Ya sudah, sanah kamu bikinin gih"
Anya membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan ibu. Anya bukan asisten rumah tangga yang harus siap siaga jika tuan rumah menginginkan sesuatu. Lagi pula ini rumahnya, bukan rumah Sinan.
Anya meletakan ponselnya di meja. Matanya berusaha ia pejamkan agar bisa tidur, namun bayangan mengenai Sinan yang tidak bisa tidur karena takut dan lapar terus berputar di kepala. Mau tak mau, Anya kembali mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu pada Sinan.
Anya : Keluar, aku buatkan.
Sinan : Oke sayang.
Bersamaan dengan Anya yang keluar dari kamar, Sinan juga keluar dari kamar dengan mata berbinar layaknya anak kecil yang akan mendapat permen dan coklat kesukaan.
Anya berjalan menuju dapur begitu pula dengan Sinan yang mengekor di belakangnya.
"Yang jadi istri kamu nanti kasihan ya" ucap Anya sambil mengoleskan selai coklat ke atas roti.
"Kenapa?" tanya Sinan. Pria itu kini tengah menuangkan air panas ke kedua cangkir yang sudah diisi dengan bubuk coklat.
"Kaya gini, harus nyiapin makanan dan minuman kalau kamu nggak bisa tidur. Kasihan kan tengah malam harus ngoprek di dapur"
Sinan tersenyum tipis " Tenang nanti kalau kita nikah, saya nggak akan ke sulitan buat tidur lagi, soalnya kan ada yang bisa aku peluk. Jadi pasti bakal cepat tidur"
"Siapa juga yang mau nikah sama bapak"
"Kamu lah"
"Kat— Ya Tuhan!" Anya terkejut bukan main saat wajah ibu tiba-tiba menyumbul dari balik pintu.
"Kalau sudah selesai, bawa makanan ke kamar masing-masing. Jangan ngobrol berdua, banyak setan yang menjerumuskan malam-malam" ucap Ibu .
__ADS_1
Anya menghela napasnya kesal mendengar sederet ucapan ibu barusan. Jelas-jelas tadi ibu yang memintanya untuk membuatkan makanan dan minuman untuk Sinan. Kenapa pula ibu malah berprasangka buruk kepada mereka sekarang? Lagi pula dirinya dan Sinan bukan anak SMA yang berpacaran tanpa memikirkan batas. Dirinya dan Sinan paham sampai batas mana mereka dalam berhubungan.
Sinan yang juga mendengar kalimat ibu barusan hanya bisa salah tingkah
**
Sinan duduk sambil meremas tangannya yang gugup. Setelah sarapan tadi, ibu mengajak Sinan mengobrol di ruang tengah dengan Anya yang duduk melantai menemani Arum yang mewarnai. Jantung Sinan berdetak sangat cepat di detik-detik menunggu pertanyaan terlontar dari mulut wanita yang melahirkan kekasihnya ini.
Sinan melirik ke arah Anya yang kini malah tertawa karena melihat tingkah gugup Sinan.
"Jadi—"
Pandangan Sinan langsung tertuju ke arah Aisyah.
"Jadi kamu sudah tahu semua tentang masa lalu Anya?"
Sinan menganggukkan kepalanya " Sudah tante. Tapi mungkin cara saya yang mencari tahu yang salah"
Aisyah menganggukkan kepala. Semalam ia sudah tanya kepada Anya dan sekarang ditanya ulang hanya untuk memastikan.
"Kamu nggak keberatan dengan hal itu nak?" tanya ibu lagi.
Sinan menggeleng "Saya tidak keberatan"
"Bagaimana dengan orang tua kamu?"
Anya yang sejak tadi pura-pura tak mendengar kini juga menoleh ke arahnya. "Mungkin mereka keberatan. Tapi saya akan berusaha agar orang tua saya bisa menerima hubungan kami"
Aisyah tersenyum "Kamu tampan, sukses dan masih muda. Jika tante adalah ibu kamu, tante rasa tante juga nggak bakal setuju" Aisyah mengatakannya tanpa beban sama sekali. Semalam ia juga sudah menjelaskan kepada putrinya jika dirinya berada di posisi orang tua Sinan.Tentu, mana ada orang tua yang bersedia menerima anaknya berkencan dengan orang yang memiliki anak di luar nikah? Sekalipun Anya adalah korban, namun berkencan dengan anaknya pasti akan jadi pertimbangan besar.
"Karena itu saya mengatakan ada kemungkinan orang tua saya tidak setuju. Tapi setidaknya saya punya seseorang yang akan membuat mamah dan papah saya setuju" untuk kali ini Sinan akan melibatkan kakek dan neneknya.
Asiyah mengangguk lagi "Baik. Andaikata kedua orang tua kamu setuju. Lalu setelahnya mau kamu bawa kemana hubungan ini? Jika hanya untuk main-main dengan putri tante. Tante melarangnya."
"Saya akan menikahi Anya tan"
Bisa dilihat mata Anya membulat seketika. Sepertinya wanita itu tak menyangka jika Sinan serius dengan ajakannya selama ini.
"Pak" ucap Anya
"Saya sudah pernah bilang sama kamu sebelumnya kan? Saya suka sama kamu sejak dulu, dan saya jelas enggan untuk melepas kamu lagi. Biar aku yang menjaga kamu dan Arum"
Aisyah yang mendengar sederet kalimat puitis dari Sinan tertawa seketika. Sepertinya putrinya benar-benar menemukan orang yang tepat kali ini.
__ADS_1